Padang Mahsyar – Iman Kepada Hari Akhir 13

Padang Mahsyar

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Pada pembahasan yang telah lalu, kita telah membahas tentang hari kebangkitan dan bagaimana proses kebangkitan, maka pembahasan kita kali ini akan membahas tentang padang mahsyar, dan ini masih berkaitan dengan kedahsyatan hari kiamat.

A. Macam-macam Al-Hasyr (الْحَشْرُ) ([1])

Al-Hasyr secara bahasa artinya adalah الْجَمْعُ مَعَ سَوْقٍ “pengumpulan disertai penggiringan” ([2])

Al-Hasyr sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Al-Hasyr di dunia dan Al-Hasyr di akhirat.

  1. Al-Hasyr di dunia

Al-Hasyr di dunia juga terbagi menjadi dua.

Pertama adalah seperti yang Allah ﷻ sebutkan dalam firman-Nya,

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَاأُولِي الْأَبْصَارِ

Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sehingga memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (QS. Al-Hasyr: 2)

Ayat ini berbicara tentang pengusiran bani Nadhir, yang disebut juga dengan Al-Hasyr. Bani Nadhir dikumpulkan dan digiring keluar dari kota Madinah sehingga mereka menuju Khoibar atau negeri Syam.

Kedua adalah Al-Hasyr sebelum hari kiamat, yang di mana itu adalah salah satu dari sepuluh tanda besar hari kiamat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنَ تَسُوقُ النَّاسَ أَوْ تَحْشُرُ النَّاسَ، فَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا، وَتَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا

Dan api muncul dari bawah ‘Adan menggiring manusia atau mengumpulkan manusia lalu menginap bersama mereka di tempat mereka menginap dan tidur siang bersama mereka di tempat mereka tidur siang.”([3])

  1. Al-Hasyr di akhirat

Fokus pembahasan kita adalah Al-Hasyr di akhirat. Hasyr di akhirat juga terbagi menjadi dua:

Pertama: Al-Hasyr berupa pengumpulan manusia dan seluruh makhluk lainnya ke padang Mahsyar.

Kedua: Al-Hasyr berupa digiringnya manusia ke surga atau neraka (الْحَشْرُ إِلَى الْجَنَّةِ أَوْ النَّارِ).

Fokus pembahasan kita juga lebih terfokus pada pengumpulan manusia dan makhluk lainnya ke padang mahsyar. Dalil akan hal ini sangatlah banyak, di antaranya seperti firman Allah ﷻ,

قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ

Katakanlah, ‘(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi’.” (QS. Al-Waqi’ah: 49-50)

Kemudian juga firman Allah ﷻ,

ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ

Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).” (QS. Hud: 103)

Demikian juga firman Allah ﷻ,

وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

Dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Demikian juga firman Allah ﷻ,

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)

Ini semua di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa semua manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk disidang atau dihisab dan yang lainnya, sebelum manusia masuk surga atau neraka.

Dari penjelasan di atas kita bisa melihat bahwasanya Al-Hasyr atau padangnya yang disebut dengan padang mahsyar itu ada empat, dua bentuk di dunia dan dua bentuk di akhirat. Adapun yang terjadi baru satu, yaitu peristiwa pengusiran kaum Yahudi bani Nadhir. Adapun bentuk-bentuk lainnya ada yang akan terjadi menjelang pada hari kiamat, dan kedua lainnya baru akan terjadi setelah hari kiamat.

B. Makhluk yang dikumpulkan di padang Mahsyar

Semua yang mukalaf tentu saja dikumpulkan di padang Mahsyar kelak, yaitu manusia, Jin, dan syaithan-syaithan.

Di antara yang dikumpulkan juga kelak di padang Mahsyar adalah hewan-hewan. Permasalahan dikumpulkannya hewan-hewan memang terdapat khilaf di kalangan para ulama, akan tetapi pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah hewan-hewan juga dikumpulkan. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa hewan-hewan juga dikumpulkan kelak di padang Mahsyar bisa kita temukan dari Al-Quran maupun hadits Nabi ﷺ.

  1. Dalil Al-Quran

Ada tiga ayat di dalam Al-Quran yang membicarakan tentang dikumpulkannya hewan-hewan di padang mahsyar.

Pertama, yaitu firman Allah ﷻ,

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syura: 29)

Kedua: yaitu firman Allah ﷻ,

وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ

Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. Al-Waqi’ah: 5)

Jika binatang-binatang liar (buas) saja dikumpulkan, apalagi binatang-binatang yang tidak buas. Maka mengumpulkan hewan-hewan tentu sangat mudah bagi Allah ﷻ. Ini menunjukan semua hewan, bahkan hewan-hewan purbakala terdahulu juga ikut dikumpulkan di padang mahsyar.

Ketiga: yaitu firman Allah ﷻ,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.” (QS. Al-An’am: 38)

Pada ayat ini Allah ﷻ berbicara tentang hewan-hewan, bahwasanya mereka seperti halnya manusia. Oleh karenanya, mereka juga akan dibangkitkan.

  1. Dalil Hadits

Di antara hadits yang membicarakan tentang hewan-hewan juga akan dikumpulkan di padang Mahsyar kelak adalah sabda Nabi ﷺ dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah h,

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ، مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

Semua hak itu pasti akan dipenuhi kepada pemiliknya pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk.”([4])

Hadits ini menunjukkan bahwasanya hewan-hewan juga dibangkitkan.

Jadi, inilah dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya hewan-hewan juga akan dibangkitkan. Akan tetapi, hewan-hewan dibangkitkan bukan untuk masuk surga dan neraka, akan tetapi untuk Allah tegakkan keadilan di antara para hewan. Jadi, hewan-hewan hanya akan berakhir di padang Mahsyar saja. Oleh karenanya Allah ﷻ berfirman tentang perkataan orang kafir ketika di padang Mahsyar yang berkata,

يَالَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.” (QS. An-Naba’: 40)

Mengapa mereka orang-orang kafir mengatakan demikian? Karena mereka melihat hewan-hewan setelah di kisas menjadi tanah, yaitu di mana setelah dikisas Allah berfirman kepada para hewan-hewan,

كُونِي تُرَابًا

Jadilah kamu tanah!”([5])

Oleh karena melihat peristiwa itulah akhirnya orang-orang kafir juga berharap mereka dijadikan sebagai tanah.

