Ketika Umurku Empat Puluh

Ketika Umurku Empat Puluh

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Allah berfirman :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (QS Ar-Rum : 54)

Pembahasan ini membahas tentang misteri umur 40 tahun. Pembahasan ini penting bagi orang-orang yang telah mencapai usia 40 tahun, telah lewat dari 40 tahun, dan yang akan mencapai usia 40 tahun.  Usia 40 tahun adalah usia yang Allah ﷻ sebutkan dalam surah al-ahqaf,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ . أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 15-16)

Inilah satu-satunya ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bagaimana seorang anak yang telah mencapai usia 40 tahun, dia berdoa agar diberi ilham untuk bersyukur kepada Allah ﷻ. Ini juga disebutkan dalam ayat yang lain dalam surah an-naml melalui lisan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, Allah ﷻ berfirman,

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ . حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ . فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”; maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.” (QS. An-Naml: 17-19)

Misteri usia Empat Puluh Tahun

Kita sering dengar bahwa usia 40 tahun adalah usia puber kedua. Bahkan beberapa orang pernah datang kepada penulis dan berkata, ‘Ustaz, pasti ada sesuatu di balik usia 40 tahun, karena saya merasakan ingin poligami’. Dia ingin berdalil bahwasanya diperbolehkan untuk poligami di usia 40 tahun. Dia merasakan bahwa di usia 40 tahun harus melakukan sesuatu hal yang baru. Entah dia termakan oleh perkataan orang lain atau merasakan sendiri, namun memang benar bahwa usia 40 tahun  adalah umur yang spesial. Oleh karenanya Allah ﷻ sebutkan  secara spesial tentang umur 40 tahun tersebut.

Allah ﷻ menyebutkan di awal ayat ke 15 dari surah al-ahqaf yang menjelaskan alasan penyebutan khusus umur 40 tahun,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya,”

Kita tahu bahwasanya ini umum mencakup siapa pun yang masih memiliki dua orang tua. Oleh karena itu, hendaknya dia berbakti kepada kedua orang tuanya. Jika yang masih hidup hanya salah satunya maka hendaknya ia berbakti kepada yang masih hidup. Tidak harus memandang apakah kedua orang tuanya dahulu berbuat baik padanya atau menelantarkan dirinya dan menzaliminya. Allah ﷻ tidak mengkhususkan untuk berbakti hanya kepada orang tua yang berbuat baik. Selama Anda memiliki orang tua maka wajib bagi Anda untuk berbakti kepada orang tua Anda. Terlepas apakah orang tua Anda dahulu perhatian kepada Anda atau tidak, menelantarkan Anda atau tidak, atau bahkan pernah mengajak Anda kepada perbuatan kesyirikan. Allah ﷻ tetap memerintahkan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Karena bagaimana pun seorang anak adalah hasil pertemuan dari sperma ayahnya dan sel ovum dari ibunya. Sehingga perintah kepada kedua orang tua bersifat umum. Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya walau orang tua mengajak kepada kesyirikan namun Allah ﷻ tidak memerintahkan untuk menjauhi kedua orang tuanya. Bahkan Allah ﷻ memerintahkan untuk pergauli keduanya dengan cara yang baik.  Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya apa pun kondisi keduanya. Setelah itu menyebutkan keadaan ibunya,

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا

“ibunya mengandungnya dengan susah payah.”

Dalam bahasa Arab كُرْهًا artinya benci atau tidak suka. Thahir Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya mengatakan maksud dari كُرْهًا pada ayat ini adalah bahwa sang ibu ketika kondisi mengandung dia tidak suka dengan kondisinya. Dia sayang dengan janinnya namun kondisi tersebut berat baginya([1]). Dalam ayat lain Allah ﷻ menyebutkan kondisi wanita yang sedang hamil,

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ

“ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” (QS. Luqman: 14)

Kita tahu bagaimana kondisi sulitnya istri kita jika sedang mengandung. Bagaimana mereka muntah yang tidak henti-hentinya, merasakan sakit pada pinggang dan kaki, bahkan terkadang meminta sesuatu yang aneh-aneh. Semua ini adalah kejadian nyata. Sebagian wanita ketika hamil tidak suka dengan aroma tubuh suaminya. Bahkan sebagian wanita ketika hamil tidak kuat melihat wajah suaminya.

