Tanda-tanda Hari Kiamat – Kiamat Kecil – Iman Kepada Hari akhir 8

TANDA-TANDA HARI KIAMAT

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Diantara poin-poin pembahasan الإِيْمَان بِالْيَوْمِ الأَخِيْر yaitu beriman dengan hari akhir adalah tentang beriman kepada tanda-tanda hari kiamat, yang merupakan muqoddimah hari kiamat. Tanda-tanda sering dikenal dengan أَشْرَاطُ السَّاعَة (tanda-tanda hari kiamat).

Sebagian ulama membagi kiamat menjadi dua, yaitu kiamat sughra (kecil) dan kiamat kubra (besar).

  • Kiamat sughra, alias kiamat kecil disebut juga kematian. Sebagaimana perkataan Imam Al-Qurthubi dan sebagian ulama mengatakan,

مَنْ مَاتَ فَقَدْ قَامَتْ قِيَامَتُهُ

“Barang siapa yang meninggal dunia, maka telah tegak hari kiamatnya.”([1])

Karena dia telah berpindah dari alam dunia menuju alam akhirat.

  • Kiamat kubra, alias kiamat besar merupakan hari berakhirnya kehidupan makhluk yang ada di alam semesta ini.

Di antara hikmah Allah ﷻ memberikan tanda-tanda hari kiamat adalah sebagai peringatan kepada hamba-hamba-Nya bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Karena waktu terjadinya hari kiamat tak ada satupun makhluk yang mengetahuinya. Alah ﷻ telah menjelaskannya di dalam Al-Quran, sebagaimana firman-Nya,

يَسْئَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْساها قُلْ إِنَّما عِلْمُها عِنْدَ رَبِّي لا يُجَلِّيها لِوَقْتِها إِلاَّ هُوَ

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 187)

Begitu juga di dalam ayat yang lain, Allah ﷻ berfirman,

يَسْئَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْساها. فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْراها. إِلى رَبِّكَ مُنْتَهاها

“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya? Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya).” (QS. An-Nazi’at: 42-44)

Allah ﷻ juga berfirman,

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكادُ أُخْفِيها لِتُجْزى كُلُّ نَفْسٍ بِما تَسْعى

“Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan.” (QS. Taha: 15)

Sebagian ahli tafsir mengatakan “Jika boleh Allah menyembunyikan bagi dirinya sendiri untuk tidak mengetahuinya, maka Allah akan menyembunyikannya.” Akan tetapi, Allah ﷻ pasti mengetahuinya. Karena, Allah ﷻ yang menciptakan hari kiamat. Saking rahasianya hampir-hampir Allah ﷻ menyembunyikannya dan tidak ada yang mengetahuinya. Maka dari itu, hanya Allah ﷻ semata yang mengetahuinya. Artinya untuk mengetahui hal kapan terjadinya hari kiamat, tidak ada yang benar-benar mengetahuinya kecuali Allah ﷻ. ([2])

Begitu pula Nabi ﷺ di dalam hadis-hadis beliau menyebutkan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Maka dari itu, ketika Nabi ﷺ ditanya oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam,

فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ

“(Wahai Muhammad) kabarkanlah kepadaku kapan hari kiamat?” Beliau bersabda: ”Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya.” Lalu Jibril bertanya lagi: “Kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya?” Maka, beliau bersabda: “ketika engkau melihat ada budak yang melahirkan tuannya dan engkau melihat para penggembala kambing yang tidak memakai alas kaki tiba-tiba mereka berlomba-lomba membangun bangunan-bangunan yang tinggi.” ([3])

Artinya Nabi ﷺ tidak tahu, malaikat Jibril ‘alaihissalam pun tidak tahu. Padahal, malaikat Jibril adalah malaikat yang paling mulia di antara malaikat, pun dia tidak mengetahui sama sekali kapan terjadinya hari kiamat. Nabi ﷺ hanya mengabarkan tentang tanda-tandanya saja. Makanya, dengan adanya tanda-tanda hari kiamat, kita menjadi yakin bahwasanya hari kiamat itu ada dan pasti terjadi. Hal ini diketahui dengan mulai munculnya tanda-tanda kecil tersebut, satu demi satu terlihat sebagaimana yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang ujungnya nanti diakhiri dengan munculnya tanda-tanda besar hari kiamat.

Tanda-tanda hari kiamat ditinjau dari jaraknya kepada waktu tibanya hari kiamat dibagi menjadi dua, yaitu: tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar. Adapun tanda-tanda kecil masih jauh dari terjadinya hari kiamat, kecuali sebagian kecil yang tampak disela-sela terjadinya tanda-tanda besar hari kiamat (seperti munculnya Imam Mahdi yang merupakan tanda kecil hari kiamat akan tetapi kemunculannya bersamaan dengan keluarnya Dajal dan turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam) atau muncul setelah tanda-tanda besar hari kiamat (seperti seorang habasyah yang mencungkil ka’bah untuk menghancurkannya). Namun, secara umum tanda-tanda kecil hari kiamat ini jaraknya jauh dari terjadinya hari kiamat itu sendiri.

Adapun tanda-tanda besar hari kiamat menunjukkan bahwa masa-masa itu sudah sangat dekat dengan terjadinya hari kiamat. Hanya saja para ulama mengatakan di antara tanda-tandanya adalah memiliki keanehan yang luar biasa dan tidak wajar. Seperti turunnya Dajjal, turunnya nabi Isa ‘alaihissalam atau matahari terbit dari barat. Ini merupakan suatu tanda-tanda aneh yang tidak wajar. Maka dari itulah, kejadian-kejadian ini tergolong tanda-tanda besar hari kiamat. ([4])

Sebagian ulama mengumpulkan tanda-tanda hari kiamat menjadi sebuah tulisan, seperti risalah “Asyratus-Sa’ah” karya Yusuf Al-Wabil, sebuah Tesis di Saudi Arabia. Beliau mengumpulkan sekitar 50-60 tanda-tanda kecil hari kiamat. Sejatinya, tanda-tanda hari kiamat sangat banyak, akan tetapi hadis-hadis yang ada kebanyakan adalah dha’if dan palsu. Apabila hadis-hadis yang menjelaskan tentang tanda-tanda hari kiamat dipilih hanya yang sahih saja, maka hanya terkumpul 50-60 tanda-tanda kecil hari kiamat.