Maka dari sini kita ketahui bahwa perbedaan dikumpulkannya antara hewan dan manusia beserta makhluk lainnya adalah manusia dan jin dikumpulkan untuk dimasukkan di surga atau neraka, adapun hewan-hewan dikumpulkan hanya untuk diqishash lalu menjadi tanah. Ini sangat perlu untuk kita sampaikan agar kita tahu bahwasanya peristiwa padang mahsyar adalah hari yang sangat mengerikan, karena bukan hanya manusia yang dibangkitkan, melainkan hewan-hewan juga Allah bangkitkan.

C. Sifat padang mahsyar

  1. Bumi yang digunakan sebagai padang mahsyar

Para ulama khilaf tentang maksud firman Allah ﷻ,

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.” (QS. Ibrahim: 48)

Para ulama khilaf tentang apa maksud bumi diganti dengan bumi yang lain([6]). Sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah tetap bumi yang lama namun mendapat modifikasi dari Allah ﷻ([7]).

Adapun dalil akan hal ini di antaranya firman Allah ﷻ,

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ

Dan apabila bumi didatarkan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)

At-Thobari berkata وَإِذَا الْأَرْضُ بُسِطَتْ، فَزِيدَ فِي سَعَتِهَا “Dan jika bumi dibentangkan sehingga ditambah luasnya” ([8])

Jadi bumi yang ada yang diolah dan dimodifikasi untuk dijadikan padang mahsyar.

Kemudian juga firman Allah ﷻ yang lain,

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah: 4)

Berita atau kabar apa yang bumi sampaikan pada hari kiamat? Di antara tafsirannya adalah bumi akan mengabarkan tentang maksiat dan ketaatan yang dilakukan di atas bumi tersebut. Ini menunjukkan bahwa bumi tersebut akan menjadi saksi, dan tentunya dia hadir pada hari kiamat. Oleh karenanya para ulama menjelaskan bahwasanya di antara hikmah mengapa seseorang dianjurkan ketika shalat ‘Ied pergi dan pulang melalu jalur yang berbeda adalah dalam rangka untuk memperbanyak saksi baginya pada hari kiamat.

Demikian juga sabda Nabi

لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ، وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah jin, manusia, atau suatu apapun yang mendengar suara muadzin kecuali akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat” ([9])

Ibnu Hajar berkata

وَلَا شَيْءٌ ظَاهِرُهُ يَشْمَلُ الْحَيَوَانَاتِ وَالْجَمَادَاتِ … وَيُؤَيِّدُهُ مَا فِي رِوَايَة بن خُزَيْمَةَ لَا يَسْمَعُ صَوْتَهُ شَجَرٌ وَلَا مَدَرٌ وَلَا حَجَرٌ وَلَا جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلِأَبِي دَاوُدَ وَالنَّسَائِيِّ مِنْ طَرِيقِ أَبِي يَحْيَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ بِلَفْظِ الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ…

“Sabda Nabi “suatu apapun” dzohirnya mencakup hewan dan benda-benda mati…dan ini didukung dengan riwayat Ibnu Khuzaimah “Tidaklah mendengar suaranya pohon tidak juga tanah lihat tidak juga batu, tidak juga jin dan manusia…”([10]). Demikian juga riwayat Abu Daud dan an-Nasai dari jalan Abu Yahya dari Abu Hurairah dengan lafal, “Muadzin diampuni dosanya sejauh suaranya, dan seluruh yang basah dan kering menjadi saksi baginya” ([11])….” ([12])

Jika bumi yang dijadikan padang mahsyar adalah bumi yang lain yang tidak ada kaitannya dengan bumi yang sekarang maka bagaimana benda-benda mati tersebut menjadi saksi bagi muadzin pada hari kiamat? ([13])

Selain itu dzohir dari dalil-dalil menunjukan manusia ketika dibangkitkan keluar dari kuburan mereka maka mereka langsung menuju ke padang mahsyar, yaitu posisi mereka tetap berada di bumi yang dimana lokasi kuburan mereka di situ. Wallahu a’lam.

Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa maksudnya adalah diganti dengan bumi yang baru dan tidak ada kaitannya dengan bumi yang lama([14]).

bumi diratakan padang mahsyar

  1. Proses perubahan bumi menjadi padang mahsyar

Adapun proses perubahan bumi yang kita pijak saat ini menjadi bumi yang digunakan oleh Allah menjadi padang mahsyar yaitu,

Pertama: Bumi mengeluarkan isi perutnya. Allah ﷻ berfirman,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا، وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2)

Demikian juga firman Allah dalam ayat yang lain,

وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ

Dan (bumi) memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)

Kedua: Bumi kemudian didatarkan. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ

Dan apabila bumi didatarkan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)

Ketiga: Gunung-gunung dihancurkan. Allah ﷻ berfirman,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا، فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا، لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ‘Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali, (sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana.” (QS. Thaha: 105-107)

Intinya, setelah Allah menjadikan datar bumi tersebut, dan menghilangkan segala gunung-gunung di sana, seluruh manusia dan hewan cukup untuk dikumpulkan di atas padang mahsyar tersebut.

Menurut Ibnu Katsir proses ini terjadi setelah ditiupnya sangkakala yang pertama sebelum ditiupkan sangkakala yang kedua (yaitu dimasa jarak 40 diantara keduanya) ([15])

proses padang mahsyar

  1. Sifat padang mahsyar yang disebutkan Nabi

Sifat-sifat padang mahsyar disebutkan dalam hadits. Nabi ﷺ bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ، كَقُرْصَةِ نَقِيٍّ…لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

Pada hari kiamat manusia dikumpulkan di atas tanah putih cemerlang bagaikan roti yang bersih (putih kemerah-merahan). Di sana tidak ada satu tanda([16]) pun bagi seseorang.”([17])

Nabi ﷺ menjelaskan ciri-ciri padang mahsyar dengan sangat detail, hingga warna pun beliau sebutkan. Maka dari ciri-ciri tersebut (kondisi bumi datar seperti itu), tidak ada tempat bersembunyi dan tidak ada tempat berteduh. Allah ﷻ berfirman :

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18)

D. Proses Hasyr

Ada beberapa tahapan dalam proses terjadinya Al-Hasyr.

