Tafsir Surat Ath-Thur Ayat-44

44. وَإِن يَرَوْا۟ كِسْفًا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ سَاقِطًا يَقُولُوا۟ سَحَابٌ مَّرْكُومٌ

wa iy yarau kisfam minas-samā`i sāqiṭay yaqụlụ saḥābum markụm
44. Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan: “Itu adalah awan yang bertindih-tindih”.

Tafsir :

Yaitu jika sekiranya ada potongan langit yang jatuh dari langit sebagai azab bagi mereka orang-orang musyrikin, mereka tetap tidak akan beriman dan mengatakan bahwa itu adalah awan yang bertumpuk-tumpuk([1]). Dan ayat ini merupakan balasan atas permintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar menurunkan azab kepada mereka jika benar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang Rasul. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala tentang orang-orang kafir,

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

(Mereka berkata), ‘Maka jatuhkanlah kepada kami gumpalan dari langit, jika engkau termasuk orang-orang yang benar’.” (QS. Asy-Syu’ara : 187)

Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tidak menghiraukannya. Memenuhi perkataan mereka merupakan hal yang sia-sia, karena meskipun langit turun sebagai azab, mereka tetap tidak akan beriman([2]). Mereka hanya akan mengatakan bahwa itu adalah awan yang bertumpuk-tumpuk. Namun demikianlah pembangkangan orang-orang musyrikin. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga telah menjelaskan dalam ayat yang lain,

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ، لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ

Dan kalau Kami bukakan kepada mereka (orang kafir) salah satu pintu langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, ‘Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir’.” (QS. Al-Hijr : 14-15)

Dan demikian pula umat-umat Nabi terdahulu, setiap kali Nabi mereka memperlihatkan mukjizat, mereka akan mengatakan bahwa Nabi tersebut adalah penyihir. Sebagaimana perkataan mereka kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dalam ayat yang lain,

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَامُوسَى مَسْحُورًا

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata maka tanyakanlah kepada Bani Israil, ketika Musa datang kepada mereka lalu Fir‘aun berkata kepadanya, ‘Wahai Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga engkau terkena sihir’.” (QS. Al-Isra’ : 101)

Oleh karenanya cara menghadapi perkataan seperti mereka ini adalah dengan tidak menghiraukan perkataan mereka. Dan para ulama juga menyebutkan bahwasanya ayat ini merupakan dalil bahwa tidak semua permintaan Ahlul Bid’ah kita turuti([3]). Kalau sekiranya terjadi perdebatan antara Ahlussunnah dan Ahlul Bid’ah, maka tidak semua syubhat mereka juga perlu untuk dibalas dan dibantah. Dan sebuah kesalahan ketika seorang Ahlussunnah mengikuti semua keinginan mereka. Tugas kita cukup sekadar menyampaikan dalil yang kuat dan benar, karena hidayah itu di tangan Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi jika ilmu kita tidak mampu untuk menjawab syubhat mereka, maka ketahuilah bahwa kritikan yang datang kepada Ahlussunnah jauh lebih sedikit daripada kritikan Ahlus Sunnah atas akidah ahlul bidáh. Karena terkadang ada kondisi dimana seseorang hanya bisa menjelaskan pada titik tertentu karena keterbatasan ilmunya. Dan terkadang memang titik/poin tersebut tidak ada yang bisa menjelaskan hikmahnya kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala, sementara menurut ahlul bidáh itu adalah poin yang tidak masuk akal mereka, dan mereka terus ingin mengetahui apa setelah titik/poin tersebut. Oleh karenanya ketika orang-orang kafir meminta suatu permintaan sebagai syarat agar mereka beriman, Allah Subhanahu wa ta’ala tidak turuti permintaan mereka. Yang tidak mau beriman silakan, dan yang mau beriman juga silakan.

______________________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 27/79

([2]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 27/80

([3]) Lihat: Tafsiir al-Mufashhol, Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 133.