Pernah ada seorang kawan bercerita kepada penulis ketika dia berada di bis bersama istrinya yang sedang hamil. Tiba-tiba istrinya mengidam makan rujak yang sedang dimakan oleh penumpang lain. Ini menunjukkan betapa beratnya kondisi istri ketika hamil. Kemudian Allah ﷻ berfirman,

وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

“dan ibunya melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,”

Yaitu dia benci dengan keadaannya atau rasa sakit yang dia alami. Seandainya wanita bisa melahirkan tanpa rasa sakit tentu semua wanita mengharapkan demikian. Intinya Allah ﷻ menjelaskan bahwa wanita tidak suka dengan kondisi dia ketika hamil bukan tidak suka dengan bayi yang sedang dikandung. Di mana kondisi perutnya membesar yang membuat tubuhnya berubah dan terkadang meninggalkan bercak-bercak hitam. Seorang wanita akan sangat merasakan kesulitan ketika melahirkan. Dalam keadaan tersebut dia bertarung dengan kematian.

Timbul pertanyaan, mengapa Allah ﷻ menyebutkan kondisi ibu namun tidak menyebutkan kondisi ayah? Jawabannya karena dalam ayat ini Allah ﷻ berbicara tentang seorang anak yang telah mencapai usia 40 tahun. Anak tersebut mungkin dari kecil hingga dewasa terbiasa melihat kondisi ayahnya yang bekerja keras. Namun, dia tidak pernah melihat kondisi ibunya ketika mengandungnya dan ketika melahirkannya. Semua ini bisa membuatnya lupa dengan hal itu. Berbeda dengan kondisi ayahnya yang mencari nafkah di luar yang hampir setiap hari dia melihatnya. Oleh karenanya Allah ﷻ ingatkan hal tersebut. Para ulama mengatakan bahwa hal ini juga merupakan dalil bahwasanya perhatian kepada ibu harus lebih besar dari pada perhatian kepada ayah([2]). Memang terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, ada yang mengatakan perhatian antara ayah dan ibu sama saja([3]) dan ada yang mengatakan bahwa perhatian kepada ibu harus lebih besar daripada ayah berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ ketika datang seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ ,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Beliau menjawab: ‘Ibumu. Kemudian lelaki itu bertanya: ‘lalu siapa?’. Beliau menjawab: ‘lalu Ibumu’. Kemudian lelaki itu bertanya: ‘lalu siapa?’. Beliau menjawab: ‘lalu Ibumu’. Kemudian lelaki itu bertanya: ‘lalu siapa?’. Beliau menjawab: ‘kemudian bapakmu’.” ([4])

Dalam hadis ini ibu disebutkan 3 kali lipat dari ayah. Para ulama mengatakan di antara hikmahnya adalah karena ada 3 hal yang tidak dialami oleh ayah yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ketiganya Allah ﷻ disebutkan dalam ayat ini,

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

“ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”

Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan keadaan hamil, melahirkan dan menyusui seorang wanita yang tidak dialami seorang lelaki. Kemudian Allah ﷻ berfirman,

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً

“sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun.”

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna الْأَشُدُّ. Ada yang mengatakan maksudnya usia 18 tahun([5]), ada yang mengatakan usia 30an tahun, ada yang mengatakan masa balig, ada yang mengatakan usia 33 tahun, dan ada yang mengatakan maksudnya usia 40 tahun. Pendapat yang dipilih oleh Mujahid dan Qatadah maksud dari الْأَشُدُّ adalah usia 33 tahun([6]). Di mana pada usia tersebut seseorang berada di puncak kekuatannya dan berada di kondisi yang sempurna. Jadi usia dari 33 tahun hingga 40 tahun adalah kondisi kesempurnaan. Pada usia tersebut seseorang badannya lebih baik, akalnya lebih cerdas, dan lebih dewasa. Ketika telah mencapai usia 40 tahun maka dia telah mencapai titik kesempurnaan. Oleh karenanya para nabi tidaklah diberi wahyu oleh Allah ﷻ kecuali usianya telah mencapai 40 tahun. Kecuali beberapa nabi yang diperselisihkan oleh para ulama seperti Nabi Yahya ‘alaihissalam di mana sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa ia diberi wahyu ketika masih kecil. Allah ﷻ berfirman,

