Orang Sakit Ketika Puasa

Orang Sakit Ketika Puasa

Berbicara tentang orang yang sakit, maka apakah semua orang yang sakit mendapat uzur untuk tidak berpuasa lalu menggantinya di hari yang lain? Terlebih dahulu kita perinci model-model sakit sebagai berikut:

  • Sakit yang tidak mempengaruhi puasa. Contoh dalam hal ini adalah pusing, sakit kepala, atau pilek, yang semuanya tingkat rasa sakitnya sedikit. Sakit-sakit seperti ini secara umum tidak memberikan pengaruh pada puasa, sehingga bagi orang-orang seperti ini tetap wajib berpuasa. An-Nawawi rahimahullah berkata,

وأمَّا المرَضُ اليسيرُ الذي لا يلحَقُ به مشقَّةٌ ظاهرةٌ؛ لم يجُزْ له الفِطرُ بلا خلافٍ عندنا

“Adapun penyakit ringan yang tidak mendatangkan kesusahan secara jelas, maka tidak boleh berbuka puasa. Tidak terjadi perselisihan di antara kami tentang hal ini.”([1])

  • Puasa yang mempengaruhi sakitnya. Dalam hal ini ada dua kemungkinan:

Pertama: berpuasa dapat mengakibatkan tertundanya kesembuhan.

Kedua: berpuasa dapat mengakibatkan sakitnya bertambah parah.

Kedua model di atas diberi uzur untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari yang lain apabila ia telah sembuh.

  • Penyakit parah yang tidak bisa sembuh menurut medis. Hal ini akan kita bahas pada pembahasan khusus berikutnya.

Jadi, orang yang sakit tidak secara mutlak boleh untuk tidak berpuasa, akan tetapi yang dibolehkan untuk tidak berpuasa adalah orang sakit yang membuat seseorang kesulitan, seperti sakit yang bertambah parah atau memperlama waktu pemulihan kesehatan. Oleh karenanya Allah ﷻ telah berfirman,

﴿وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾

“Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Karya : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema : Bekal Puasa

___________
Footnote:

([1]) Al-Majmu’ (6/258).