Agar Dicintai Allah ﷻ

Agar Dicintai Allah

Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas pembahasan yang sangat penting, dan pembahasan tersebut akan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari dan akan mempengaruhi ibadah kita sehari-hari. Pembahasan tersebut adalah bagaimana kita bisa mencintai Allah ﷻ dan bagaimana agar kita dicintai oleh Allah ﷻ.

Pembahasan ini menjadi begitu penting karena jika seseorang telah bisa mencintai Allah ﷻ, maka dia akan merasakan kelezatan ibadah yang sangat luar biasa, karena ibadah yang dia kerjakan bukan hanya sekadar melepas kewajiban, akan tetapi dia beribadah karena kerinduan untuk melaksanakan ibadah tersebut.

Selain itu, seseorang jika telah bisa mencintai Allah ﷻ, maka akan mudah baginya untuk ikhlas beribadah kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya, ketika Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan tentang mahabbatullah ‘cinta kepada Allah’, beliau menyebutkan bahwa mahabbatullah adalah hakikat daripada keikhlasan.

Maka, ketika seseorang telah ikhlas kepada Allah ﷻ, maka dia tidak lagi peduli dengan orang lain, terlepas dari dirinya keinginan duniawi, karena yang dia fokuskan hanyalah bagaimana agar dia bisa beribadah dengan ibadah yang dicintai oleh Allah ﷻ, dan agar bagaimana dia dicintai oleh Allah ﷻ.

Setelah itu, ketika Allah ﷻ telah mencintai seorang hamba, maka tentunya sang hamba akan diberikan perhatian yang khusus, Allah ﷻ akan menolongnya, akan dipermudah urusannya, dan banyak kebaikan yang akan ia peroleh apabila Allah ﷻ telah mencintainya.

Maka dari itu, pembahasan ini sangat penting untuk kita ketahui, agar kita bisa belajar untuk mencintai Allah ﷻ, dan agar kita bisa dicintai oleh Allah ﷻ.

Ibadah Hati

Ada tiga ibadah hati yang disebut oleh para ulama sebagai rukun ibadah hati. Tiga ibadah hati tersebut adalah Al-Khauf ‘rasa takut kepada Allah’, Ar-Raja’ ‘berharap kepada Allah’, dan Al-Mahabbah ‘rasa cinta kepada Allah’. Ketiga ibadah hati ini merupakan ibadah yang agung.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bisa menggandengkan tiga ibadah hati tersebut. Tentunya, sesuatu yang sangat indah apabila di dalam hati seseorang terkumpul ibadah khauf, raja’, dan mahabah kepada Allah ﷻ, dan hal itu merupakan ciri hati orang yang saleh. Allah ﷻ berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Pada ayat ini, Allah ﷻ memuji orang yang menggabungkan antara khauf dan raja’.

Demikian pula firman Allah ﷻ,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90).

Intinya, Allah ﷻ memuji orang-orang yang menggabungkan antara takut dan berharap dalam ibadahnya. Tentunya, kita pun bisa melakukan demikian. Misalnya, ketika kita salat dan berdoa, maka kita khawatir salat dan doa kita tidak diterima oleh Allah ﷻ, namun di sisi lain kita juga berharap agar salat dan doa kita diterima. Demikian pula ketika berhaji, kita bisa berharap sebesar-besarnya kepada Allah ﷻ agar haji kita diterima, namun di sisi lain juga ada kekhawatiran bahwa jangan sampai ibadah haji kita tidak mabrur. Ini adalah di antara bentuk ibadah, yaitu apabila seseorang bisa menggabungkan dalam ibadahnya rasa khauf dan raja’.

Namun, yang lebih indah daripada itu adalah jika kita bisa memasukkan di dalam hati kita mahabah, rasa cinta kepada Allah ﷻ tatkala beribadah kepada-Nya. Jika kita telah menghadirkan rasa cinta kepada Allah ﷻ, maka akan ada kelezatan yang akan kita rasakan tatkala kita beribadah kepada Allah ﷻ, sebagaimana yang telah kita singgung pada mukadimah.

Perlu untuk kita ketahui bahwa tentu berbeda antara orang yang pergi ke masjid melaksanakan salat berjamaah karena rasa takut dan harap dengan orang yang pergi ke masjid dengan rasa cinta. Orang yang pergi ke masjid untuk salat berjamaah karena rasa takut dan harap itu bagus, hanya saja seakan-akan masih ada beban pada dirinya dalam melaksanakan salat tersebut. Berbeda dengan orang yang salat di masjid karena cinta, mereka tidak memiliki beban untuk ke masjid, yang ada hanyalah kerinduan untuk sujud, kerinduan untuk bermunajat kepada Rabbul ‘alamin. Artinya, orang yang memiliki rasa cinta kepada Allah, yang dia rasakan untuk beribadah itu berbeda dengan orang yang tidak memiliki rasa mahabah tersebut.

Oleh karenanya, di antara tujuh golongan yang Allah ﷻ naungi pada hari kiamat, kata Nabi Muhammad ﷺ di antaranya,

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ

Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid.”([1])

Mengapa dia rindu dengan masjid? Karena di dalam hatinya ada cinta kepada Allah ﷻ. Maka, orang yang jika telah ada mahabah di dalam hatinya, maka ibadahnya akan berbeda dengan orang yang tidak memiliki mahabah di hatinya.

Maka dari itu, ketika kita beribadah, kita tidak hanya menghadirkan rasa khauf dan raja’ semata, akan tetapi hendaknya juga kita masukkan dalam hati kita mahabbatullah ‘cinta kepada Allah’.

