Kematian Itu Dekat

Kajian Umum – Kematian Itu Dekat

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu pembahasan yang membuat kita mengingat akhirat, yaitu tentang kematian. Pembahasan ini mungkin tidak disukai oleh banyak orang, karena secara tabiat perkara ini memang tidak disukai oleh siapa saja, karena kematian menggambarkan kesedihan dan kekhawatiran yang besar di balik peristiwa kematian tersebut. Oleh karenanya, tidak heran ketika Nabi Muhammad ﷺ menyebut kematian sebagai pemutus kelezatan, sebagaimana sabda beliau dalam hadits,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah kalian mengingat sesuatu yang dapat pemutus kenikmatan (yaitu kematian).”([1])

Bagaimanapun banyaknya di antara kita yang tidak suka dengan pembahasan ini, namun tetap saja harus kita selalu ingatkan mengenai kematian ini. Hal ini dikarenakan kita sudah terlalu sering lalai dari mengingat kematian itu sendiri, baik itu karena hati kita yang sudah semakin keras karena maksiat, atau karena kita seringnya melihat; mendengar; dan mengucapkan perkataan yang haram, atau karena tubuh kita tumbuh dari hasil yang haram, atau bahkan karena perkara dunia yang telah melalaikan kita akan akhirat.

Di antara hal yang menunjukkan betapa lalainya kita dari kematian adalah kita tidak tergugah dan mempersiapkan diri bertemu dengan kematian, sementara hampir setiap harinya kita melihat dan mendengar peristiwa kematian itu sendiri, bahkan tidak jarang peristiwa dan kabar tersebut datang dari keluarga dekat kita.

Imam Hasan al-Bashri pernah mengatakan suatu kalimat yang indah,

مَا رَأَيْتُ يَقِينًا أَشْبَهَ بِالشَّكِّ مِنْ يَقينِ النّاسِ بِالْمَوْتِ ثُمَّ لَا يَسْتَعِدُّونَ لَهُ

“Aku tidak melihat sesuatu yang meyakinkan tetapi seakan diragukan oleh manusia seperti keyakinan manusia terhadap kematian karena mereka tidak mempersiapkannya.”([2])

Maksudnya adalah orang-orang itu sadar bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti. Tidak ada manusia di alam semesta ini yang ragu akan namanya kematian. Namun, ternyata kematian itu seakan-akan menjadi suatu perkara yang meragukan karena melihat kondisi dan sikap manusia, yang seakan-akan menunjukkan bahwa mereka tidak yakin dengan adanya kematian. Oleh karena itu, Nabi Muhammad ﷺ menyuruh kita untuk banyak mengingat kematian, yang kita semua pasti akan merasakannya.

Nama-nama Kematian

Ada beberapa sebutan bagi al-maut ‘kematian’.

  1. Al-Qiyamah ash-Shughra (الْقِيَامَةُ الصُّغْرَى)

Para ulama menyebut kematian dengan al-qiyamah ash-sughra ‘kiamat kecil’, sebagaimana perkataan para ulama,

مَنْ مَاتَ فَقَدْ قَامَتْ قِيَامَتُهُ

Barang siapa yang meninggal dunia maka telah tiba hari kiamatnya.”([3])

Meskipun belum tegak hari kiamat yang sesungguhnya, tetapi seseorang yang telah meninggal dunia disebut telah tiba hari kiamatnya karena dia telah berpindah ke alam akhirat.

  1. Al-Yaqin (الْيَقِنُ)

Kematian juga disebut dengan الْيَقِيْنُ (keyakinan). Hal ini sebagaimana telah datang penyebutannya dalam beberapa ayat,

﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

﴿مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ، قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ، وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ، وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ، حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ﴾

“(Ditanyakan) ‘Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,  dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami al-yaqin (kematian)’.” (QS. Al-Muddattsir: 42-47)

Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka seluruh hal-hal gaib yang pernah ia dengar dan bicarakan di dunia ia lihat ketika itu, sehingga segala keraguan atas apa yang ia dengar ketika di dunia menjadi sesuatu yang yakin, oleh karena itulah kematian juga disebut dengan al-yaqin.