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

“Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (QS. Maryam: 12)

Sebagian ulama menafsirkan الْحُكْمَ artinya kenabian. ([7])Begitu juga Nabi Isa ‘alaihissalam yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwa ia telah diangkat menjadi nabi ketika berbicara([8]). Intinya kebanyakan para nabi diangkat menjadi nabi setelah berumur 40 tahun. Ini menunjukkan otak di usia 40 tahun telah mencapai titik kesempurnaan dan siap diperintahkan untuk membina umat([9]). Di usia tersebut sudah cukup waktunya bagi seseorang untuk berpikir lebih jauh dalam memandang masa depan. Kita tidak tahu apakah usia 40 tahun ini adalah usia terakhir kita, atau usia yang sebentar lagi kita akan meninggal dunia? Banyak sekali saat ini orang yang meninggal dunia di usia muda. Banyak kita dapati orang ketika usianya 40 tahun sehat walafiat tiba-tiba meninggal dunia. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh seorang penyair,

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي * إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيشُ إِلى الفَجْرِ

“berbekallah dengan ketakwaan….jika malam telah datang apakah engkau masih tetap hidup hingga pagi hari.” ([10])

فَكَمْ مِنْ سَلِيمٍ مَاتَ مِن غَيرِ عِلَّةٍ * وَكَمْ مِنْ سَقِيمٍ عَاشَ حِينَاً مِنَ الدَّهْرِ

وَكَمْ مِن عَرُوسٍ زَيَّنُوهَا لِزَوْجِهَا * وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهَا وَهْيَ لاَ تَدْرِي

“betapa banyak orang yang sehat meninggal tanpa sakit….dan betapa banyak orang yang sakit hidupnya lama.”

“betapa banyak mempelai wanita yang dihias untuk diserahkan kepada mempelai lelaki….ternyata kain kafannya sedang dijahit sedangkan ia tidak tahu.”

فكم من فتى أضحى وأمسى ضاحكًا … وقد نسجت أكفانه وهو لا يدري

وكم من صغار يرتجى طول عمرهم … وقد أدخلت أجسادهم ظلمة القبر

“betapa banyak pemuda tertawa di pagi dan sore hari….sedangkan kain kafannya sedang dijahit sedangkan ia tidak tahu.

Betapa banyak dari anak-anak kecil yang diharapkan berusia panjang….akan tetapi jasad-jasad mereka telah dimasukkan ke dalam gelapnya kubur.” ([11])

Seseorang yang berada di usia 40 tahun ketika keluar rumah mungkin tidak terbetik sedikit pun dia akan meninggal ternyata Allah ﷻ mencabut nyawanya. Oleh karenanya seseorang jika mencapai usia 40 tahun harus berhati-hati. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

مَنْ أَتَى عَلَيْهُ أَرْبَعُونَ سَنَةً ثُمَّ لَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلِيَتَجَهَّزْ إِلَى النّارِ

“barang siapa yang telah mencapai usia 40 tahun dan kebaikannya tidak  mendominasi keburukannya hendaknya ia bersiap menuju neraka Jahanam.” ([12])

Seharusnya orang yang telah berusia 40 tahun sudah mulai berpikir panjang. Dia harus lebih berhati-hati dalam menjalani sisa umurnya karena dia tidak tahu sampai kapan ia akan hidup di dunia. Allah ﷻ menyebutkan usia 40 tahun agar seseorang banyak berpikir. Kemudian Allah ﷻ berfirman tentang doa anak yang telah mencapai usia 40 tahun,

قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ

“ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku.”

Dalam ayat ini dijelaskan bagi seorang hamba yang telah mencapai usia 40 tahun dianjurkan untuk berdoa dengan doa ini. Pendapat ini disampaikan oleh Asy-Syaukani, hendaknya seseorang yang telah mencapai usia 40 tahun dia sering mengucapkan doa ini,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”([13])

Jika Anda tidak bisa bersyukur di usia 40 tahun maka kapan lagi Anda mau bersyukur. Masa muda telah berlalu, maka renungkanlah masa lalumu dan pikirkanlah masa depanmu. Ingatlah nikmat-nikmat yang telah Allah ﷻ berikan kepadamu di masa lalumu. Minta kepada Allah ﷻ agar engkau menjadi insan yang pandai bersyukur. Hendaknya engkau ulangi doa ini.