Allah ﷻ Mencintai

Sesungguhnya, banyak sekali yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an tentang sifat cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Di antaranya seperti firman Allah ﷻ,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-‘Imran: 146)

Demikian juga seperti firman Allah ﷻ,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Demikian juga seperti firman Allah ﷻ,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Demikian juga firman Allah ﷻ,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 4)

Orang yang bertakwa kepada Allah ﷻ, baik ketika sendirian maupun di hadapan orang banyak, maka dia tentu akan dicintai oleh Allah ﷻ.

Demikian pula banyak disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sabda-sabdanya bahwa Allah ﷻ mencintai hamba-hamba-Nya. Banyak sekali hadis-hadis yang menyebutkan bahwasanya apabila seseorang melakukan suatu amalan, maka dia akan dicintai oleh Allah ﷻ.

Intinya, kita ingin menegaskan bahwasanya Allah ﷻ itu memiliki sifat mencintai hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, di antara akidah Ahlusunah adalah menyatakan bahwasanya selain Allah ﷻ bisa dicintai, Allah ﷻ juga bisa mencintai. Hal ini berbeda dengan apa yang diyakini oleh ahli bidah yang pemikiran mereka telah terkontaminasi dengan filsafat, bahwasanya mereka menyatakan Allah ﷻ tidak bisa dicintai dan Allah ﷻ tidak bisa mencintai. Adapun ayat-ayat yang menyebutkan tentang Allah mencintai, maka mereka menyebutkan bahwa maksud ayat itu adalah Allah ﷻ menghendaki kebaikan, dan bukan mencintai secara hakikat.

Ahli bidah, mereka menakwil sifat cinta Allah kepada sifat iradah ‘kehendak’, yaitu Allah ﷻ mengehendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Bagi mereka, tidak boleh seseorang mengatakan bahwasanya Allah ﷻ dicintai dan mencintai.

Kerancuan pemikiran ahli bidah ini karena mereka menganggap bahwasanya jika sesuatu mencintai yang lain maka ada kesamaan, dan Allah tidak boleh sama dengan yang lain. Tentunya, ini adalah syubhat yang masuk ke dalam akal mereka karena telah terlalu menggeluti ilmu filsafat. Sungguh, betapa banyak manusia cinta terhadap hewan tertentu, cinta dengan benda tertentu, sehingga ini menunjukkan bahwasanya tidak harus ada kesamaan antara yang mencintai dan yang dicintai.

Oleh karenanya, apa yang diyakini oleh ahli bidah dalam hal ini merupakan akidah yang sangat buruk, karena mereka telah memutuskan harapan para hamba bahwasanya Allah ﷻ tidak mungkin untuk dicintai dan Allah ﷻ tidak mungkin untuk mencintai.

Ketahuilah, bahwa yang pertama kali mencetuskan akidah ahli bidah ini adalah Ja’ad bin Dirham, guru dari Jahm bin Shafwan. Dialah yang pertama kali mengingkari sifat mencintainya Allah ﷻ. Dia mengatakan bahwasanya,

إن الله لم يتخذ إبراهيم خليلاً، ولم يكلم موسى تكليماً

Sesungguhnya Allah tidak pernah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihnya, dan Allah tidak pernah berbicara dengan Musa secara langsung.”([2])

Ja’ad bin Dirham dalam perkataannya tersebut menolak dua sifat Allah ﷻ, yaitu sifat mencintai dan sifat kalam. Sebab perkataannya tersebut, akhirnya Ja’ad bin Dirham dibunuh oleh Khalifah Khalid Al-Qasri ketika Idul Adha, dia mengatakan kepada rakyatnya,

أَيُّهَا النَّاسُ ضَحُّوا تَقَبَّلَ اللَّهُ ضَحَايَاكُمْ إنِّي مُضَحٍّ بِالْجَعْدِ بْنِ دِرْهَمٍ، إنَّهُ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَتَّخِذْ إبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَمْ يُكَلِّمْ مُوسَى تَكْلِيمًا

Wahai sekalian manusia, sembelihlah! Semoga Allah menerima sembelihan kalian. Adapun saya akan menyembelih Ja’ad bin Dirham, karena dia meyakini bahwa Allah tidak menjadikan Ibrahim kekasih-Nya, dan tidak berbicara dengan Musa secara langsung.”([3])

Ja’ad bin Dirham mengingkari dua sifat Allah ﷻ tersebut, sementara Allah ﷻ sendiri telah berfirman di dalam Al-Qur’an,

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kekasih-Nya.” (QS. An-Nisa’: 125)

Dan juga firman Allah ﷻ,

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.” (QS. An-Nisa’: 164)

Sesungguhnya, ketika Allah ﷻ menyebutkan bahwasanya Dia menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai kekasihnya, itu berarti Allah ﷻ mencintai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Demikian pula dengan Nabi Musa ‘alaihisalam, Allah ﷻ mengatakan sendiri bahwasanya Dia berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihissalam.

Namun, kita bersyukur kepada Allah ﷻ bahwasanya akidah ahli bidah tersebut tidak diterima oleh masyarakat secara umum. Masih sering di masyarakat kita ada ungkapan “Allah masih sayang kepada kita”, “Saya cinta kepada Allah”, dan ungkapan yang semisal, dan masyarakat mengucapkannya tanpa ragu-ragu.

Oleh karenanya, akidah Ahlusunah bahwasanya Allah ﷻ dicintai dan juga mencintai itu sesuai dengan fitrah manusia. Bahkan, Allah ﷻ menyebutkan bahwa cinta tersebut bisa datang dari dua belah pihak, seperti firman Allah ﷻ,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah: 54).

