Tafsir Surat An-Najm Ayat-32

32. ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

allażīna yajtanibụna kabā`iral-iṡmi wal-fawāḥisya illal-lamama inna rabbaka wāsi’ul-magfirah, huwa a’lamu bikum iż ansya`akum minal-arḍi wa iż antum ajinnatun fī buṭụni ummahātikum, fa lā tuzakkū anfusakum, huwa a’lamu bimanittaqā
32. (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Tafsir :

Ayat ini menjelaskan tentang ciri-ciri para penghuni surga diantaranya, menjauhi dosa-dosa besar. Allah ﷻ tidak mengatakan, “Orang-orang yang tidak melakukan dosa-dosa besar” akan tetapi “Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar”  karena kata “Menjauhi” lebih sempurna dari pada tidak melakukan. Bisa jadi seorang tidak melakukan dosa besar akan tetapi ia dekat dan mengarah kepada perbuatan tersebut.

Adapun yang dimaksud dengan كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ atau  الكَبِيرَةُ“dosa-dosa besar” adalah dosa-dosa yang diancam dengan neraka secara khusus. Meskipun semua dosa diancam dengan neraka akan tetapi sebagian dosa ada yang disebutkan ancaman neraka secara khusus dan inilah yang dinamakan dengan dosa besar.

Adapun الْفَوَاحِشَ  menurut pendapat sebagian ulama adalah  dosa-dosa besar yang terancam dengan hukuman had([1]), seperti mencuri, berzina, praktik homo seksual dan selainnya. Pendapat lain menyebutkan bahwa semua termasuk dari kabair tetapi Al-Fawahisy adalah perbuatan yang keji yang mana menurut logika seseorang hal itu adalah perbuatan buruk([2]) karena ada dosa-dosa besar yang kita tidak tahu dengan logika kita akan tetapi syariat menjelaskan, contoh seperti sholatnya seseorang tanpa wudhu terlebih dahulu, ini adalah dosa besar yang kita tahu melalui syariat.

Banyak perbuatan yang haram meskipun tidak ada dalil tapi kita tahu itu adalah perbuatan keji semisal zina, mencuri dan membunuh  kita tahu bahwa hal-hal tersebut tidak benar dan keji meskipun seandainya tidak ada dalil dari syariat namun logika kita tahu bahwa hal-hal tersebut adalah perbuatan keji. Intinya Al-kabair dan Al-Fawahisy adalah dosa-dosa besar akan tetapi ulama khilaf kenapa dipisahkan penyebutannya dalam ayat di atas.

Kata Allah ciri-ciri penghuni syurga mereka menjauhi Al-Kabair dan Al-fawahisy kecuali اللَّمَم  mereka tidak bisa meninggalkannya. Apakah yang dimaksud dengan اللَّمَم ? Terdapat khilaf diantara para ulama secara umum banyak pendapa tapi terfokus pada dua pendapat([3]):

  1. Pendapat pertama mengatakan adalah dosa-dosa kecil yang mana seseorang tidak dapat menghindar darinya. Di antara contoh dosa-dosa kecil adalah memandang yang haram menyentuh yang haram, mencium yang diharamkan ini adalah dosa-dosa kecil yang tidak sampai pada derajat zina. Banyak oang tidak mampu menghindar dari dosa-dosa tersebut. Jika diartikan dengan dosa-dosa kecil maka pengecualian di sini disebut dengan ististina’ munqoti’ (pengecualian yang terputus) maksudnya yang dikecualikan bukan bagian dari yang awal contoh : “Seluruh murid hadir kecuali Budi”, Budi adalah murid, ini yang dinamakan istisna’ muttashil (pengecualian yang tersambung) karena budi bagian dari murid kelas. Adapun contoh istisna’ munqhoti’ : “Seluruh murid hadir dikelas kecuali pak satpam”, inilah yang dinamakan pengecualian yang terputus karena pak satpam bukan bagian dari murid kelas. Contoh istisna’ munqhoti’ dalam Al-Quran juga terdapat dalam firman Allah ﷻ ketika menceritakan tentang iblis

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.  (QS Al Baqoroh : 36)

Maka mereka pun sujud kecuali Iblis” ini adalah istisna’ munqhothi’ karena Iblis bukan bagian dari malaikat.

