Larangan Mencaci Angin (BAB-57)

 النَّهْيُ عَنْ سَبِّ الرِّيْحِ

Larangan Mencaci Angin

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Matan

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبُّوْا الرِّيْحَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُوْنَ فَقُوْلُوْا

“Janganlah kamu mencaci maki angin. Apabila kamu melihat suatu hal yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَخَيْرِ مَا فِيْهَا، وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia.” (HR. Tirmidzi, dan hadits ini ia nyatakan shahih).

Syarah

Pembahasan tentang mencela angin merupakan pembahasan yang wajar sebab angin merupakan makhluk yang diperintahkan dan diatur oleh Allah ﷻ. Tidak seperti manusia yang memiliki kehendak, angin berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki dan diperintahkan oleh Allah ﷻ. Berdasarkan ini, siapa saja yang mencela angin maka seakan-akan secara tidak langsung ia mencela Allah ﷻ, sebab yang meniupkan dan menghembuskan angin tersebut adalah Allah ﷻ semata. Bermaksud atau tidak bermaksud untuk mencela Allah ﷻ, maka perbuatan tersebut tidak dibenarkan oleh syari’at islam, karena perbuatan tersebut mencerminkan tidak beradabnya seseorang kepada Allah ﷻ sehingga mengurangi kadar tauhidnya. Adapun jika mencela angin dengan bermaksud untuk mencela Allah ﷻ, maka tentu ini merupakan kekafiran.

Hukum mencela angin sama halnya seperti hukum mencela Ad-Dahr (masa). Masa seharusnya tidak perlu dicela karena masa merupakan tempat berlakunya berbagai kegiatan, yang perlu dicela adalah kegiatan itu sendiri. Jika seseorang mencela masa, berarti ia mencela pengatur masa tersebut yaitu Allah ﷻ. Sama halnya juga dengan hukum mencela cuaca, secara tidak langsung ia telah mencela Allah ﷻ.  Berbeda jika ingin mengabarkan, seperti seseorang ingin mengabarkan bahwasanya telah terjadi angin yang kencang dan merusak banyak rumah misalnya, maka hal tersebut tidak mengapa. Adapun jika terdapat kesan mencela, maka hal tersebut tidak boleh.

Angin pada asalnya memiliki banyak fungsi, terkadang ia berfungsi untuk membinasakan suatu kaum dan terkadang ia berfungsi untuk memberikan rahmat. Hal tersebut Allah ﷻ banyak sebutkan di dalam Al-Qur’an, diantaranya adalah:

  1. Angin berfungsi sebagai rahmat bagi manusia.

Allah ﷻ mengabarkan bahwa angin berfungsi untuk mengawinkan serbuk sari dan macam-macamnya. Allah ﷻ berfirman:

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan”.([1])

Allah ﷻ juga mengabarkan bahwa angin berfungsi sebagai pembawa kabar gembira yaitu turunnya hujan. Allah ﷻ berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ

“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmatNya (hujan)”.([2])

Sebagaimana yang telah kita saksikan bahwasanya angin mengatur dan merangkai awan-awan. Setelah itu awan-awan tersebut dibawa untuk dipecah dan disebar oleh angin ke berbagai tempat-tempat yang Allah ﷻ kehendaki.

Inilah di antara contoh-contoh bahwasanya angin merupakan rahmat bagi manusia.

  1. Allah ﷻ kuasakan angin kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Allah ﷻ berfirman:

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ

“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya”.([3])

  1. Allah ﷻ menjadikan angin sebagai tentara Allah ﷻ untuk membinasakan suatu kaum.

Allah ﷻ mengabarkan bahwa kaum Quraisy Allah ﷻ hancurkan mereka dengan angin. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.”([4])

Ayat ini mengisahkan tentang perang khandaq. Ketika itu datang tentara kaum Quraisy dengan berjumlah sepuluh ribu tentara mengepung kota Madinah. Maka Allah ﷻ mengirim angin untuk memporak-porandakan mereka. Allah ﷻ jadikan angin tersebut sebagai tentara-tentara Allah ﷻ untuk membinasakan kaum Quraisy.

Pada ayat yang lain Allah ﷻ mengabarkan bahwa angin juga menghancurkan kaum Aad. Allah ﷻ berfirman:

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ

“Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.”([5])

Nabi Muhammad ﷺ juga pernah bersabda:

وَأُهْلِكَتْ عَادٌ بِالدَّبُورِ

“Kaum dihancurkan dengan angin yang berhembus dari barat”. ([6])

Angin adalah udara, hanya saja kita tidak dapat melihatnya. Kita dapat merasakan angin jika ia berhembus dan bergerak. Merupakan sebuah nikmat, Allah ﷻ berikan udara kepada kita. Jika saja udara tidak ada, maka kita tidak dapat bernapas, burung-burung tidak bisa terbang, awan tidak bisa menyebar untuk menurunkan hujan, kita tidak dapat mendengar suara sebab udara adalah media sebagai pengantar gelombang suara, dan banyak faedah-faedah lain dari udara.

Jika kita memperhatikan penelitian orang-orang yang berkecimpung dalam masalah planet-planet, maka dikatakan bahwa di planet lain juga terdapat atmosfer, akan tetapi udara yang terdapat disana kebanyakannya bukanlah oksigen, bahkan disebutkan bahwasanya udara yang terdapat di planet mars adalah karbon dioksida yang merupakan racun bagi manusia. Berbeda halnya dengan di dunia, Allah ﷻ telah siapkan atmosfer di dunia ini yang berisikan oksigen, sehingga manusia dapat menggunakannya untuk kehidupan sehari-hari. Sungguh ini merupakan sebuah nikmat agung yang Allah ﷻ berikan kepada hamba-hambanya. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa angin memiliki banyak manfaat sehingga tidak boleh kita mencela angin secara mutlak.