  1. Hadim al-Ladzzat (هَادِمُ اللَّذَّاتِ)

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ yang telah kita sebutkan,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah kalian mengingat sesuatu yang dapat pemutus kenikmatan (yaitu kematian).”([4])

Sungguh benar bahwasanya kematian itu menghancurkan kelezatan, menghilangkan kenikmatan, menghilangkan kebahagiaan dunia, karena kematian membuat seseorang terpisah dengan segala yang berkaitan dengan dunia.

  1. Al-Maut (الْمَوْتُ)

Al-Maut adalah di antara nama-nama kematian, yang maknanya adalah hilangnya kehidupan.

Setiap yang Bernyawa Pasti Merasakan Kematian

Hal ini telah Allah ﷻ terangkan dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya seperti firman Allah ﷻ,

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Kata كُلُّ dalam ayat ini bersifat umum sehingga mencakup seluruh manusia, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang muda maupun yang tua, baik orang kaya maupun orang miskin, baik seorang ulama maupun penuntut ilmu, baik para nabi maupun manusia biasa, baik orang-orang saleh maupun orang-orang buruk, semuanya termasuk dalam ayat ini. Artinya, selama seseorang itu memiliki jiwa, maka mereka pasti akan merasakan kematian. Kemudian, seluruh amalan masing-masing orang akan dikumpulkan pada hari kiamat kelak. Allah ﷻ telah berfirman,

﴿يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوءٍ﴾

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu pula keburukan yang telah dikerjakannya.” (QS. Ali ‘Imran: 30)

Maka, barang siapa yang dengan amal-amalannya menjadikannya bisa masuk ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka, maka itulah yang namanya sebuah kesuksesan. Namun, kenyataannya kita semua teperdaya dengan kehidupan dunia, karena sikap kita menunjukkan seakan-akan kita akan hidup lama dan kematian tidak akan menjumpai kita.

Allah ﷻ juga telah berfirman,

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kalian dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 57)

Setiap jiwa akan merasakan kematian, dan semuanya akan dikembalikan kepada Allah ﷻ. Untuk apa dikembalikan? Tidak lain adalah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dikerjakannya di dunia. Setiap kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita ucapkan, apa yang telah kita dengarkan, apa yang telah kita pikirkan, apa yang telah dikerjakan, dan seluruh amalan-amalan yang lain, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ﷻ.

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Masing-masing orang yang bernyawa di atas muka bumi ini, semuanya akan diuji. Ada yang diuji dengan kebaikan seperti dengan kekayaan, dengan ketampanan dan kecantikan, dengan popularitas, dan bahkan ada yang diuji dengan kesulitan seperti sakit dan kemiskinan. Intinya, semua yang bernyawa akan diuji, kemudian semuanya akan mati, lalu kemudian semuanya akan dikembalikan kepada Allah ﷻ untuk mempertanggungjawabkan ujian yang telah diberikan.

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)

Semua yang ada di atas muka bumi ini akan sirna, dan yang tersisa hanyalah wajah Allah ﷻ. Allah ﷻ juga telah berfirman dalam ayat yang lain,

﴿وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ﴾

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya’: 34)

Nabi Adam ‘alaihissalam umurnya 960 tahun, Nabi Nuh ‘alaihissalam kurang lebih 1000 tahun, namun keduanya juga tetap meninggal dunia. Maka, sudah sangat jelas bahwasanya tidak ada yang abadi. Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ﴾

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az-Zumar: 30)

Allah ﷻ juga telah berfirman,

﴿وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ﴾

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)?” (QS. Ali ‘Imran: 144)

Kesimpulannya, setiap manusia pasti akan merasakan kematian, siapa pun dia pasti akan merasakan kematian. Cobalah kita melihat, di mana Firaun dengan kesombongannya? Di mana raja Namrud dengan keangkuhannya? Di mana kaum ‘Ad yang begitu kuat dan perkasa? Di mana kaum Tsamud yang begitu hebat dalam membelah gunung dan menjadikannya rumah-rumah mereka? Di mana orang-orang hebat itu? Di mana para presiden beserta panglima-panglima tertinggi mereka? di mana orang-orang saleh dan para nabi? Mereka telah berlalu, dan kini mereka telah berada di bawah tanah.

