Berpuasa dengan Ihtisab

Berpuasa dengan Sungguh-sungguh Mengharap Pahala

Selain berpuasa di bulan Ramadan dalam rangka menjalankan kewajiban yang Allah ﷻ tetapkan kepada hamba-Nya. Namun, hendaknya puasa yang dilakukan bukan sekadar puasa rutinitas belaka, akan tetapi hendaknya disertai dengan ihtisab (mengharap pahala), karena Nabi Muhammad ﷺ mengatakan,

مَن صَامَ رَمَضَانَ، إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ.

Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan ihstisab (mengharap pahala) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”([1])

Karena sejatinya tujuan dari puasa adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Al-Khattabi berkata tentang ihtisab,

أَنْ يَصُومَهُ عَلَى مَعْنَى الرَّغْبَةِ فِي ثَوَابِهِ طَيِّبَةً نَفْسُهُ بِذَلِكَ غَيْرَ مُسْتَثْقِلٍ لِصِيَامِهِ وَلَا مُسْتَطِيلٍ لِأَيَّامِهِ

Ihtisab ialah ia berpuasa sesuai dengan makna ingin mendapat pahala, berpuasa dengan jiwa yang senang, tidak merasa berat terhadap puasanya, dan tidak merasa bahwa harinya begitu panjang.”([2])

Tentunya, berpuasa dengan disertai ihtisab berdasarkan makna di atas tidaklah mudah, karena betapa banyak orang yang berpuasa namun menganggapnya seperti menahan lapar dan dahaga pada umumnya.

Agar seseorang bisa menghadirkan ihtisab dalam puasanya, maka hendaknya ia senantiasa mengingat keutamaan-keutamaan puasa dan bulan Ramadan secara umum, dan juga mengingat dosa-dosa yang begitu banyak sehingga berharap dengan puasa tersebut dosanya akan diampuni oleh Allah ﷻ. Dengan begitu, kita pun akan bisa semangat dalam berpuasa.

Karya : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema : Bekal Puasa

___________

Footnote:

([1]) HR. Bukhari No. 2014 dan HR. Muslim No. 760.

([2]) Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar (4/115).