Tafsir Surat Al-Mujadilah Ayat-8

8. أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ نُهُوا۟ عَنِ ٱلنَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا۟ عَنْهُ وَيَتَنَٰجَوْنَ بِٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ وَمَعْصِيَتِ ٱلرَّسُولِ وَإِذَا جَآءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ ٱللَّهُ وَيَقُولُونَ فِىٓ أَنفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا ٱللَّهُ بِمَا نَقُولُ ۚ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا ۖ فَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

a lam tara ilallażīna nuhụ ‘anin-najwā ṡumma ya’ụdụna limā nuhụ ‘an-hu wa yatanājauna bil-iṡmi wal-‘udwāni wa ma’ṣiyatir-rasụli wa iżā jā`ụka ḥayyauka bimā lam yuḥayyika bihillāhu wa yaqụlụna fī anfusihim lau lā yu’ażżibunallāhu bimā naqụl, ḥasbuhum jahannam, yaṣlaunahā, fa bi`sal-maṣīr
8. Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Tafsir :

نَجْوَى secara bahasa Arab artinya مَا ارْتَفَعَ مِنَ الْأَرْض yaitu bagian tinggi dari bumi([1]), mengapa نَجْوَى dinamakan dengan tempat yang tinggi, hal ini dikarenakan ketika orang hendak melakukan bisik-bisik maka mereka akan naik ke tempat yang lebih tinggi untuk melakukan bisik-bisik agar tidak ada orang yang tahu, maka dari sinilah dikenal dengan isilah نَجْوَى. Dan dalam ayat ini dijelaskan bahwa mereka melakukan bisik-bisik tentang dosa, permusuhan, dan pembangkangan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama ahlu tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang munafik atau tentang orang-orang dari ahlul kitab Yahudi, Dari Ibnu Abbas:

نَزَلَتْ فِي الْيَهُودِ وَالْمُنَافِقِينَ كَانُوا يَتَنَاجَوْنَ فِيمَا بَيْنَهُمْ، وَيَنْظُرُونَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَتَغَامَزُونَ بِأَعْيُنِهِمْ، فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُونَ: لَعَلَّهُمْ بَلَغَهُمْ عَنْ إِخْوَانِنَا وَقَرَابَتِنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ قَتْلٌ أَوْ مُصِيبَةٌ أَوْ هَزِيمَةٌ، ويسؤهم ذَلِكَ فَكَثُرَتْ شَكْوَاهُمْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَهَاهُمْ عَنِ النَّجْوَى فَلَمْ يَنْتَهُوا فَنَزَلَتْ {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَى}

“(ayat tersebut) turun menjelaskan tentang orang-orang Yahudi dan orang-orang Munafik, bahwasanya dahulu mereka berbisik-bisik di antara mereka, dan mereka melihat kaum muslimin dan mengolok-olok dengan mata-mata mereka. Maka orang-orang yang beriman berkata, “Barangkali telah sampai kepada mereka (yahudi atau kaum munafiq yang berbisik-bisik tersebut) tentang saudara-saudara kita dan kerabat-kerabat kita dari kaum Muhajirin dan Anshor berita terbunuhnya saudara-saudara kita kaum muslimin, musibah, atau kekalahan yang menimpa mereka”. Sikap mereka (yahudi dan kaum munafik yang berbisik-bisik tersebut) mengganggu kaum muslimin, maka akhirnya banyak pengaduan kaum muslimin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal tersebut. Nabipun melarang mereka (Yahudi dan orang-orang Munafik) dari sikap berbisik-bisik, namun mereka tidak berhenti, maka turunlah ayat {Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan bisik-bisik}.” ([2])

Dan dari Muqotil:

كَانَ بَيْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ الْيَهُودِ مُوَادَعَةٌ، فَإِذَا مَرَّ بِهِمْ رَجُلٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ تَنَاجَوْا بَيْنَهُمْ حَتَّى يَظُنَّ الْمُؤْمِنُ شَرًّا، فَيَعْرُجَ عَنْ طَرِيقِهِ، فَنَهَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَنْتَهُوا فَنَزَلَتْ.

