Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Secara umum para ulama berselisih pendapat tentang jumlah rakaat dalam shalat tarawih. Ada yang berpendapat 11 rakaat, 13 , 17, 19 dst([1]).  Sejatinya jumlah rakaat dalam shalat tarawih adalah tidak ada batasan. Namun, yang terbaik adalah shalat 11 atau 13 rakaat dengan shalat yang panjang sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ([2]). Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ -وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ- إِلَى الْفَجْرِ، إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ،

“Rasulullah ﷺ pernah shalat antara waktu setelah shalat isya’ (yang biasa disebut ‘atamah) hingga waktu fajar. Beliau melakukan sebelas rakaat, setiap dua rakaat beliau salam, dan beliau juga melakukan witir satu rakaat.” ([3])

Begitu juga dengan hadits Ibnu Abbas k berkata

كَانَتْ صَلاَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يَعْنِي بِاللَّيْلِ

“Shalat Nabi Muhammad ﷺ adalah tiga belas rakaat yaitu shalat malam.” ([4])

Meskipun demikian, seseorang juga boleh shalat tarawih dengan jumlah kurang atau lebih dari 11 rakaat. Dalil akan hal ini sangatlah banyak. Di antaranya hadits yang menyebutkan tentang salah seorang yang datang kepada Nabi Muhammad ﷺ menanyakan tentang jumlah rakaat shalat malam, maka Nabi Muhammad ﷺ menjawab,

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Shalat malam dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu Subuh, hendaknya dia shalat satu rakaat untuk mengganjilkan shalat yang telah dia lakukan.”([5])

Sisi pendalilan:

Ada dua sisi pendalilan dari hadits Ibnu Umar di atas:

Pertama: Orang yang bertanya tersebut dalam sebagian riwayat adalah الأَعْرَابِيُّ ‘Arab badui’([6]). Dan sebagaimana diketahui bahwa orang arab badui tidaklah tinggal bertetangga dengan Nabi dan para sahabat. Tentu ia tidak tahu tentang jumlah raka’at shalat malam Nabi, terlebih lagi tidak ada seorang sahabatpun yang meriwayatkan tentang jumlah 11 rakaat shalat malam Nabi kecuali Aisyah radhiallahu ‘anha, karena Nabi mengerjakannya di rumah dan dilihat oleh Aisyah radhiallahu ‘anha.

Hal ini dikuatkan lagi bahwasanya jika Arab badui tersebut tidak tahu tentang kaifiyyah (tata cara) shalat malam, setiap berapa rakaatkah harus salam?

Jika seandainya shalat malam ada batasan jumlah raka’atnya tentu Nabi akan menjelaskan kepada orang arab badui tersebut. Tatkala Nabi tidak menjelaskan sisi ini maka menunjukkan bahwa shalat malam tidak terikat dengan jumlah tertentu, karena mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh.

Kedua: Justru Nabi menjawab orang arab badui tersebut dengan mengisyaratkan bahwa shalat malam tidak terbatas jumlah raka’atnya. Karena Nabi menyatakan bahwa shalat malam itu dua-dua rakaat hingga subuh. Artinya arab badui tersebut boleh shalat dengan shalat dua rakaat-dua rakaat dan terus melakukannya seperti itu, sampai jika ia khawatir tiba subuh maka shalat satu rakaat dan menjadi witir bagi shalatnya. Apalagi orang-orang arab badui tidak dikenal dengan sebagai para sahabat yang memiliki hafalan Al-Qur’an yang banyak, sehingga kemungkinan ia akan memperbanyak rakaat hingga subuh.

Dengan demikian, tidak adanya batasan jumlah rakaat shalat malam dalam hadits ini, menunjukkan bahwa jumlah rakaat shalat malam itu tanpa batas. Oleh karenanya, para ulama pun telah ijmak akan hal ini, yaitu boleh shalat lebih dari 11 rakaat, di antaranya disampaikan oleh Ibnu Abdil Barr([7]), Ibnu Taimiyah([8]), An-Nawawi([9]), dan yang lainnya.