 

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ayat diatas yang menjelaskan bahwa orang-orang yang masuk surga adalah orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa-dosa besar kecuali dosa-dosa kecil, adalah istisna’ munqhoti’. Oleh karena itu menurut pendapat ini dosa-dosa kecil yang setiap manusia tidak bisa terbebas darinya maka akan diampuni oleh Allah ﷻ  dan dosa-dosa tersebut bukan bagian dari dosa-dosa besar dan bukan merupakan  dosa-dosa yang menghalangi seseorang masuk kedalam surga, sebagaimana firman Allah ﷻ :

إنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).  (QS An Nisa’ : 31)

 Maka hendaknya seseorang berusaha dalam kehidupannya untuk selalu menghindar dari dosa-dosa besar ketika suatu saat terjerumus dalam dosa-dosa kecil maka kemungkinan besar Allah akan hapuskan dosa-dosa kecilnya tersebut yang tidak bisa ia hindari.

 

  1. Makna yang kedua adalah dosa besar yang pernah dilakukan oleh seseorang kemudian tidak pernah mengulanginya lagi. Maka makna ayat menurut pendapat ini bahwa orang-orang yang akan masuk surga adalah orang-orang yang menjauhkan diri mereka dari dari dosa-dosa besar dan Al-fawahisy kecuali dosa besar yang pernah mereka lakukan dahulu dan mereka tidak mengulanginya lagi. Berdasarkan pendapat ini maka istisna’ dalam ayat ini adalah istisna’ muttashil (pengecualian yang bersambung) karena bagian dari dosa besar hanya saja dia tidak pernah mengulanginya lagi artinya orang yang terjerumus dalam dosa-dosa besar seperti, zina, homoseksual atau riba misalnya maka tetap berhak masuk surga jika ia bertobat kepada Allah ﷻ dan tidak mengulanginya lagi.

Manakah di antara dua pendapat ini yang benar? Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan keduanya benar([4]), kesimpulannya orang yang selalu menjauhkan diri dari dosa-dosa besar kemudian terjerumus ke dalam dosa-dosa kecil maka dosa-dosa tersebut tidak menghalanginya untuk masuk ke dalam surga atau orang yang pernah terjerumus ke dalam dosa-dosa besar akan tetapi dia tidak  mengulanginya lagi entah itu zina, membunuh atau bahkan berbuat syirik maka tidak menghalangi dia untuk masuk surga karena tidak pernah ada syarat seseorang bisa masuk surga harus suci dari dosa-dosa. Tapi syarat masuk surga jika seseorang melakukan dosa hendaknya bertobat kepada Allah ﷻ dan tidak mengulanginya lagi.

Adapun اللَّمَم  menurut pendapat pertama adalah dosa-dosa kecil yang tidak diulangi terus-menerus akan tetapi dia berusaha menghindarinya meskipun terkadang terjerumus kembali, bukan dosa yang dia sengaja untuk terus menerus melakukannya karena makna اللَّمَم  dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang tidak berkesinambungan.  Seperti perkataan Al Qurthuby   dalam tafsirnya,

وَالْعَرَبُ تَقُولُ مَا يَأْتِينَا إِلَّا لِمَامًا، أَيْ فِي الْحِينِ بَعْدَ الْحِينِ

“Orang-orang Arab dahulu berkata, “Hal itu tidaklah datang kepada kami kecuali لِمَامًا kadang-kadang saja (tidak terus-terusan)”([5]).

Kesimpulannya dosa-dosa kecil yang tidak menghalangi seseorang masuk surga adalah dosa-dosa kecil yang tidak dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Adapun orang yang terus-terusan melakukan dosa kecil dapat menghalangi dia untuk masuk surga. Hendaknya seseorang yang terjatuh dalam dosa-dosa kecil segera beristighfar dan tidak Ishrar (terus-menerus) dalam dosa-dosanya, sebagaimana perkataan para ulama

لاَ صَغِيرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ وَلاَ كَبِيرَةَ مَعَ الاِستِغْفَارِ

“Tidak dinamakan dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus dan tidak pula dianggap dosa besar jika dia bertobat darinya”([6]).

Ini merupakan kabar gembira bagi kita, siapakah di antara kita yang dapat luput dari dosa-dosa kecil di zaman sekarang? Dengan adanya internet dan berbagai macam aplikasi media sosial yang dapat menyeret seseorang untuk terjerumus ke dalam berbagai macam dosa-dosa kecil. Kita berharap semoga dosa-dosa kecil tersebut diampuni oleh Allah ﷻ kemudian hendaknya kita juga menjauhi dosa-dosa besar dengan belajar dan membaca di antaranya kitab Al-Kabair karya Imam Ad-Dzahabi, hendaknya kita baca dan hindari semuanya bahkan di antara dosa besar juga adalah mendengarkan musik sebagaimana di masukkan ke dalam kategori dosa besar oleh para ulama Syafi’iyah. Apabila suatu saat kita  terjerumus ke dalam dosa kecil maka insya Allah akan diampuni oleh Allah ﷻ  dengan catatan dosa-dosa kecil tersebut tidak kita lakukan terus menerus.

