Shalat Malam (qiyamullail) dengan Ihtisab Saat Puasa Ramadhan

Shalat malam (qiyamullail) dengan ihtisab

Sebagaimana dengan puasa, Nabi Muhammad ﷺ juga mensyaratkan agar seseorang berihtisab ketika melakukan shalat malam. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”([1])

Para ulama menjelaskan hadits ini merupakan anjuran bagi setiap orang untuk menghidupkan malam-malam puasanya dengan shalat([2]). Hendaknya setiap hamba menyadari bahwa setiap langkah kaki yang digunakan menuju masjid untuk shalat malam menjadikan pemberat timbangan amal kebaikannya serta menjadi penghapus dosa-dosanya. Dengan begitu, ia akan terus semangat dan ihtisab dalam menunaikan shalat malam.

Terkhusus di malam lailatulqadar, hendaknya jauh lebih bersemangat lagi, karena Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

مَن قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

Barang siapa yang shalat malam di lailatulqadar dengan iman dan rasa harap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”([3])

Karena tidak ada yang mengetahui kapan malam lailatul qadar itu, dan pendapat yang lebih kuat bahwasanya malam lailatul qadar itu berpindah-pindah dari satu Ramadan ke Ramadan berikutnya([4]). Maka, sudah seharusnya setiap orang bersemangat dan fokus beribadah di seluruh malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Ingatlah, apabila seseorang mendapati malam lailatulqadar namun tidak beribadah, maka sesungguhnya ia benar-benar terhalangi dari banyak kebaikan, karena Allah ﷻ sendiri yang mengatakan,

﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ﴾

“lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3)

Karya : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema : Bekal Puasa

___________
Footnote:

([1]) HR. Bukhari No. 37.

([2]) Lihat: Syarh an-Nawawi Ala Muslim (6/40).

([3]) HR. Bukhari No. 1901.

([4]) Lihat: Fath al-Qadir, li al-Kamal bin al-Humam  (2/390), Hasyiyah ad-Dasuki  (1/550-551), al-Majmu’ (6/450) dan al-Inshaf (3/354).