Demikian pula dalam hadis disebutkan tentang perang Khaibar. Ketika perang terjadi dengan sangat alot, kemenangan belum dicapai, maka suatu hari Nabi Muhammad ﷺ berkata,

لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Sungguh bendera perang ini akan aku berikan esok hari kepada seseorang yang peperangan ini akan dimenangkan melalui tangannya. Orang itu mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya.”

Maka setiap orang dari para sahabat yang ikut berperang berharap diberikan kepercayaan itu, mereka semua ingin menjadi pemimpin perang tatkala itu. Tidaklah mereka berharap demikian kecuali karena predikat bahwasanya Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Bahkan, Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu sendiri mengatakan bahwasanya dia tidak ingin bercita-cita menjadi pemimpin kecuali pada hari itu.([4]) Namun, ternyata yang Nabi Muhammad ﷺ memberikan bendera tersebut kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.([5])

Inilah dalil yang menunjukkan bahwasanya seorang hamba itu bisa dicintai oleh Allah ﷻ dan Allah ﷻ bisa dicintai, dan itulah akidah Ahlusunah waljamaah.

Keutamaan dicintai oleh Allah

Ketika seseorang telah mendapatkan predikat dicintai oleh Allah ﷻ, maka para ulama mengatakan bahwasanya itu adalah anugerah terbesar yang telah dia peroleh, melebihi berbagai macam anugerah dunia yang dia telah rasakan. Mengapa demikian? Karena ketika Allah ﷻ telah mencintai seorang hamba, maka hamba tersebut tidak akan diazab oleh Allah ﷻ, dia akan dijaga oleh Allah ﷻ.

Oleh karenanya, Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya menyebutkan kisah seseorang yang bertanya kepada sebagian fukaha, bahwa apakah ada dalil di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwasanya yang mencintai tidak akan menyakiti yang dia cintai? Namun ternyata fukaha tersebut tidak menjawab. Maka orang tersebut menyebutkan bahwasanya ada dalil di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan hal tersebut, yaitu firman Allah ﷻ,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Orang Yahudi dan Nasrani berkata, ‘Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya’. Katakanlah, ‘Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Dan milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada-Nya semua akan kembali’.” (QS. Al-Maidah: 18)([6])

Yaitu maksudnya orang-orang Yahudi dan Nasrani mengaku bahwasanya mereka adalah kekasih-kekasih Allah. Namun, nyatanya Allah ﷻ memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk membantah mereka bahwasanya kalau memang Allah ﷻ mencintai mereka, niscaya mereka tidak mungkin diazab. Kita tahu bahwa sebagian dari nenek moyang Bani Israil diazab, dan tidak mungkin kaum yang dicintai oleh Allah akan diazab, maka tentu ini menunjukkan bahwasanya mereka berdusta.

Yang mencintai tidak akan mengazab yang dicintai adalah ungkapan yang sangat logis. Bukankah seorang yang mencintai orang lain akan berusaha untuk tidak menyakiti hatinya? Bahkan, orang yang dicintai tersebut akan diberikan apa yang dia inginkan, akan dipenuhi permintaannya, dan berusaha untuk meraih keridaan orang yang dicintainya tersebut.

Maka demikian pula Allah ﷻ, jika Dia telah mencintai seseorang, maka di antara faedah terbesar yang akan dia dapatkan adalah Allah ﷻ tidak akan mengazabnya, dia pasti akan selamat dari neraka jahanam. Namun, perlu untuk kita bisa membedakan antara ujian dengan azab. Adapun ujian terhadap orang yang dicintai oleh Allah ﷻ adalah kebaikan dari Allah ﷻ terhadap sang hamba. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka.”([7])

Artinya, ujian Allah ﷻ kepada kaum atau hamba yang Dia cintai itu adalah bentuk kebaikan, dan itu bukan bentuk Allah ﷻ mengazabnya.

Allah ﷻ adalah Dzat Yang Maha Kaya, Dzat Yang Maha Tinggi, dan Dia tidak butuh kepada apa pun dan siapa pun. Allah ﷻ tidak butuh dengan ibadah-ibadah kita, tidak butuh dengan salat kita, tidak butuh kepada segala amalan kita. Allah ﷻ telah berfirman dalam beberapa ayat di Al-Qur’an,

فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا

“Barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) dirinya sendiri.” (QS. Yunus: 108)

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ

“Dan barangsiapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri.” (QS. Al-‘Ankabut: 6)

Bahkan, dalam sebuah hadis Qudsi Allah ﷻ berfirman,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا

Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan, serta manusia dan jin, semuanya berada pada tingkat ketakwaan seseorang yang paling tinggi di antara kalian, maka hal itu sedikit pun tidak akan menambahkan kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta jin dan manusia semuanya berada pada tingkat kedurhakaan seseorang yang paling buruk di antar kalian, maka hal itu sedikit pun tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku.”([8])

Maka, ketika Allah ﷻ Yang Maha Kaya, tidak butuh kepada hamba-hamba-Nya, kemudian Dia bisa mencintai seorang hamba yang hina dan rendah, maka itu adalah anugerah yang luar biasa. Mengapa demikian? Karena biasanya cinta itu hanya muncul untuk yang selevel dengan yang mencintai, akan tetapi ternyata Allah ﷻ mampu mencintai seorang hamba yang jelas-jelas tidak selevel dengan-Nya, sehingga ini merupakan anugerah terbesar jika seorang hamba bisa meraih predikat tersebut.