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala ,

اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ

“Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya”. Ini kembali ke dua pendapat tadi, bahwa orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecil yang tidak mampu terhindar darinya atau dosa-dosa besar kemudian bertobat dan tidak melakukannya lagi maka sesungguhnya Allah ﷻ maha luas ampunan-Nya. Allah ﷻ berfirman :

هُوَ اَهْلُ التَّقْوٰى وَاَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampunan.  (QS Al Mudatsir : 56)

Seorang penyair juga berkata :

يا ربِّ إنْ عَظُمَتْ ذُنُوْبِيْ كَثْرَةً … فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ

“Ya Allah kalau seandainya dosa-dosaku sangat banyak….sungguh aku mengetahui bahwa ampunan-Mu lebih besar”.  ([7])

Kemudian firman Allah ﷻ :

هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ

Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu”.

Ayat ini menjelaskan bahwasanya bukan hanya sekarang Allah tahu tentang diri kita. Jangankan kondisi kita sekarang, waktu kita belum ada Allah tahu dan Allah juga tahu kondisi kita saat kita masih berbentuk janin dalam perut ibu-ibu kita apalagi sekarang ketika kita sudah terlahir ke dunia maka Allah tahu semuanya jangan sampai kita merasa ada perkara yang Allah tidak ketahui dari kita. Oleh karenanya,

فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى

“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa”

Para ulama memaknai ayat ini dengan dua tafsiran, kata Ibnu ‘Asyur bahwasanya maknanya adalah janganlah menganggap diri kalian suci([8]) baik dengan keyakinan ataupun dengan perkataan ataupun dengan isyarat yang menunjukkan seakan-akan kalian adalah wali-wali Allah dan seakan akan kalian adalah orang-orang saleh. Atau maknanya jangan kalian menganggap suci orang lain dengan perkataan kalian, “Si Fulan diridhoi dan dimuliakan oleh Allah ﷻ” atau “Si Fulan masuk surga”  dan sebagainya. Semua itu yang tahu hanyalah Allah ﷻ dan Allah lebih tahu siapa saja yang bertakwa kepada-Nya.

Kenapa dimaknai juga jangan menganggap orang lain suci dan tidak cukup hanya bermakna  jangan menganggap diri kalian suci?  karena كُمْ dalam firman Allah اَنْفُسَكُمْ  yang artinya “kalian” bisa dimaknai dengan “diri kalian” bisa juga dimaknai dengan “sesama kaum muslimin” sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hujurat,

وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ

“Jangan kalian mencela diri kalian (dan jangan sebagian kalian mencela sebagian yang lain)”. (QS Al-Hujurat : 11)

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al Bukhari rohimahullahu ta’aala tentang wafatnya Ustman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu seorang sahabat yang terkenal rajin beribadah

أَنَّ أُمَّ العَلاَءِ، امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ بَايَعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّهُ اقْتُسِمَ المُهَاجِرُونَ قُرْعَةً فَطَارَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ، فَأَنْزَلْنَاهُ فِي أَبْيَاتِنَا، فَوَجِعَ وَجَعَهُ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، فَلَمَّا تُوُفِّيَ وَغُسِّلَ وَكُفِّنَ فِي أَثْوَابِهِ، دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ: لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ؟» فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ؟ فَقَالَ: «أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الخَيْرَ، وَاللَّهِ مَا أَدْرِي، وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ، مَا يُفْعَلُ بِي» قَالَتْ: فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا

“bahwa Ummul ‘Ala seorang wanita anshar yang pernah berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarinya; bahwasanya para sahabat kaum Anshoor mengadakan undian tentang pembagian kaum Muhajirin, yaitu dalam pembagian untuk menjamu dan melayani kaum muhajirin. Maka Utsman bin mazh’un (salah seorang Muhajirin) mendapat bagian untuk kami jamu dan tinggal di tempat kami. Mak kami tempatkan beliau di dalam rumah kami, kemudian ia sakit yang menyebabkan kematiannya. Tatkala ia meninggal, dia dimandikan dan dikafankan dalam kainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk. Lantas saya berkata, “Allah merahmati engkau wahai Abu Saib (kunyahnya Útsman bin Madzúun), dan aku bersaksi terhadap dirimu, sungguh Allah telah memuliakanmu”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Dari mana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya?” Saya menjawab; “Dengan ayahku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah, lantas siapakah yang dimuliakan Allah?”. Rasulullah bersabda; “Adapun dia, demi Allah, kematian telah merenggutnya, demi Allah, sungguh aku berharap ia memperoleh kebaikan, dan demi Allah, saya tidak tahu bagaimana aku diperlakukan nanti sedang aku Rasulullah.” Kata Ummul ‘Ala, “Demi Allah, saya sama sekali tidak akan mentazkiyah (menyatakan seseorang dimuliakan Allah) seorangpun setelahnya selamanya.” ([9])

Dalam riwayat lain disebutkan tambahan,

فَأَحْزَنَنِي ذَلِكَ فَنِمْتُ فَأُرِيتُ لِعُثْمَانَ عَيْنًا تَجْرِي، فَجِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرْتُهُ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَاكَ عَمَلُهُ»

“hal itu menjadikanku sedih sehingga aku tidur dan aku bermimpi melihat ‘Utsman mempunyai mata air yang mengalir, dan aku kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, dan beliau bersabda, “Itulah amalnya.” ([10])

Beliau sewaktu masih hidup adalah seorang Murobith yaitu seseorang yang berjaga di perbatasan sewaktu perang, maka orang yang beramal sebagai seorang murobith amalannya akan terus  mengalir meskipun dia sudah meninggal dunia. Disini Nabi ﷻ dikabarkan melalui wahyu tentang keadaan Ustman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu, adapun kita yang tidak tahu hal yang ghaib maka tidak boleh bagi kita untuk mengatakan bahwa si fulan pasti masuk surga dan lain sebagainya, karena kita tidak tahu hakikat keadaan orang tersebut yang tahu hanyalah Allah ﷻ.

Jika kita membaca siroh para sahabat radhiyallahu ‘anhum maka kita dapati tidak ada diantara mereka yang  bersikap seakan-akan mereka pasti masuk surga. Abu bakar radhiyallahu anhu orang terbaik setelah Nabi ﷺ beliau pernah memegang lisannya dan berkata:

إِنَّ هذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ

“inilah lisanku yang telah menjerumuskanku dalam banyak hal”([11])

Dan kita tahu bahwa Abu bakar adalah orang yang sangat menjaga lisan. Adapun kita yang hidup di zaman ini sebagian kita tidak berilmu tapi rajin berkomentar, memposting kemudian membantah maka kita lebih tidak terjamin dari pada beliau. Sewaktu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu dikabarkan oleh Nabi ﷺ bahwa fulan dan fulan adalah orang-orang munafik sehingga ketika ada yang meninggal di zaman sahabat mereka menunggu Hudzaifah, kalau beliau menyolati jenazahnya berarti dia bukan orang munafik, tapi jika beliau tidak mau menyolatinya berarti dia adalah orang munafik, oleh karenanya beliau disebut sebagai shohibusirr Rasulillah ﷺ  yaitu orang yang diberi rahasia oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam([12]).  Zaid bin Wahb berkata :

مَاتَ رَجُلٌ مِنَ الْمُنَافِقِينَ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ حُذَيْفَةُ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: أَمِنَ الْقَوْمِ هُوَ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: بِاللَّهِ، مِنْهُمْ أَنَا؟ قَالَ: «لَا، وَلَنْ أُخْبِرَ بِهِ أَحَدًا بَعْدَكَ»

“Salah seorang munafiq meninggal, maka Hudzaifah tidak menyolatkan janazahnya. Maka Umarpun berkata kepadanya, “Apakah orang itu tersmasuk kaum munafikin?”. Hudzaifah berkata, “Iya”. Maka Umarpun berkata kepadanya, “Demi Allah, apakah aku termasuk mereka?”. Hudzaifah berkata, “Tidak, dan aku tidak akan mengabarkan tentang hal ini kepada seorangpun setelah engkau”([13]).