  1. Nabi Muhammad yang pertama kali dibangkitkan

Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ bersabda,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat kelak, aku adalah orang yang paling pertama keluar dari kuburan, aku adalah orang yang paling dahulu memberi syafaat, dan aku adalah orang yang paling dahulu dibenarkan memberi syafaat.”([18])

Meskipun Nabi ﷺ adalah orang yang pertama dibangkitkan pada hari kiamat, ternyata Nabi Musa ‘Alaihissalam telah sadar terlebih dahulu tatkala itu. Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ bersabda,

لاَ تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى، فَإِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُونَ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُفِيقُ، فَإِذَا مُوسَى بَاطِشٌ بِجَانِبِ العَرْشِ، فَلاَ أَدْرِي أَكَانَ فِيمَنْ صَعِقَ فَأَفَاقَ قَبْلِي، أَوْ كَانَ مِمَّنِ اسْتَثْنَى اللَّهُ

Janganlah kamu lebihkan aku terhadap Musa, karena nanti saat seluruh manusia dimatikan dan akulah orang yang pertama kali dibangkitkan (dihidupkan), namun saat itu aku melihat Musa sedang berpegangan sangat kuat di sisi ‘Arsy. Aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang dimatikan lalu bangkit lebih dahulu daripada aku, atau dia termasuk di antara orang-orang yang dikecualikan (tidak dimatikan).”([19])

Dalam riwayat yang lain Nabi ﷺ mengatakan,

أَمْ بُعِثَ قَبْلِي

Atau dia dibangkitkan sebelum aku.”([20])

Yaitu Nabi ﷺ tidak tahu apakah Nabi Musa ‘Alaihissalam dibangkitkan lebih dulu darinya atau tidak, akan tetapi datang dalam riwayat yang lain Nabi Muhammad ﷺ menegaskan,

وَأَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي

Aku juga Al Hasyr (penghimpun), yang manusia akan dikumpulkan di atas kakiku (yaitu setelahku).”([21])

  1. Manusia dikumpulkan dalam kondisi telanjang, belum disunat, tidak beralas kaki, dan tidak ada yang dibawa

Nabi ﷺ bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا (وفي رواية: بُهْمًا، أي لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ)

Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan, -dalam riwayat lain: tidak ada sesuatu pun yang mereka bawa([22])- .”([23])

Lalu kemudian Nabi ﷺ membacakan firman Allah ﷻ,

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya’: 104)

Maka sebagaimana seseorang yang baru keluar dari perut ibunya dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, belum disunat, dan tidak membawa apa-apa, maka demikian pula keadaan seseorang ketika dibangkitkan pada hari kiamat. Oleh karenanya ketika mendengar hal itu, ‘Aisyah i berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ

Wahai Rasulullah, wanita dan laki-laki semua saling melihat satu sama lain? Beliau menjawab: ‘Wahai Aisyah, perkaranya lebih sulit daripada saling melihat satu sama lain’.”([24])

Saking dahsyatnya perkara pada hari itu sampai-sampai orang-orang tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk melihat satu sama lain, meskipun semuanya datang ke padang mahsyar dalam keadaan telanjang. Oleh karenanya pula Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah pernah mengatakan tatkala membawakan hadits ini bahwa beliau melihat suatu kejadian yang mirip seperti itu, yaitu ketika terjadi peristiwa terowongan mina, orang-orang berlarian sampai-sampai sebagian dari mereka pakaiannya terlepas dan mereka tidak memedulikannya karena peristiwa tatkala itu merupakan peristiwa yang dahsyat. Sesungguhnya peristiwa tersebut adalah peristiwa ringan di muka bumi, maka bagaimana lagi dengan peristiwa di padang mahsyar? Tentu perkaranya jauh lebih berat lagi, karena seberapa besar pun peristiwa di dunia tidak ada bandingannya dengan peristiwa pada hari kiamat.

  1. Proses kebangkitan

Manusia ketika dibangkitkan, maka ada beberapa proses atau peristiwa yang akan mereka alami, di antaranya:

Pertama: Bangkit dari kubur dalam keadaan bingung. Allah ﷻ menyebutkan hal ini dalam banyak ayat di antaranya,

يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ

Ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qamar: 7)

Kita tentu tahu bahwasanya belalang yang beterbangan secara bertebaran, mereka pastinya datang dari arah mana pun, sehingga tampak seperti sedang bingung. Demikianlah keadaan orang-orang yang dibangkitkan pada hari kiamat, mereka akan bingung dengan peristiwa yang akan mereka alami kelak. Dan sebagaimana pula yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya yang lain,

يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ

Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan.” (QS. Al-Qari’ah: 4)

Kedua: Setelah itu, manusia diarahkan dengan suara. Allah ﷻ berfirman,

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَى شَيْءٍ نُكُرٍ، خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ، مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ

Maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), mata mereka terbelalak, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah hari yang sulit’.” (QS. Al-Qamar: 6-8)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ,

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا

Pada hari itu mereka mengikuti (panggilan) penyeru (malaikat) tanpa berbelok-belok (membantah); dan semua suara tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah desisan.” (QS. Thaha: 108)

Setelah manusia dibangkitkan dalam keadaan seperti belalang atau laron yang kebingungan, mereka kemudian diarahkan dengan suara, yang dengan suara itulah yang menggiring mereka menuju ke suatu tempat di padang mahsyar. Dan berdasarkan firman Allah di atas, ketika manusia diarahkan, maka mereka tidak bisa berbelok ke kanan, dan tidak bisa pula berbelok ke kiri, dan tidak ada suara kecuali seperti suara desisan. Ada yang mengatakan desisan di sini maksudnya adalah suara mereka yang sangat pelan seperti berbisik-bisik karena saking takutnya([25]), dan ada pula yang mengatakan bahwa suara yang terdengar hanyalah suara langkah kaki mereka([26]).