Tanda-tanda Kecil Hari Kiamat

Tanda-tanda kecil hari kiamat dibagi menjadi tiga bagian:

Pertama : Tanda-tanda yang telah terjadi. Di antara tanda-tanda kecil hari kiamat yang telah terjadi adalah:

  • Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Kejadian ini telah terjadi, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ

“Aku diutus dengan hari kiamat seperti ini (sambil mengisyaratkan dengan dua jari beliau).” ([5])

  • Begitu juga disebutkan di dalam sebuah riwayat bahwa salah satu tanda kecil hari kiamat adalah wafatnya Nabi ﷺ. Nabi ﷺ bersabda,

اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ : مَوْتِي …

“Hitung enam tanda-tanda kiamat  : tibanya kematianku, …”([6])

  • Terbelahnya bulan, sebagaimana firman Allah ﷻ,

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَاِنْشَقَّ القَمَرُ

“Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.” (Al-Qamar: 1)

Ayat ini menjelaskan bahwa hari kiamat sudah dekat dengan ditandai terbelahnya bulan. Hal ini pun telah terjadi pada masa Nabi ﷺ.

  • Penggembala kambing yang berlomba-lomba membangun bangunan-bangunan yang tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya tentang tanda-tanda hari kiamat,

وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ.

“Dan engkau menyaksikan orang yang tidak memakai sandal, telanjang lagi miskin yang mengembala domba, berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”([7])

Fenomena ini pun sudah terjadi dan kemungkinan besar terjadi di daerah-daerah Arab. Misalnya jika kita berbicara tentang keadaan Arab Saudi atau Uni Emirat Arab pada 70 atau 80 tahun yang lalu, mereka bukanlah negara yang seperti sekarang ini. Banyak dari mereka dahulu merupakan arab badui, yang di antara mereka mungkin adalah penggembala kambing. Tiba-tiba pada sekarang ini, mereka memiliki hotel dan bangunan-bangunan yang tinggi. Begitu pula saat penulis pergi ke Dubai, salah seorang dari mereka mengatakan bahwa dahulu 70 tahun yang lalu daerah tersebut merupakan daerah yang kosong tak berisi. Namun, sekarang terdapat bangunan tertinggi di dunia. Di antaranya Burj Al-Khalifah. Sejatinya mereka dahulu adalah arab-arab badui yang kesehariannya adalah penggembala kambing ataupun unta. Namun, dengan tiba-tiba mereka mampu membangun menara-menara yang tinggi. Ini menjadi contoh bahwa tanda ini sudah terjadi.

  • Terjadinya peristiwa perang Shiffiin (صِفِّيْنَ), sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ، دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ

“Tidak akan tegak hari kiamat hingga ada dua kelompok besar yang saling berperang, maka antara keduanya terjadi kematian yang besar, seruan keduanya adalah sama” ([8])

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah perang Shiffin antara kelompok Ali bin Abi Tholib dan kelompok Muáwiyah bin Abi Sufyan yang terjadi pada bulan Dzulhijjah (tahun 36 H), dimana jumlah yang meninggal dalam pertempuran tersebut dari kedua belah pihak sekitar 70 ribu([9]). Kedua kelompok tersebut sama-sama menyeru kepada kebenaran yang diyakininya. Kelompok Muáwiyah menuntut agar para pembunuh Utsman bin Áffan segera diqishos, sementara kelompok Ali bin Abi Tholib memandang agara Muáwiyah (dan penduduk Syam) berbaíat kepada Ali terlebih dahulu sehingga kondisi stabil baru dilakukan penangkapan dan qishosh terhadap para pembunuh Utsman bin Áffan.

  • Munculnya Khawarij([10]). Sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ، حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ البَرِيَّةِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang muda, bodoh, mereka mengucapkan ucapan yang terbaik, mereka keluar dari Islam sebagaimana tembusnya (keluarnya) anak panah dari hewan buruan. Iman mereka tidak melewati kerongkongan mereka([11]). Dimana saja kalian bertemu dengan mereka maka bunuhlah mereka, sesungguhnya ada pahala besar bagi orang yang membunuh mereka pada hari kiamat”([12])

  • Penghalalan musik.
  • Penghalalan sutera bagi kaum lelaki
  • Penghalalan khamr
  • Penghalalan zina, bahkan pada zaman sekarang ini ada sebagian orang yang telah menghalalkan homoseksual. Semua ini telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ ,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ، يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ وَالحَرِيرَ، وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ

“Akan datang suatu kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan musik.” ([13])

Kedua : Tanda-tanda yang sedang terjadi. Fenomena ini pun juga banyak, di antaranya:

  • Banyaknya kebodohan (كَثْرَةُ الْجَهْل). Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ ,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ

“Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan”([14])

  • Dekatnya zaman/masa (تَقَارُبُ الزَّمَان). Rasulullah ﷺ bersabda,

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ

“Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.”([15])

  • Dekatnya pasar (تَقَارُبُ الأَسْوَاقِ). Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ، وَيَتَقَارَبَ اْلأَسْوَاقُ

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga muncul berbagai fitnah, banyaknya kebohongan, dan berdekatannya pasar.”([16])

Sebagaimana yang telah ditafsirkan oleh Syaikh bin Baz rahimahullah dengan banyaknya sarana transportasi dan telekomunikasi, sehingga zaman terasa sangat cepat dan pasar menjadi dekat([17]). Membuat sebagian orang pada waktu siang berada pada suatu negara dan pada waktu malam sudah berada di negara lain dengan menaiki pesawat terbang. Pada zaman dahulu hal ini tidak mungkin dilakukan namun mudah dilakukan pada zaman sekarang. Ketika seseorang ingin berbelanja sesuatu, maka cukup dengan menggunakan gadget dan memilih dengan mudah. Inilah di antara tanda-tanda kecil yang sedang berlangsung.

  • Munculnya Mutanabbi’un, yaitu orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Nabi ﷺ mengatakan,

سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Akan ada dari umatku tiga puluh orang pendusta, mereka semua mengaku sebagai nabi dan aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.” ([18])

Memang benar kenyataannya, setelah Nabi ﷺ meninggal dunia banyak orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Bahkan, ketika Nabi ﷺ masih hidup pun sudah ada yang mengaku sebagai nabi, seperti Musailamah Al-Kadzdzab. Tanda ini masih banyak dan juga masih berlangsung. Terakhir kali kita pernah mendengar ada Ahmad Musaddiq dan orang yang berasal dari Karawang yang mengaku sebagai nabi.

