Tafsir Surat Al-Munafiqun Ayat-4

4. ۞ وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِن يَقُولُوا۟ تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ ٱلْعَدُوُّ فَٱحْذَرْهُمْ ۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa iżā ra`aitahum tu’jibuka ajsāmuhum, wa iy yaqụlụ tasma’ liqaulihim, ka`annahum khusyubum musannadah, yaḥsabụna kulla ṣaiḥatin ‘alaihim, humul-‘aduwwu faḥżar-hum, qātalahumullāhu annā yu`fakụn
4. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

Tafsir :

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan sebagian sifat-sifat mereka,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ “Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu”, jadi Abdullah bin Ubay bin Salul ini adalah orang yang penampilannya bagus, tinggi, dan gagah sehingga jika ada orang yang melihatnya akan terpesona dengan penampilannya. ([1])

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ “Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur-katanya”, karena Abdullah bin Ubay bin Salul adalah orang yang fasih, pandai berbicara, dan juga menarik pembicaraannya([2]). Sebagaimana orang munafik di zaman sekarang pun demikian, jika dia berbicara sangat luar biasa menariknya, orang yang cerdas, IQ-nya tinggi, bahkan terkadang dia adalah seorang doktor atau profesor.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ “akan tetapi mereka hakikatnya  seperti kayu-kayu yang tersandar”, yaitu seperti kayu-kayu yang disandarkan ke dinding, jika dinding tersebut disingkirkan maka kayu-kayu tersebut akan terjatuh. Ada beberapa penafsiran dari Ulama dari maksud perumpamaan orang-orang yang munafik dengan dinding yang disandarkan:

  1. Bahwa maksudnya adalah seperti “tong kosong nyaring bunyinya” namun imannya tidak ada, maka badan yang gagah dan pandainya berbicara semua itu percuma saja tidak ada faedahnya jika tidak ada keimanan dalam hati mereka, karena mereka hanya memperhatikan penampilan zhahir mereka akan tetapi hati mereka kosong dari keimanan. ([3])
  2. Maksudnya adalah seperti yang dijelaskan oleh Ibnu ‘Athiyyah dalam al-Muharror al-Wajiz yaitu mereka membutuhkan kepada yang lainnya([4]), yaitu mereka akan bekerja sama dengan orang-orang luar seperti dengan orang Yahudi dan yang lainnya dengan tujuan menghancurkan Islam dari dalam sebagaimana kayu yang butuh sandaran ke dinding. Sampai sekarang pun demikian, orang munafik yang ada pada zaman sekarang jika mereka ingin menghancurkan Islam dari dalam maka mereka butuh bantuan dari orang-orang kafir, bahkan jika mereka telah membuat satu kesesatan terkadang diberi penghargaan dari orang kafir, bahkan mereka diberikan proyek diminta untuk menulis sesuatu yang aneh tentang Islam lalu mereka akan diupah oleh orang kafir, seperti penulisan kesamaan tentang gender antara lelaki dan wanita, bukan hanya lelaki yang bisa menjatuhkan cerai, namun wanita juga bisa menjatuhkan cerai. Maka bisa dibayangkan betapa bahayanya jika seorang lelaki dicerai oleh seorang wanita. Begitu juga pemikiran aneh mereka yaitu ketika seorang wanita dicerai ada masa ‘iddahnya yaitu tiga kali haid maka demikian juga lelaki jika dicerai ada masa ‘iddahnya 120 hari, padahal fungsi masa ‘iddah adalah membersihkan sisa air mani dalam rahim sang wanita maka ini untuk kejelasan status anak yang nanti lahir, adapun lelaki maka tidak ada faedahnya dari memberikan mereka masa ‘iddah. Yang intinya mereka orang munafik zaman sekarang banyak membuat aturan yang aneh-aneh, dan mereka menulis semua itu dan mereka mendapatkan bayaran, diberikan penghargaan dari Yahudi dan Nasrani.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman يَحْسَبُونَ كَلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ “Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka”, yaitu setiap ada orang meneriakan sesuatu mereka mengira bahwa aib mereka telah dibongkar oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka hakikatnya mereka ini senantiasa dalam keadaan ketakutan dan khawatir([5]), karena mereka tahu bahwa suatu saat Allah subhanahu wa ta’ala akan membongkar aib mereka, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan:

{يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ}

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.” (QS. At-Taubah: 64)