Kiat-kiat Agar Dicintai Allah

Ada beberapa perkara yang jika perkara-perkara tersebut dikerjakan oleh seorang hamba, maka dia akan dicintai oleh Allah ﷻ. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan tentang sepuluh sebab seseorang bisa dicintai oleh Allah ﷻ.([9]) Beliau menyebutkan sebab-sebab tersebut di antaranya,

  1. Membaca Al-Qur’an dengan tadabur

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

أَحَدُهَا: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّفَهُّمِ لِمَعَانِيهِ وَمَا أُرِيدَ بِهِ، كَتَدَبُّرِ الْكِتَابِ الَّذِي يَحْفَظُهُ الْعَبْدُ وَيَشْرَحُهُ لِيَتَفَهَّمَ مُرَادَ صَاحِبِهِ مِنْهُ

Pertama: Membaca Al-Qur’an dengan tadabur dan memahami makna-makna yang terkandung, dan memahami maksud dari ayat tersebut, sebagaimana seseorang yang menadaburi sebuah buku yang dihafal oleh seseorang, kemudian dia mencari penjelasannya, agar dia memahami maksud dari sang penulis buku tersebut.”

Sangat sering ketika kita membaca sebuah buku dengan berbagai jenisnya, kita ingin tahu apa isi dari buku tersebut. Maka kemudian kita membacanya perlahan, membaca dengan penuh perhatian, agar dia bisa memahami dengan betul isi dari buku tersebut.

Intinya, masih banyak di antara kita perhatian luar biasa terhadap buku-buku tertentu. Namun, perhatian yang besar tersebut jarang kita lakukan terhadap Al-Qur’an. Di antara sebabnya adalah masih banyak di antara kita yang belum paham bahasa Arab. Padahal, ketika seseorang bisa memahami bahasa Arab, kemudian dia membaca tafsir para ulama terhadap firman-firman Allah, maka tentu ada rasa yang berbeda ketika kita hanya membaca terjemah dari ayat-ayat Al-Quran saja.

Al-Qur’an Allah ﷻ turunkan untuk kita, untuk kita baca, untuk kita pahami maknanya. Sesungguhnya, ketika seseorang bisa memahami makna ayat-ayat dalam Al-Qur’an, maka akan ada kenikmatan tersendiri ketika kita bisa memahami apa maksud dari firman Tuhan kita Allah ﷻ.

Oleh karena itu, sejauh mana perhatian seseorang kepada Al-Qur’an, maka sejauh itu pula dia akan mencintai Allah ﷻ, dan sejauh itu pula dia akan dicintai oleh Allah ﷻ. Maka hendaknya kita berusaha menadaburi ayat-ayat Al-Qur’an setiap harinya, membaca tafsirnya sesekali, terutama di bulan Ramadan yang kondisi memungkinkan untuk seseorang termotivasi untuk membaca Al-Qur’an dengan tadabur. Jika kita telah mengamalkan hal ini, maka kita akan sangat mudah untuk dicintai oleh Allah ﷻ.

  1. Mengerjakan amalan-amalan sunah

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

الثَّانِي: التَّقَرُّبُ إِلَى اللَّهِ بِالنَّوَافِلِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ. فَإِنَّهَا تُوَصِّلُهُ إِلَى دَرَجَةِ الْمَحْبُوبِيَّةِ بَعْدَ الْمَحَبَّةِ

Kedua: Mendekatkan diri kepada Allah dengan perkara-perkara yang sunnah setelah melakukan perkara yang wajib, karena sesungguhnya hal itu akan menyampaikannya pada derajat dicintai oleh Allah setelah dia mencintai Allah.”

Tidak semua orang yang mengaku cinta kepada Allah ﷻ itu dicintai oleh Allah ﷻ. Sebagaimana yang telah kita sebutkan tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka mengaku menjadi kekasih Allah, namun ternyata Allah ﷻ tidak cinta kepada mereka.

Ibnul Qayyim juga berkata,’

فَلَيْسَ الشَّأْنُ فِي أَنْ تُحِبَّ اللَّهَ، بَلِ الشَّأْنُ فِي أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ

Perkaranya bukan pada engkau mencintai Allah, akan tetapi perkaranya adalah (apakah) Allah mencintaimu.”([10])

Sungguh percuma seseorang yang mengaku di mana-mana bahwasanya dia mencintai Allah ﷻ, namun ternyata Allah ﷻ tidak mencintainya.

Allah ﷻ menurunkan satu ayat di dalam Al-Qur’an yang disebut dengan ayat Al-Mihnah ‘ayat ujian’. Ketika banyak orang-orang yang mengaku cinta kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ kemudian berkata,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’. Dan sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali-‘Imran: 31)

Demikian juga dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Dan senantiasa hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, hingga Aku mencintainya.”([11])

Oleh karenanya, agar kita bisa mencapai derajat dicintai Allah setelah kita mencintai-Nya, maka perbanyaklah melakukan amalan-amalan sunah, perbanyaklah mengikut sunah Nabi Muhammad ﷺ setelah dia mengerjakan yang fardhu atasnya. Sesungguhnya di antara bukti seseorang cinta seseorang terhadap Allah adalah dengan mengikuti dan menjalankan sunah-sunah Nabi Muhammad ﷺ, baru kemudian setelah itu Allah ﷻ akan mencintainya.