  1. Kemudian manusia diberi pakaian

Nabi ﷺ bersabda,

وَإِنَّ أَوَّلَ الخَلاَئِقِ يُكْسَى يَوْمَ القِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ

Sesungguhnya makhluk pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim ‘Alaihissalam.”([27])

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah orang yang pertama sebelum Nabi ﷺ diberikan pakaian oleh Allah ﷻ. Mengapa? Imam Al-Qurthubi dalam kitabnya At-Tadzkirah menyebutkan beberapa sebab, di antaranya adalah karena tidak ada yang takut kepada Allah seperti takutnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam([28]). Kita tahu bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam sangat takut kepada Allah, sampai-sampai beliaulah yang menghancurkan patung berhala-berhala, berdebat dengan penyembah berhala, berdebat dengan penyembah benda-benda langit, namun beliau berdoa,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Beliau meminta dijauhkan dari kesyirikan, padahal Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah bapaknya tauhid, bahkan Nabi ﷺ diminta untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, Allah ﷻ berfirman,

اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)

Oleh karenanya Ibrahim at-Taimiy berkata,

مَنْ يَأْمَنُ مِنَ الْبَلَاءِ بَعْدَ خَلِيلِ اللَّهِ إِبْرَاهِيمَ حِينَ يَقُولُ: رَبِّ {وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ}؟

Siapa yang merasa aman setelah Kekasih Allah Ibrahim ‘Alaihissalam ketika ia berkata, “Ya Rabku, jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala?”([29])

Oleh karena Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah orang yang memiliki ketakutan kepada Allah dengan ketakutan yang luar biasa, maka pada hari itu (hari kiamat) Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam aman dengan dipakaikan pakaian pertama kali.

Selain itu, Imam Al-Qurthubi juga menyebutkan pendapat lain bahwasanya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ketika mau dibakar, maka baju yang beliau kenakan dibuka, dan ini merupakan kebiasaan mereka dahulu sebelum menyiksa seseorang. Oleh karena Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam bajunya dibuka karena membela tauhid, maka dialah yang pertama kali dipakaikan pakaian oleh Allah ﷻ pada hari kiamat.([30]) Tentunya ini adalah suatu bentuk kemuliaan bagi Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, sampai-sampai beliau didahulukan sebelum Nabi Muhammad ﷺ untuk dikenakan pakaian pada hari kiamat.

  1. Matahari didekatkan seukuran satu mil

1 mil itu setara dengan 1,6 kilometer. Maka jika matahari didekatkan kepada manusia pada hari itu dengan jarak 1,6 kilometer, maka tentu sangat dekat sekali dan akan sangat panas luar biasa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa ditambah pula dengan keterangan dari sabda Nabi ﷺ,

يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا

Pada hari itu neraka Jahanam didatangkan, ia mempunyai tujuh puluh ribu tali kekang, setiap tali kekang terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang akan menyeretnya.”([31])

Tentunya dengan didatangkannya neraka pada hari itu tentu akan menambah panasnya pada hari itu.

Demikian juga manusia di padang mahsyar dalam kondisi sangat padat dan sesak, tidak ada tempat berpijak bagi mereka kecuali tempat kedua kaki mereka. Dari Jabir bin Abdillah, dari Nabi bersabda :

تُمَدُّ الْأَرْضُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَدًّا لِعَظَمَةِ الرَّحْمَنِ، ثُمَّ لَا يَكُونُ لِبَشَرٍ مَنْ بَنِي آدَمَ إِلَّا مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ

“Bumi dibentangkan (dijulurkan/ditarik) dengan sungguh-sungguh tarikan karena agungnya Ar-Rahman, lalu tidak ada tempat bagi manusia dari bani Adam kecuali hanya tempat kedua kakinya” ([32])

proses al hasyr

E. Kondisi manusia di padang mahsyar

Berkaitan dengan kondisi manusia di padang mahsyar, maka kita bisa membaginya menjadi tiga pembahasan, yaitu kondisi orang-orang kafir, kondisi orang muslim namun pelaku maksiat, dan kondisi orang-orang yang bertakwa.

  1. Kondisi orang-orang kafir

Ada beberapa kondisi orang-orang kafir ketika dibangkitkan pada hari kiamat, di antaranya:

  • Orang-orang kafir dibangkitkan dalam kondisi berjalan dengan wajah-wajah mereka, bukan dengan kaki. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا

Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli.” (QS. Al-Isra’: 97)

Dari Anas bin Malik h meriwayatkan bahwasanya ada seseorang yang datang dan bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hal ini,

يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى رِجْلَيْهِ فِي الدُّنْيَا، قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ قَتَادَةُ: بَلَى، وَعِزَّةِ رَبِّنَا

Wahai Rasulullah, bagaimana orang kafir dikumpulkan (dengan berjalan) di atas wajahnya pada hari kiamat?” Beliau menjawab, ‘Bukankah yang membuatnya berjalan dengan dua kaki di dunia mampu untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?’.” Qatadah menjawab: ‘Benar, demi kemuliaan Rabb kami’.”([33])

Sesungguhnya ini adalah penghinaan bagi orang-orang kafir, karena kita tahu bahwa wajah adalah tempat termulia pada tubuh seseorang. Akan tetapi orang-orang kafir pada hari kiamat akan menjadikan tempat termulia pada tubuhnya sebagai pijakan. Mengapa demikian? Karena selama mereka hidup di dunia mereka tidak mau sujud kepada Allah ﷻ. Maka pada hari tersebut mereka dibangkitkan dalam kondisi terbalik. Otak dan akal yang mereka tidak pernah mereka gunakan untuk berpikir dalam menyembah Tuhan, bahkan mereka malah menyembah makhluk, maka demikianlah balasan bagi mereka pada hari kiamat.

  • Dibangkitkan dalam kondisi buta, tuli, dan bisu. Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ yang telah kita sebutkan dalam surah Al-Isra’, dan juga firman Allah ﷻ yang lain dalam surah Thaha,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى، قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا، قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى، وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan’. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 124-127)

Namun perlu untuk kita ketahui bahwa dalam kondisi lain, mereka berbicara, mereka melihat, dan bahkan mereka mendengar. Para ulama menjelaskan bahwa sebabnya adalah karena pada hari kiamat banyak sekali mauqif (kondisi-kondisi). Akan tetapi intinya, ketika di awal-awal mereka dibangkitkan, maka beginilah kondisi mereka, buta, tulis, dan bisu. Lalu kemudian setelah itu Allah akan kembalikan penglihatan mereka, lisan mereka, dan pendengaran mereka dalam rangka untuk mengazab mereka.