Apa kaitan usia 40 tahun dengan berbakti kepada orang tua? Karena orang yang telah mencapai usia 40 tahun maka dia telah memiliki banyak kesibukan. Biasanya orang yang berusia 40 tahun telah memiliki istri dan anak. Juga biasanya beban ekonomi semakin bertambah sehingga dia semakin sibuk mencari harta  untuk menyenangkan keluarganya. Oleh karenanya ada kemungkinan dia lupa terhadap orang tuanya. Allah ﷻ mengingatkannya agar jangan sampai kesibukan yang padat tersebut membuatnya lupa kepada orang tuanya. Hendaknya ia meminta pertolongan kepada Allah ﷻ agar bisa bertambah berbakti kepada kedua orang tuanya([14]). Hendaknya orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup untuk bersyukur. Betapa banyak orang yang cemburu ketika mereka sudah tidak memiliki orang tua. Banyak orang yang berangan-angan seandainya orang tuanya masih ada maka dia akan duduk memijit kakinya dan selalu melayaninya. Akan tetapi, kesempatan itu telah tiada. Ini peringatan bagi kita jika kita berusia 40 tahun maka orang tua kita tidak akan lama lagi usianya. Allah ﷻ mengingatkan bahwa waktu untuk berbakti tinggal sedikit. Jangan sampai kesibukan yang dijalani membuat lalai dari berbakti kepada kedua orang tua. Inilah alasan mengapa dikaitkan berbakti kepada kedua orang tua dengan usia 40 tahun.

Apa kaitan antara kenikmatan yang diberikan kepada kita dengan nikmat yang diberikan kepada kedua orang tua? Para ulama tafsir mengatakan kaitannya adalah jika Allah ﷻ memberikan nikmat kepada kedua orang tua maka kita juga pasti akan merasakan sebagian nikmat tersebut. Jika dahulunya orang tua kita adalah orang yang kaya maka kita akan merasakan kenikmatan tersebut. Jika kedua orang tua kita adalah orang yang saleh maka kita juga akan merasakan dampak dari kesalehan kedua orang tua kita. Jika dahulunya kedua orang tua kita adalah orang yang memiliki akhlak yang mulia tentu kita juga akan merasakan dampaknya. Tidaklah Allah ﷻ memberikan kenikmatan  kepada kedua orang tua kita kecuali kita juga akan merasakan kenikmatan kebaikannya.

Mengapa kita harus mensyukuri kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepada kedua orang tua kita? Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa bisa jadi dahulu kedua orang tua kita adalah orang yang kurang pandai bersyukur maka kita mewakili keduanya untuk bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada mereka berdua([15]). Mungkin orang tua kita dahulu tidak belajar ilmu agama, minimnya ilmu agama mereka, atau terjerumus ke dalam hal-hal yang Allah ﷻ larang. Ini semua karena kejahilan dan ketidaktahuan mereka sehingga mereka tidak pandai mensyukuri nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada mereka berdua. Oleh karenanya kita sebagai anaknya hendaknya berdoa, ‘Ya Allah, jika kedua orang tuaku dahulu belum mampu mensyukuri nikmat atau kurang dalam mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepada mereka berdua, aku sebagai anak mereka berdua mewakili mereka untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut maka ilhamkanlah diriku untuk bisa mensyukuri nikmat yang dahulu engkau berikan kepada mereka berdua’. Ketika kita telah berusia 40 tahun harus sering untuk mendoakan mereka berdua, dan ini termasuk ciri anak saleh. Kemudian Allah ﷻ berfirman,

وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ

“dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai.”

Ayat ini menjelaskan Allah ﷻ memiliki sifat rida. Allah ﷻ rida dengan amal-amal saleh. Ketika kita mencari rida Allah ﷻ maka hendaknya kita beramal saleh. Amal saleh adalah amal yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. Bukan saatnya kita melakukan amal saleh untuk dipuji atau diakui orang lain. Usia kita sudah tidak panjang lagi. Hendaknya kita beramal saleh mencari keridaan Allah ﷻ dan berusaha ikhlas. Jika ada penyakit-penyakit hati di dalam diri kita maka hendaknya kita buang itu semua. Kemudian Allah ﷻ berfirman,

وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.”