Jika sekiranya kekekalan itu bisa diberikan, tentu orang-orang saleh dan para nabi lebih berhak untuk hal tersebut, akan tetapi ternyata mereka pun juga meninggal dunia. Maka dari itu, kalau mereka-mereka saja meninggal dunia, maka tentu kita pun juga akan meninggal dunia, karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Tidak Ada yang Bisa Lari dari Kematian

Allah ﷻ telah menekankan hal ini dalam banyak ayat. Di antaranya seperti firman Allah ﷻ,

﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ﴾

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78)

Siapa pun di atas muka bumi ini tidak akan bisa lepas dari kematian. Meskipun dia seorang raja, meskipun dia seorang presiden, bahkan meskipun dia tinggal tempat yang terjaga, kematian juga tetap akan menghampirinya. Oleh karenanya, ketika Nabi Daud ‘alaihissalam mendapati seseorang di dalam rumahnya, sementara dia terbiasa menutup pintu rumahnya dengan rapat sehingga tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam rumahnya, maka Nabi Daud ‘alaihissalam pun bertanya tentang siapa dia, maka dia menjawab,

أَنَا الَّذِي لَا أَهَابُ الْمُلُوكَ، وَلَا يَمْتَنِعُ مِنِّي الْحُجَّابُ

Aku adalah orang yang tak pernah takut pada para raja, dan tidak ada yang bisa menghalangiku.”

Maka Nabi Daud ‘alaihissalam berkata, “Demi Allah, engkau adalah Malaikat pencabut nyawa, selamat datang dengan perintah Allah”.([5])

Andai kata ada seorang raja yang dijaga oleh ribuan prajurit, apabila ajal sang raja telah tiba, maka tidak ada satu orang pun dari prajuritnya yang bisa menyelamatkannya dari kematian. Maka jika mereka para pemimpin yang tinggal di tempat yang benar-benar terlindungi saja tidak bisa selamat dari kematian, maka bagaimana lagi dengan kita yang buka siapa-siapa?

Allah ﷻ berfirman dalam ayat yang lain,

﴿قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menjumpai kalian’.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata مُلَاقِيكُمْ yang menunjukkan bahwasanya bagaimana pun seseorang lari yang namanya kematian, tetap kematian akan menjumpainya, namun kematian tidak menjumpainya dari belakang, akan tetapi dari depannya, sehingga yang terjadi adalah seseorang tidaklah lari dari kematian, melainkan dia lari menuju kepada kematian.

Kematian tetap akan menghampiri siapa pun, tidak peduli kondisi seseorang ketika itu, baik itu seseorang sedang beribadah ataupun bermaksiat, ketika telah tiba waktunya untuk dia meninggal dunia, maka dia pun akan merasakan kematian detik itu pula, dia tidak bisa lari darinya meski sedetik pun.

Allah ﷻ juga telah berfirman dalam ayat yang lain,

﴿وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ﴾

“Dan datanglah sakratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS. Qaf: 19)

Percuma saja, bagaimana pun seseorang menghindarkan dirinya dari yang namanya kematian, dengan menjaga agar tubuhnya tetap sehat, dengan berobat dengan obat-obat yang paling mahal, tetap saja dia tidak bisa lari dari kematian tersebut.

Oleh karenanya, ini merupakan di antara perkara yang harus kita yakini, bahwasanya kematian akan datang menemui kita dari depan, meskipun kita merasa telah berusaha lari darinya, sehingga kita pasti akan bertemu dengan kematian.

Ajal Telah Ditentukan Namun Tidak Diketahui Waktunya

Ketika kita telah memahami bahwasanya kematian adalah sesuatu yang pasti menghampiri seseorang, maka kita pun paham bahwasanya waktunya pun telah ditetapkan, hanya saja tidak ada seorang pun mengetahui kapan kematian tersebut tiba. Oleh karenanya, Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,

وَأَجْمَعَتِ الأُمَّةُ عَلَى أَنَّ المَوْتَ لَيْسَ لَهُ سِنٌّ مَعْلومٍ، وَلَا زَمَنَ مَعْلومٍ، وَلَا مَرَضٌ مَعْلُوم

Umat seluruhnya telah sepakat bahwasanya kematian itu tidak diketahui pada usia kapan, tidak pula diketahui kapan waktunya, dan tidak pula diketahui dengan sakit apa dia akan meninggal.”([6])

Oleh karenanya, Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an,

﴿وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Inilah di antara rahasia Allah ﷻ. Malaikat tentu mencatat kapan waktu tersebut, akan tetapi kita tidak mengetahui isi catatan malaikat tersebut.