Disini kita tahu bahwa Umar masih khawatir dirinya termasuk golongan orang-orang munafik padahal beliau berjihad dan memiliki amalan yang luar biasa bahkan Nabi ﷺ pernah menyebutkan bahwa وَعُمَرُ فِي الجَنَّةِ “Umar di surga” ([14]). Nabi juga pernah bersabda kepadanya,

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ»

“demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, tidak ada satu setan pun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong melainkan dia akan mencari lorong lain selain lorong yang kamu lalui.” ([15])

Tapi itu semua tidak menjadikannya bangga dan ujub, bahkan ketika beliau berada pada penghujung hayatnya (ketika beliau ditikam) datang Ibnu Ábbas radhiallahu ánhumaa lalu memuji Umar dengan berkata :

أَبْشِرْ بِالْجَنَّةِ، صَاحَبْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَطَلْتَ صُحْبَتَهُ، وَوُلِّيتَ أَمْرَ الْمُؤْمِنِينَ فَقَوِيتَ وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ

“Bergembiralah dengan surga, engkau telah bersahabat dengan Rasulullah dan begitu lama perhasabatan tersebut. Engkau telah diangkat menjadi Amirul mukminin dan engkau telah kuat menjalankannya dan telah menunaikan amanah”.

Maka Umar menimpali Ibnu Ábbas dengan berkata,

أَمَّا تَبْشِيرُكَ إِيَّايَ بِالْجَنَّةِ، فَوَاللهِ لَوْ أَنَّ لِي الدُّنْيَا بِمَا فِيهَا لافْتَدَيْتُ بِهِ مِنْ هَوْلِ مَا أَمَامِي قَبْلَ أَنْ أَعْلَمَ الْخَبَرَ، وَأَمَّا قَوْلُكَ فِي أَمْرِ الْمُؤْمِنِينَ، فَوَاللهِ لَوَدِدْتُ أَنَّ ذَلِكَ كَفَافًا، لَا لِي وَلا عَلَيَّ، وَأَمَّا مَا ذَكَرْتَ مِنْ صُحْبَةِ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَلِكَ

“Adapun kabar gembira darimu kepadaku dengan surga, maka demi Allah seandainya aku memiliki dunia dan segala isinya maka aku akan menjadikannya tebusan atas kedahsyatan apa yang ada di hadapanku sebalum aku mengetahui apa hakikatnya yang akan terjadi. Dan adapun perkataanmu tentang Amirul mukminin maka demi Allah aku sungguh berhadap hanya impas, tidak mendapatkan kebaikannya dan juga tidak mendapatkan keburukannya. Adapun apa yang kau sebutkan tentang bersahabat dengan Nabi shallallahu álaihi wasallam maka memang demikianlah ([16])

Dalam riwayat yang lain, Ibnu Umar berkata :

فَأَثْنَوْا عَلَيْهِ فَقَالَ: «رَاغِبٌ رَاهِبٌ، وَدِدْتُ أَنِّي نَجَوْتُ مِنْهَا كَفَافًا، لاَ لِي وَلاَ عَلَيَّ، لاَ أَتَحَمَّلُهَا حَيًّا وَلاَ مَيِّتًا»

“Mereka (orang-orang yang menjenguk Umar) memujinya, maka Umar berkata, “Aku dalam kondisi berharap )pahala dari Allah) dan khawatir (dari adzab Allah, sehingga aku tidak berpatokan dengan pujian kalian). Aku berharap seandainya aku lepas dari khilafah (kepemimpinan dengan wafatku) dalam kondisi selamat dan impas, tidak mendapatkan kebaikannya dan juga terhindar dari keburukannya, aku tidak ingin menanggung beban khilafah (sebagai pemimpin) ketika masih hidup ataupun setelah meninggal” ([17])

Inilah yang dinamakan ketakwaan yang mana seseorang tahu kadar dirinya dan bahwasanya dia jauh dari kesempurnaan. Dari sini kita tahu bahwa hendaknya kita menjauhi sifat ujub dan merendahkan orang lain, bisa jadi orang terlihat biasa saja namun belum tentu derajatnya lebih rendah disisi Allah dari pada kita. Bisa jadi orang yang di hadapan kita yang kita sepelekan ternyata dia mempunyai amalan luar biasa yang tidak kita ketahui.

