Kisah Abu Zar’ dan Ummu Zar’ – Wanita Kedelapan

((Wanita yang kedelapan berkata, “Suamiku sentuhannya seperti sentuhan kelinci dan baunya seperti bau zarnab (tumbuhan yang baunya harum)”))

Maksudnya yaitu bahwa suaminya lembut, berakhlak baik, bersihan, dan berbicara dengan pembicaraan yang baik sehingga orang-orang memujinya.

Faedah :

  1. Merupakan sifat suami yang baik adalah yang memperhatikan keharuman tubuhnya
  2. Merupakan sifat suami yang baik adalah berakhlak yang mulia sehingga mudah dan senang didekati oleh orang-orang sebagaimana kelinci yang lembut sentuhannya dan bulunya sangat halus sehingga orang-orangpun suka mendekati binatang ini. Rasulullah bersabda

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ؟ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيْبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ

Maukah aku kabarkan kepada kalian orang yang diharamkan masuk neraka?, atau neraka diharamkan menyentuhnya?, yaitu neraka haram bagi setiap orang yang dekat, tenang, lagi mudah[1]

  1. Dalam riwayat yang lain ada tambahan وَأَنَا أَغْلِبُهُ وَالنَّاس يَغْلِبُ ((Aku menundukkannya dan dia menundukkan orang-orang))[2]

Berkata Ibnu Hajar menjelaskan maksud dari tambahan ini, “Sang wanita menjelaskan bahwa suaminya ini sangat baik dan sangat sabar terhadapnya… Hal ini sebagaimana perkataan Mu’awiyah, يَغْلِبْنَ الْكِرَامَ وَيَغْلِبُهُنَّ اللِّئَامُ “Para wanita menundukkan orang-orang yang berakhlak mulia dan mereka dikuasai oleh orang-orang yang tercela akhlak mereka”… kalau seandainya sang wanita hanya mengatakan ,”Aku menundukkannya” maka akan disangka bahwa suaminya adalah orang yang lemah dan pengecut. Tatkala ia berkata, “Ia menundukkan orang-orang” maka hal ini menunjukan bahwa ia bisa menundukan suaminya semata-mata hanyalah karena kemuliaan akhlak sang suami. Maka dengan ucapannya ia ini sempurnalah pujiannya terhadap sifat-sifat suaminya.”[3]

________
Penulis: Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema: Suami Sejati (Kiat Membahagiakan Istri) – Series
________

Footnote:

[1] HR At-Thirmidzi no 2488 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (lihat juga As-Shahihah no 938)
[2] HR An-Nasaa’i dalam Al-Kubro (V/357 no 91319) dan At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir (XXIII/165 no 265) dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ no 141
[3] Al-Fath (IX/265)