Allah ﷻ juga telah berfirman,

﴿وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ﴾

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya meski sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Artinya, kematian itu telah jelas dan sudah ditentukan waktunya. Terlebih lagi Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda bahwasanya di antara tanda-tanda kiamat adalah kematian mendadak.([7])

Kematian bisa saja datang dengan sebab-sebab tertentu, akan tetapi tidak ada di antara kita yang tahu bahwa kita akan mati dengan sebab apa. Oleh karenanya, seorang penyair pernah berkata,

فَمَن لَمْ يَمُتْ بِالسَّيْفِ مَاتَ بِغَيْرِهِ *** تَعَدَّدَتْ الأَسْبابُ والْمَوْتُ واحِدٌ

“Barang siapa yang mati bukan karena pedang maka sungguh ia akan mati dengan selainnya. Terdapat banyak sebab-sebab yang mengantarkan pada satu tujuan yaitu kematian.”

Sebab-sebab kematian sangatlah banyak, namun tidak ada yang mengetahui dengan sebab apa dia akan meninggal dunia.

Oleh karenanya, sering penulis sampaikan bahwa betapa banyak orang yang keluar dari rumahnya tanpa terbetik sedikit pun di dalam benaknya bahwa dia akan meninggal dunia, namun ternyata dia meninggal dan tidak lagi kembali ke rumahnya. Seorang penyair juga pernah berkata,

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَأِنَّكَ لَا تَدْرِيْ *** إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

“Berbekallah dengan takwa karena sesungguhnya engkau tidak tahu jika telah tiba malam hari, apakah engkau bisa hidup hingga pagi hari.”

وَكَمْ مِنْ صَحيحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ * * * وَكَمْ مِنْ سَقيمٍ عَاشَ حِينًا مِنْ الدَّهْرِ

Betapa banyak orang sehat meninggal tanpa didahului sakit. Betapa banyak orang sakit yang disangkan akan meninggal akan tetapi masih hidup.”

وَكَمْ مِن فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَمُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak pemuda yang di sore dan pagi hari masih tertawa, ternyata kemudian (di malam hari) tubuh mereka dimasukkan ke dalam gelapnya kubur.”

فَكَمْ مِنْ عَرُوسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهَ وَهُوَ لَا تَدْرِي

Betapa banyak mempelai wanita yang dihias untuk dipersembahkan untuk mempelai laki-laki, ternyata kain kafannya sementara disiapkan sedang dia tidak menyadari.”

Oleh karena itu, ada beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil dari sini yaitu:

  • Kematian tidak harus didahului dengan sakit, karena orang yang sehat meninggal pun juga banyak
  • Kematian tidak harus menunggu tua, karena betapa banyak anak-anak muda yang juga meninggal dunia
  • Kematian seringnya datang tanpa pemberitahuan atau tanda-tanda terlebih dahulu

Oleh karenanya, hendaknya kita waspada, jangan sampai kita merasa bahwa diri kita akan hidup terus.

Mengingat kematian

Sesungguhnya mengingat kematian adalah perkara yang disunnahkan. Adapun dalil akan hal ini sangatlah banyak, di antaranya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ ketika ditanya tentang siapa orang yang paling cerdas, maka beliau ﷺ menjawab,

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

(yaitu) orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya untuk setelah kematian, merekalah orang-orang yang cerdas.”([8])

Dalil yang lain juga seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Orang yang berakal adalah orang yang bisa menahan nafsunya dan beramal untuk setelah kematian.”([9])

Demikianlah, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian, yang paling banyak mempersiapkan dirinya untuk setelah kematian. Oleh karenanya, orang yang melakukan kemaksiatan disebut dengan orang yang bodoh, sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا﴾

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 17)

Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga berkata ketika berdoa kepada Allah ﷻ,

﴿قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ﴾

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh (bermaksiat).” (QS. Yusuf: 33)

Semua orang yang berbuat keburukan (maksiat) disebut sebagai orang jahil (bodoh). Mereka disebut jahil karena mereka mengorbankan akhiratnya untuk sebuah kenikmatan yang sementara.

