Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat-10

10. وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

wallażīna jā`ụ mim ba’dihim yaqụlụna rabbanagfir lanā wa li`ikhwāninallażīna sabaqụnā bil-īmāni wa lā taj’al fī qulụbinā gillal lillażīna āmanụ rabbanā innaka ra`ụfur raḥīm
10. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

Tafsir :

Pada ayat sebelumnya Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang orang-orang muhajirin dan memuji mereka kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang kaum Anshor dan memuji mereka maka pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan kelompok ketiga yaitu orang-orang yang datang setelah mereka.

Ayat ini menjelaskan bahwasanya di antara kaum mukminin yang baik adalah yang mendoakan kaum muhajirin dan kaum Anshor, isyarat bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan jenis yang ketiga ini untuk mendoakan kaum muhajirin dan kaum Anshor mengingat jasa kaum muhajirin dan kaum Anshor yang luar biasa yang dimana Islam tegak dengan mereka, dan mereka adalah murid-murid yang belajar langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga kita dapati bagaimana perjuangan mereka, jihad mereka, dan infak mereka maka sebagai orang-orang yang datang yang menikmati hasil jerih payah mereka harusnya mendoakan mereka agar mereka diampuni dan jangan sampai dengki kepada mereka. Oleh karenanya ayat ini dijadikan dalil bahwasanya seorang mukmin yang baik adalah yang mencintai para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendoakan mereka([1]).

Dalam satu riwayat dari Ibnu Mardawaih menceritakan tentang Ibnu ‘Umar,

أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا وَهُوَ يَتَنَاوَلُ بَعْضَ الْمُهَاجِرِينَ فَقَرَأَ عَلَيْهِ: لِلْفُقَراءِ الْمُهاجِرِينَ الْآيَةَ، ثُمَّ قَالَ: هَؤُلَاءِ الْمُهَاجِرُونَ أَفَمِنِهُمْ أَنْتَ؟ قَالَ: لَا، ثم قرأ عليه: وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَالْإِيمانَ الْآيَةَ. ثُمَّ قَالَ: هَؤُلَاءِ الْأَنْصَارُ أَفَأَنْتَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: لَا، ثُمَّ قَرَأَ عَلَيْهِ: وَالَّذِينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ الْآيَةَ، ثُمَّ قَالَ: أَفَمِنْ هَؤُلَاءِ أَنْتَ؟ قَالَ: أَرْجُو، قَالَ: لَيْسَ مِنْ هَؤُلَاءِ من سبّ هؤلاء.

“bahwasanya Ibnu ‘Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhuma dia mendengar sorang lelaki mencela sebagian kaum muhajirin maka dia membacakan kepadanya firman Allah, {(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar}, kemudian berkata: mereka adalah kaum Muhajirin (golongan pertama) apakah kamu termasuk dari golongan mereka? lelaki tersebut menjawab: bukan. Kemudian Ibnu ‘Umar membacakan kembali ayat berikutnya {Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung}, kemudian berkata: mereka adalah kaum Anshor (golongan kedua), apakah kamu termasuk dari golongan mereka? lelaki tersebut menjawab: bukan. Kemudian Ibnu ‘umar membacakan kembali ayat berikutnya {Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang}, lalu Ibnu ’Umar betanya: apakah kamu termasuk dari golongan mereka (golongan ketiga)? lelaki tersebut menjawab: aku berharap termasuk dari mereka. lalu Ibnu Umar berkata: bukan termasuk dari mereka (golongan ketiga) yang mencela mereka (golongan pertama dan kedua).” ([2])

Jadi kaum mukminin hanya ada 3 golongan: kaum muhajirin, kaum anshor, dan kaum yang datang setelahnya hingga hari kiamat. Dan ciri orang yang beriman adalah orang yang mendoakan kaum muhajirin dan kaum anshor. Dan ayat ini adalah bantahan yang telak bagi orang-orang Syiah yang hobi mereka adalah mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

أُمِرُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِأَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبُّوهُمْ

“mereka diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata mereka mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Asy-Sya’by berkata bahwa Yahudi dan Nasrani lebih baik dari Syiah dalam satu perkara, yaitu ketika orang-orang Yahudi ditanya: siapakah manusia terbaik? Maka orang-orang Yahudi akan menjawab bahwa manusia terbaik adalah sahabatnya Nabi Musa, dan orang-orang Nasrani ketika ditanya siapakah manusia terbaik? Mereka akan mengatakan bahwa manusia terbaik adalah sahabatnya nabi Isa, akan tetapi ketika orang Syiah ditanya siapakah manusia terburuk? Mereka akan mengatakan bahwa manusia terburuk adalah sahabatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam([3]), karena kerjaan mereka adalah mencaci maki para sahabat radhiyallahu ta’ala anhum ajma’in, dan itu adalah konsekuensi dari agama mereka karena orang Syiah agama mereka dibangun di atas keyakinan 12 imam:

Imam pertama adalah Ali bin Abu Thalib

Imam kedua adalah Al-Hasan

Imam ketiga adalah Al-Husain

Imam keempat adalah Ali bin Al-Husain (Yang diberi gelar : Zainal Abidin)

Imam kelima adalah Muhammad bin ‘Ali bin Al-Husain (yang diberi gelar Al-Baqir)

Imam keenam adalah Ja’far bin Muhammad Al-Baqir (yang diberi gelar Ash-Shadiq)

Imam ketujuh adalah Musa bin Ja’far (yang diberi gelar Al-Kadzim)

Imam kedelapan adalah Ali bin Musa (yang diberi gelar Ar-Ridho)

Imam kesembilan adalah Muhammad bin Ali (yang diberi gelar Al-Jawad)

Imam kesepuluh adalah ‘Ali bin Muhammad (yang diberi gelar Al-Hadi)

Imam kesebelas adalah Al-Hasan bin Ali Al-Asykari

Imam kedua belas adalah Muhammad bin Al-Hasan([4])

Jadi mereka meyakini bahwasanya imam yang pertama yang sah adalah Ali bin Abu Thalib, sementara ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat para sahabat seluruhnya mengangkat Abu Bakar radhiyallahu ta’ala ‘anhu sebagai imam, akhirnya orang Syiah menganggap para sahabat murtad ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, di antara sebab murtad mereka karena mereka tidak mengangkat Ali sebagai imam dan malah mengangkat Abu Bakar setelah itu mereka mengangkat ‘Umar, setelah itu mereka mengangkat ‘Utsman, kemudian setelah puluhan tahun baru kemudian mereka mengangkat Ali bin Abu Thalib. Sikap mereka (syiáh Rofidhoh) ini menunjukan bahwa agama mereka tidak dibangun kecuali dengan mengkafirkan para sahabat, kalau mereka tidak mengkafirkan dan mencaci maki para sahabat maka agama mereka hancur. Jadi intinya agama mereka dibangun di atas keyakinan bahwa imam pertama adalah Ali bin Abu Thalib, jadi kepemimpinan Abu Bakar setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sah, dan semua yang setuju akan kepemimpinan Abu Bakar, Umar, kemudian Utsman maka mereka semua kafir atau mereka adalah orang-orang yang tercela, dan jika ada orang Syiah yang memuji para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan para sahabat adalah benar dan menunjukkan akan sahnya Abu Bakar menjadi imam pertama, dan tentu ini bertentangan dengan keyakinan mereka dan merusak keyakinan mereka karena agama mereka tidak dibangun kecuali dengan meyakini bahwa imam yang pertama adalah Ali bin Abu Thalib. Konsekuensinya mereka harus mencela dan mengkafirkan para sahabat. Dan itulah agama mereka, akhirnya mereka senang dan merayakan kematian para sahabat, mereka memiliki hari raya kematian Umar dan ini disebutkan dalam buku-buku mereka bahwa merayakan kematian Umar pahalanya sangat besar, dan mereka gembira dengan tewasnya Umar, bahkan pahalanya bisa masuk surga dan bisa memberikan syafaat untuk keluarga. Mereka juga membuat acara perayaan kematian ‘Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha, mereka berkata: “selamat bagi ‘Aisyah berpindah dari azab dunia kepada azab akhirat”, jadi mereka bahagia dengan kematian para sabahat. Dari sisi inilah orang Yahudi dan Nasrani lebih mulia dari pada mereka.

Ayat ini juga dalil bahwasanya konsekuensi dalam keimanan adalah saling mendoakan, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.”

