Tafsir Surat Ash-Shaff Ayat-5

5. وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِى وَقَد تَّعْلَمُونَ أَنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ ۖ فَلَمَّا زَاغُوٓا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ

wa iż qāla mụsā liqaumihī yā qaumi lima tu`żụnanī wa qat ta’lamụna annī rasụlullāhi ilaikum, fa lammā zāgū azāgallāhu qulụbahum, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn
5. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

Tafsir :

Kaum Musa masih tega menyakiti Nabi Musa dengan perkataan maupun perbuatan padahal mereka telah mengetahui bahwasanya beliau adalah Rasul Allah kepada mereka, maka hal ini menunjukkan akan buruknya akhlak Bani Isra`il. Para ulama menyebutkan di antara gangguan kaumnya kepada Nabi Musa adalah mereka menuduh Nabi Musa bahwasanya beliau memiliki penyakit “barash/adar”([1]). Bani Isra`il memiliki kebiasaan mandi bersama, para lelaki mandi dan saling melihat sesama mereka dan hal ini diperbolehkan dalam syari’at mereka sedangkan Nabi Musa adalah seorang yang pemalu sehingga beliau biasa mandi sendiri dan tidak bergabung bersama kaumnya. Mereka mengatakan bahwasanya tidaklah Musa malu untuk mandi bersama mereka melainkan karena ia memiliki penyakit kulit belang atau ada penyakit pada kemaluannya([2]) sehingga ia pun tidak mau mandi bersama dan Allah pun isyaratkan gangguan mereka ini di ayat yang lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian seperti orang-orang yang menyakiti Nabi Musa dan Allah pun bebaskan dia dari tuduhan yang mereka ucapkan, dan dia (Musa) memiliki kedudukan yang terhormat di sisi Allah”(QS Al-Ahzab ayat 69).

Maka kisahnya sebagaimana diriwayatkan lebih lengkap oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka bahwasanya suatu ketika Nabi Musa ‘alaihis salam mandi sendiri lalu beliau letakkan bajunya di atas batu. Kemudian batu tersebut lari ke arah areal lokasi mandi kumpulan Bani Isra`il, Musa pun mengejarnya sembari berkata:

ثَوْبِي يَا حَجَرُ

“Bajuku, wahai batu!”

Sehingga Bani Isra`il pun melihat Nabi Musa ternyata beliau gagah dan tidak memiliki aib sama sekali dan pada batu tersebut terdapat bekas pukulan beberapa kali dari Nabi Musa karena kuatnya pukulan beliau. ([3])

Di kali yang lain, kaum Musa pun pernah menyakiti Nabi Musa ketika mereka sedang dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya hingga mereka sampai ke tepian laut Merah sehingga kaumnya sampai berkata:

إِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ

“Sesungguhnya kita akan tertangkap”(QS Asy-Syu’ara: 61), maka Nabi Musa menjawab perkataan mereka:

قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

“Dia (Musa) berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya bersamaku ada Rabbku yang akan memberi petunjuk kepadaku” (QS Asy-Syu’ara: 62).

Contoh yang lain dari gangguan mereka adalah ketika Nabi Musa perintahkan mereka untuk berjihad maka mereka berkata:

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

“…pergilah engkau dengan Rabbmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan disini duduk-duduk” (QS Al-Maidah:  24), dan banyak gangguan mereka lainnya terhadap Nabi Musa.

Di sisi lain pernah Nabi Muhammad ﷺ membagikan ghanimah lalu ada yang menganggap bahwa Nabi membagikan dengan tidak adil sembari berkata:

وَاللهِ، إِنَّ هَذِهِ لَقِسْمَةٌ مَا عُدِلَ فِيهَا وَمَا أُرِيدَ فِيهَا وَجْهُ اللهِ

“Demi Allah, pembagian ini tidaklah adil dan tidak mengharapkan wajah Allah!”, maka perkataan ini pun sampai kepada Nabi ﷺ lalu beliau pun menjawabnya:

فَمَنْ يَعْدِلُ إِنْ لَمْ يَعْدِلِ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ؟!

“Siapa yang bisa berlaku adil, jikalau Allah dan Rasul-Nya tidak adil?!” lalu beliau pun melanjutkan:

يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah merahmati Nabi Musa, sungguh ia telah diganggu lebih banyak daripada ini lalu bersabar”. ([4])

Oleh karena itu dalam ayat ini Allah ingin memperingatkan kaum muslimin, janganlah kalian wahai kaum muslimin ketika diperintahkan untuk berjihad lantas kalian mundur dan berlaku sebagaimana perilaku kaum Nabi Musa kepada Nabi Musa, Allah berfirman:

…فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“… maka ketika mereka menyimpang Allah biarkan hati-hati mereka menyimpang. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum fasik”.(QS Ash-Shaf: 5).