Di sini, di antara yang perlu untuk kita perhatikan adalah hendaknya kita berusaha menjauhkan diri kita dari perkara-perkara bidah, dan memfokuskan diri kepada sunah Nabi Muhammad ﷺ. Sesungguhnya, ketika kita menisbahkan diri kepada Ahlusunah, maka hal itu memberikan konsekuensi bahwasanya kita harus menjadi orang yang ahli dalam menjalankan sunah Nabi Muhammad ﷺ, dan bukan malah ahli pada perkara-perkara yang tidak dikerjakan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Ketahuilah, ketika Allah ﷻ telah mencintai seorang hamba, Nabi Muhammad ﷺ mengatakan,

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang dia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang dia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku beri, jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan aku lindungi.”([12])

Dalam riwayat yang lain disebutkan pula,

وَلِسَانَهُ الَّذِي يَنْطِقُ بِهِ، وَقَلْبَهُ الَّذِي يَعْقِلُ بِهِ

Dan Aku menjadi lisannya yang dia berbicara dengan lisannya tersebut, dan Aku menjadi hatinya yang dia berpikir dengan hatinya tersebut.”([13])

Para ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah Allah ﷻ memberi taufik kepadanya dengan tidak membiarkannya mendengar yang haram, tidak melihat yang haram, tidak melakukan dengan kaki dan tangannya pada perkara yang haram, dan tidak membiarkan hati dan lisannya jatuh dalam perkara yang haram. Allah ﷻ senantiasa membimbingnya di atas kebenaran, dan ini di antara faedah yang besar ketika seseorang telah dicintai oleh Allah ﷻ.

  1. Mengingat Allah dalam segala keadaan

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

الثَّالِثُ: دَوَامُ ذِكْرِهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ: بِاللِّسَانِ وَالْقَلْبِ، وَالْعَمَلِ وَالْحَالِ. فَنَصِيبُهُ مِنَ الْمَحَبَّةِ عَلَى قَدْرِ نَصِيبِهِ مِنْ هَذَا الذِّكْرِ

Senantiasa mengingat Allah dalam segala keadaan, baik dengan lisan, hati, dengan perbuatan, dan dengan segala kondisi, maka cinta yang dia dapatkan tergantung kadar dia dari mengingat Allah.”

Allah ﷻ telah berfirman di dalam Al-Qur’an,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Seseorang yang senantiasa berzikir kepada Allah ﷻ, maka dia juga akan senantiasa diingat oleh Allah ﷻ secara khusus. Allah ﷻ tentu mengetahui tentang kita semuanya tanpa terkecuali, namun apabila ada di antara kita yang senantiasa berzikir mengingat Allah ﷻ, maka Allah ﷻ mengetahuinya secara khusus karena dia berzikir kepada Allah dengan lisannya, hatinya, dan dalam perbuatannya.

Ketahuilah, ibadah zikir adalah ibadah yang sangat mudah untuk dikerjakan, ibadah yang sangat agung, memiliki ganjaran yang sangat besar, namun banyak orang tidak melakukannya.

Apabila ada di antara kita yang sulit untuk berzikir di zaman ini, maka hendaknya kita memaksakan diri agar bisa merutinkan zikir, minimal zikir pagi petang. Zikir pagi petang tidaklah mengambil banyak dari waktu-waktu kita, hanya sekitar 10-15 menit saja, bahkan mungkin bisa lebih cepat jika kita sudah menghafalkannya. Waktu setelah subuh hingga waktu untuk berangkat ke tempat kerja masih cukup untuk kita zikir pagi petang. Demikian pula ketika setelah asar, ada waktu yang panjang hingga magrib, bahkan jika di kita belum sempat di waktu itu maka kita bisa zikir petang di antara magrib dan isya. Bahkan, jika kita sempat untuk membaca semua dari zikir pagi petang, maka tidak mengapa jika kita hanya membacanya sebagian saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukan zikir pagi petang, dan hendaknya kita melatih diri kita mulai saat ini.

Zikri yang terbaik tentunya adalah membaca Al-Qur’an, dan waktu yang terbaik membaca Al-Qur’an adalah di dalam salat, dan salat sunah yang terbaik untuk membaca Al-Qur’an adalah salat malam. Ketika seseorang dalam salat malamnya membaca Al-Qur’an, dia berdiri di hadapan Allah ﷻ dengan waktu yang panjang, dia berlezat-lezat ketika melantunkan firman-firman Allah ﷻ, terlebih lagi jika dia bisa mengalirkan air mata, maka itu adalah zikir yang paling utama.

Tetapi intinya, banyak bentuk zikir-zikir yang bisa kita lakukan. Nabi Muhammad ﷺ telah mengajarkan kita begitu banyak zikir-zikir yang bisa kita lafalkan sebagai bentuk mengingat Allah ﷻ. Oleh karenanya kata Nabi Muhammad ﷺ,

لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

Hendaknya senantiasa lidahmu basah karena berdzikir kepada Allah.”([14])

Penulis mengingatkan, bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan kepada kita agar lisan kita senantiasa basah karena berzikir kepada Allah ﷻ, maka jangan biarkan lisan kita basah dengan gibah dan namimah, bukan dengan komentar-komentar yang menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Ketika sedang naik kendaraan, ketika sedang mengantre, dalam kondisi apa pun, hendaknya kita senantiasa berzikir kepada Allah ﷻ.  Jangan pedulikan komentar orang lain, berzikirlah di mana pun dan dalam kondisi apa pun, hendaknya yang kita perhatikan adalah perhatian Allah ﷻ terhadap hamba-hamba-Nya yang senantiasa berzikir kepada-Nya.

  1. Mendahulukan apa yang dicintai oleh Allah daripada apa yang dicintai oleh diri sendiri

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

الرَّابِعُ: إِيثَارُ مَحَابِّهِ عَلَى مَحَابِّكَ عِنْدَ غَلَبَاتِ الْهَوَى، وَالتَّسَنُّمُ إِلَى مَحَابِّهِ، وَإِنْ صَعُبَ الْمُرْتَقَى

Keempat: Mendahulukan apa yang dicintai oleh Allah daripada apa yang engkau cintai ketika hawa nafsu menguasai, dan berusaha naik menuju kepada kecintaan Allah meskipun sulit baginya untuk didaki.”