“Bahwasanya antara Nabiﷺ dan orang-orang Yahudi terdapat sebuah perjanjian, jika ada seorang lelaki dari kaum mu’minin melewati yahudi, merekapun berbisik-bisik di antara mereka hingga lelaki mu’min menyangka hal yang buruk, lalu iapun membelok (merubah arah) jalannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam melarang mereka (yahudi) dari hal tersebut namun mereka tidak berhenti, maka turunlah ayat.” ([3])

Dari riwayat-riwayat ini kita dapati bahwasanya para sahabat merasa terganggu dengan perbuatan yahudi sehingga para sahabat mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau pun akhirnya melarang kaum yahudi dan kaum munafik dari perbuatan tersebut akan tetapi mereka tetap mengulangi apa yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang kepada mereka, sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ “kemudian mereka mengulangi kembali apa yang telah dilarang kepada mereka”. Lalu Allah ﷻ menjelaskan bahwa apa yang dibisik-bisikkan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik adalah tentang dosa, menumbuhkan permusuhan kepada kaum muslimin, dan mereka membangkang terhadap apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kepada mereka sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ “dan mereka mengadakan bisik-bisik untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul”.

Kemudian Allah melanjutkan menjelaskan tentang sifat buruk mereka dalam firmanNya,

وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ

“Dan apabila mereka datang kepadamu (Muhammad), mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukmu”

Para ulama sepakat bahwa ayat ini turun tentang orang-orang Yahudi yang ketika mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka mengucapkan salam yang tidak diajarkan oleh Allah ﷻ. Salam yang diajarkan oleh Allah ﷻ seperti “assalaamu ‘alaika yaa Rasulallah”, “assalaamu ‘alaika wa rahmatullah wa barakaatuh”, dan yang semisalnya. Adapun ucapan salam yang diucapkan oleh orang-orang Yahudi adalah السَّامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ “semoga kematian menimpamu wahai Abul Qashim (yaitu Nabi, karena Abul Qashim adalah kunyahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam)”.

Mereka (yahudi) memilih mengucapkan السَّامُ عَلَيْكَ “Assaamu álaika” kalau didengar sekilas seakan-akan adalah السَّلاَمُ عَلَيْكَ “As-Salaamu álaika”, akan tetapi mereka membuang huruf laam sehingga maknanya berubah dari As-Salaam (keselamatan) menjadi as-Saam (kebinasaan). Ini menunjukan kelicikan mereka dan jahatnya mereka.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah,

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُنَاسٌ مِنَ الْيَهُودِ فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ قَالَ: «وَعَلَيْكُمْ» قَالَتْ عَائِشَةُ: بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَالذَّامُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ «لَا تَكُونِي فَاحِشَةً» فَقَالَتْ: مَا سَمِعْتَ مَا قَالُوا؟ فَقَالَ: ” أَوَلَيْسَ قَدْ رَدَدْتُ عَلَيْهِمِ الَّذِي قَالُوا، قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ “

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh orang-orang Yahudi lalu mereka berkata: “Semoga kematian menimpamu wahai Abul Qashim (panggilan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam)”, lalu Nabi menjawab, وَعَلَيْكُمْ “Begitu juga kalian”, ‘Aisyah berkata, “Bahkan semoga kematian dan cercaan menimpa kalian”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berkata, “Wahai ‘Aisyah janganlah engkau menjadi orang yang berkata-kata buruk !”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan?”. Lalu beliau berkata, “Bukankah aku telah membalas mereka terhadap apa yang mereka ucapkan, aku membalas: begitu juga kalian.” ([4])

Dan dalam lafaz Muslim yang lain dengan tambahan:

فَفَطِنَتْ بِهِمْ عَائِشَةُ فَسَبَّتْهُمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْ يَا عَائِشَةُ، فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ» وَزَادَ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ {وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللهُ} إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

“Maka ‘Aisyah memahami apa yang mereka ucapkan lalu Aisyahpun mencela mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berkata, “Cukup wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah tidak suka keburukan dan yang sengaja berbuat buruk !”, maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat {وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللهُ} hingga akhir ayat.” ([5])

Dalam riwayat lain terdapat tambahan lain dari jawaban ‘Aisyah berupa laknat kepada orang-orang Yahudi,

كَانَ اليَهُودُ يُسَلِّمُونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُونَ: السَّامُ عَلَيْكَ، فَفَطِنَتْ عَائِشَةُ إِلَى قَوْلِهِمْ، فَقَالَتْ: عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْلًا يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ» فَقَالَتْ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا يَقُولُونَ؟ قَالَ: ” أَوَلَمْ تَسْمَعِي أَنِّي أَرُدُّ ذَلِكِ عَلَيْهِمْ، فَأَقُولُ: وَعَلَيْكُمْ “