Salah seorang guru dari penulis yang bernama Syaikh Ghalib bin ‘Ali ‘Awaji rahimahullah memiliki sebuah buku yang berjudul ‘Al-Mutanabbiun’ artinya orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Buku tersebut menyebutkan tentang orang-orang yang mengaku sebagai nabi sejak zaman Nabi ﷺ hingga zaman sekarang.

Di samping itu, penulis juga pernah bertemu dengan orang yang mengaku sebagai nabi di kapal, saat itu penulis berangkat dari Papua menuju Jawa. Ada seseorang yang berceramah di tempat shalat mengatakan bahwa malaikat telah turun kepadanya dan saat itulah waktu baginya untuk menyampaikan wahyu. Inilah di antara fenomena yang masih berlangsung dari tanda-tanda kecil hari kiamat, yaitu munculnya nabi-nabi palsu.

  • Mati mendadak (الْمَوْتُ الْمُفَاجَأ). Sebagaimana disebutkan di dalam hadits,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ يُرَى الْهِلالُ قِبَلا، فَيُقَالُ : لِلَيْلَتَيْنِ، وَأَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدَ طُرُقًا، وَأَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفُجَاءَةِ

Dari Anas bin Mâlik, dia meriwayatkan dari Nabi beliau   bersabda, “Di antara dekatnya hari kiamat, hilal akan terlihat nyata sehingga dikatakan ‘ini tanggal dua’, masjid-masjid akan dijadikan jalan-jalan, dan munculnya (banyaknya) kematian mendadak([19])

  • Maraknya pembunuhan (كَثْرَةُ الْهَرَج). Terjadinya peperangan di banyak tempat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْهَرْجُ، قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الْقَتْلُ، الْقَتْلُ.

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga banyak al-harj,” mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah al-harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan”([20])

Dahulu jika ada pemberitaan tentang terjadinya suatu pembunuhan maka berita tersebut terdengar sangat mengerikan. Namun, sekarang banyak terdengar orang yang meninggal disebabkan peperangan, bom maupun rudal, seperti yang terjadi di Palestina. Maka, hal ini sekarang menjadi hal yang biasa.

  • Banyaknya gempa (كَثْرَةُ الزَّلَازِل). Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزَّلاَزِل

‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi.”([21])

Jika kita amati di zaman sekarang ini sering terjadi gempa dari satu tempat ke tempat yang lain, padahal dahulu tidaklah sebanyak ini. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah  juga menjelaskan,

قَدْ وَقَعَ فِي كَثِيْرٍ مِنَ الْبِلاَدِ الشَّمَالِيَةِ وَالشَّرْقِيَّةِ وَالْغَرْبِيَّةِ كَثِيْرٌ مِنَ الزَّلاَزِلِ، وَلَكِنَّ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ الْمُرَادَ بِكَثْرَتِهَا: شُمُوْلُهَا، وَدَوَامُهَا

“Sungguh gempa banyak terjadi pada negara-negara di utara, timur dan barat, namun yang nampak dari maksudnya lafadz ‘banyak’ adalah mencakup keseluruhan dan terjadi terus-menerus.”([22])

  • Mengikuti jalan-jalan orang-orang kafir terdahulu. Nabi ﷺ bersabda :

«لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ»، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: «وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ»

“Tidak akan tegak hari kiamat hingga umatku menempuh jalan-jalannya umat-umat sebelumya, sejengkal dengan sejengkal, sehasta dengan sehasta”. Maka dikatakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?”, Nabi berkata, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” ([23])

  • Tersebarnya zina. Nabi bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يُرْفَعَ العِلْمُ وَيَثْبُتَ الجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kokohnya kejahilan, diminumnya khomer, dan tersebarnya zina” ([24])

Lihatlah zaman sekarang -dengan adanya medsos, teknologi, internet, dan lain-lain- zina semakin tersebar, bahkan betapa banyak orang melakukan zina dan menshooting zina tersebut lalu disebarkan di dunia maya. Nabi bersabada :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَفْنَى هَذِهِ الْأُمَّةُ حَتَّى يَقُومَ الرَّجُلُ إِلَى الْمَرْأَةِ فَيَفْتَرِشُهَا فِي الطَّرِيقِ، فَيَكُونُ خِيَارُهُمْ يَوْمَئِذٍ مَنْ يَقُولُ: لَوْ وَارَيْتَهَا وَرَاءَ هَذَا الْحَائِطِ

“Dan demi Yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah sirna umat ini hingga ada seorang lelaki mendatangi seorang wanita lalu menyetubuhinya di jalan, maka orang yang terbaik diantara mereka pada hari itu berkata, “Seandainya engkau menggaulinya di balik tembok ini” ([25])

  • Tersebarnya riba. Nabi ﷺ bersabda :

بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ يَظْهَرُ الرِّبَا، وَالزِّنَا، وَالْخَمْرُ

“Sebelum hari kiamat tersebar riba, zina, dan khamr” ([26])

  • Munculnya الرُّوَيْبِضَةُ Ar-Ruwaibidhoh “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan umat”. Nabi ﷺ bersabda;

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu (yaitu hujan banyak akan tetapi tumbuhan sedikit), orang yang jujur didustakan, pengkhianat dipercayai, orang yang amanah dianggap berkhianat, dan Ar-Ruwaibidhoh berkomentar”. Ditanyakan, “Apa itu Ar-Ruwaibidhoh wahai Rasulullah?”. Nabi berkata, “Orang bodoh berbicara pada urusan umat”([27])

Apalagi di zaman sekarang dimana banyak orang yang ingin tampil di media, setiap orang bisa memiliki channal di Youtube, Facebook, Twitter, dan Instagram. Banyak orang yang suka berbicara tentang agama, akhirnya sebagian mereka menjadi panutan orang banyak, padahal pendidikan agama mereka tidak jelas, bahkan tidak bisa bahasa Arab, tidak pernah belajar ilmu-ilmu dasar agama (seperti ushul al-Fikih, Mushtholah al-Hadits, ushul at-Tafsir, Nahwu dan Shorof) dan benar-benar jahil, tapi begitu nekat tampil di panggung masyarakat. Mereka menyangka bahwa agama boleh saja seenaknya berbicara, mereka tidak sadar bahwa berbicara tentang agama berarti berbicara atas nama Allah. Jika dalam bidang sains tidak muncul fenomena seperti ini (orang bodoh sains tapi sok pintar) karena sadar akan kebodohannya dan takut dicela masyarakat, namun dalam bidang agama mereka pada nekat dan tidak takut pertanggung jawabannya pada hari kiamat. Apakah mereka tidak malu?!. Tentu mereka tidak malu karena masyarakatlah yang memberi panggung kepada mereka dan suka dengan mereka, masyarakat menemukan alternatif para dai yang fleksibel dan menghalalkan banyak perkara yang haram. Sementara para daí yang jelas pendidikannya dan kepiawaiannya dalam ilmu agama ditinggalkan oleh masyarakat hanya karena “kurang lucu”,

“kurang enak penyampaiannya”, “terlalu kaku”, dan alasan-alasan yang lain.