Di antara dalilnya yang lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Qais bin Thalq berkata,

زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِيٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأَمْسَى عِنْدَنَا، وَأَفْطَرَ، ثُمَّ قَامَ بِنَا اللَّيْلَةَ، وَأَوْتَرَ بِنَا، ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ، فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ، حَتَّى إِذَا بَقِيَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلًا، فَقَالَ: أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ، فَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

“Thalq bin Ali (ayahku) mengunjungi kami pada bulan Ramadan, dan dia bersama kami sampai sore. Setelah itu ia shalat malam bersama kami dan shalat witir bersama kami. Kemudian ia menuju masjidnya dan shalat bersama para penduduk, hingga ketika sisa shalat witir, ia memerintahkan seseorang untuk maju sambil berkata kepadanya; “Shalatlah witir bersama mereka, karena aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada dua witir dalam satu malam”.” ([10])

Begitu juga dengan amalan para salaf, yang mana banyak dari mereka mengamalkan hal ini. Para salaf (sahabat dan tabiin) shalat tarawih lebih dari 11 rakaat. Praktik mereka ini menguatkan pendapat yang menjelaskan bahwa para sahabat shalat tarawih di masa Umar sebanyak 20 rakaat. Berikut penukilannya:

  1. Atha’ berkata:

أَدْرَكْت النَّاسَ وَهُمْ يُصَلُّونَ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ

“Aku menjumpai orang-orang shalat 23 rakaat dengan witir”. ([11])

Atha adalah seorang tabiin faqih yang wafat pada tahun 114 H, sehingga yang beliau jumpai adalah para sahabat Rasulullah ﷺ, wallahu a’lam

  1. Dawud bin Qais berkata:

دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ : أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِالْمَدِينَةِ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَأَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يُصَلُّونَ سِتَّة وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.

“Aku jumpai di Madinah pada masa Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat.” ([12])

Atsar ini menjelaskan bahwa para tabiin shalat 39 rakaat.

  1. Sa’id bin Jubair:

كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي بِنَا عِشْرِينَ لَيْلَةً سِتَّ تَرْوِيحَاتٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ الأَخَرُ اعْتَكَفَ فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى بِنَا سَبْعَ تَرْوِيحَاتٍ.

“Dahulu Sa’id bin Jubair adalah imam kita di bulan Ramadhan, beliau shalat mengimami kita 20 malam dengan 6 kali istirahat, jika memasuki 10 malam akhir beliau I’tikaf di masjid dan shalat mengimami kita dengan 7 kali istirahat.” ([13])

Dan Saíd bin Jubair adalah seorang tabiin yang mulia yang merupakan murid Ibnu Ábbas

Sa’id bin Jubair adalah seorang tabiin wafat tahun 95 H, ketika 10 hari terakhir beliau shalat menjadi imam dengan 7 kali istirahat berarti 14 rakaat.

  1. Abu Al-Hashib berkata:

كَانَ يَؤُمُّنَا سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي خَمْسَ تَرْوِيْحَاتٍ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً

“Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami shalat kita pada bulan Ramadhan dengan 5 kali istirahat dalam 20 rakaat”. ([14])

Suwaid bin Ghafalah masuk Islam saat Nabi masih hidup, akan tetapi beliau tidak bertemu dengan Nabi, dan beliau meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ubay bin Kaáb, Bilal, Abu Dzar, Ibnu Masúd, dan sahabat-sahabat yang lain([15]).

Beliau shalat 20 rakaat, setiap 4 rakaat salam, sehingga ada 5 kali istirahat.

Imam Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir menyebutkan riwayat Abu Al-Hasib Al-Ju’fi:

كَانَ سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً

“Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami kita pada bulan Ramadhan 20 rakaat”. ([16])

  1. Ibnu Abi Mulaikah

عن نافع بن عمر، قال: كَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يُصَلِّي بِنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيَقْرَأُ: بِحَمْدِ الْمَلَائِكَةِ فِي رَكْعَةٍ

“Nafi’ bin Umar berkata: Dahulu Ibnu Abi Mulaikah shalat mengimami kami 20 rakaat, beliau membaca Hamdu Al-Malaikat (Surat Fathir) dalam satu rakaat.” ([17])

Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang tabiin yang lahir di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib atau sebelumnya. Beliau telah menjumpai 30 sahabat([18]).