Di antara dalil lain yang menunjukkan sunnahnya sering mengingat kematian adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ yang telah kita sebutkan,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah kalian mengingat sesuatu yang dapat pemutus (penghancur) kenikmatan (yaitu kematian).”([10])

Fitrah manusia adalah selalu ingin bersenang-senang dan bahagia. Adapun mengingat kematian seringnya membuat kehidupan seseorang merasa tidak enak dan mengganggu kenyamanan, sehingga banyak orang yang tidak mau mengingat kematian. Namun, ketahuilah bahwa yang demikian merupakan ciri-ciri orang kafir, sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا، وَيَصْلَى سَعِيرًا، إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا، إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ﴾

“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: ‘Celakalah aku’, dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 10-14)

Adapun orang-orang yang bertakwa tidak demikian, mereka senantiasa mengingat kematian dan hari kiamat, meskipun ketika mereka berada sedang berkumpul dengan keluarga mereka. Allah ﷻ berfirman,

﴿قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ﴾

“Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)’.” (QS. At-Thur: 25)

Dalil lain yang menunjukkan bahwa mengingat kematian itu sunnah karena kita diperintahkan untuk banyak berziarah kubur. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

زُورُوا الْقُبُورَ؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

“Dan ziarahilah kuburan oleh kalian, sesungguhnya itu mengingatkan kalian kepada kematian (akhirat).”([11])

Ketika berziarah kubur, hendaknya kita diam, berdoa, merenungi, sebagaimana Utsman bin Affan yang sampai menangis ketika melihat kuburan([12]). Ketika di kuburan kita hendaknya mengatakan,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا، إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyusul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan kalian keselamatan.”([13])

Apa maksud mengingat kematian?

Setelah kita mengetahui dalil-dalil akan sunnahnya untuk mengingat kematian, maka timbul pertanyaan, apa yang dimaksud dengan mengingat kematian? Atau bagaimana cara mengingat kematian yang benar? Maksud dari mengingat kematian ini adalah mengingat yang tidak menjadikan seseorang waswas secara terus menerus hingga akhirnya terluput dari banyak kemaslahatan, melainkan ingatan terhadap kematian itu seharusnya menjadikan seseorang banyak beramal saleh.

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Mayat diiringi tiga perkara, yang dua akan kembali sedang yang satu akan terus menyertainya, ia diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan terus tetap bersamanya.”([14])

Ketika kita sadar bahwasanya setiap kita akan menjumpai kematian, maka tentunya kita harus memiliki persiapan, dan inilah yang dimaksud dengan mengingat kematian. Memiliki harta, maka digunakan untuk bersedekah. Memiliki umur, maka digunakan untuk berbakti kepada orang tua, untuk menyenangkan anak dan istri, dan yang lainnya. Ini merupakan bentuk persiapan yang bisa seseorang lakukan untuk menjumpai kematian.

Oleh karenanya dikisahkan bahwa ada seorang salaf yang setiap kali dia hendak tidur, dia selalu berwasiat kepada istrinya. Orang-orang pun kemudian menanyakan hal tersebut kepada istrinya, namun ternyata demikianlah kebiasaan suaminya yang setiap hari mempersiapkan dirinya menghadapi kematian. Ketahuilah, bahwa demikianlah sunnahnya, yaitu seseorang tidur di atas wasiat. Hanya saja banyak dari kita yang tidak menjalankan sunnah ini karena kita merasa masih akan hidup keesokan harinya, padahal ini di antara sarana bagi kita untuk bisa mengingat kematian setiap harinya.

Kesalahan sebagian orang dalam hal ini adalah mereka waswas berlebihan dengan kematian, sehingga dia pun merasa susah untuk melakukan berbagai macam kegiatan karena rasa takut akan kematian. Ketahuilah bahwa waswas yang demikian berasal dari syaithan.