  • Munculnya wanita-wanita berpakaian tapi telanjang. Nabi ﷺ bersabda :

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua kelompok dari penghuni neraka yang aku belum melihat mereka, (pertama) kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi, dengannya mereka memukuli orang-orang, dan (kedua) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, menarik/mencondongkan (hati para lelaki kepada mereka) dan miring, condong (kepada para lelaki dengan hati mereka dan penampilan mereka), kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak masuk surga, bahkan mereka tidak akan mendapati wanginya surga padahal aroma surga sudah tercium dari jarak sekian dan sekian” ([28])

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda :

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي رِجَالٌ يَرْكَبُونَ عَلَى سُرُوجٍ، كَأَشْبَاهِ الرِّحَالِ، يَنْزِلُونَ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ، نِسَاؤُهُمْ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، عَلَى رُءُوسِهِمْ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْعِجَافِ، الْعَنُوهُنَّ، فَإِنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ

“Akan ada di akhir zaman sekelompok lelaki yang menunggangi (tunggangan) di atas pelana seperti pelana onta, mereka mampir di depan pintu-pintu masjid. Wanita-wanita mereka berpakaian tapi telanjang, di atas kepala mereka seperti punuk-punuk onta yang kurus. Laknatilah wanita-wanita tersebut karena sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat”([29])

Dalam sebagian riwayat :

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالشُّحُّ، وَيُؤْتَمَنُ الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ الأَمِيْنُ، وَتَظْهَرَ ثِيَابٌ تَلْبَسُهَا نِسَاءٌ يَلْبَسُهَا نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عاَرِيَاتُ

“Sesungguhnya diantara tanda-tanda hari kiamat adalah tersebarnya perbuatan-perbuatan keji, tamak, dipercayanya pengkhianat, dan dikhianai orang yang amanah, dan tersebar model-model baju yang dipakai oleh para wanita yang berpakaian tapi telanjang”([30])

Makna كَاسِيَاتٌ عاَرِيَاتُ “berpakaian tapi telanjang” yaitu pakaian yang tidak sesuai dengan aturan pakain syarí, seperti yang menutupi hanya sebagian aurat atau pakaiannya tipis sehingga terlihat warna kulitnya([31]). Dan kalau zaman sekarang termasuk yang namanya Jilboob yaitu tubuh tertupi dengan jilbab tapi benar-benar ketat sehingga terlihat seluruh lekukan badan.

Makna مُمِيلَاتٌ “mencondongkan” diantara maknanya adalah mengajarkan wanita-wanita yang lain untuk mengikuti mereka([32]), atau mencondongkan hati para lelaki kepada mereka([33]).

Makna مَائِلَاتٌ “miring/condong” adalah condong kepada para lelaki dengan hati mereka atau dengan penampilang mereka, atau maknanya melenggak lenggok (sombong) ketika berjalan, atau maknanya condong tersesat jauh dari menjaga harga diri, atau maknanya condoh kepada perbuatan fajir dan hawa nafsu([34]).

Makna رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ “kepala mereka seperti punuk unta yang miring” yaitu kepala mereka diberi ikatan atau sanggulan sehingga kelihatan besar dan miring sebagaiman punuk onta yang miring karena mengandung banyak lemak. Hal ini tentu untuk menarik perhatian para lelaki. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya mereka melirik-lirik para lelaki dimana mereka tidak menundukan pandangan mereka([35]).

Intinya bahwa jilbab yang syar’i adalah pakaian yang digunakan oleh seorang wanita sehingga dikenal oleh para lelaki bahwa ia adalah wanita yang terhormat dan menjaga diri sehingga tidak diganggu. Bukan malah sebaliknya memakai pakaian yang tidak syar’i sehingga menarik perhatian dan menggoda para lelaki untuk menggodanya atau menikmatan kecantikan tubuhnya.

  • Memberi salam hanya kepada orang yang dikenal.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu sampai kepada Nabi ﷺ (marfu’), bahwa Nabi ﷺ bersabda,

مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ

“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja.”([36])

Ketiga : Tanda-tanda kecil hari kiamat yang akan terjadi, di antaranya adalah:

  • Perbandingan kaum wanita dengan kaum laki-laki hingga lima puluh kali. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ bahwa sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah,

وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ، وَتَبْقَى النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ

“Punahnya kaum laki-laki dan tersisa kaum perempuan, hingga lima puluh wanita diayomi oleh seorang lelaki.” ([37])

Subhanallah, saking banyaknya kaum perempuan. Laki-laki akan dikejar oleh puluhan wanita. Hal ini mungkin saja terjadi di waktu yang akan datang. Pernah suatu saat penulis ditanya oleh seseorang bahwa dia pergi ke suatu daerah di luar negeri di salah satu komunitas kaum muslimin. Sedangkan, pemerintahnya banyak membunuh para lelaki di komunitas tersebut, sehingga banyak wanita yang menjadi janda. Akhirnya, membuat kaum laki-laki dari mereka menikahi empat orang perempuan. Dalam keadaan seperti itupun masih banyak tersisa kaum perempuan yang menjanda.

  • Jazirah Arab menjadi hijau. Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا.

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga tanah Arab kembali hijau penuh dengan tumbuhan dan sungai-sungai.”([38])

Artinya keadaan alam di daerah jazirah Arab menghijau, bisa dikatakan sebagaimana negeri Indonesia yang subur di banyak tempat. Pada beberapa waktu lalu, daerah jazirah arab sempat terjadi banyak hujan yang membuat daerah tersebut menghijau. Akan tetapi, masa itu hanya sebentar saja dan kemudian hilang. Masa itu belum dikatakan sebagai tanda-tanda kecil hari kiamat, hingga daerah tersebut benar-benar subur dan bukan temporari saja ketika hujan.