“Bahwasanya orang-orang Yahudi mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan; ‘assaamu ‘alaikum’ (Semoga kebinasaan atasmu). Dan ‘Aisyah memahami ucapan mereka, lalu dia membalas ucapan mereka; ‘wa’alaikumus saam wa la’nat (Semoga kecelakaan dan laknat tertimpa atas kalian).’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Pelan-pelanlah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara.’ Aisyah berkata; ‘Wahai Rasululloh! Apakah engkau tidak mendengar apa yang telah mereka katakan? ‘ Beliau menjawab: ‘Apakah kamu tidak mendengar bahwa saya telah menjawab ucapan mereka, aku berkata; ‘wa ‘alaikum’ (Dan semoga menimpa atas kalian juga).” ([6])

Bahkan ada riwayat lain yang menyebutkan balasan dari ‘Aisyah yang lebih dari riwayat di atas,

أَنَّ الْيَهُودَ دَخَلُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ. فَقَالَ: وَعَلَيْكُمْ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: عَلَيْكُمُ السَّامُ وَغَضِبُ اللَّهِ وَلَعْنَتُهُ يَا إِخْوَةَ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِالْحِلْمِ وَإِيَّاكِ وَالْجَهْلَ. فَقَالَتْ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ. فَقَالَ: أَولَيْسَ قَدْ رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ؟ إِنَّهُ يُسْتَجَابُ لَنَا فِيهِمْ وَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِينَا

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi berkunjung menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan : “as saamu ‘alaika” (semoga kebinasaan atas kamu). Rasulullah menjawab : ‘alaikum (semoga atas kalian juga). ‘Aisyah menjawab: ‘alaikumus saamu, wa ghodibullaahi wa la’natuhu, yaa ikhwatal qiradata wal khonaaziir (Semoga atas kalian juga kebinasaan, murka dan laknat Allah, wahai saudaranya kera-kera dan babi-babi)”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  “Wahai ‘Aisyah bersikaplah lemah lembut, kendalikan dirimu, dan jangan berbuat kebodohan”. ‘Aisyah menjawab : Apakah anda tidak mendengar apa yang mereka katakan? Mereka mengatakan : “as saamu ‘alaika” (semoga kebinasaan atas kamu). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : Apakah kamu juga tidak mendengar bahwasanya aku juga sudah menjawabnya? Sesungguhnya doa kita dikabulkan bagi mereka, dan doa mereka tidak dikabulkan bagi kita.”([7])

Dalam riwayat ini kita dapati bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur tentang ucapan ‘Aisyah ketika menjawab perkataan orang-orang Yahudi, padahal semua ucapan ‘Aisyah adalah benar, bukankah orang-orang Yahudi terlaknat? Maka jawabannya benar. Bukankah mereka orang-orang yang dimurkai? Maka jawabannya adalah benar, karena ini yang tiap hari kita baca dalam shalat kita غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ (bukan (jalan) mereka yang dimurkai) yaitu Yahudi([8]), dan juga dalam Al-Quran sering kita baca,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS. Al-Fath: 6)

Dan orang-orang Yahudi memang benar saudara-saudaranya adalah kera-kera dan babi-babi, karena dahulu nenek moyang mereka ada yang pernah diubah menjadi kera-kera dan babi-babi([9]).

Dan ‘Aisyah pandai dalam memilih kata, karena dia tidak mengatakan “wahai keturunan kera-kera dan babi-babi” karena kera-kera dan babi-babi tersebut tidak memiliki keturunan, akan tetapi ‘Aisyah menggunakan kata “wahai saudaranya kera-kera dan babi-babi”.

Kemudian firman Allah ﷻ,

وَيَقُولُونَ فِي أَنفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan perkataan mereka setelah mereka mengucapkan doa kebinasaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kemudian dibalas lagi oleh beliau dengan وَعَلَيْكُمْ “semoga kebinasaan juga menimpa kalian” sehingga mereka berpikir seandainya mereka salah tentunya mereka akan binasa, dan juga pasti doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan atas mereka akan dikabulkan, akan tetapi mereka tidak mendapati diri mereka binasa atas ucapan yang mereka katakan, maka Allah ﷻ bantah dengan firman-Nya selanjutnya حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ “Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali”.