  • Wajah yang hitam dan penuh dengan debu. Para ulama mengatakan bahwa sebab wajah orang-orang kafir itu penuh debu adalah karena keringat mereka telah sampai di wajah-wajah mereka. Allah ﷻ berfirman,

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ، تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ، أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

Dan pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram), tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka.” (QS. ‘Abasa: 40-42)

  • Mata terbelalak karena ketakutan. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,

خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ

Mata mereka terbelalak, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qamar: 7)

Dan juga firman Allah ﷻ,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ، مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ

Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, mereka datang tergesa-gesa (memenuhi panggilan) dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.” (QS. Ibrahim: 42-43)

  • Jantung naik sampai ke dada (leher). Allah ﷻ berfirman,

مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ

Mereka datang tergesa-gesa (memenuhi panggilan) dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.” (QS. Ibrahim: 42-43)

Hati (dada) mereka kosong maksudnya di sini karena jantung mereka naik sampai ke leher mereka. Dan dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ

Dan berilah mereka peringatan akan hari yang semakin dekat (hari Kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan kesedihan (ketakutan).” (QS. Ghafir: 18)

Maksudnya adalah jantung-jantung mereka naik sampai ke kerongkongan mereka karena rasa takut yang luar biasa.

  • Mata membiru.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah

يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا

“(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru.” (QS. Thaha: 102)

Yaitu hari dimana malaikat Israfil meniupkan sangkakala. Kemudian yang dimaksud dengan mujrimin adalah musyrikin, dan banyak di dalam Al-Quran Allah ﷻ menyebutkan mujrimin dan yang dimaksud adalah musyrikin. Mujrimin secara bahasa adalah para pelaku dosa atau para pembuat kesalahan. Akan tetapi mujrimin sering disebutkan di dalam Al-Quran dan yang dimaksud adalah orang-orang musyrik.

زُرْقًا “berwarna biru” ([34]) i’robnya adalah haal. Artinya “Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dalam keadaan berwarna biru”. Para ulama menjelaskan bahwasanya sebab dari warna biru tersebut adalah karena rasa haus di padang mahsyar dan ketakutan yang luar biasa yang mereka rasakan. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang mana yang biru :

Pertama: mengatakan bahwa yang biru adalah mata mereka([35]) sedangkan tubuhnya bewarna hitam. Hal ini karena Allah ﷻ berfirman dalam ayat ini

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.” (QS. Ali Imran: 106)

Dan ini adalah pendapat yang cukup kuat dalam mengkompromikan 2 ayat ini.

Kedua: Mengatakan bahwa yang biru adalah warna tubuh mereka([36]). Ini dikarenakan rasa takut yang luar biasa yang mereka hadapi.

Sebagian ulama berpendapat bahwa warna biru tersebut merupakan kiasan dari kondisi buta mata mereka([37]).

Maka sungguh kita berlindung kepada Allah dari kondisi seperti ini. Mungkin sekarang mereka bersenang-senang, tertawa-tawa, bermaksiat, menyembah selain Allah ﷻ, akan tetapi ketika pada hari kiamat mereka akan dibangkitkan dalam kondisi seperti ini, sungguh kondisi ini sangat mengerikan. Dan yang kita sebutkan ini hanyalah sebagian dari bentuk-bentuk kondisi orang kafir pada hari kiamat, dan tentu masih banyak lagi kondisi-kondisi mereka yang lain yang sangat mengerikan.

  1. Kondisi para pelaku maksiat

Pelaku maksiat di sini adalah seorang muslim namun masih melakukan maksiat. Dan banyak hadits yang menjelaskan kondisi pelaku maksiat berdasarkan maksiat yang dia lakukan. Namun kita hanya akan menyebutkan sebagian saja, di antaranya:

  • Orang yang sombong. Nabi ﷺ bersabda,

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ

Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut namun bentuknya manusia, mereka diliputi kehinaan dari segala penjuru.”([38])

Mengapa orang sombong mendapatkan kondisi demikian? Demikianlah kaidah Al-Jazaa’ min Jinsil ‘Amal (balasan sesuai perbuatan). Karen selama di dunia di sombong, merasa besar dan tinggi di dunia dengan apa yang dia miliki di dunia, padahal sejatinya dia sangatlah kecil, maka dia diberi kondisi pada hari kiamat menjadi kerdil seperti semut, dan hampir terinjak oleh manusia ataupun hewan-hewan.

  • Manusia yang tidak berlaku adil kepada istri-istrinya dalam berpoligami. Kata Nabi ﷺ,

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

Barang siapa yang memiliki dua orang istri kemudian ia cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sebelah badannya miring.”([39])

Terkadang ada seseorang suami yang berpoligami, kepada istri tua hanya pada urusan yang sulit dan biasa, akan tetapi untuk urusan senang-senang dia hanya mau dengan istri mudanya. Maka yang seperti ini pada hari kiamat datang dalam keadaan badannya miring. Maka sungguh kehinaan apabila seorang suami keren dengan tampilannya yang sunnah, katanya berpegang teguh pada manhaj salaf, tapi di rumahnya tidak berbuat adil kepada salah satu dari kedua istrinya. Maka di hari kiamat datang dalam keadaan badan miring. Tentu tidaklah Nabi ﷺ mengingatkan hal ini kecuali memang karena ada orang-orang yang seperti ini, mereka tidak berbuat adil kepada salah satu dari kedua istrinya. Hadits ini juga sekaligus menunjukkan bahwasanya tidak adil kepada salah satu istri adalah dosa besar karena diancam oleh ancaman dosa khusus.