Atsar-atsar para tabiin ini menunjukkan bahwa pelaksanaan shalat tarawih di masa tabiin berlanjut dengan lebih dari 11 rakaat. Dan kemungkinan besar bahwa kebiasaan para tabiin tersebut diwariskan dari kebiasaan para sahabat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Sesungguhnya qiyam Ramadhan sendiri tidak ditetapkan oleh Nabi dengan jumlah tertentu. Bahkan, beliau dalam Ramadhan maupun bulan lain tidak lebih dari 13 rakaat, akan tetapi beliau memanjangkan rakaat. Ketika Umar mengumpulkan orang-orang untuk shalat diimami oleh Ubai bin Ka’ab, beliau shalat bersama mereka 20 rakaat kemudian witir 3 rakaat. Pada saat itu beliau meringankan bacaan sesuai dengan tambahan rakaat, karena itu yang paling ringan bagi para makmum daripada memanjangkan satu rakaat.

Kemudian sekelompok salaf mengerjakan shalat 40 rakaat dan witir 3 rakaat, dan sekelompok salaf yang lain mengerjakan shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat, dan ini semua diperbolehkan. Bagaimanapun cara yang dilakukan pada bulan Ramadhan dari tata cara tersebut maka ia telah melakukan hal yang baik.

Yang paling utama dalam praktik shalat malam adalah berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi jamaah yang shalat. Jika mereka mampu untuk berdiri lama, maka yang lebih utama adalah mengerjakan 10 rakaat dan tiga rakaat setelahnya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika shalat sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lainnya. Namun, jika mereka tidak mampu, maka mengerjakan 20 rakaat lebih utama. Inilah yang dikerjakan kebanyakan kaum muslimin, karena terletak pertengahan antara 10 dan 40 rakaat. Dan jika mengerjakan 40 rakaat maka hal itu dibolehkan dan sama sekali tidak dibenci. Ini telah disebutkan sejumlah imam, seperti imam Ahmad dan lainnya.

وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Siapa mengira qiyam Ramadhan ada bilangan tertentu dari Nabi yang tidak boleh ditambah dan dikurangi maka ia terjatuh dalam kesalahan.” ([19])

As-Syaukani mengatakan,

وَالْحَاصِلُ أَنَّ الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ أَحَادِيثُ الْبَابِ وَمَا يُشَابِهُهَا هُوَ مَشْرُوعِيَّةُ الْقِيَامِ فِي رَمَضَانَ، وَالصَّلَاةُ فِيهِ جَمَاعَةً وَفُرَادَى، فَقَصْرُ الصَّلَاةِ الْمُسَمَّاةِ بِالتَّرَاوِيحِ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ، وَتَخْصِيصُهَا بِقِرَاءَةٍ مَخْصُوصَةٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ سُنَّةٌ

“Kesimpulannya, hadits-hadits dalam bab ini dan hadits yang serupa menunjukkan disyariatkannya qiyam ramadhan, shalat baik dengan jamaah maupun sendiri-sendiri. Adapun membatasi shalat yang dinamai dengan tarawih dengan jumlah tertentu dan mengkhususkan dengan bacaan tertentu maka tidak ada sunnah yang menunjukkah hal itu”. ([20])

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَالتَّرَاوِيحُ إنْ صَلَّاهَا كَمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ: عِشْرِينَ رَكْعَةً أَوْ: كَمَذْهَبِ مَالِكٍ سِتًّا وَثَلَاثِينَ، أَوْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، أَوْ إحْدَى عَشْرَةَ فَقَدْ أَحْسَنَ.كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ لِعَدَمِ التَّوْقِيفِ فَيَكُونُ تَكْثِيرُ الرَّكَعَاتِ وَتَقْلِيلُهَا بِحَسَبِ طُولِ الْقِيَامِ وَقِصَرِهِ