Di sini, Ibnul Qayyim rahimahullah seakan-akan mengatakan bahwa lakukanlah hal-hal yang disukai oleh Allah ﷻ meskipun hal-hal tersebut bertentangan dengan hawa nafsu kita, namun selama kita tahu bahwa hal tersebut Allah ﷻ sukai, maka kerjakan.

Contoh, misalnya kita tahu bahwa Allah ﷻ mencintai amalan umrah, kemudian kita punya uang namun rencananya digunakan untuk membeli mobil lagi. Maka, ketika kita tahu bahwa membeli mobil bukanlah sesuatu yang begitu mendesak, kemudian kita lebih memilih untuk berangkat umrah dengan uang tersebut, itu berarti kita telah mengalahkan hawa nafsu kita demi untuk meraih kecintaan Allah ﷻ dengan melakukan amalan yang dicintai oleh-Nya.

Contoh lain, seperti perkara bangun subuh. Bangun subuh adalah perkara yang berat, bahkan mungkin lebih berat lagi bagi sebagian saudara kita yang daerahnya mengalami musim dingin. Namun, ketika seseorang melawan syahwat ingin tidur, lalu kemudian bangun, berwudu atau mandi di cuaca yang dingin, kemudian melangkahkan kaki ke masjid.

Oleh karenanya, Allah ﷻ sebutkan dalam firman-Nya,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sesungguhnya, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali-‘Imran: 92)

Demikian juga firman Allah ﷻ tentang orang-orang yang mulia,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)

Demikian juga firman Allah ﷻ,

وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ

“Tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Ini menunjukkan bahwasanya ada orang-orang yang cinta kepada hartanya, cinta kepada makanannya, namun kemudian dia mengalahkan kesukaannya terhadap hal tersebut untuk meraih kecintaan Allah ﷻ, sehingga dia pun kemudian menginfakkan hal tersebut.

Contoh, jika seseorang memiliki barang yang mungkin dia cintai dan orang tuanya menginginkannya, kemudian dia tahu bahwasanya Allah ﷻ menyukai orang-orang yang berbakti kepada orang tuanya, maka dia memberikan barang yang dicintainya tersebut kepada orang tuanya, barulah kemudian dikatakan bahwa dia melawan hawa nafsunya untuk melakukan apa yang Allah ﷻ cintai. Inilah di antara bentuk pengamalan dari ayat-ayat yang telah kita sebutkan.

Bahkan, para sahabat mengamalkan ayat ini pada perkara yang sederhana. Ketika para sahabat bermuamalah dengan para tawanan perang badar, kemudian para sahabat membawa makanan berupa roti dan kurma, namun ternyata yang para sahabat berikan kepada tawanan adalah roti dan bukan kurma, padahal roti adalah makanan yang lebih lezat daripada kurma. Akhirnya, orang-orang musyrik yang diberikan roti sampai merasa tidak enak kepada kaum muslimin.

Maka dari itu, seseorang yang ingin meraih kecintaan Allah ﷻ, hendaknya dia berkorban dengan apa yang dia cintai, dia melawan hawa nafsunya dan lebih memilih mengerjakan apa yang Allah ﷻ cintai untuk dikerjakan. Ingatlah, sekecil apa pun yang kita lakukan dari apa yang Allah ﷻ cintai, yakinlah bahwa Allah ﷻ Maha Mengetahui, dan pasti ada ganjarannya. Tentunya, ada begitu banyak hal di kehidupan kita sehari-hari, yang jika kita tinggalkan hal tersebut, lalu kita berbalik melakukan apa yang Allah ﷻ cintai, sehingga Allah ﷻ pun kemudian mencintai kita.

  1. Mempelajari dan memahami makna dari nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻs

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

الْخَامِسُ: مُطَالَعَةُ الْقَلْبِ لِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، وَمُشَاهَدَتُهَا وَمَعْرِفَتُهَا. وَتَقَلُّبُهُ فِي رِيَاضِ هَذِهِ الْمَعْرِفَةِ وَمَبَادِيهَا. فَمَنْ عَرَفَ اللَّهَ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ: أَحَبَّهُ لَا مَحَالَةَ. وَلِهَذَا كَانَتِ الْمُعَطِّلَةُ وَالْفِرْعَوْنِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ قُطَّاعَ الطَّرِيقِ عَلَى الْقُلُوبِ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَحْبُوبِ

Kelima: Mengarahkan hati untuk memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah, mempersaksikan dan mengetahuinya, dan berusaha sibuk dibidang tersebut. Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama, sifat, serta perbuatan-Nya, niscaya dia pasti mencintai Allah. Oleh karenanya, orang-orang para penolak sifat seperti Jahmiyah dan Firauniyah, mereka adalah orang yang menghalangi hati orang lain dari jalan menuju kecintaan kepada Allah.”

Di sini, Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa orang yang mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ, maka dia pasti cinta kepada Allah ﷻ, karena dia tahu bahwa nama-nama dan sifat-sifat yang dia pelajari merupakan nama dan sifat dari Dzat yang menciptakannya. Bukan kemudian seseorang menjadi seperti Jahmiyah dan Firauniyah yang mencegah orang-orang dari mencintai Allah ﷻ dengan melarang untuk mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ, bahkan mengajarkan bahwasanya Allah tidak memiliki nama dan sifat-siat tertentu, padahal telah jelas dalil akan hal tersebut.