  • Suka meminta-minta padahal tidak perlu (darurat atau mendesak). Nabi ﷺ bersabda,

لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللهَ، وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

Tidaklah seseorang terus meminta-minta hingga kelak pada hari kiamat ia menjumpai Allah sementara di wajahnya tidak ada dagingnya sama sekali.”([40])

Dalam riwayat yang lain Nabi ﷺ bersabda,

الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ

Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri, kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.”([41])

Adapun jika dalam kondisi mendesak maka tidak mengapa meminta. Nabi bersabda :

يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ، تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا، ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا

“Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta itu tidak halal kecuali karena salah satu dari tiga orang. (yang pertama) Seseorang yang menanggung hutang (karena untuk mendamaikan dua orang atau dua kabilah yang bersengketa atau yang semisalnya-pen) maka boleh baginya meminta hingga ia bisa membayar hutangnya, setelah itu ia menahan diri. (Yang kedua) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya maka halal baginya untuk meminta hingga ia mendapatkan kecukupan untuk kehidupannya. (Yang ketiga) seseorang yang yang ditimpa kemiskinan parah (setelah sebelumnya berkecukupan-pen) hingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya menyatakan “Bahwa si Fulan telah ditimpa kemiskinan (parah)” maka halal baginya untuk meminta hingga ia mendapati kecukupan untuk kehidupannya. Maka selain dari pada tiga kondisi ini -wahai Qobishoh- maka hanyalah keharaman yang dimakan oleh orangnya” ([42])

Mengapa orang yang meminta-minta diberikan kondisi pada hari kiamat seperti itu? Karena mereka adalah orang-orang yang tidak punya malu. Sedikit-sedikit meminta-minta tanpa ada keperluan yang mendesak. Apalagi sudah memiliki kecukupan namun masih meminta-minta, dan apa yang dia miliki disimpan-simpan, ini yang bermasalah, karena orang-orang yang seperti ini diancam dengan azab hilangnya wajahnya pada hari kiamat.

  • Orang kaya yang pelit. Nabi ﷺ bersabda,

الْأَكْثَرُونَ هُمُ الْأَسْفَلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِلَّا مَنْ قَالَ بِالْمَالِ، هَكَذَا، وَهَكَذَا، وَكَسَبَهُ مِنْ طَيِّبٍ

Orang yang banyak harta adalah yang paling rendah kedudukannya di hari Kiamat kelak, kecuali orang yang berkata dengan hartanya, ‘Seperti ini dan seperti ini’ (bersedekah), dan ia memperoleh hartanya dengan baik.”([43])

Bagi orang yang senantiasa mengumpulkan harta namun pelit, sesungguhnya dia hanya sedang mengumpulkan beban yang berat baginya pada hari kiamat. Maka orang yang memiliki harta hendaknya berhati-hati, karena pada hari kiamat kedudukannya bisa diperingkat yang paling rendah pada hari kiamat kelak. Orang yang selalu bersenang-senang dengan hartanya, koleksi berbagai macam benda-benda yang tidak begitu bermanfaat, namun dia pelit untuk bersedekah dan semacamnya, maka kedudukannya adalah paling rendah pada hari kiamat, meskipun di dunia dia memiliki kedudukan paling tinggi dengan hartanya.

  • Para pedagang yang tidak jujur. Nabi ﷺ pernah mendatangi para pedagang dan berkata,

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ، فَاسْتَجَابُوا لَهُ، وَرَفَعُوا إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ، وَقَالَ: إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى، وَبَرَّ، وَصَدَقَ

Wahai para pedagang!”. Maka mereka memenuhi seruan Rasulullah, dan mengangkat pandangan mereka kepadanya. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang berdosa kecuali yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik serta jujur’.”([44])

Mengapa para pedagang juga mendapatkan ancaman khusus? Karena pada praktiknya memang banyak para pedagang yang tidak jujur, bahkan seringnya mereka bersumpah dengan sumpah palsu, dan ini jelas haram hukumnya. Oleh karenanya Nabi ﷺ menyebutkan dalam sabdanya bahwa para pedagang yang selamat adalah pedagang yang bertakwa, yaitu pedagang yang tidak berdusta, tidak bersumpah palsu, tidak mengelabuhi pembeli, hasilnya bukan dari hasil yang haram. Maka hendaknya para pedagang memperhatikan hal ini, jangan sampai gara-gara mencari dunia sampai melupakan aturan-aturan halal dan haram dalam perdagangan.

  • Pencuri tanah. Dalam hadits Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

Barang siapa yang mengambil sejengkal saja dari tanah secara zalim, maka dia akan dikalungkan (dipikulkan) dengan tanah sebanyak tujuh lapis bumi pada hari kiamat.”([45])

Perhatikanlah betapa bahayanya mengambil tanah orang lain tanpa hak, sejengkal saja yang dia ambil maka dia akan dikalungkan pada hari kiamat tujuh lapis bumi. Maka bagaimana lagi dengan orang yang mengambil tanah ratusan meter sampai berhektar-hektar? Subhanallah, sungguh mengerikan perilaku sebagian orang yang demikian. Maka kita ingatkan kepada kita semua bahwasanya jangan mengambil tanah milik orang lain. Demikian pula tanah yang peruntukannya umum, jangan kita ambil secara sepihak meskipun sejengkal saja, karena dosa dan azabnya tidak main-main pada hari kiamat kelak.

Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh kondisi seorang muslim pelaku maksiat pada hari kiamat kelak, akan tetapi kita cukupkan dengan contoh-contoh di atas.

  1. Kondisi orang yang bertakwa

Secara umum tentunya kondisi orang yang bertakwa ketika di padang mahsyar kelak adalah tenteram (tenang). Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ

Sedang mereka merasa aman dari kejutan (yang dahsyat) pada hari itu.” (QS. An-Naml: 89)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih, dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu’.” (QS. Al-Anbiya’: 103)

Memang benar peristiwa pada hari itu sangatlah dahsyat, akan tetapi meskipun ada ketakukan dalam diri orang-orang yang bertakwa, Allah ﷻ membuat hati mereka tenteram dan tenang. Oleh karenanya dalam ayat yang lain Allah ﷻ menyebutkan kondisi mereka,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ، ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan gembira ria.” (QS. ‘Abasa: 38-39)

Allah ﷻ juga berfirman,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ، وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), ‘Mengapa kamu kafir setelah beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu’. Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali-‘Imran: 106-107)

Allah ﷻ benar-benar memuliakan orang-orang yang bertakwa pada hari kiamat kelak. Dan Allah ﷻ juga telah berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ، لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 62-64)

Allah ﷻ juga berfirman,

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا

Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” (QS. Al-Insan: 11)

Bahkan ketika orang-orang kafir berkata tentang hari kiamat,

يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ

Orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah hari yang sulit’.” (QS. Al-Qamar: 8)

Berarti mafhum mukhalafah dari perkataan orang kafir ini adalah orang-orang beriman pada hari itu tidak merasa kesusahan. Maka intinya, secara umum orang-orang bertakwa dimuliakan oleh Allah ﷻ.