Do’a Ketika Angin Berhembus Kencang

Angin yang berhembus bisa diklasifikasikan menjadi dua. Pertama angin yang wajar (biasa, tidak mengganggu), kedua angin yang kencang. Jenis angin yang kedua inilah yang disyariatkan untuk berdo’a. Nabi ﷺ bersabda:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُوْنَ فَقُوْلُوْا……

“Apabila kamu melihat suatu hal yang tidak menyenangkan, maka ucapkanlah….”([7])

Kemudian di hadist yang lain,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ، قَالَ…..

“Biasanya Nabi ketika ada angin kencang beliau berdoa…..”([8])

Dua hadist diatas menunjukkan bahwa do’a hanya diucapkan ketika angin bertiup dan berhembus kencang. Inilah kemuliaan syari’at islam  yang perlu kita terapkan ketika angin bertiup kencang, jangan malah mencaci dan memaki angin tersebut.

Adapun doa ketika mendapati angin kencang, maka terdapat dua doa yang Nabi ﷺ ajarkan.

Pertama,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَها، وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya.”([9])

Kedua,

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَخَيْرِ مَا فِيْهَا، وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia.”([10])

Doa-doa ini merupakan dalil bahwasanya jika datang angin yang kencang maka kita diperintahkan untuk meminta kebaikan dari angin tersebut dan berlindung dari keburukan angin tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya angin itu terkadang dikirim oleh Allah ﷻ sebagai kebaikan sekaligus sebagai keburukan. Lihatlah kisah perang Khandaq, Allah ﷻ mengirim angin yang berhembus untuk menghancurkan kaum Quraisy. Sementara bagi kaum muslimin, angin tersebut berhembus lembut tidak mengganggu kaum muslimin sama sekali. Padahal angin tersebut adalah angin yang sama, berhembus di waktu yang sama dan di tempat yang berdekatan, akan tetapi memiliki dampak dan kondisi yang berbeda.

Sama halnya seperti hujan. Ketika perang badr, Allah ﷻ menurunkan hujan rintik-rintik bagi kaum muslimin sebagai rahmat dan berkah. Sementara bagi kaum musyrikin hujan tersebut menjadi musibah, padahal hujan yang turun pada keduanya adalah hujan yang sama. Oleh karenanya terkadang Allah ﷻ menurunkan suatu musibah bagi suatu kaum, ternyata musibah tersebut adalah rahmat bagi kaum yang lain. Sama halnya juga seperti wabah penyakit. Wabah menjadi rahmat bagi siapa saja yang bersabar menghadapinya hingga akhirnya meninggal dengan mati syahid. Wabah juga menjadi musibah, azab, siksaan, bahkan menjadi penambah dosa bagi siapa saja yang tidak bersabar menghadapinya, hingga kemudian mencela-cela takdir Allah ﷻ. ([11])

Matan

Kandungan bab ini:

  1. Larangan mencaci maki angin.
  2. Petunjuk Rasulullah ﷺ untuk mengucapkan doa, apabila manusia melihat sesuatu yang tidak menyenangkan (ketika angin sedang bertiup kencang).
  3. Pemberitahuan Rasulullah ﷺ bahwa angin mendapat perintah dari Allah. (Oleh karena itu, mencaci maki angin berarti mencaci maki Allah, Tuhan Yang menciptakan dan memerintahkan-nya).
  4. Angin yang bertiup itu kadang diperintah untuk suatu kebaikan, dan kadang diperintah untuk suatu keburukan.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab At-Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________
([1]) QS. Al-Hijr: 22

([2]) QS. Al-A’raf: 57

([3]) QS. Shad: 36

([4]) QS. Al-Ahzab: 9

([5]) QS. Fushilat: 16

([6]) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ketika menyebutkan mukjizat tersebut:

«نُصِرْتُ بِالصَّبَا، وَأُهْلِكَتْ عَادٌ بِالدَّبُورِ»

“Aku ditolong oleh Allah ‘Azza wa Jalla dengan As-Shaba, dan kaum dibinasakan dengan Ad-Dabur” (H.R. Bukhori, No.1035)

As-Shoba juga disebut dengan Al-Qobul, karena ia berhembus menghadap pintu ka’bah, dan dia adalah angin yang berhembus dari arah timur.

Ad-Dabur adalah angin yang beerhembus dari barat. Ad-Dabur lebih berbahaya dari As-shaba. Karena Allah ‘Azza wa Jalla tahu akan lembutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla hembuskan kepada mereka As-Shoba, karena khawatir akan membinasakan mereka semua jika Allah ‘Azza wa Jalla kirimkan Ad-Dabur. (Lihat Fathul Bari, 2/521)

([7]) HR. Tirmidzi No.2252, dishahihkan oleh Al-Albani Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah No.2756 6/598

([8]) HR. Muslim No.899

([9]) HR. Abu Daud No. 5097, disahihkan oleh Al-Albani Sahih Abi Dawud No. 5097 1/2

([10]) HR. Tirmidzi No.2252, dishahihkan oleh Al-Albani Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah No.2756 6/598

([11]) Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang penyakit tho’un, yaitu wabah penyakit menular yang mematikan yang menyebabkan banyaknya luka-luka disekujur tubuh:

«أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ»

“Sesungguhnya dia adalah adzab yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya. Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla jadikan ia sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan tidaklah ada satu orangpun yang terkena tho’un, kemudian ia bersabar untuk tetap di negerinya dengan mengaharap pahala, dan ia tau bahwa yang demikian tidaklah menimpanya kecuali sesuai dengan apa yang Allah taqdirkan untuknya, kecuali ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid” (HR. Bukhori, No.3474)