  • Munculnya Imam Mahdi. Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي يَمْلَأُ الارض قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Andaikan dunia tinggal sehari lagi, Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku (keturunanku) namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku (Muhammad bin Abdillah). Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan”([39])

Imam Mahdi akan muncul menjelang hari kiamat,  bergandengan dengan munculnya Dajjal dan nabi Isa ‘alaihissalam. Alasan kenapa para ulama memasukkannya ke dalam kategori tanda-tanda kecil hari kiamat adalah karena Imam Mahdi adalah sosok manusia biasa, bukan termasuk sesuatu yang keluar dari kebiasaan normal. Beliau adalah seorang khalifah yang saleh. Berbeda dengan Dajjal yang memiliki karakter di luar kebiasaan manusia normal atau nabi Isa ‘alaihissalam yang turun dari langit atau Ya’juj Ma’juj, semuanya merupakan kejadian yang spektakuler dan keluar dari kondisi normal manusia (خَوَارِقُ الْعَادَة). ([40])

  • Kaum Muslimin memerangi Yahudi.

Di akhir zaman kaum muslimin akan memerangi Yahudi sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا اليَهُودَ، حَتَّى يَقُولَ الحَجَرُ وَرَاءَهُ اليَهُودِيُّ: يَا مُسْلِمُ، هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ

“Tidaklah tegak hari kiamat hingga kalian memerangi Yahudi, sampai-sampai batu yang seorang Yahudi berlindung di baliknya berkata, “Wahai Muslim, di sini ada Yahudi di belakangku, bunuhlah ia” ([41])

Hadits ini menunjukan bahwa musuh utama kaum muslimin menjelang hari kiamat adalah Yahudi. Terlebih lagi telah datang hadits-hadits yang shahih bahwa kaum Yahudi akan menjadi para pengikut Dajjaal (sebagaimana akan datang penjelasannya)

  • Dicungkilnya dan dibongkarnya ka’bah oleh seorang lelaki dari Habasyah.

Rasūlullāh ﷺ  bersabda :

لَيُحَجَّنَّ البَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ

“Sungguh bahwasanya Ka’bah ini, orang akan datang berhaji kepadanya, dan orang-orang akan berumrah kepada Ka’bah, meskipun setelah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.” ([42])

Jadi setelah muncul kekacauan dan huru hara  besar ka’bah masih dikunjungi untuk haji. Kita tahu bahwa huru hara yang sangat besar pada hari kiamat kelak adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj yang akan melakukan kerusakan di atas muka bumi, membunuh makhluk-makhluk yang ada di atas muka bumi, ternyata setelah mereka keluarpun haji masih terlaksana.

Kapan haji berhenti?. Kapan ka’bah tidak dikunjungi lagi?. Jawabannya adalah tatkala ruh-ruh kaum mu’minin di akhir zaman telah dicabut oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tidak tersisa di atas muka bumi kecuali orang-orang yang terburuk yang kemudian akan merasakan tibanya hari kiamat dan mereka dalam kondisi hidup. Saat itulah maka hajipun berhenti. Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُحَجَّ البَيْتُ

“Tidak akan tegak hari kiamat kecuali sudah tidak ada orang lagi yang berhaji (tidak ada lagi yang datang menuju Ka’bah Allāh Subhānahu wa Ta’āla).” ([43])

Pada saat itulah ka’bah sudah tidak diagungkan lagi, maka Allah membiarkan ka’bah dihancurkan oleh seorang dari Habasyah. Nabi ﷺ  bersabda :

يُخَرِّبُ الكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنَ الحَبَشَةِ

“Ka’bah akan dihacurkan oleh seseorang dari Habasyah yang kedua betisnya kurus kerempeng” ([44])

Dalam hadits yang lain Nabi bersabda :

كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ أَسْوَدَ أَفْحَجَ، يَنْقُضُهَا حَجَرًا حَجَرًا

“Seakan-akan aku melihatnya, berkulit hidam dan kedua pahanya saling menjauh. Ia membongkar ka’bah dengan mencongkel batu ka’bah satu demi satu([45]).

Lihatlah Allah pernah menghancurkan tentara bergajah yang dipimpin oleh Abrahah yang berasal dari Habasyah, padahal Abrahah dan bala tentarnya begitu kuat dan dahsyat. Sementara di akhir zaman ada seorang dari Habasyah yang kurus kerempeng menghancurkan ka’bah namun Allah tidak membela ka’bah sama sekali karena tidak ada seorangpun yang mengagungkan ka’bah ketika itu.

  • Tidak ada lagi yang mengucapkan اللهُ اللهُ, Nabi ﷺ bersabda ;

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ: اللهُ، اللهُ

“Tidak tegak hari kiamat hingga tidak dikatakan lagi di bumi : Allah, Allah” ([46])

Dari sini bisa diambil kesimpulan dan beberapa faedah bahwa:

Pertama, Ternyata tidak semua tanda hari kiamat itu tercela. Seperti diutusnya Nabi ﷺ bukanlah sesuatu yang tercela, bahkan itu menjadi suatu kenikmatan. Begitu juga dengan terbelahnya bulan yang merupakan mukjizat yang menunjukkan kebenaran Rasulullah ﷺ. Ini harus diperhatikan, karena sebagian orang menyangka bahwa semua tanda hari kiamat tercela. Maka dari itu, ketika para ulama membahas tentang sabda Nabi ﷺ,

وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ

“ketika engkau melihat para penggembala kambing yang tidak memakai alas kaki tiba-tiba mereka berlomba-lomba membangun bangunan-bangunan yang tinggi.” ([47])

Apakah mereka yang berlomba-lomba dalam membangun bangunan yang tinggi merupakan perbuatan tercela? Secara hukum asal ketika mereka membangun bangunan yang tinggi tidaklah tercela dan tidak ada masalah. Karena dengan membangun hotel atau bangunan yang tinggi dan megah dapat memberikan manfaat, khususnya di Makkah ataupun Madinah yang bermanfaat bagi jamaah haji dan umrah. Hanya saja menurut para ulama, mungkin di antara celaan dari hal itu adalah karena mereka berlomba-lomba dalam membuat bangunan yang tinggi yang dimungkinkan adanya ambisi saling berbangga-banggaan. Inilah yang membuat perbuatan tersebut menjadi tercela.