Adapun perincian contoh dimuliakannya orang-orang bertakwa ketika hari kiamat kelak sangatlah banyak. Di antaranya,

  • Para mujahid yang mati syahid akan dibangkitkan dengan berlumuran darah yang wangi. Nabi ﷺ bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ إِلَّا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ، وَالرِّيحُ رِيحُ المِسْكِ

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang terluka di jalan Allah, dan Allahlah yang paling tahu siapa yang terluka di jalan-Nya, kecuali dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan berwarna dengan warna darah dan wanginya adalah semerbak minyak kasturi.”([46])

  • Orang yang sering berpuasa mulutnya harum. Di antaran tafsir para ulama tentang sabda Nabi ﷺ,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ المِسْكِ

Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik.”([47])

Bahwa yang dimaksud harum mulutnya adalah pada hari kiamat kelak.

  • Muazin. Nabi ﷺ bersabda,

الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.”([48])

Ini adalah bentuk pemuliaan Allah ﷻ terhadap muazin, karena dahulu di dunia mereka selalu meninggikan kalimat-kalimat Allah ﷻ, sehingga dengan begitu pada hari kiamat mereka sudah terlihat dari jauh bahwa mereka adalah muazin. Sekali lagi ini adalah bentuk pemuliaan Allah ﷻ kepada mereka, bukan bentuk penghinaan apalagi azab.

  • Orang yang menghilangkan kesulitan orang lain akan dihilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat.”([49])

Lihatlah, Nabi ﷺ tidak menyebutkan bahwa menghilangkan kesulitan seseorang mukmin di dunia balasannya adalah hilangnya kesulitan di dunia pula, akan tetapi Nabi ﷺ langsung menyebutkan bahwasanya menghilangkan kesulitan seorang mukmin maka akan dihilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Mengapa demikian? Tidak lain karena kesulitan di dunia tidak ada bandingannya dengan kesulitan di akhirat. Sesungguhnya kita semua lebih butuh dibebaskan dari kesulitan di akhirat daripada kesulitan di dunia. Bayangkanlah, siapa yang kuat berada di bawah matahari dengan jarak satu mil? Tentunya tidak ada di antara kita yang kuat. Oleh karenanya kita lebih butuh untuk dihilangkan kesulitan pada hari kiamat kelak, maka hendaknya kita menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia.

  • Orang yang meninggal di perbatasan negeri dalam rangka menjaga negara maka akan merasa aman pada hari kiamat. Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَجْرَى عَلَيْهِ أَجْرَ عَمَلِهِ الصَّالِحِ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُ، وَأَجْرَى عَلَيْهِ رِزْقَهُ، وَأَمِنَ مِنَ الْفَتَّانِ، وَبَعَثَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمِنًا مِنَ الْفَزَعِ

Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan ribath (berjaga) di jalan Allah, maka ia akan diberikan pahala sesuai dengan pahala amal saleh yang ia lakukan, diberikan kepadanya rezeki dan diamankan dari orang yang memfitnah dan Allah akan mengutusnya di hari kiamat dalam keadaan aman dari rasa takut.”([50])

Inilah beberapa contoh-contoh kondisi dimuliakannya orang-orang bertakwa pada hari kiamat.

kondisi manusia di padang mahsyar

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1])  Lihat  at-Tadzkiroh bi Ahwal al-Mauta wa Umuur al-Akhiroh, al-Qurthubi 2/515

([2])  Lihat  Mu’jam Maqoyiis al-Lughoh 2/66

([3])  HR. At-Tirmidzi No. 2183

([4])  HR. Muslim No. 2582

([5])  Tafsir Ibnu Katsir 8/311

([6])  Sebagaimana khilaf tersebut disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam tafsirnya (Zaadul Masiir 2/520)

Pendapat pertama : Bumi ini dimodifikasi, ditambah dan dikurangi sehingga diubah menjadi padang mahsyar. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas.

Pendapat kedua : Bumi ini diganti dengan bumi yang lain. Mereka yang berpendapat dengan pendapat ini juga berselisih menjadi beberapa pendapat :

Pertama :  Diganti dengan bumi yang baru yang putih seperti perak, tidak pernah ditumpahkan darah di atasnya dan tidak pernah dilakukan kemaksiatan di atasnya. Ini adalah pendapat Ibnu Masúd, Mujahid, dan Ámr bin Maimun

Kedua : Bumi ini dirubah menjadi api, ini adalah pendapat Ubay bin Ka’ab

Ketiga : Bumi dirubah dari perak, ini adalah pendapat Anas bin Malik

Keempat : Bumi dirubah menjadi roti yang dimakan oleh orang-orang beriman dari kaki mereka.

([7]) Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dan ini adalah pendapat banyak ulama (sebagaimana disebutkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya (9/383), dan inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Katsir (3/283) dan Asy-Syingqithi (Lihat Adhwaaul Bayaan 8/467)

([8]) Tafsir At-Thobari 24/232

([9])  HR al-Bukhari no 609 dari hadits Abu Saíd al-Khudri

([10])  HR Ibnu Khuzaimah no 389

([11])  HR Abu Daud no 515, an-Nasai no 645 dan Ibnu Khuzaimah no 390

([12])  Fathul Bari 2/88

([13]) Lihat penjelasan Asy-Syingqithi di Adhwaaul Bayaan 8/467

([14])  Ini adalah pendapat yang dipilih oleh al-Qurthubi (lihat At-Tadzkiroh bi Ahwaal al-Mautaa wa Umuur al-Akhiroh 2/503), lalu diikuti oleh banyak ulama yang lainnya.

Al-Qurthubi berdalil hadits Tsauban ketika seorang Yahudi bertanya kepada Nabi أَيْنَ يَكُونُ النَّاسُ يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ ”Dimanakah manusia ketika hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian juga langit?”. Maka Nabi menjawab هُمْ فِي الظُّلْمَةِ دُونَ الْجِسْرِ “Mereka di dalam kegelapan di atas jembatan/shiroth” (HR Muslim no 315)

Sisi pendalilan dari hadits ini : Jika bumi hanya digantikan sifatnya saja tanpa dihilangkan dan diganti bumi yang baru maka Yahudi ini tidak perlu bertanya, “Dimanakah manusia ketika itu?”. Pertanyaan ini menunjukan sang Yahudi ingin tahu ketika bumi dihilangkan dimanakah posisi manusia?” (lihat al-Kaukab al-Wahhaaj Syarh Shahih Muslim, al-Uromi al-Álawi al-Harowi Asy-Syafií 6/165).