Oleh karenanya, ketika seseorang dituntut untuk bisa berlezat-lezat dalam beribadah, maka yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa seseorang merasa lezat beribadah kalau dia sendiri tidak mengetahui siapa yang dia beribadah kepadanya? Namun, ketika seseorang berusaha mengenal Allah, dia berusaha mengenali bagaimana keagungan Allah, bagaimana keindahan-Nya, bagaimana kesempurnaan-Nya, maka kita akan bisa beribadah dengan penuh kelezatan, karena kita beribadah kepada-Nya dengan penuh kecintaan.

Menurut penulis, inilah yang sebab terbesar yang bisa membuat seseorang sangat mudah untuk mencintai Allah ﷻ. Maka dari itu, kita perlu untuk mempelajari tentang Al-Asma’ wa Ash-Shifat, dengan mengenal nama-nama tersebut, seseorang pasti akan mencintai Allah ﷻ.

  1. Mengakui segala nikmat dan karunia Allah yang zahir maupun batin

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

السَّادِسُ: مُشَاهَدَةُ بِرِّهِ وَإِحْسَانِهِ وَآلَائِهِ، وَنِعَمِهِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ. فَإِنَّهَا دَاعِيَةٌ إِلَى مَحَبَّتِهِ

Keenam: Mempersaksikan kebaikan, kemurahan, karunia, serta nikmat Allah baik yang zahir maupun yang batin, karena hal tersebut akan menyampaikan dia kepada kecintaan kepada Allah.”

Sungguh, betapa banyak nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada kita, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, dan nikmat-nikmat lainnya. Kita tentu harus merasa beruntung, karena di luar sana masih banyak orang-orang yang masih melakukan kemaksiatan, masih membuang-buang waktu mereka secara percuma, dan mereka tidak diberi hidayah oleh Allah ﷻ. Bahkan, kita bersyukur atas nikmat tauhid, karena di luar sana masih banyak orang yang masih berbuat kesyirikan dengan berbagai macam model kesyirikan mereka.

Maka, ketika seseorang mengakui segala karunia dan nikmat Allah ﷻ yang begitu banyak, maka hal itu akan menimbulkan cinta kepada Allah di dalam hatinya.

  1. Memasrahkan hati seluruhnya kepada Allah

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

السَّابِعُ: وَهُوَ مِنْ أَعْجَبِهَا، انْكِسَارُ الْقَلْبِ بِكُلِّيَّتِهِ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ تَعَالَى

Ketujuh: Adalah yang paling menakjubkan untuk mendatangkan cinta Allah, adalah memasrahkan hati sepenuhnya di hadapan Allah ta’ala.

Di antara sebab yang bisa mendatangkan kecintaan Allah ﷻ menurut Ibnul Qayyim adalah dengan merendahkan hati sepenuhnya di hadapan Allah ﷻ, sehingga tidak ada lagi kesombongan, yang ada hanyalah ketundukan kepada Allah ﷻ.

Hal ini biasanya didapatkan oleh orang berdosa yang kemudian dia bertaubat. Ketika dia bertaubat, hatinya benar-benar hancur, hatinya benar-benar dia serahkan kepada Allah ﷻ, hatinya benar-benar tunduk kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya, taubat adalah di antara perkara yang dicintai oleh Allah ﷻ, karena orang yang bertaubat hatinya akan seperti itu di hadapan Allah ﷻ.

Oleh karenanya, tidak heran ketika Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah sebab yang sangat menakjubkan, karena dengan taubat seseorang akan dicintai oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

  1. Shalat malam

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

الثَّامِنُ: الْخَلْوَةُ بِهِ وَقْتَ النُّزُولِ الْإِلَهِيِّ، لِمُنَاجَاتِهِ وَتِلَاوَةِ كَلَامِهِ، وَالْوُقُوفِ بِالْقَلْبِ وَالتَّأَدُّبِ بِأَدَبِ الْعُبُودِيَّةِ بَيْنَ يَدَيْهِ. ثُمَّ خَتْمِ ذَلِكَ بِالِاسْتِغْفَارِ وَالتَّوْبَةِ

Kedelapan: Berkhalwat kepada Allah pada waktu turunnya Allah di langit dunia, untuk bermunajat dan membaca firman-firman-Nya, dan untuk berdiri dengan sepenuh hati dan beradab dengan adab peribadatan di hadapan-Nya, kemudian menutupnya dengan istigfar dan tobat.”

Rasulullah ﷺ telah bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku pasti Aku kabulkan, dan siapa yang meminta kepada-Ku pasti Aku penuhi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku pasti Aku ampuni’.”([15])

Pada sepertiga malam terakhir, ternyata Allah ﷻ mencari hamba-hamba-Nya untuk dikabulkan doanya, untuk diampuni dosanya, maka pada saat itulah seharusnya kita sebagai hamba untuk mencari muka di hadapan Allah ﷻ, agar kita menjadi hamba yang dicintai-Nya.

Ketika seseorang bangun di sepertiga malam terakhir untuk berkhalwat dengan Allah ﷻ, tentunya dia telah mengorbankan sesuatu yang sangat disukai oleh nafsunya menuju perkara yang dicintai oleh Allah ﷻ. Namun, semua pengorbanan tersebut Allah ﷻ ketahui, sehingga dengan pengorbanan yang dilakukan, selama itu benar-benar tulus ikhlas karena Allah, maka Allah ﷻ akan mudah untuk mencintainya.

  1. Berkumpul dengan orang saleh dan mengambil manfaat dari mereka

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

التَّاسِعُ: مُجَالَسَةُ الْمُحِبِّينَ الصَّادِقِينَ، وَالْتِقَاطُ أَطَايِبِ ثَمَرَاتِ كَلَامِهِمْ كَمَا يَنْتَقِي أَطَايِبَ الثَّمَرِ. وَلَا تَتَكَلَّمْ إِلَّا إِذَا تَرَجَّحَتْ مَصْلَحَةُ الْكَلَامِ، وَعَلِمْتَ أَنَّ فِيهِ مَزِيدًا لِحَالِكَ، وَمَنْفَعَةً لِغَيْرِكَ.