Ini adalah doa untuk anak-anak keturunan kita. Orang yang telah mencapai usia 40 tahun maka hendaknya dia berdoa untuk dirinya, orang tuanya, dan anak-anaknya. Anak keturunannya merupakan aset baginya. Jika dia telah meninggal maka yang mungkin untuk mengirim pahala untuknya adalah anak-anaknya. Orang yang akan mendoakannya setelah dia meninggal adalah anak-anaknya. Maka hendaknya bersungguh-sungguh dalam mendoakan anak-anak. Kemudian Allah ﷻ menyebutkan lanjutan dari doa di atas,

إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ .

“Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Saatnya di usia 40 tahun kita memperbaharui tobat kita. Kita sadar bahwasanya banyak keburukan yang kita lakukan di masa lalu maka saatnya kita bertobat. Hendaknya kita menghafal doa ini sebagaimana yang disarankan oleh Asy-Syaukani. Kemudian Allah ﷻ berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.”

Jika kita berusaha semaksimal mungkin untuk berbakti kepada orang tua, berdoa untuk diri kita, dan berdoa untuk anak-anak kita maka Allah ﷻ akan memilih amalan terbaik kita dan menerimanya.

Maksud dari ‘Allah akan memaafkan dosa-dosa mereka’ adalah  Allah ﷻ maha mengetahui bahwa meskipun seseorang telah berusaha semaksimal mungkin untuk berbakti kepada orang tua dan beramal saleh maka dia tidak akan sempurna dalam berbakti kepada orang tua dan beramal saleh. Kekurangan tersebut akan Allah ﷻ ampuni selama seseorang telah berusaha semaksimal mungkin.

Di ujung pembahasan ini penulis ingin menyampaikan beberapa perkara yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang telah berusia 40 tahun:

Pertama: Banyak berdoa.

Hendaknya kita hafalkan doa di atas dan sering mengulangnya,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Kita harusnya takut kalau diri kita sampai lalai untuk bersyukur kepada Allah ﷻ. Jika kita tidak bersyukur saat ini makan kapan lagi mau bersyukur?

Kedua: Fokus ibadah

Fokus beribadah bukan berarti kita meninggalkan dunia. Kewajiban kita sangat banyak terutama untuk kaum lelaki yang harus berbakti kepada kedua orang tuanya dan menafkahi keluarganya. Namun yang dimaksud fokus ibadah di sini adalah mengurangi waktu untuk bermain-main. Kita sudah tua, tidak ada yang menjamin usia kita masih tersisa puluhan tahun. Jangan pernah terperdaya dengan kesehatan. Terdapat pepatah Arab,

الرَجُلُ يُؤْتَى مِنْ حَيْثُ يَأْمَنُ

“seseorang diberi musibah dari sisi yang dia merasa aman.” ([16])

Sangat banyak orang yang merasa aman karena sehat tiba-tiba dia meninggal. Allah ﷻ memberikan ujian seseorang dari sisi yang dia merasa aman darinya. Hal ini dikarenakan dia tidak bertawakal kepada Allah ﷻ pada sisi itu dan dia bertawakal pada kelebihan yang ia miliki.

Hendaknya orang yang sudah berusia 40 tahun untuk fokus beribadah. Banyak orang yang tidak lancar membaca Al-Qur’an namun dia sangat lancar ketika gibah.

Ketiga: Berbakti kepada kedua orang tua

Jika kita memiliki harta jangan sampai menunggu orang tua meminta. Hendaknya kita mengenali kebutuhan orang tua kita dan apa yang disuka orang tua kita. Selama kita mampu maka hendaknya kita berikan. Juga jangan perhitungan dalam memberi kepada orang tua. Selagi orang tua kita masih hidup maka ini adalah kesempatan kita untuk berbakti. Pintu surga masih terbuka di hadapan kita yang bisa kita buka selebar-lebarnya. Hendaknya kita langsung memberikan sesuatu kepada orang tua tanpa harus terlebih dahulu menawarkan kepadanya. Karena terkadang orang tua merasa malu ketika ditawarkan sesuatu sehingga mereka menolak tawaran tersebut.