“Shalat tarawih jika dikerjakan sesuai madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad adalah 20 rakaat, atau sesuai madzhab Malik 36 rakaat, atau 13, atau 11 maka itu baik, seperti dikatakan oleh Imam Ahmad, karena tidak ada penentuan batas akhir, sehingga memperbanyak jumlah rakaat dan mempersedikit dilakukan tergantung panjang atau pendeknya berdiri.” ([21])

Lantas bagaimana dengan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan jumlah rakaat shalat malam Nabi Muhammad ﷺ adalah 11 atau 13 rakaat? Maka ketahuilah bahwa landasan kita dalam memahami adalah berdasarkan pemahaman para salaf, dan kita dapatkan bahwa tidak satu pun dari para salaf bahwasanya jumlah tersebut sebagai batasan, sehingga asalnya boleh shalat kurang atau bahkan lebih dari jumlah tersebut.

Selain itu, para salaf juga mengamalkan shalat tarawih lebih dari 11 rakaat. Di antaranya riwayat yang menyebutkan tentang Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu yang mengimami para sahabat di zaman Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Tatkala itu, Ubay bin Ka’ab shalat tarawih 20 rakaat, dan inilah pendapat yang benar sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah([22]). Bahkan, penduduk kota Madinah dahulu sempat shalat tarawih hingga 36 atau 40 rakaat.

Intinya, berapa pun jumlah rakaat shalat tarawih tidak menjadi masalah, karena yang menjadi patokannya adalah durasi shalat itu sendiri. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an,

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ، قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلًا، نِصۡفَهُ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا، أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا﴾

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil: 1-4)

Dalam ayat ini, yang menjadi standar ketika Allah ﷻ memerintahkan untuk Nabi Muhammad ﷺ shalat malam adalah durasinya, bukan jumlah rakaatnya.

Demikian pula sabda Nabi Muhammad ﷺ,

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَيَصُومُ يَوْمًا، وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Shalat yang paling Allah cintai adalah shalatnya Nabi Daud n, dan shaum (puasa) yang paling Allah cintai adalah shaumnya Nabi Daud. Nabi Daud tidur hingga pertengahan malam, lalu shalat pada sepertiganya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya. Dan Nabi Daud  shaum sehari dan berbuka sehari.”([23])

Hadits ini juga menunjukkan bahwasanya yang menjadi standarisasi kecintaan Allah ﷻ terhadap shalat Nabi Daud ‘alaihissalam adalah durasi shalatnya, dan bukan pada jumlah rakaatnya.

Dari sini, para ulama kemudian khilaf tentang mana yang lebih utama dalam meraih durasi terbanyak dalam shalat tarawih, apakah dengan memperbanyak rakaat atau memperpanjang shalat (berdiri) itu sendiri?

  • Sebagian ulama berpendapat bahwa yang lebih utama adalah dengan memperbanyak rakaat.

Berdasarkan hadits tentang seorang sahabat yang ingin membersamai Nabi Muhammad ﷺ di surga. Lantas beliau ﷺ bersabda

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku mewujudkannya dengan cara engkau memperbanyak sujud.” ([24])

Memperbanyak sujud adalah dengan memperbanyak jumlah rakaat dalam shalat. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil bagi ulama yang berpendapat memperbanyak sujud dan rakaat lebih baik dari pada memanjangkan durasi shalat([25]).

  • Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang terbaik adalah dengan memperpanjang durasi berdiri dalam shalat.

Dalilnya adalah praktik Nabi Muhammad ﷺ. Bukankah Nabi Muhammad ﷺ dalam satu rakaat shalat membaca surah Al-Baqarah hingga surah An-Nisa’.