Mereka menyembunyikan kekufuran mereka namun mereka selalu khawatir setiap ada berita yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka selalu khawatir jangan-jangan itu adalah berita yang membongkar aib mereka. Akhirnya setiap ada sesuatu berita yang datang mereka selalu merasa bahwa itu ditujukan kepada mereka, sama seperti seseorang ketika mencuri lalu menyembunyikan perbuatannya lalu setiap ada polisi yang datang dia selalu khawatir jangan-jangan polisi tersebut akan menangkapnya dan begitulah seterusnya keadaan mereka, dan ini adalah keadaan orang-orang munafik.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman memberikan kesimpulan tentang mereka هُمُ الْعَدُوُّ “mereka itulah musuh”, kata الْعَدُوّ di sini menggunakan alif lam yang memiliki dua kemungkinan:

Pertama: alif lam di sini adalah alif lam lil-jinsi atau lil-istighraq([6]), yaitu seluruh musuh Islam yang ada di muka bumi ini bergabung kepada kemunafikan, jadi orang munafik ini mewakili seluruh musuh Islam.

Kedua: alif lam di sini adalah alif lam lil-‘ahdiyah, yaitu seakan-akan ketika kaum muslimin membicarakan tentang musuh maka yang pertama terlintas dalam benak mereka adalah orang-orang munafik, bukan yang lain. Karena mereka adalah musuh dalam selimut dan sangat berbahaya. Mereka dibiayai oleh orang-orang luar, mereka membuat tulisan, ceramah, riset, dan disertasi yang semuanya mereka tujukan untuk menghilangkan Islam, untuk memadamkan cahaya Allah subhanahu wa ta’ala, dan untuk menghinakan orang yang menjalankan syari’at Islam. Dan semua ini terungkap dari perkataan-perkataan mereka, seperti mereka mengatakan bahwa ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekarang sudah tidak cocok lagi untuk diamalkan di zaman sekarang ini dan sudah tidak relevan, dan mereka mengatakan bahwa ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya cocok untuk 1400 tahun yang lalu adapun sekarang kita harus berijtihad untuk membuat hukum yang baru. Maka perkataan seperti ini menunjukkan bahwasanya pengucapnya adalah seorang yang munafik. Dan kaum munafik ini lebih bahaya dari musuh yang dari luar, karena mereka merusak Islam dari dalam. Orang-orang kafir mengetahui bahwasanya jika mereka merusak Islam dari luar maka potensi kerusakannya tidak begitu besar namun jika mereka menyokong orang munafik untuk merusak Islam dari dalam maka potensi kerusakannya lebih besar. Oleh karenanya penulis sering menyampaikan bahwa ketika ada orang kafir mengatakan bahwa semua penganut agama masuk surga maka kaum muslimin tidak akan ada yang membenarkan, namun berbeda jika ada profesor bidang agama Islam yang mengajar di Universitas Islam lalu mengatakan semua agama sama maka akan banyak kaum muslimin yang akan mendengarkan dan mengaminkan perkataannya. Dan jika ada orang kafir yang mengatakan bahwa syari’at Islam sekarang sudah cocok lagi maka tidak akan ada kaum muslimin yang mendengarkannya entah dia seorang profesor Yahudi maupun Nasrani, berbeda jika yang mengatakannya adalah profesor dari kalangan kaum muslimin atau dia adalah seorang doktor agama Islam maka akan banyak dari kaum muslimin yang mendengarkannya dan mengaminkannya, sehingga potensi kerusakan yang muncul dari dalam lebih besar dari kerusakan yang muncul dari luar. Inilah sebabnya orang-orang kafir mau menyokong dakwahnya orang-orang munafik.

Orang-orang munafik sangat pintar menyembunyikan kekufuran mereka, bahkan untuk menyembunyikan kekufuran mereka terkadang mereka melakukan amalan-amalan kebajikan, seperti mereka ikut berjihad, dan terkadang mereka membangun masjid seperti dalam kisah masjid dhiror yang dikisahkan dalam surat at-Taubah. Bahkan mereka mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meresmikan masjid tersebut. Terkadang mereka membuat bakti sosial untuk menarik orang bahkan berdakwah, dan itu semua untuk memperjuangkan kekufuran dan kemunafikan  mereka. Oleh kerenanya Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan tentang mereka “mereka adalah musuh yang sebenarnya”, lalu Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk berhati-hati dari mereka, lalu Allah subhanahu wa ta’ala melaknat mereka karena bagaimana mungkin mereka bisa berpaling dari kebenaran, padahal kebenaran, Islam, akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah jelas berada nyata di hadapan mereka. Mereka sudah menyaksikan itu semua namun mereka tidak mau beriman bahkan mereka berpaling dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

____________________

Footnote :

([1]) Lihat: Fathul Qadir 5/275

([2]) Lihat: Fathul Qadir 5/275

([3]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 28/240

([4]) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz 5/312

([5]) Lihat: Tafsir Al=Qurthubi 18/125

([6]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 28/242