Ada sebuah kisah seseorang yang menyesal karena dahulu dia merasa kurang berbakti kepada kedua orang tuanya. Setelah dia tua dia sadar bahwasanya dahulu ia kurang berbakti. Terkadang anaknya menawarkan sesuatu kepadanya padahal dia ingin namun dia menolak menerimanya karena merasa tidak enak. Dia pun teringat bahwa dahulu ketika masih muda sering berbuat seperti itu kepada orang tuanya. Dia sering menawarkan sesuatu kepada orang tuanya, namun ketika orang tuanya menolak maka dia pun tidak memberikan. Dia pun kini tersadar bahwa dahulu dia tidak berbakti kepada kedua orang tuanya. Oleh karenanya jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang tua maka tidak perlu menawarkan terlebih dahulu. Hendaknya kita langsung memberikannya. Jika memang mereka tidak mau maka dia akan mengembalikan atau tidak  mengambilnya.

Keempat: Mulai mengatur waktu untuk keluarga

Seseorang yang meninggal dunia akan ditanya, ‘apa yang kau sesalkan selama hidupmu?’. Dia akan menjawab, ‘saya menyesal tidak menyisihkan waktu untuk anak dan istriku karena terjebak dengan rutinitas harian yang membuat saya lalai untuk menghabiskan waktu bersama keluarga’.

Jika kita sudah mencapai usia 40 tahun maka hendaknya kita mengurangi pekerjaan sedikit demi sedikit. Kita mulai sisihkan waktu untuk anak dan istri. Karena anak kita jika telah menikah akan tinggal dengan orang lain. Sungguh menyedihkan kita membangun rumah besar namun tidak ada penghuninya. Karena anak-anak kita pasti akan tinggal bersama pasangannya di rumah mereka sendiri.

Di saat usia kita mencapai 40 tahun hendaknya kita banyak memperhatikan keluarga kita. Sebagaimana kita memberikan mereka kebutuhan jasmani maka begitu juga kita berikan mereka kebutuhan rohani. Kita harus perhatikan agama mereka.

Jika kita mengikuti keinginan duniawi maka tidak akan ada habisnya. Kita akan terus menginginkan harta dan habis waktu kita untuk terus bekerja. Sehingga tidak ada waktu untuk keluarga dan tidak ada waktu bermain dengan anak-anak. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Seberapa pun kayanya kita maka hanya bisa mengenakan 1 dari yang kita miliki. Kita hanya bisa mengendarai 1 mobil dan tidak bisa sekaligus mengendarai lebih dari 1. Kita pun hanya bisa tidur dengan 1 tempat tidur dan tidak bisa kita tidur lebih dari 1. Intinya di usia 40 tahun ini tidak mengapa kita mencari dunia secukupnya dan kita harus menyisihkan waktu untuk anak dan istri.

Kelima: Jaga waktu dan kesehatan

Kesehatan sangat mahal harganya. Jika kita sakit maka kita tidak bisa apa-apa. Memang benar ketika kita menghadapi sakit dengan bersabar maka bisa menambah pahala dan mengangkat derajat. Akan tetapi, sakit bisa mengurangi aktivitas kita. Penulis sering mendengar para dokter berkata, ‘jika seseorang telah berusia 40 tahun maka akan semakin banyak penyakit yang ditemukan yang sebelumnya tidak ada’. Di usia 40 tahun terkadang tiba-tiba mendapati dirinya terkena penyakit darah tinggi, gula, asam urat, atau lainnya yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ketika di usia 40 tahun rambut mulai memutih, mulai lemah, kesehatannya mulai menurun, dan kekuatannya mulai menurun. Jika seseorang sakit maka dia akan sulit untuk membahagiakan anak istri. Oleh karenanya seseorang yang telah berusia 40 tahun untuk senantiasa waspada, selalu rutinitas berolahraga, dan ada waktu untuk belajar agama agar lebih dekat kepada Allah ﷻ.