Pernah ada seorang syeikh yang bercerita bahwa ada seorang yang saleh ketika tidur ia bermimpi berjumpa Nabi ﷺ dan beliau ﷺ bekata kepadanya, “Pergilah kepada si fulan dan sampaikan kabar gembira kepadanya!” orang tersebut kemudian terbangun dan berpikir hanya mimpi biasa, akan tetapi mimpi tersebut terulang selama tiga kali hingga ia berpikir bahwa mimpi tersebut adalah ilham dari Allah ﷻ maka dia pun mencari tahu tentang si fulan hingga dia dapat menemukan tempat tinggalnya. Ketika sudah sampai di depan pintu dia pun mengetuk pintunya dan ketika dibukakan dia mendapati penampilan si fulan tersebut biasa saja, tidak berpenampilan layaknya Imam masjid atau seorang ustadz penampilan orang tersebut biasa saja. Maka dia pun bertanya kepada si fulan tadi, “Wahai fulan sesungguhnya saya bermimpi sebanyak tiga kali bahwasanya Rasulullah ﷺ menyuruh saya untuk menyampaikan kabar gembira kepadamu, dan saya ingin tahu sesungguhnya amalan apa yang engkau miliki sampai saya bisa bermimpi demikian sebanyak tiga kali?   Jawab orang tersebut, “Saya tidak memiliki amalan apa pun” akan tetapi orang saleh tersebut terus mendesaknya, “Pasti engkau punya amalan, coba sebutkan, pasti ada jangan kau sembunyikan!”. Akhirnya dia pun bercerita, “Saya tidak punya amalan kecuali satu yang dengannya saya berharap akan bertemu dengan Allah membawa amalan tersebut” dia pun mulai bercerita, “Dahulu sewaktu saya menikah pada malam pertama yaitu malam pengantin saya dapati istri saya dalam kondisi sudah hamil, dan dia berkata kepadaku, “Wahai Fulan tutuplah aibku semoga Allah menutupi aibmu juga”. “Subhanallah, maka seketika itu saya tidak menyentuhnya sama sekali dan saya menunggu sampai anak tersebut lahir dan tidak ada yang tahu, kemudian setelah lahir saya bawa anak tersebut sebelum subuh dan saya taruh di pintu masjid” katanya.

Ia pun melanjutkan kisahnya, “kemudian saya dapati sewaktu subuh orang-orang ramai mengerumuni anak tersebut dan saya berkata kepada mereka, ‘biar saya saja yang mengurus anak ini’ dan mereka pun berterima kasih dan mendoakan saya, kemudian saya bawa pulang dan saya kembalikan anak tersebut kepada istri saya dan tidak ada yang tahu”.

Untuk itu jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain karena ketika kita merasa lebih baik dari orang lain berarti kita sedang men-tazkiah diri kita padahal Allah ﷻ berfirman,

فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى

 “Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa”

 Bisa jadi orang di depan kita dia memiliki kekurangan dalam sebagian hal misal jarang sholat berjamaah, atau mungkin dia melakukan sebagian maksiat akan tetapi bisa jadi dia memiliki amalan lain seperti berbakti kepada orang tuanya atau mungkin dia tidak pernah sombong atau mungkin dia tidak pernah hasad, dibandingkan dengan sebagian kita yang mungkin ke masjid dengan penampilan islami tapi hati penuh dengan hasad, hati penuh dengan kedengkian maka jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain dan memandang rendah orang lain karena yang tahu semuanya hanyalah Allah ﷻ.

___________________________

Footnote :

([1]) Lihat penjelasan tentang كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ dan الْفَوَاحِشَ di Tafsir Al-Qurthuby 17/106

([2]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 27/127

([3]) Lihat: Tafsir Al-Qurthuby 17/106-107

([4]) Lihat: Madaarijus Saalikiin Bayna Manaazili Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin 1/324

([5]) Tafsir Al-Qurthuby 17/108.

([6]) Lihat: Tafsir As-Sam’any 2/412

([7]) Lihat: Syarhus Shuduur bisyarhil Mautaa wal Qubuur hal: 285

([8]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 27/125

([9]) HR. Bukhori 2/72

([10]) HR. Ahmad dalam musnadnya no. 27457

([11]) HR. Malik dalam kitab Muwattho’nya no. 3621

([12]) Lihat: Al-Mishbaahul Mudhy Fii Kitaabin Nabi Al-Ummy wa Rusulihi Ilaa Muluukil Ardhi min ‘Aroby wa ‘ajamy hal: 87

([13]) Mushonnaf Ibni Abi Syaibah 7/481 no 37390. Al-Haitsami berkata, رَوَاهُ الْبَزَّارُ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ “Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dan para perawinya tsiqoh” (Majma’ Az-Zawaid no 3/42 no 4225)

([14]) HR At-Tirmidzi no 3747 dan dishahihkan oleh Al-Albani

([15]) HR. Bukhori no. 3294

([16]) HR Ahmad no 322 dan sanadnya dishahihkan oleh para pentahqiq al-Musnad.

([17]) HR Al-Bukhari no 7218