Kedua, Dengan adanya pembagian terjadinya tanda-tanda kecil hari kiamat ini, para ulama memastikan sebagian tanda jika memang tanda tersebut sesuai. Hal ini diperbolehkan dengan syarat tanda tersebut tepat dan sesuai dengan apa yang telah disebutkan dalam dalil. Seperti Asma’ binti Abu Bakr radhiallahu ‘anhuma ketika didatangi Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Asma’ berkata kepadanya,

أَمَا إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا، أَنَّ فِي ثَقِيفٍ كَذَّابًا وَمُبِيرًا فَأَمَّا الْكَذَّابُ فَرَأَيْنَاهُ، وَأَمَّا الْمُبِيرُ فَلَا إِخَالُكَ إِلَّا إِيَّاهُ، قَالَ: فَقَامَ عَنْهَا وَلَمْ يُرَاجِعْهَا

“Sesungguhnya Nabi telah menyampaikan kepada kami bahwa di Tsaqif ada seorang pendusta dan seorang yang kejam. Kalau seorang yang pendusta kami sudah tahu([48]). Adapun seorang lagi yang kejam, Aku pikir engkau lah orangnya”.

Lalu (Al-Hajjaj) berdiri (pergi) dan tidak kembali lagi kepadanya.” ([49])

Hadis ini menjelaskan bahwa Asma’ menerapkan hadis Nabi ﷺ kepada kenyataan yang ada. Bahwa yang dimaksud oleh Nabi ﷺ sebagai seorang yang kejam dari Tsaqif adalah Al-Hajjaj. Ini boleh, karena memang sesuai dengan dalil dan hadis dari Nabi ﷺ.

Sebagaimana Syaikh bin Baz rahimahullah mengatakan tentang dekatnya pasar dan dekatnya zaman, yang dimaksud adalah teknologi, sarana transportasi dan informasi yang ada pada zaman sekarang, yang serba modern dan mudah. Semua itu membuat zaman ataupun pasar terasa semakin dekat, yang mana pada zaman dahulu tidak secepat dan sedekat itu. Itulah yang dimaksud oleh Nabi ﷺ menurut Syaikh bin Baz rahimahullah.([50])

Yang menjadi masalah adalah jika kita cenderung memaksakan diri tanpa ada dalil yang menjelaskannya. Contohnya adalah seperti yang disebutkan mengenai ciri-ciri munculnya Imam Mahdi. Di dalam suatu hadis yang diperselisihkan keshahihahnnya, sebagian ulama mengatakan bahwa Imam Mahdi muncul tatkala ada seorang khalifah yang meninggal. Kemudian tiga putera khalifah tersebut memperebutkan harta simpanan di Ka’bah. Tatkala itulah tiba-tiba Imam Mahdi muncul dan mengalahkan mereka semua.

Hadits tersebut adalah sabda Nabi:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ، كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيفَةٍ، ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ، فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ada tiga orang yang akan saling membunuh di dekat harta simpanan kalian. Mereka semua putra khalifah. Kemudian simpanan itu tidak dikuasi salah satu dari mereka. Hingga muncul bendera-bendera hitam dari arah timur, lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh satu kaum pun. Jika kalian melihatnya, maka baiatlah kepadanya! Walaupun merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Al-Mahdi.” ([51])

Dari sinilah muncul dai-dai yang saling menghubungkan antara kejadian-kejadian yang terjadi di zaman sekarang dengan hadits tersebut. Sebagian dari tersebut ada yang mengatakan bahwa raja yang meninggal yang dimaksud adalah raja Abdullah. Saat beliau meninggal, anak-anaknya bertengkar, maka muncullah Imam Mahdi. Jika, Imam Mahdi muncul berarti sebentar lagi Dajjal akan muncul. Namun, ternyata ketika raja Abdullah meninggal dunia, tidak terjadi keributan ataupun pertengkaran di antara anak-anaknya memperebutkan emas di Ka’bah. Ramalan mereka salah besar.

Sekarang pun mereka meramal lagi bahwa yang dimaksud khalifah itu adalah raja Salman. Suatu saat nanti ketika raja Salman meninggal, tiga anak-anaknya akan bertengkar -padahal tidak diketahui siapa saja anak-anak raja Salman-. Tatkala mereka bertengkar, muncullah Imam Mahdi. Ini merupakan perkara yang cenderung memaksakan pendapat. Dari mana mereka mendapat dalil? Akhirnya membuat mereka mengadakan tafsiran yang dipaksa-paksakan, sehingga mengantarkan seseorang benci kepada suatu negara ataupun kelompok dan membenarkan sesuatu yang tidak jelas.

Contohnya lagi dahulu ketika awal munculnya kelompok ISIS, para daí tersebut mengatakan bahwa mereka itulah pengikut Imam Mahdi. Alasannya adalah karena mereka membawa ciri-ciri yang dibawa oleh Imam Mahdi, yaitu membawa bendera-bendera atau panji-panji hitam. Begitu juga dengan ISIS, bendera yang dibawanya berwarna hitam. Apakah karena sekedar warna benderanya sama, kemudian disebut sebagai pasukan Imam Mahdi? Dan kenyataannya pimpinan mereka, Abu Bakar Al-Baghdadi, sudah tewas. Padahal, ketika pertama kali muncul mereka mengkafir-kafirkan, lalu membunuh orang banyak. Akibatnya banyak orang yang terfitnah gara-gara perkara seperti itu. Akhirnya, semua orang seakan-akan harus membenarkan.

Di samping itu, ketika Imam Mahdi memerintahkan untuk membaiat, maka kaum muslimin harus membaiatnya.

Dengan metode memaksakan seperti ini mengakibatkan banyak orang membenarkan ISIS. Di samping itu, mereka juga akan menyalahkan orang-orang yang menyalahkan ISIS. Sekarang mereka berkata lagi bahwa yang dimaksud dengan pasukan Imam Mahdi adalah pasukan Taliban. Ini sangat membahayakan, karena dapat mengakibatkan orang-orang salah dalam bersikap. Tatkala mereka menafsirkan bahwa pasukan Imam Mahdi adalah ISIS, maka orang-orang akan berpikir bahwa mereka harus ikut membela. Jika hal itu terus diikuti, maka mereka akan terjerumus kepada takfiri (mengkafirkan orang lain).