Keenam: Membatasi kegiatan

Orang yang telah mencapai usia 40 tahun tidak sama seperti ia berusia 30 tahun yang masih energik. Di mana dahulu ia masih kuat untuk pergi ke sana-sini. Namun, ketika berusia 40 tahun hendaknya ia membatasi kegiatannya. Allah ﷻ tidak membebani di luar kemampuan kita. Sebagian orang ingin melakukan semua kegiatan sehingga dia tidak sayang kepada dirinya dan tidak sayang kepada keluarganya. Hendaknya ketika usia 40 tahun mulai mengatur waktunya dan merencanakan kegiatannya. Misalnya dia ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’annya maka hendaknya dia fokus di situ. Atau misalnya dia ingin mengkhatamkan fikih/akidah dari awal hingga akhir maka hendaknya dia fokus di situ. Adapun hal-hal yang tidak bermanfaat maka hendaknya dijauhkan karena belum tentu kita bisa mencapai tujuan-tujuan yang kita inginkan.

Juga kita di usia 40 tahun hendaknya mulai mencari kebahagiaan dengan mencari akhirat. Sebagian orang menyangka bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan kemasyhuran, ketenaran, harta banyak, atau dengan kekayaan. Ini tidak benar, kebahagiaan adalah bagaimana kita dekat dengan Allah ﷻ. Kita harus jadwalkan kegiatan sehari-hari dan kita harus memaksakan diri.

Penulis akan memberikan jadwal sederhana yang insya Allah kita semua bisa mengerjakannya. Saat ini azan subuh dikumandangkan pada pukul 04.40 WIB. Kita bisa jadwalkan bangun pukul 04.00 untuk salat malam. Kemudian kita isi dengan istigfar sambil menunggu azan subuh dikumandangkan. Ketika azan subuh dikumandangkan maka kita salat qabliyah, salat subuh, baca Al-Qur’an 1 halaman, kemudian zikir pagi petang. Tidak perlu banyak-banyak yang penting kontinu. Ketika pukul 08.00 WIB  salat duha 2 rakaat. Semua ini merupakan kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki. Menjelang zuhur siap-siap untuk salat zuhur. Kita berwudu sebelum masuk waktu zuhur. Ketika azan dikumandangkan kita salat qabliyah, salat zuhur, salat ba’diyah, kemudian baca Al-Qur’an 1 halaman. Tidak perlu kita menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat-tempat pengajian yang jauh-jauh namun ilmunya tidak dipraktikkan. Betapa banyak ustaz yang mengajak kita untuk membaca Al-Qur’an namun kita tidak membacanya maka ilmu ini menjadi sia-sia. Betapa banyak ustaz yang mengajak untuk taat kepada suami namun kita tidak menaatinya maka ilmu ini menjadi sia-sia. Setelah kita melakukan kegiatan di waktu zuhur maka kita istirahat. Di waktu asar kita bangun untuk mengerjakan salat asar kemudian zikir pagi petang. Jangan sampai kita meninggalkan zikir pagi petang. Juga jangan sampai ada waktu yang kita lewati dengan melamun. Daripada melamun maka hendaknya kita isi dengan berzikir dengan zikir-zikir yang ringan seperti istigfar, tasbih, tahlil, dan takbir. Atau kita isi waktu luang kita dengan membaca Al-Qur’an. Ketika tiba waktu magrib kita kerjakan salat magrib, salat ba’diyah, dan baca Al-Qur’an 1 halaman. Ketika masuk waktu isya kita kerjakan salat isya dan salat ba’diyah.

Semoga di usia kita yang telah mencapai 40 tahun Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang pandai  bersyukur, menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang tidak lalai dari akhirat, dan menjadikan kita hamba-hamba yang pandai berbakti kepada kedua orang tua.

Footnote:
___________

([1]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir (26/29).

([2]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi (14/64).

([3]) Ini adalah pendapat Imam Malik [lihat: At-Taudih Li Syarhi Al-Jaammi’ Ash-Shohiih (28/241)].

([4]) HR. Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548

([5]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi (16/194).

Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

([6]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi (9/162).

([7]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir (16/76).

([8]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi (11/102).

([9]) Lihat: Fath Al-Qadir (5/22).

([10]) Lihat: Mausu’ah Ar-Raqaiq Wal Adab karya Yasir Al-Hamadani 1/2064.

([11]) Lihat: Ad-Dunya Zhillun Zail hal: 51.

([12]) Lihat: Rabii’ Al-Abraar wa Nushuus Al-Akhyaar (3/29).

([13]) Lihat: Fath Al-Qadir (5/22).

([14]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir (26/31).

([15]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir (26/32).

([16]) Jamharah Al-Amtsaal (2/203).