“Kesembilan: Berkumpul dengan orang-orang yang mencintai-Nya dengan benar, dan berusaha mengambil manfaat dari perkataan mereka sebagaimana orang yang memilih untuk mengambil buah yang bagus dari pohon. Dan tidak berkata kecuali yakin bahwa perkataannya mendatangkan maslahat, dan mengetahui bahwa perkataan itu menambah manfaat bagimu dan bermanfaat bagi orang lain.”

Di antara cara agar kita dicintai oleh Allah ﷻ adalah dengan duduk bersama orang-orang yang juga mencintai Allah ﷻ. Duduk dengan orang-orang yang kita dapati ketulusan dalam lisan mereka, ada keimanan dalam diri mereka, maka kita kemudian mengambil faedah dari mereka.

Sahabat adalah di antara hal yang perlu kita perhatikan, karena seorang penyair berkata,

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

Seorang sahabat itu bisa menarik.”

Yaitu maksudnya apabila kita berteman dengan orang-orang saleh, maka kita pun akan terbawa dengan kesalehan mereka. Adapun ketika kita berteman dengan orang-orang yang buruk, maka kita pun akan terbawa dengan keburukan mereka.

Maka dari itu, agar kita dicintai oleh Allah ﷻ, hendaknya kita memiliki teman yang saleh, yang dengannya kita bisa mengambil manfaat, hingga akhirnya kita bisa mencintai Allah dan Allah ﷻ mencintai kita.

  1. Menjauhi segala sebab yang menghalangi hati dengan Allah

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

الْعَاشِرُ: مُبَاعَدَةُ كُلِّ سَبَبٍ يَحُولُ بَيْنَ الْقَلْبِ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Kesepuluh: Menjauhi segala sebab yang bisa menghalangi hati dari Allah ‘Azza wa Jalla.”

Sebab ini juga menjadi sebab yang penting agar seseorang bisa untuk dicintai oleh Allah ﷻ. Yaitu, hendaknya setiap kita menjauhi maksiat, baik dari lisan, pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, dan seluruh bentuk maksiat, karena maksiat ini akan menghalangi seseorang untuk mencintai Allah ﷻ dan juga menghalangi untuk dicintai oleh Allah ﷻ.

Di antara perkara yang kita harus berhati-hati adalah gawai kita. Di dalam gawai kita terdapat begitu banyak sekali jalan maksiat. Cinta kita kepada Allah ﷻ putus gara-gara apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan yang lainnya. Akhirnya, kita disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat yang ada di dalam gawai kita.

Maka dari itu, jangan sampai kita melakukan hal-hal yang menghalangi kita dari cinta Allah ﷻ.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata setelah menyebutkan sepuluh sebab yang bisa mendatangkan cinta Allah ﷻ,

فَمِنْ هَذِهِ الْأَسْبَابِ الْعَشْرَةِ: وَصَلَ الْمُحِبُّونَ إِلَى مَنَازِلِ الْمَحَبَّةِ. وَدَخَلُوا عَلَى الْحَبِيبِ. وَمِلَاكُ ذَلِكَ كُلِّهِ أَمْرَانِ: اسْتِعْدَادُ الرُّوحِ لِهَذَا الشَّأْنِ، وَانْفِتَاحُ عَيْنِ الْبَصِيرَةِ

Dengan sepuluh sebab ini, seorang yang mencintai akan sampai kepada kedudukan cinta, dan dia bisa bertemu dengan yang dia cintai. Untuk bisa melakukan itu semua dengan dua hal; mempersiapkan jiwa untuk melakukan perkara-perkara ini dan membuka mata hati.”([16])

Sepuluh sebab agar dicintai Allah ﷻ yang telah kita sebutkan ini, jika kita tidak mempersiapkan diri untuk melakukannya, maka kita pasti tidak akan melakukannya. Namun, kalau kita telah berniat tulus untuk melakukannya agar bisa dicintai oleh Allah, maka tentu kita pasti bisa meraihnya.

Ketika seseorang telah dicintai oleh Allah ﷻ, maka dia telah menjadi orang yang mulia, dan orang yang paling dicintai oleh Allah ﷻ ada dua, yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kekasih-Nya.” (QS. An-Nisa’: 125)

Demikian pula sabda Nabi Muhammad ﷺ,

فَإِنَّ اللهِ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Sesungguhnya Ta’ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.”([17])

_________________________
Footnote

([1]) HR. Bukhari No. 660.

([2]) Fath Rabb al-Bariyah Bitalkhis al-Hamawiyah, karya Syaikh Utsaimin (hlm. 81).

([3]) Majmu’ al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah (13/177).

([4]) Lihat: HR. Al-Bazzar No. 9054.

([5]) HR. Bukhari No. 3009.

([6]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (3/69).

([7]) HR. Ibnu Majah No. 4031, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.

([8]) HR. Muslim No. 2577.

([9]) Lihat: Madarij as-Salikin, karya Ibnul Qayyim (3/18-19).

([10]) Madari as-Salikin (3/39).

([11]) HR. Bukhari No. 6502.

([12]) HR. Bukhari No. 6502

([13]) HR. Thabrani No. 7883 dalam al-Mu’jam al-Kabir li Ath-Thabrani.

([14]) HR. Tirmizi No. 3375, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

([15]) HR. Bukhari No. 1145.

([16]) Madarij as-Salikin (3/19).

([17]) HR. Muslim No. 532.