Berdasarkan hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ، ثُمَّ مَضَى، فَقُلْتُ: يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ، فَمَضَى، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ، فَقَرَأَهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ، فَقَرَأَهَا، يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا، إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

“Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi Muhammad , beliau mulai membaca surat Al-Baqarah, lalu aku berkata, “Beliau akan rukuk pada ayat ke seratus”, kemudian melewatinya, lalu aku berkata, “Beliau akan shalat dengan surat itu dalam satu rakaat”, namun ternyata beliau melewatinya. Setelah itu aku berkata lagi, “Beliau akan segera rukuk”. Kemudian beliau memulai surat An-Nisa, lalu beliau membacanya, kemudian beliau melanjutkan membaca surat Ali Imran hingga selesai. Beliau membaca dengan cara tartil, jika beliau melewati ayat tasbih, beliau bertasbih dan jika beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon dan jika beliau melewati ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan, beliau memohon perlindungan.” ([26])

Dari hadits tersebut imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan dianjurkannya memperpanjang shalat malam([27]). Sehingga ini menunjukkan bahwa cara terbaik dalam shalat tarawih atau shalat malam adalah dengan memperpanjang durasi berdiri.

Begitu juga dengan hadits yang diriwayatkan dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Shalat yang paling utama adalah lama berdirinya.” ([28])

Intinya, kedua pendapat di atas adalah pendapat yang sama-sama kuat. Bahkan, Allah ﷻ sendiri dalam firman-Nya memuji keduanya, baik dengan sujud maupun yang berdiri. Allah ﷻ berfirman,

﴿أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Artinya, baik memperpanjang berdiri atau memperbanyak sujud, keduanya memiliki kemuliaan dan keutamaan tersendiri. Oleh karenanya, seorang imam tinggal mengambil kesepakatan dengan makmumnya, mana dari dua pilihan tersebut yang dipilih.

Karya : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema : Bekal Puasa

___________
Footnote:

([1]) Lihat: Fath al-Bari (4/253-254).
([2]) Lihat: Fath al-Bari (3/19).
([3]) HR. Muslim No. 736.
([4]) HR. Bukhari No. 1138.
([5]) HR. Bukhari No. 990 dan HR. Muslim No. 749.
([6]) Shahih Ibn Khuzaimah no 1110, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh al-A’dzami.
([7]) Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,

وَأَكْثَرُ الْآثَارِ عَلَى أَنَّ صَلَاتَهُ كَانَتْ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ رُوِيَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً. وَاحْتَجَّ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنّ َصَلَاةَ اللَّيْلِ لَيْسَ فِيْهَا حَدٌّ مَحْدُوْدٌ وَالصَّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ فَمَنْ شَاءَ اسْتَقَلَّ وَمَنْ شَاءَ اسْتَكْثَرَ.

“Kebanyakan atsar menunjukkan bahwa shalat beliau adalah 11 rakaat, dan diriwayatkan bahwa 13 rakaat, para ulama berdalil bahwa shalat lail tidak ada batasnya, dan shalat adalah ibadah terbaik, siapa yang berkehendak silahkan menyedikitkan rakaát, dan siapa yang berkehendak maka silahkan memperbanyak rakaát”. [Lihat: Al-Istidzkar (2/98)].

([8]) Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata

وأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ لَمَّا قَامَ بِهِمْ وَهُمْ جَمَاعَةٌ وَاحِدَةٌ لَمْ يُمْكِنْ أَنْ يُطِيْلَ بِهِمُ الْقِيَامَ، فَكَثَّرَ الرَّكَعَاتِ لِيَكُوْنَ ذَلِكَ عِوَضًا عَنْ طُوْلِ الْقِيَامِ، وَجَعَلُوْا ذَلِكَ ضِعْفَ عَدَدِ رَكَعَاتِهِ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقُوْمُ بِاللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً أَوْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ كَانَ النَّاسُ بِالْمَدِيْنَةِ ضَعُفُوْا عَنْ طُوْلِ الْقِيَامِ، فَكَثَّرُوْا الرَّكَعَاتِ، حَتَّى بَلَغَتْ تِسْعًا وَثَلَاثِيْنَ