Manfaat sering mengingat kematian

Ada banyak sekali manfaat yang akan dirasakan oleh seseorang yang sering mengingat kematian di antaranya:

  • Akan segera bertaubat, semangat beramal saleh, dan qana’ah

Sebagaimana perkataan sebagian ulama bahwa orang yang sering mengingat kematian akan dianugerahi tiga perkara yaitu; selalu segera bertaubat, semangat beramal saleh, dan qana’ah terhadap apa yang diberikan oleh Allah ﷻ. Sebaliknya, orang yang tidak sering mengingat kematian maka akan dihukum dengan tiga perkara pula yaitu; malas dan suka menunda taubat, malas beramal saleh atau semangat bermaksiat, dan rakus terhadap dunia (tidak pernah puas).([15])

  • Memutuskan diri dari sebab-sebab kelalaian (futur)

Ketika seseorang merasa bahwa dirinya sering futur atau ingin terhindar dari futur, maka hendaknya dia sering mengingat kematian. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah (akan meninggal dunia).”([16])

Seseorang yang shalat dan merasa bahwa itu adalah shalat terakhirnya, maka tentu dia akan shalat dengan khusyuk. Tidak akan ada lagi kelalaian dalam shalat. Bukankah ketika seseorang dikabarkan bahwa dia akan meninggal esok hari maka dia akan menjadikan sisa waktunya penuh untuk beribadah? Akan tetapi, karena tidak seorang pun yang mengetahui kapan dia akan meninggal dunia, maka hendaknya dia senantiasa mengingat kematian ini, karena dengan mengingat kematian seseorang akan terbebas dari sebab-sebab kelalaian dan futur.

  • Takut untuk bermaksiat kepada Allah ﷻ

Kita tentu sangat tahu betapa banyak orang yang meninggal ketika sedang bermaksiat, meninggal ketika minum khamar, meninggal saat bermain judi, meninggal dalam keadaan melihat hal-hal yang haram, meninggal dalam keadaan durhaka kepada orang tuanya, dan meninggal dalam berbuat maksiat yang lainnya. Kita tidak tahu apakah masih ada kesempatan bagi kita untuk bertaubat setelah kita melakukan kemaksiatan, sehingga mengingat kematian ini akan menghindarkan kita dari maksiat karena khawatir kita akan meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.

  • Menjadi orang yang zuhud

Wahai saudaraku, untuk apa kita memiliki harta yang banyak? Bukankah hal itu hanya akan menambah hisab kita di akhirat? Ketika kita punya harta yang cukup, punya rumah, punya kendaraan yang mumpuni, utang sedikit atau bahkan tidak punya, maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah beramal saleh sebagai bentuk syukur kepada Allah ﷻ. Bukankah Allah ﷻ telah berfirman tentang Nabi Daud ‘alaihissalam,

﴿اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ﴾

“Beramallah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

Untuk apa kita menambah rumah lagi sementara kita, istri, dan anak-anak kita hanya menempati satu rumah? Untuk apa punya mobil banyak tapi yang digunakan hanya satu? Untuk apa menyimpan harta yang banyak sementara kita makan pun tidak akan menghabiskan harta yang sebegitu banyaknya? Wahai saudaraku, seorang yang hatinya sudah terlalu cinta dengan dunia, maka dia akan berusaha terus-menerus mencari dunia meskipun usianya sudah tua. Bukankah Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda memberikan perumpamaan,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ (وفي رواية: مِنْ ذَهَبٍ) لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Sekiranya anak Adam memiliki harta sebanyak dua bukit (dalam riwayat yang lain: dua bukit emas([17])), niscaya ia akan mencari untuk mendapatkan bukit yang ketiga, dan tidaklah perut anak Adam itu puas kecuali jika telah dipenuhi dengan tanah, dan Allah menerima tobat siapa saja yang bertobat.”([18])

Ingatlah bahwasanya Allah ﷻ juga telah berfirman,

﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ، حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴾

“Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

Wahai saudaraku, sedekahkanlah kelebihan yang ada pada hartamu. Jangan takut dengan rezeki kalian. Apakah kalian suudzan kepada Allah ﷻ yang telah memberikan kalian rezeki selama ini? Ingatlah, ketika kalian pelit, maka sesungguhnya kalian pelit untuk diri kalian sendiri, karena sejatinya sedekah yang kalian keluarkan itu adalah tabungan kalian sendiri di akhirat kelak.