Para ulama mengatakan:

الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ

“Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan itu sendiri”([5]) dan juga sebagian ulama ada yang mengatakan:

الْسَّيِّئَاتُ تُنَادِيْ بِأُخْتِهَا وَالْحَسَنَاتُ تُنَادِىْ بِأُخْتِهَا

“Keburukan itu menggiring kepada keburukan-keburukan lainnya demikian pula kebaikan akan menggiring kepada kebaikan-kebaikan lainnya”, seseorang yang mengenal kebaikan maka akan menggiring kepada kebaikan lainnya, misalnya seperti seseorang yang ia hijrah dari keburukan kepada kebaikan, lalu ia hadir di majlis-majlis ilmu yang juga merupakan kebaikan, kemudian di majlis ilmu ia bertemu dengan orang-orang shalih bahkan hingga berujung sebagian orang shalih tersebut ada yang memiliki saudari yang kemudian menjadi jodohnya.

Demikian pula keburukan, ia akan menggiring kepada keburukan yang lainnya, seseorang yang awalnya merokok kemudian dia akan tergiring kepada minuman keras hingga datang ke diskotik dan bertambah terus maksiatnya hingga jatuh kepada zina bahkan bisa berujung kepada hidup yang tidak tenang dan akhirnya bunuh diri, maka kemaksiatan memang membawa kepada kemaksiatan yang lainnya.

Maka Allah jelaskan bahwa ketika mereka telah memilih jalan yang menyimpang maka akan membuat mereka semakin jauh, Allah berfirman di ayat yang lain:

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan (demikian pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan mereka dalam keadaan buta dari petunjuk”.(QS Al-An’am: 110)

Ayat ini menunjukkan bahwasanya sebagaimana penolakan mereka pertama kali terhadap Qur`an maka mulai saat itu dan seterusnya mereka akan terus menolak, demikian pula keadaan Bani Isra`il dalam ayat ini ketika mereka sendiri yang memilih jalan menyimpang maka Allah pun simpangkan hati mereka dari jalan yang benar. Keadaan sebaliknya jika seseorang memilih jalan petunjuk maka akan ditambahkan petunjuk baginya, sebagaimana yang Allah firmankan:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk niscaya Dia (Allah) akan tambahkan petunjuk bagi mereka dan memberikan balasan ketakwaan kepada mereka”.(QS Muhammad: 17).

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang berusah mencari hidayah maka Allah akan tambahkan hidayah baginya, di ayat yang lain Allah pun kembali menegaskan:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“…barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Allah akan berikan hidayah kepada hatinya”.(QS At-Taghabun 11).

Begitu pula berlaku sebaliknya sebagaimana keadaan Bani jIsra`il, tatkala hati mereka menyimpang maka Allah tetap biarkan mereka di dalam Penyimpangan dan Allah tidaklah memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

________________

Footnote :

([1]) Yakni suatu aib pada kemaluan berupa testis yang terlalu besar (Hadyus-Sariy karya Al-hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy: 1/ 73.

([2]) Lihat kisahnya dalam HR Al-Bukhari no 278 dan Muslim 339.

([3]) HR Al-Bukhari no  278 dan Muslim no  339.

([4]) HR Al-Bukhari no  3150 dan Muslim no  1062.

([5]) Imam Ibnu Katsir berkata demikian ketika menafsirkan  ayat Al-Baqarah: 9:

وَقَالَ الضَّحَّاكُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ} قَالَ: نِفَاقٌ {فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا} قَالَ: نِفَاقًا،…وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ: {فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ} قَالَ: هَذَا مَرَضٌ فِي الدِّينِ، وَلَيْسَ مَرَضًا فِي الْأَجْسَادِ، وَهُمُ الْمُنَافِقُونَ. وَالْمَرَضُ: الشَّكُّ الَّذِي دَخْلَهُمْ فِي الْإِسْلَامِ {فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا} قَالَ: زَادَهُمْ رِجْسًا، …وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، رَحِمَهُ اللَّهُ، حَسَنٌ، وَهُوَ الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ، وَكَذَلِكَ قَالَهُ الْأَوَّلُونَ

Adh-Dhahhak berkata dari Ibnu Abbas tentang ayat: “Di dalam hati mereka terdapat penyakit” yakni kemunafikan, maka “Allah tambahkan penyakit pada mereka” yakni kemunafikannya….Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang ayat ini: “Ini adalah penyakit dalam agama dan bukanlah penyakit pada jasad dan mereka adalah orang-orang munafik. Adapun penyakitnya adalah keraguan di dalam agam Islam, “Maka Allah tambahkan penyakit pada mereka”, beliau berkata: Tambahkan kotoran pada mereka…Lalu Imam Ibnu Katsir mengomentari: “Yang dikatakan Abdurrahman adalah bagus dan ini adalah termasuk balasan sejenis dengan amalannya, semakna ini pula pendapat para ulama yang disebutkan sebelumnya (Tafsir Ibnu Katsir: 1/ 178).