“Ubai bin Ka’ab tatkala mengimami mereka yang saat itu mereka satu jamaah, tidak memungkinkan untuk memperlama berdiri, maka beliau perbanyak rakaat sebagai ganti berdiri lama, dan mereka menjadikannya dua kali lipat jumlah rakaat, karena sebelum itu ia melakukan qiyamulllail 11 atau 13 rakaat, kemudian setelah itu orang-orang penghuni Kota Madinah tidak mampu berdiri lama, maka mereka perbanyak rakaat, hingga sampai 39 rakaat.” [Lihat: Majmu’ al-Fatawa (22/272) dan (23/112)].

([9]) Lihat: Syarh Shahih Muslim (6/19).
([10]) HR. Abu Dawud No. 1439 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.
([11]) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 7770, Fadhail Ramadhan Ibnu Abi Dunya (hlm. 79) No. 49. Sanad atsar ini sesuai dengan syarat (kriteria) Imam Muslim, dishahihkan Nawawi dalam Al-Majmu’ (4/32) dan Ibnul Iraqi di Tarhu at-Tatsrib (3/97).
([12]) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 7771.
([13]) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 7773, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Ismail bin Abdul Malik dalam Mushannaf Abdurrazzaq No. 7749, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Musa bin Nafi’ dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad (6/271).
([14]) HR. Baihaqi dalam Sunan beliau (2/496) No. 4803, Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab beliau Ta’sisul Ahkam (2/287) mengatakan: Sanadnya sahih.
([15]) Lihat: Siyar A’laam an-Nubalaa’ (4/70).
([16]) At-Tarikh al-Kabir (9/28) tarjamah No. 234.
([17]) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 7683 dengan sanad sahih.
([18]) Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata:

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu álaihi wasallam, semuanya takut akan kemunafikan atas dirinya”[Shahih Al-Bukhari (1/18)].

Diantara shahabat yang dijumpai oleh beliau adalah ; Aisyah, Asmaa’ binti Abi Bakar, Abu Mahdzuurah, Ibnu Ábbas, Abdullah bin Ámr, Ibnu Umar, Ibnu Az-Zubair, Úqbah bin al-Haarits, Ummu Salamah, Al-Miswar bin Al-Makhromah, dan Abdullah bin Ja’far. [Lihat: Siyar A’laam An-Nubalaa’ (5/89-90)].

([19]) Majmu’ Fatawa (22/272) dan (23/113).
([20]) Nailul Authar (3/66).
([21]) Al-Ikhtiyarat (hlm. 64).
([22]) Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah,

فَإِنَّهُ قَدْ ثَبَتَ أَنَّ أبي بْنَ كَعْبٍ كَانَ يَقُومُ بِالنَّاسِ عِشْرِينَ رَكْعَةً فِي قِيَامِ رَمَضَانَ وَيُوتِرُ بِثَلَاثٍ. فَرَأَى كَثِيرٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ أَنَّ ذَلِكَ هُوَ السُّنَّةُ؛ لِأَنَّهُ أَقَامَهُ بَيْن الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَلَمْ يُنْكِرْهُ مُنْكِرٌ. وَاسْتَحَبَّ آخَرُونَ: تِسْعَةً وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً؛ بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ عَمَلُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ الْقَدِيمِ.

“Telah menjadi ketetapan bahwa Ubay bin Ka’ab shalat bersama orang-orang dengan 20 rakaat dan witir 3 rakaat. Maka para ulama berpendapat bahwa hal itu adalah sunah, karena ia melakukannya di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Anshar dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya. Bahkan, sebagian ulama lainnya menyukai 39 rakaat, karena mengikuti amalan penduduk Madinah dahulu.” [Lihat: Majmu’ al-Fatawa (23/112)].

([23]) HR. Bukhari No. 1131.
([24]) HR. Muslim No. 489.
([25]) HR. Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim (4/206).
([26]) HR. Muslim No. 772.
([27]) Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim (6/63).
([28]) HR. Muslim No. 756.