Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat-41

41. يُعْرَفُ ٱلْمُجْرِمُونَ بِسِيمَٰهُمْ فَيُؤْخَذُ بِٱلنَّوَٰصِى وَٱلْأَقْدَامِ

yu’raful-mujrimụna bisīmāhum fa yu`khażu bin-nawāṣī wal-aqdām
41. Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandannya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.

Tafsir :

Sehingga pada hari tersebut mereka tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa yang telah mereka kerjakan. Karena ciri-ciri orang-orang kafir dan pelaku dosa terihat pada waktu itu. Seperti yang telah disebutkan dalam beberapa hadits yang menjelaskan ciri-ciri orang kafir, pelaku dosa dan maksiat, begitu juga dengan orang-orang shaleh ketika dibangkitkan pada hari kiamat.([1])

Diantaranya Allah berfirman,

يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا

“Pada hari (Kiamat) sangkakala ditiup (yang kedua kali) dan pada hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa dengan (wajah) biru muram.” (QS. Thaha: 102)

Begitu juga dalam ayat yang lain,

يَّوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَّتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اسْوَدَّتْ وُجُوْهُهُمْۗ اَ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ فَذُوْقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ

“Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), “Mengapa kamu kafir setelah beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu.” (QS. Ali Imran: 106)

Para ulama mengatakan bahwa orang-orang kafir pada hari kiamat kelak akan dibangkitkan dalam kondisi wajah mereka hitam, sedangkan mata mereka biru karena penuh dengan ketakutan.([2])

Adapun orang yang beriman seperti umat Nabi Muhammad akan dibangkitkan, sebagaimana sabda Rasulullah,

إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الوُضُوءِ

“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya, tangannya dan kakinya disebabkan bekas-bekas wudhu.”([3])

Pada hari kiamat kelak Allah tidak perlu bertanya kepada mereka tentang dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Karena Allah mengetahui seluruh keadaan hamba-hambaNya. Dia mengetahui umat Nabi Muhammad, pelaku dosa dan maksiat, orang-orang kafir, orang-orang munafik dan yang lainnya, karena masing-masing memiliki ciri-ciri yang ada pada diri mereka.

Para ulama juga menyebutkan bahwa pada hari kiamat kelak akan ada fase-fase yang harus dilewati oleh manusia dan jin. Seperti fase ketika mereka dibangkitkan, dihisab, mizan dan seterusnya. Pada ayat ini menerangkan bahwa Allah tidak bertanya kepada mereka. Artinya pada saat pertama kali mereka dibangkitkan dari kubur mereka, Allah tidak bertanya kepada mereka, karena Allah sudah mengetahui ciri-ciri mereka.

Namun, di dalam sebagian ayat yang lain disebutkan bahwa Allah bertanya kepada mereka,

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS. Al-Hijr: 92-93)

Pada ayat ini menjelaskan sesungguhnya di hari kiamat kelak Allah bertanya kepada manusia pada saat kondisi tertentu setelah dibangkitkan. Terutama saat mereka dihisab, Allah akan bertanya kepada mereka, padahal Allah mengetahui apa yang akan mereka jawab. Hal ini bertujuan untuk menghinakan mereka.

Perumpamaanya adalah seperti seorang pemilik rumah yang telah menangkap pencuri dan mengadilinya. Lalu dia bertanya kejahatan yang telah dilakukannya, padahal dia melihat tindakan pencuri itu yang telah terekam di cctv. Sejatinya, pemilik rumah mengetahui perbuatan pencuri tersebut, namun tetap dicerca dengan pertanyaan atas perbuatannya, supaya dia merasa malu dan terhina.

Jadi, pada hari kiamat kelak Allah bertanya kepada manusia dan jin, bukan berarti untuk mencari tahu. Bahkan, hal itu bertujuan untuk menghinakan mereka. Allah bertanya dosa apa yang telah mereka perbuat dan kenapa mereka melakukan dosa tersebut.([4])

Namun, setelah Allah bertanya kepada mereka, akhirnya merekapun mengingkari dan berdusta,

ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّآ أَنْ قَالُوْا وَاللّٰهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِيْنَ

Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 23)

Setelah orang-orang kafir mengingkari dan berdusta dengan menjawab seperti itu. Maka Allah berfirman,

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Yasin: 65)

Pada saat itu Allah menutup mulut mereka, karena mereka sering berdusta. Kemudian Allah membuat tangan, kulit dan kaki mereka berbicara. Dan itulah diantara fase-fase yang dilalui manusia pada hari kiamat kelak.

فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِيْ وَالْأَقْدَامِۚ

Lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.”

Setelah fase tersebut, orang-orang kafir diambil oleh malaikat pada ubun-ubun dan kaki mereka, lalu diseret kepada neraka Jahannam. Menurut sebagian ulama menyebutkan artinya adalah malaikat mengambil dan melipat tubuh mereka dengan menyatukan kaki dan ubun-ubun dari arah belakang, lalu dilemparkan ke neraka Jahannam. Ada juga yang mengatakan malaikat melipat tubuhnya dari kaki hingga kepala dari depan sebagaimana seseorang melipat kayu, lalu dilemparkan ke neraka Jahannam. Ada juga yang mengatakan sebagian malaikat menarik kaki mereka, sehingga mereka terseret di atas kepalanya lalu dilemparkan ke neraka Jahannam. Ada juga yang mengatakan malaikat akan menarik ubun-ubunnya hingga terseret wajahnya dan dilemparkan ke neraka Jahannam. ([5])

Intinya, mereka dimasukkan ke neraka Jahannam dengan paksaan dan cara yang sangat menghinakan mereka.

__________________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/262.

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 7/499.

([3]) H.R. Bukhari no.136.

([4]) Lihat: Tafsir Ar-Raziy 29/367.

([5]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/175.