Bisa jadi, hal itu nantinya juga dikaitkan dengan Arab Saudi. Sebagaimana diketahui bahwa Arab Saudi adalah negara yang tidak sempurna, negara yang memiliki kekurangan dan kelebihan, memiliki masa kejayaan dan kegagalan. Lalu, mereka mengambil kesimpulan bahwa Arab Saudi merupkan salah satu negara yang memiliki lambang kepolisian yang menggambarkan mata satu, berarti mereka adalah Dajjal. Subhanallah, Arab Saudi dianggapnya Dajjal. Atau nanti ada istana yang dibuat oleh raja Fahd di Madinah, kemudian mereka mengatakan kalau istana itu untuk menyambut Dajjal. Semua ini bersumber dari mereka yang asal berbicara. Pasalnya, jika seseorang mengikuti Dajjal, maka sejatinya dia telah kafir. Bayangkan, ada seseorang yang membuat istana, kemudian ada orang lain yang  menganggapnya sedang menyambut Dajjal. Artinya secara tidak sadar dia telah mengkafirkan orang tersebut. Barangkali jika pada suatu kesempatan dia menemukan suatu lambang yang menyerupai mata satu, lalu dengan spontan dia akan menganggapnya sebagai iluminati pasukan Dajjal. Dan itu benar-benar mereka ucapkan dan diumbar.

Lalu, ada lagi salah seorang dari daí-daí tersebut yang mengatakan bahwa bulan sabit yang berada di atas hotel Zamzam adalah dua tanduk setan. Subhanallah, berarti selama ini orang-orang yang berhaji dan umrah tidur di hotel tanduk setan. Hal yang seperti ini membuat kebencian yang diakibatkan dari suatu kecerobohan. Jika seperti ini, maka hal itu tidaklah diperbolehkan. Namun, yang sangat disayangkan hal itu banyak terjadi di kalangan orang-orang yang asal mencocok-cocokkan satu tanda dengan tanda yang lain yang berujung kepada kedustaan.

Maka dari itu, hendaknya kita tidak terlalu dekat dan mendengar dari orang-orang yang bersifat demikian. Terkadang penulis berpikir bagaimana bisa mereka berkata seperti itu? Apakah mereka tidak takut kepada Allah ﷻ  dengan meramal ini dan itu? Bahkan, mereka berani meramal bahwa tahun 2020 akan terjadi dukhan. Dukun saja tidak berani meramal hingga sedemikian rupa. Ataukah mereka berhalusinasi? Terkadang penulis merasa kasihan kepada mereka. Karena masalahnya bukan di dunia, akan tetapi di akhirat. Ternyata tahun 2020 telah terlewati dan tidak ada dukhon yang mereka ramalkan.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Tafsir Al-Qurthubi 19/188

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/277

([3]) HR. Muslim no. 8

([4]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal.77

([5]) HR. Bukhari no. 6504

([6]) HR. Bukhari no. 3176

([7]) HR.  Bukhari no. 8

([8]) HR.  Bukhari no 3069

Sebagaimana diketahui bahwasanya Utsman bin Áffan terbunuh secara dzolim pada tahun 35 H. Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa Utsman akan terbunuh. Diantaranya sabda beliau tentang Utsman :

ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ، مَعَهَا بَلاَءٌ يُصِيبُهُ

“Izinkanlah ia untuk masuk menemuiku, dan berilah kabar gembira kepadanya bahwa ia akan masuk surga hanya saja akan ada ujian/musibah yang menimpanya” (HR Al-Bukhari no 7097)

Ibnu Umar berkata :

ذَكَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِتْنَةً، فَمَرَّ رَجُلٌ فَقَالَ: ” يُقْتَلُ فِيهَا هَذَا الْمُقَنَّعُ يَوْمَئِذٍ مَظْلُومًا “، قَالَ: فَنَظَرْتُ، فَإِذَا هُوَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ

“Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang fitnah, lalu lewatlah seseorang, maka Nabi berkata, “Orang yang menutup wajahnya ini akan terbunuh dizholimi pada fitnah tersebut”. Akupun melihat orang tersebut ternyata Utsman bin ‘Affan” (HR Ahmad no 5953 dengan sanad yang shahih)

Nabi juga pernah berkata kepada Utsman :

يَا عُثْمَانُ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عَسَى أَنْ يُلْبِسَكَ قَمِيصًا، فَإِنْ أَرَادَكَ الْمُنَافِقُونَ عَلَى خَلْعِهِ، فَلَا تَخْلَعْهُ حَتَّى تَلْقَانِي

“Wahai Utsman, sesungguhnya Allah ázza wa jalla akan memakaikan jubah kepadamu, maka jika orang-orang munafiq ingin agar engkau menanggalkannya maka janganlah kau tangaalkan hingga engkau bertemu denganku” (HR Ahmad no 24566 dengan sanad yang shahih)

Yaitu Utsman akan memakai baju kekhilafahan, yaitu ia akan menjadi Amirul mukminin, dan akan datang orang-orang munafik memaksanya untuk melepaskan jabatannya sebagai khalifah. Karena wasiat Nabi inilah ketika para provokator memberontak meminta Utsman untuk melepaskan jabatannya maka Utsman tidak mau hingga ia dibunuh oleh mereka secara dzolim. Ketika Utsman wafat maka kekhilafahan berpindah kepada Ali bin Abi Tholib yang pusat pemerintahan di Madinah.

Setelah terbunuhnya Utsman maka para wali Utsman (yang dikepalai oleh Muáwiyah bin Abi Sufyan) menuntut agar para pembunuh Utsman diqishosh. Hal ini berdasarkan firman Allah :

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya (walinya), tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan (QS Al-Isro’ : 33)

Akan tetapi Ali bin Abi Tholib memiliki pandangan lain, menurut beliau karena pembunuh Utsman sangatlah banyak hingga ribuan orang maka untuk melakukan proses penangkapan dan qishosh mau tidak mau kondisi negara harus stabil terlebih dahulu. Akhirnya Ali meminta Muáwiyah membaiát Ali terlebih dahulu. Ketika itu Muáwiyah adalah gubernur Syam. Namun Muáwiyah tidak mau membaiát Ali hingga Ali mengqishosh para pembunuh Utsman terlebih dahulu. Maka hal ini menjadikan terjadinya peperangan di antara dua kelompok tersebut. Keduanya berijtihad ingin mencari kebenaran dan menyerukan kepada kebenaran, akan tetapi kebenaran lebih condong kepada kelompok Ali bin Abi Tholib.