Karena sama-sama beriman harusnya saling perhatian, saling mendoakan, dan saling sadar bahwasanya tidak ada yang sempurna sebagaimana kami punya kekurangan mereka juga mempunyai kekurangan, kemudian meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar tidak hasad kepada yang lainnya. Seorang mukmin yang baik adalah yang tidak dengki kepada orang mukmin yang lainnya. Tidak hasad kepada orang lain merupakan perkara yang berat akan tetapi seseorang harus berusaha untuk menuju perkara tersebut dan jangan sampai di dadanya ada kedengkian kepada orang-orang yang beriman lainnya, karena konsekuensi bersaudara karena keimanan harusnya saling mendoakan bukan saling hasad atau saling dengki di antara orang-orang yang beriman.

Para ulama tafsir ketika membahas tentang ayat ini mereka menyebutkan tentang kisah seorang sahabat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam vonis dia masuk surga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى. فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ أَنَسٌ: وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ. قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ. قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

“Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga. Kemudian seorang laki-laki dari kaum Anshor datang yang jenggotnya masih basah dari bekas wudhunya, sedangkan tangan kirinya menenteng kedua sandalnya. Ketika keesokan harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan hal yang serupa, kemudian datang lelaki tersebut persis seperti hari sebelumnya. Ketika hari ketiga harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengucapkan hal yang serupa, kemudian datang lelaki tersebut persis keadaannya seperti hari sebelumnya. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Dia menjawab, ‘Silahkan!’. Anas berkata bahwa Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bin Ámr bin al-Ásh bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya sebenarnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa amalanmu sehingga aku mengikutinya, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau (pada derajat) sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : “Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampu.” ([5])

Hadits ini menunjukkan bahwasanya teori untuk tidak hasad itu mudah namun praktiknya yang susah, ketika melihat orang mendapatkan kekayaan kita dengki, ketika melihat orang mobilnya lebih bagus kita dengki, melihat orang istrinya lebih cantik kita dengki, dan juga ketika kita melihat orang dagangannya lebih laris kita juga dengki. Jadi konsekuensi dari keimanan kita tidak boleh saling mendengki, oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَقَاطَعُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا»

“janganlah kalian saling hasad, jangan saling bermusuhan, jangan saling memutus hubungan, dan jadilah hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bersaudara.” ([6])

Kalau kita tidak boleh saling mendengki di antara sesama kita apalagi terhadap orang-orang yang telah berjasa kepada kita seperti kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Ini dalil bahwasanya sesama antara orang yang beriman antara satu dengan yang lainnya saling memberi manfaat, saling mendoakan dan doa itu bermanfaat bagi yang lainnya.

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

Ini adalah di antara doa agar kita tidak saling hasad, yang kita ucapkan dalam doa kita وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ “dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. Dan kita harus berjuang agar hati kita tidak dengki dan ini sangat berkaitan dengan qona’ah dan beriman kepada takdir, sehingga ketika ada orang mencaci maki kita maka hati kita tenang karena yakin bahwasanya hal tersebut telah dicatat 50 ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi. Ini membuat hati kita tenteram karena untuk apa kita dengki atau dendam, karena demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan perjalanan kehidupan manusia, ada yang zalim dan ada yang dizalimi, ada yang dengki dan ada yang didengki, ada yang kaya dan ada yang miskin, dan lainnya. Maka kita yakini bahwasanya semua hal tersebut telah ditakdirkan dan ini membuat hati kita tenteram sehingga kita tidak membawa dengki dalam dada kita. Seharusnya sebelum tidur kita berusaha agar hati kita bersih, jika ada seseorang memiliki masalah dengan kita dan terngiang-ngiang dalam benak kita maka segeralah untuk kita maafkan karena untuk apa kita memikirkannya terus. Jika kita telah memaafkan maka selesailah perkaranya. Selama Iblis masih ada maka beginilah kehidupan dunia, akan ada yang menzalimi dan dizalimi, akan ada yang dimaki-maki, dituduh yang tidak-tidak, dan hal-hal yang lainnya.

__________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthuby 18/32

([2]) Lihat: Fathul Qadir 5/242

([3]) Lihat: Tafsir Al-Qurthuby 18/33

([4]) Lihat: Firaq Mu’ashirah hal: 350

([5]) HR. Ahmad no. 12697, dan Tafsir Ibnu Katsir 8/70

([6]) HR. Muslim no. 2559