Artinya di dunia ini mereka tidak diadzab karena adzab di dunia ini ringan akan tetapi cukup bagi mereka adzab Jahannam di akhirat kelak dengan dimasukkannya mereka ke dalamnya lalu diadzab di dalamnya, dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Dan yang semisal ini juga pernah diucapkan oleh sebagian orang-orang liberal dengan mengatakan: “Seandainya homoseksual itu dilarang, mengapa Allah tidak menurunkan adzab kepada pelakunya?”, perkataan seperti ini yang keluar dari mereka ini sebabnya seperti yang dijelaskan oleh Thahir Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya dikarenakan orang-orang yang kafir dan semisalnya terlintas dalam pikirannya bahwa Allah ﷻ itu seperti manusia yang ketika marah langsung melampiaskan amarahnya([10]), padahal Allah tidaklah demikian, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits,

“لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؛ إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ وَيُجْعَلُ لَهُ وَلَدٌ وَهُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَدْفَعُ عَنْهُمْ وَيَرْزُقُهُمْ”

“Tak ada seorang pun yang lebih sabar dari gangguan yang didengarnya dibanding Allah. Dia disekutukan (padahal Dia tidak butuh pada tandingan apalagi sekutu), mereka menuduh Allah punya anak, sementara Dia (Allah) senantiasa memberikan kesehatan dan melimpahkan rizki kepada mereka.” ([11])

Hadits ini menunjukkan betapa sabarnya Allah ﷻ, mereka orang-orang kafir mengatakan bahwa Allah ﷻ memiliki anak, memiliki istri, mereka juga mengatakan Allah lelah pada hari Sabtu, juga mereka mengatakan Allah ﷻ fakir, dan perkataan buruk lainnya namun Allah ﷻ sabar terhadap semua perkataan mereka tersebut, akan tetapi Allah ﷻ cukup membalas mereka di akhirat nanti sebagaimana Allah berfirman حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ “cukup bagi mereka neraka Jahannam”, Allah ﷻ membiarkan mereka bersenang-senang di dunia ini agar mereka mendapatkan adzab yang lebih berat di akhirat kelak. Dan pada hari ini kita dapati sebagian orang-orang liberal yang hampir sama perbuatannya dengan orang-otang Yahudi, di antaranya mereka mengatakan “Seandainya homoseksual itu dilarang, maka pastinya Allah akan menurunkan adzab kepada pelakunya sebagaimana diturunkannya adzab kepada kaum nabi Luth?”. Sungguh ini adalah perkataan yang tidak benar. Untuk menyanggah pernyataan mereka maka kita katakan: betapa banyak kita dapati di zaman sekarang banyaknya pencurian, perzinahan, korupsi, dan pembunuhan, namun semua pelakunya tidak diadzab di dunia ini, apakah tidak diturunkan adzab di dunia ini menunjukkan bahwa semua perbuatan tersebut benar? Maka pernyataan “tidak diturunkannya adzab di dunia terhadap pelaku yang menyimpang menunjukkan perbuatan itu adalah perbuatan yang benar” adalah pernyataan yang keliru.  Dan hal yang semacam ini termasuk tindak-tanduk Yahudi, mereka berkata لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ “mengapa Allah tidak mengadzab kita atas perkataan kita?”.

__________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 17/290

([2]) Al-Jami’u Li Ahkaamil Quraan Tafsir Al-Qurthuby 17/291

([3]) Al-Jami’u Li Ahkaamil Quraan Tafsir Al-Qurthuby 17/291

Begitu juga yang dimasukkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Katsir dalam tafsir mereka dari Muqotil dengan lafaz yang sedikit berbeda namun maknanya sama (lihat: Tafsir al-Quranil ‘Azhim libni Abi Hatim 10/3343 dan Tafsir al-Quranil ‘Azhim libni Katsir 8/42)

([4]) HR. Muslim no. 2165

([5]) HR. Muslim no. 2165

([6]) HR. Bukhori no. 6395

([7]) Musnad Ishaq bin Rahawaih no. 1685

([8]) Lihat: Tafsir Muqotil bin Sulaiman 1/36

([9]) Seperti dalam firman Allah

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina” (QS Al-Baqoroh : 65)

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina (QS Al-A’roof : 166)

([10]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 28/32

([11]) HR. Ahmad no 19633, dan sanadnya dikatakan oleh Syu’aib al-Arnauth shohih dengan syarat Bukhari Muslim