([9]) HR.  Bukhari no 3069

([10]) Munculnya Khawarij merupakan dampak dari perang Shiffin. Ketika perang Shiffin semakin berkobar dan korban semakin banyak berjatuhan hingga puluhan ribu, akhirnya sebagian mereka mengangkan Mushaf dan meminta agar perang dihentikan, lalu akhirnya perang pun terhenti. Lalu mereka sepakat untuk mengadakan perundingan di kesempatan yang lain, dimana kelompok Ali bin Abi Tholib diwakili oleh Abu Musa al-Asy’ari dan kelompok Mu’awiyah diwakili oleh ‘Amr bin al-‘Ash, yang keduanya disebut dengan الْحَكَمَانِ (dua hakim). Rupanya ketika itu munculah kaum Khawarij yang menganggap menyerahkan urusan darah kepada kedua hakim tersebut merupakan bentuk berhukum kepada selain Allah. Akhirnya merekapun mengkafirkan semua yang setuju dengan keputusan dua hakim tersebut, termasuk mereka mengkafirkan Ali dan Muáwiyah. Akhirnya mereka diperangi oleh Muáwiyah. Nabi bersada tentang Khawarij :

يَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ

“Khawarij muncul ketika terjadi perpecahan diantara manusia” (HR Al-Bukhari no 3610)

Yaitu Khawarij muncul ketika terjadi perselisihan antara kelompok Ali dan kelompok Muáwiyah. Akhirnya Ali biin Abi Tholib memerangi mereka hingga sisa sedikit yang selamat dari mereka dan kabur. Nabi bersabda :

تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عِنْدَ فُرْقَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، يَقْتُلُهَا أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالْحَقِّ

“Keluar sekelompok orang (dari Islam) ketika terjadi perpecahan diantara kaum muslimin, mereka diperangi oleh kaum muslimin yang lebih dekat kepada kebaikan” (HR Muslim no 1064 dari hadits Abu Saíd al-Khudri).

([11]) Yaitu hanya di lisan tidak masuk ke hati

([12]) HR. Bukhari no. 3611

([13]) HR. Bukhari no. 5590

([14]) HR.  Bukhari no. 80 dan Muslim no. 2671

([15]) HR.  Bukhari no. 157

([16]) HR.  Bukhari no. 1036

([17]) Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Al-Hajar, tahqiq: Syaikh Ibnu Baz (5/522)

([18]) HR. Tirmidzi no. 2219 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Sahih At-Tirmidzi no. 2219.

([19]) HR.  At-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 9376 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Sahih al-jami’ no. 5899.

([20]) HR. Muslim no. 157

([21]) HR.  Bukhari no. 989 dan no. 6704

([22]) Fath al-Bari (31/93-94)

([23]) HR al-Bukhari no 7319

([24]) HR al-Bukhari no  80

([25]) Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan para perawinya adalah perawi As-Shahih” (Majma’ Az-Zawaid  7/331 no 12476)

([26]) HR At-Thabrani di al-Mu’jam al-Awsath no 7691 dan dinilai shahih Al-Haitsami (Majma’ Az-Zawaid no  4/118 no 6582) dan Al-Abani (lihat As-Shahihah no 3415)

([27]) HR Ibnu Majah no 4042 dan Ahmad no 7912, dinilai shahih oleh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 1887) dan dinilai hasan oleh para pentahqiq Musnad al-Imam Ahmad.

([28]) HR Muslim no 2128 dari hadits Abu Hurairah.

([29]) HR Ahmad no 7083 dari hadits Abdullah bin Ámr bin al-Ásh, dan dinilai shahih oleh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 2683)

([30]) HR  Abu Ya’la al-Maushili dan dinilai shahih oleh Al-Haitsami (lihat Majma’ az-Zawaid 7/327 no 12449)

([31]) Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 14/110

([32]) Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 14/110

([33]) Lihat Mirqoot al-Mafatiih Syarh Misykaat al-Mashobiih 6/2302

([34]) Lihat Mirqoot al-Mafatiih Syarh Misykaat al-Mashobiih 6/2302

([35])Mulla Ali al-Qori berkata, وَهَذَا مِنْ صِفَاتِ نِسَاءِ مِصْرَ “Ini termasuk sifat-sifat wanita Mesir” (Lihat Mirqoot al-Mafatiih Syarh Misykaat al-Mashobiih 6/2302). Sementara Mulla Ali al-Qori wafat pada tahun 1014 H sekitar 430 tahun yang lalu. Bagaimana lagi jika beliau melihat model para wanita Mesir sekarang (tahun 1443 H atau 2021 M)??.

([36]) Lihat Fath al-Bari, (11:25)

([37]) HR. Muslim no. 2671

([38]) HR.  Muslim no. 157

([39]) HR.  Abu Dawud, No 9435, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani, Shohih al Jami’ as Shoghir, No 5304

([40]) Lihat: Asyratus-Sa’ah karya Syaikh Yusuf Al-Wabil hal. 243-247

([41]) HR.  Al-Bukhari no 2926 dan Muslim no 2922 dari sahabat Abu Hurairah. Dzohir hadits menunjukan bahwa batu tersbeut benar-benar berbicara sebagaimana manusia. Allah maha mampu untuk menjadikan itu semua, sebagaimana di akhirat kulit, kaki, dan tangan yang akan berbicara.

([42]) HR Al-Bukhari No. 1593

([43]) HR Al-Bukhari No. 1593

([44]) HR Al-Bukhari no 1591 dan Muslim no 2909 dari hadits Abu Hurairah

([45]) HR Ahmad no 2010 dari hadits Ibnu Umar.

([46]) HR. Muslim no. 148

([47]) HR. Muslim no. 8

([48]) Maksudnya adalah Al-Mkuhtar bin Abi ‘Ubaid Ats-Tsaqafi, seorang pendusta dari Tsaqif yang mengaku sebagai nabi. (Lihat: Syarh An-Nawawi 16/100)

([49]) HR. Muslim no. 2545

([50]) Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Al-Hajar, tahqiq: Syaikh Ibnu Baz (5/522)

([51]) HR. Ibnu Majah no. 4084, al-Hakim no 4/510, al-Bazaar 2/120, dan Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah 6/515. Para ulama terlah berselihih tentang validitasi sanad hadits ini, sebagian ulama memandang bahwa hadits ini dhoíf diantaranya Adz-Dzahabi (lihat Mizaan al-I’tidal 3/128), Muhammad Rasyid Ridho (lihat Tafsir al-Manar 9/419-421), Al-Aranauth, dan Al-Albani (lihat Adh-Dhoífah no 85).

Sebagian ulama memandang bahwa hadits ini bisa dijadikan hujjah, diantaranya al-Hakim, al-Qurthubi (lihat At-Tadzkiroh hal 1201), al-Bushiri (lihat Mishbah az-Zujajah 3/263), dan Syaikh Abdul Aziz at-Thuraifi (lihat https://www.youtube.com/watch?v=OPfrgjhp0sM&list=LLnWMd9B_SUX9Szp4RnlTKCQ&index=1362)