Demikian pula para wanita, jangan teperdaya ingin memiliki berbagai macam kemewahan. Hiduplah dengan yang wajar-wajar saja, jangan sampai kalian akan dihisab kelak dengan hisab yang berat karena tidak bisa mempertanggungjawabkan barang-barang mewah yang kalian koleksi.

  • Terhindar dari hasad

Ketika kita melihat rumah orang lain lebih bagus dan lebih mewah daripada kita, lalu kita mengingat kematian, maka kita pun akan menganggap rumah kita sudah lebih dari cukup, dan juga kita akan menyadari bahwa hisab mereka bisa jadi lebih lama daripada kita yang rumahnya kecil. Demikian pula ketika melihat orang yang lebih kaya, namun karena mengingat kematian, kita pun tidak menjadi tidak peduli karena kita sendiri sudah merasa berat dengan harta kita yang akan dihisab kelak.

Hasad tidak akan menghampiri orang yang senantiasa mengingat kematian, karena dia akan merasa bahwa hidupnya hanya sebentar, dan tidak pantas hidup yang sebentar ini dipenuhi dengan hasad.

  • Tidak dendam kepada orang lain

Allah ﷻ berfirman,

﴿وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ﴾

“Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)

Ketika kita dihina dan dicaci oleh orang-orang, biarkan saja. Untuk apa kita sibuk dengan cacian dan hinaan mereka sementara sebentar lagi kita akan meninggal dunia? Bisa jadi apa yang mereka lakukan tersebut adalah karena kejahilan dan kesalahpahaman mereka, maka untuk apa kita dendam kepada mereka? Oleh karenanya, mengingat kematian ini bisa menjadikan kita tidak dendam kepada orang lain, karena kita yakin bahwasanya kita membutuhkan pahala yang banyak untuk menghadapi hari kiamat kelak.

Inilah sedikit pembahasan kita terkait dengan kematian, semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang cerdas, yaitu yang selalu mengingat kematian, dan semoga Allah ﷻ mengampuni dosa-dosa kita yang selalu lalai dari mengingat kematian.

Footnote:

_______

([1]) HR. Ibnu Majah No. 4258, Syekh al-Albani mengatakan hadis ini hasan shahih.

([2]) Tafsir al-Qurthubi (10/64).

([3]) An-Nihayah Fi al-Fitan Wa al-Malahim, karya Ibnu Katsir (1/31) dan Tafsir al-Qurthubi (19/188).

([4]) HR. Ibnu Majah No. 4258, Syekh al-Albani mengatakan hadis ini hasan shahih.

([5]) HR. Ahmad No. 9432, al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini lemah. Namun riwayat ini disebutkan pula dalam Qishash al-Anbiya’, karya Ibnu Katsir (2/281).

([6]) At-Tadzkirah Bi Ahwal al-Mauta Wa Umur al-Akhirah, karya al-Qurthubi (hlm. 124).

([7]) Lihat: Mu’jam al-Ausath, karya ath-Thabrani No. 9378 (9/147).

([8]) HR. Ibnu Majah No. 4259, dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albani.

([9]) HR. Tirmidzi No. 2459 dan Ibnu Majah No. 4260, dan at-Tirmidzi menyatakan bahwa hadis ini hasan.

([10]) HR. Ibnu Majah No. 4258, Syekh al-Albani mengatakan hadis ini hasan shahih.

([11]) HR. Ibnu Majah No. 1569, dan dikatakan oleh al-Albani hadis ini shahih.

([12]) Lihat: Sunan at-Tirmidzi No. 2308, Sunan Ibnu Majah No. 4267, dan Musnad Imam Ahmad No. 454.

([13]) HR. Muslim ini. 975.

([14]) HR. Bukhari No. 6514.

([15]) Lihat: At-Tadzkirah Bi Ahwal al-Mauta Wa Umur al-Akhirah (hlm. 126).

([16]) HR. Ibnu Majah No. 4171, dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albani.

([17])  HR. Al-Bazzar No. 4433

([18])  HR. Bukhari No. 6463 dan HR. Muslim no. 1048