Akan tetapi -wallahu a’lam- pendapat yang menyatakan bahwa yang dirubah adalah sifat buminya bukan digantikan dengan bumi yang lain adalah pendapat yang lebih kuat.

Adapun hadits Tsauban di atas jika kita mengambil dzohirnya maka juga tidak menjelaskan adanya bumi pengganti, karena manusia semua sedang berada di atas jisr (shiroth). Selain itu kondisi manusia di atas jisr/shiroth menunjukan mereka telah selesai dari padang mahsyar, karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di padang mahsyar seperti hisab dan mizan semuanya terjadi sebelum shiroth.

Selain itu pertanyaan yang ditanyakan oleh Yahudi ditanyakan pula oleh Aisyah radhiallahu ánha. Aisyah berkata :

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ} فَأَيْنَ يَكُونُ النَّاسُ يَوْمَئِذٍ؟ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: «عَلَى الصِّرَاطِ»

“Aku bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah “Hari dimana bumi diganti dengan bumi yang lain dan juga langit” (QS Ibrahim : 48) , dimanakah manusia ketika itu wahai Rasulullah?”. Maka Nabi menjawab, “Di atas shiroth” (HR Muslim no 2791).

Dalam riwayat yang lain Aisyah berkata :

سَأَلَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَوْلِهِ: {وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ} قَالَتْ: قُلْتُ: فَأَيْنَ النَّاسُ يَوْمَئِذٍ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tentang firman Allah “Dan bumi seluruhnya dalam genggaman Allah pada hari kiamat dan langit-langit dilipat dengan tangan kanan Allah” (QS Az-Zumar : 67), dimanakah manusia pada hari itu ya Rasulullah?”. Nabi berkata, “Di atas jembatan Neraka” (HR At-Tirmidzi no 3241 dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Perhatikan pada riwayat ini Aisyah bertanya tentang kondisi bumi yang dalam genggaman Allah sehingga manusia sedang tidak berada di bumi tersebut, lantas dimanakah mereka?, yaitu mereka sedang berada di atas shiroth. Ini menguatkan bahwa pertanyaan Aisyah dan Yahudi tersebut tentang kondisi bumi yang sedang dihancurkan atau diganti, yang menunjukan bahwa manusia pun tidak sedang berada di bumi yang baru.

([15])  Lihat Tafsir Ibn Katsir 3/283  dan 4/518. Ibnu Katsir berkata وَهِيَ هَذِهِ عَلَى غَيْرِ الصِّفَةِ الْمَأْلُوفَةِ الْمَعْرُوفَةِ “Bumi yang baru adalah bumi ini hanya saja sifat-sifatnya tidak seperti yang sekarang”

([16])  Maksud tanda tersebut adalah tidak adanya jalan, tanda jalan, rumah, gunung, lembah, dan bahkan tidak ada pula pohon yang menjadi tanda bagi sesuatu.

([17])  HR. Bukhari No. 6512 dan HR. Muslim No. 2790, dari Sahl bin Sa’id.

([18])  HR. Muslim No. 2278

([19])  HR. Bukhari No. 3408 dan HR. Muslim No. 2373, dari Abu Hurairah h

([20])  HR. Bukhari No. 3414

([21])  HR. Bukhari No. 3532

Yaitu Nabi adalah orang yang dikumpulkan pertama kali sebelum yang lainnya. Ini adalah tafsir hadits yang dipilih oleh Ibnu Hajar karena telah datang datang dalam riwayat yang lain يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي “Manusia dikumpulkan setelahku” (lihat Fathul Baari 6/557)

([22])  HR. Ahmad No. 16058

([23])  HR. Muslim No. 2859

([24])  HR. Muslim No. 2859

([25]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/247

([26]) Lihat : Tafsir At-Thobari 18/374

([27])  HR. Bukhari No. 4625

([28])  Lihat At-Tadzkirah bii Ahwalil Mauta wa Umuuril Akhirah hlm. 534.

([29]) Tafsir At-Thobari 13/687

([30])  Lihat At-Tadzkirah bii Ahwalil Mauta wa Umuuril Akhirah hlm. 535.

([31])  HR. Muslim No. 2842

([32])  HR. Al-Hakim no 8701

([33])  HR. Muslim No. 2806

([34]) زُرْقًا Zurqo adalah jamak dari أَزْرَقُ Azroq yang artinya adalah “Yang berwarna biru” (Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir 16/304)

([35]) Ini adalah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 16/161 dan al-Baghowi dalam tafsirnya 5/294

([36]) Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Thahir bin ‘Asyur (Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir 16/304)

([37]) Sebagimana pendapat ini dinukil oleh At-Thobari dalam tafsirnya 16/161 dan al-Baghowi dalam tafsirnya 5/294

([38])  HR. Bukhari No. 557 dalam Adabul Mufrad.

([39])  HR. Abu Daud No. 2133

([40])  HR. Muslim No. 1040

([41])  HR. At-Tirmidzi No. 681, HR An-Nasa’i No. 2600, dan Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini sahih.

Maksud “meminta kepada penguasa” yaitu ia meminta harta yang merupakan haknya yang ada di Baitul Maal. Dan tidak ada jasa penguasa kepadanya, hal ini karena penguasa kedudukannya seperti wakil kaum muslimin untuk mengurusi harta mereka yang ada di Baitul Mal. Maka ketika ia meminta harta dari Baitul Maal kepada penguasa maka seakan-akan ia meminta kepada wakilnya yang mengurusi hartanya di Baitul Maal (Lihat Subulus Salam, As-Shonáni 1/548).

([42])  HR Muslim no 1044

([43])  HR. Ibnu Majah No. 4130, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani.

([44]) HR. Ibnu Hibban No. 4910 dalam Shahihnya, dan dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 994

([45]) HR. Bukhari No. 3198

([46])  HR. Bukhari No. 2803

([47])  HR. Bukhari No. 1894

([48])  HR. Muslim No. 387

([49])  HR. Muslim No. 2699

([50])  HR. Ibnu Majah No. 2767, dan dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani