Tafsir Surat Al-‘Alaq

Tafsir Surat Al-‘Alaq

Para ulama sepakat bahwasanya surat Al-‘Alaq adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah, karena surat ini diturunkan kepada Nabi ketika beliau di gua Hira. Sebagaimana masyhur diketahui di tengah kaum kaum muslimin.

Hanya saja para ulama khilaf apakah surat Al-‘Alaq adalah surat yang pertama kali diturunkan oleh Allah?. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya surat yang pertama kali diturunkan adalah surat Al-‘Alaq. Sebagian ulama yang lain menyatakan surat Al-Fatihah, ada pula yang menyatakan surat Al-Muddatstsir. Namun yang benar adalah pendapat jumhur ulama, bahwa surat al-‘Alaq adalah surat yang pertama kali turun (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/117-118). Mengenai kisah turunnya wahyu pertama ini, dibawakan oleh Imam Bukhari di bagian awal-awal kitab Shahihnya yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau bercerita .

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ } اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ { فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى  }يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ { فَحَمِيَ الْوَحْيُ

“Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau berkholwat (menyendiri) di gua Hira dan ber-tahannuts yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali.

Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al-Haq saat Beliau di gua Hira, Malaikat datang seraya berkata: “Bacalah?” Beliau menjawab: “Aku sama sekali tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku sama sekali tidak bisa baca”.

Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khuwailid seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Beliau pun diselimuti oleh Kholdijah hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan (keburukan) menimpa diriku”.

Maka Khadijah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahmi, engkau suka membantu orang yang tidak punya apa-apa, engkau membantu orang yang kesusahan, engkau suka menjamu tamu, dan engkau suka menolong orang yang terkena musibah”. Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani sebanyak yang ia tulis.

Saat itu Waraqah sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini.” Waraqah berkata: “Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waraqah berkata: “Ini adalah Namus (yaitu penyampai rahasia Allah), seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah aku akan diusir mereka?” Waraqah menjawab: “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku.” Tidak lama kemudia Waraqahpun meninggal lalu wahyupun terputus.

Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshari bertutur tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan: “Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: “Selimuti aku. Selimuti aku”. Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah (dan berhala-berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan.” (HR Bukhari no. 3)

 

Inilah kisah turunnya surat Al-Alaq sebagai wahyu yang pertama kali turun.  Akan yaitu ayat pertama hingga ayat kelima, akan tetapi patut diingat bahwasanya apa yang dilakukan oleh Nabi berupa berkhalwat di gua Hira bukanlah merupakan sunnah sehingga dituntunkan bagi sahabat dan umatnya yang datang setelahnya untuk melakukan hal yang sama. Kenyataannya tidak ada satu pun dari para sahabat yang pernah melakukannya, karena mereka meyakini hal tersebut bukanlah ibadah dan gua hira bukan pula tempat yang berkah.

Sebagian orang berlebih-lebihan sampai ada yang mengatakan bahwasanya kenabian itu adalah perkara yang bisa diusahakan, salah satunya dengan cara berkhalwat atau bertapa di dalam gua, sebagaimana keyakinan Ibnu Sina dan para ahli filsafat. Meyakini hal demikian merupakan kekufuran. Seandainya memang benar demikian niscaya manusia akan berlomba-lomba untuk mengusahakannya lalu muncullah Nabi-Nabi setelah Nabi Muhammad. Sedangkan Nabi bersabda:

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Sesungguhnya akan ada pada umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR Tirmidzi no. 2219)

Selain itu, apa yang dilakukan Nabi dengan berkhalwat di gua Hira tidak ada hubungannya dengan diangkatnya beliau menjadi Nabi, hal tersebut beliau lakukan semata untuk ber-tahannuts yaitu untuk merenungkan keagungan Allah atau untuk menjauhkan dirinya dari kerusakan kaumnya pada saat itu yang tenggelam dalam kesyirikan dan kemaksiatan, sama seskali bukan agar diangkat jadi Nabi. Oleh karena itu ketika malaikat Jibril datang Nabi juga kaget, bahkan ketakutan ada keburukan akan menimpa dirinya. Seandainya Nabi berniat ingin jadi seorang Rasul tentu itu memang yang nabi cari-cari, lagi pula siapa yang mengajari atau membimbing Nabi untuk menempuh cara menjadi Rasul??

Demikian pula Nabi-Nabi sebelumnya tidak ada yang melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena kejadian diangkat menjadi Nabi berbeda-beda. Nabi hanya menjauhkan dirinya dari para kaum musyrikin Mekkah dengan berkhalwat di gua Hira, tiba-tiba turunlah malaikat Jibril membawa wahyu kepada beliau.

Dalam kisah tersebut dinyatakan bahwasanya Nabi tidak bisa membaca ketika disuruh Jibril untuk membaca sebagaimana apa yang dibaca Jibril. Demikianlah keadaan Nabi, beliau adalah seorang yang ummiy yaitu tidak bisa membaca dan menulis. Kata para ulama, Allah sengaja menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad yang tidak bisa baca tulis agar bisa menjadi bukti bahwasanya Al-Quran itu datangnya dari Allah dan bukan karangan Nabi sendiri. Seandainya Muhammad bisa membaca dan menulis, maka orang-orang musyrikin akan menuduh Al-Quran itu adalah karangan Muhammad sendiri. Allah berfirman:

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al-Quran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS Al-Ankabut : 48)

Oleh karena itu, para ulama berselisih pendapat tentang keadaan Nabi yang tidak bisa baca tulis ini berlangsung sampai Nabi meninggal dunia atau semasa hidupnya beliau akhirnya bisa baca tulis. Namun para ulama merajihkan pendapat bahwasanya Nabi tidak bisa membaca dan menulis sampai beliau meninggal dunia, untuk menunjukkan bahwasanya Al-Quran seluruhnya turun dari Allah. Namun mereka tetap saja menuduh Nabi berdusta, sebagaimana perkataan mereka di dalam Al-Quran, Allah berfirman:

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Dan mereka berkata, ‘(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang’.” (QS Al-Furqan : 5)

Tetapi karena bahasanya yang tinggi dari sisi balaghahnya yang tidak mungkin turun melainkan dari Allah langsung, banyak orang-orang musyrikin kala itu yang begitu mendengar Al-Quran langsung masuk Islam.

Inti pembicaraan surat Al-Alaq adalah tentang karunia Allah yang diberikan kepada manusia berupa ilmu. Berbeda dengan surat At-Tiin yang inti pembicaraannya berkaitan dengan karunia Allah berupa fisik dan tubuh yang sempurna. Sudah merupakan hal yang dimaklumi bahwasanya seorang manusia yang memiliki tubuh yang indah namun tidak disertai dengan ilmu yang benar maka orang tersebut tidak bernilai. Dia akan bernilai jika keindahan fisiknya dibarengi dengan ilmu yang benar.

 

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”

Diantara kaedah tafsir yaitu jika ada fi’il muta’addi (kata kerja yang seharusnya mempunyai obyek) namun obyeknya tidak disebutkan maka memberi faidah keumuman. Dalam ayat ini disebutkan kata خَلَقَ (menciptakan) tanpa disebutkan obyeknya, sehingga maknanya adalah menciptakan segala sesuatu.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”

عَلَقٌ adalah segumpal darah yang menggumpal yang masih basah. عَلَقٌ merupakan bentuk jamak dari عَلَقَةٌ yang bermakna sesuatu yang menempel, terkait, atau terikat (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/119). عَلَقٌ merupakan cikal bakal terbentuknya janin di dalam rahim. Dia asalnya berasal dari pertemuan antara sperma dan ovum kemudian menjadi segumpal darah yang terikat di rahim. Allah telah mengabarkannya 1400 tahun yang lalu, sebuah ilmu yang baru dibuktikan melalui penelitian modern sekarang ini.

Ada yang berpendapat bahwa Allah ingin menjelaskan betapa besar kadar nikmat Allah kepada manusia, dimana Allah menciptakannya dari segumpal darah yang berasal dari air mani yang hina, lalu Allah merubahnya menjadi manusia yang sempurna (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/119)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

“Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia”

Allah kembali menyuruh Muhammad lewat Jibril untuk membaca. Ini menunjukkan pentingnya membaca. Oleh karena itu, menuntut ilmu merupakan ibadah yang agung.

  1. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

“Yang mengajar (manusia) dengan pena”

Diantara anugerah Allah adalah mengajarkan ilmu manusia dengan perantaraan pena. Sebagian ahli tafsir menyatakan, Allah menyebutkan pena karena di zaman bangsa Arab dahulu mereka lebih mengutamakan hafalan. Mereka bisa menulis tetapi mereka jarang menulis, karena hafalan mereka kuat. Kemudian Allah menyebutkan bahwasanya diantara ajaran Allah kepada manusia adalah tulisan.

Manfaat tulisan itu luar biasa. Tidaklah ilmu-ilmu para ulama terdahulu bisa dinikmati oleh manusia zaman sekarang kecuali dengan tulisan. Seandainya tidak ada tulisan niscaya ilmu-ilmu ulama akan hilang. Begitupun dengan Al-Quran dan hadits-hadits Nabi bisa terjaga sampai sekarang karena ditulis selain dihafalkan. Oleh karena itu, Nabi bersabda:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya.” (Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026)

Jika dibandingkan antara seorang yang menulis dan tidak menulis saat mendengarkan materi disampaikan maka ilmu seorang yang menulis tadi pada umumnya akan lebih melekat di dalam dadanya. Demikianlah kenyataannya. Walaupun orang yang menulis tadi membuang tulisannya setelah itu, tetapi paling tidak ketika menulis dia menggunakan indera yang lebih banyak daripada orang yang sekedar mendengarkan tanpa menulis. Karena orang yang menulis, dia akan lebih berusaha untuk mendengarkannya secara seksama, berusaha menangkap poin-poin pentingnya, lalu menuliskannya kembali di dalam kertasnya.

Ibnu Katsir berkata :

وَأَنَّ مِنْ كَرَمِهِ تَعَالَى أَنْ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، فَشَرَّفَهُ وَكَرَّمَهُ بِالْعِلْمِ وَهُوَ الْقَدْرُ الذي امتاز به أبو البشرية آدَمُ عَلَى الْمَلَائِكَةِ

“Ayat ini mengingatkan bahwa diantara kebaikan Allah ta’ala adalah mengajarkan manusia ilmu tentang apa yang ia belum mengetahuinya. Maka Allah memuliakan manusia dengan ilmu, dan ilmu itulah bagian yang menjadikan nenek moyang manusia yaitu Adam istimewa melebihi para malaikat” (8/422)

Yaitu Ibnu Katsir ingin mengingatkan bahwa ilmu itu adalah anugrah yang besar dari Allah yang menjadikan seseorang istimewa, sehingga dikhususkanlah penyebutannya dalam ayat ini.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”

Ini adalah ayat terakhir dari wahyu yang pertama kali turun. Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya membawakan tiga pendapat ulama tentang الْإِنسَانُ (manusia) yang dimaksudkan pada ayat ini siapa (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/122).

Pendapat pertama, yang dimaksud dengan الْإِنسَانُ adalah Nabi Adam ‘alaihis salam. Sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (QS Al-Baqarah : 31)

Para Malaikat tidak mengetahui tentang benda-benda itu, akan tetapi Adam mengetahuinya. Karena ilmunya Nabi Adam inilah Allah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepadanya.

Pendapat kedua, yang dimaksud dengan الْإِنسَانُ adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain:

وَأَنزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“.. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.” (QS An-Nisa’ : 113)

Pendapat ketiga, yang dimaksud dengan الْإِنسَانُ adalah manusia secara umum. Karena manusia diajarkan oleh Allah setelah sebelumnya dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Allah berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl : 78)

Allah lah yang memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati kepada manusia setelah sebelumnya terlahir dalam keadaan tidak berilmu. Dari sini para ulama juga mengatakan, bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati merupakan pintu-pintu masuknya ilmu. Seorang penuntut ilmu harus mempunyai tiga hal ini agar dia bisa berkonsentrasi dalam belajar.

Oleh karena itu, ilmu merupakan karunia besar yang diberikan oleh Allah. Sekaligus menjadi pembeda antara manusia dan hewan selain perbedaan secara fisik. Selain itu, ilmu pula lah yang membedakan antara orang yang berilmu dan orang bodoh. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“.. Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar : 9)

Dan ini berlaku dalam segala hal, baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang beribadah dengan ilmu tidak sama dengan orang yang beribadah tanpa ilmu. Bahkan Allah membedakan antara anjing yang berilmu dengan anjing yang tidak berilmu. Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), ‘Apakah yang  dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya).” (QS Al-Maidah : 4)

Demikianlah tafsir lima ayat pertama yang turun pertama kali di gua Hira. Adapun ayat berikutnya tidak turun di gua Hira lagi, tapi di lain waktu. Dan para ulama menyebutkan bahwasanya ayat berikutnya berkaitan dengan Abu Jahal. Allah berfirman:

  1. كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas”

  1. أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Apabila melihat dirinya merasa kaya/berkecukupan

Abu Jahal menjadi melampaui batas karena dua sebab, pertama karena ia ia telah memiliki harta yang banyak dan yang kedua karena ia kedudukan yang tinggi di kaumnya sehingga banyak kabilahnya dan penolongnya (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/123).

Akan tetapi meskipun ayat ini berkaitan langsung dengan Abu Jahal tapi maknanya umum mencakup seluruh manusia yang lupa diri karena sudah merasa hebat. Allah menyebutkan sebab mengapa seseorang terkadang melampaui batas dan berbuat kedzhaliman yaitu karena dia merasa dirinya sudah cukup dan tidak butuh kepada orang lain dan kepada Allah lagi. Dia merasa telah mempunyai harta, mempunyai ilmu, memiliki tubuh yang kuat, dia tidak sadar bahwa semua itu adalah karunia dari Allah. Padahal manusia itulah yang selalu butuh kepada Allah. Allah berfirman:

۞ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), lagi Maha Terpuji.” (QS Fathir : 15)

Karenanya hakikat manusia adalah selalu faqir (miskin), sehingga Allah menyebutkan dalam ayat bahwa “Apabila melihat dirinya merasa kaya/berkecukupan”, yaitu yang memandang ia telah kaya adalah dirinya sendiri, padahal pada hakikatnya manusia selalu faqir membutuhkan pertolongan Robbnya dalam segala hal.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ

“Sungguh kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu)”

Jika ayat ini berkaitan dengan Abu Jahal, maka maksud ayat ini adalah ancaman. Bahwa engkau Abu Jahl -atau orang yang melampaui batas- akan kembali kepada Allah untuk merasakan adzab yang pedih (Lihat Tafsir At-Thobari 24/533). Allah mengingatkan bahwasanya setiap orang akan kembali kepada Allah. Hakikatnya semua manusia sedang mengantre menuju Allah, yaitu menuju kematiannya. Hanya saja tidak seorang pun yang tahu ujung antreannya, kapan dia akan mengakhirinya.

وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ لِرَجُلٍ: كَمْ أَتَتْ عَلَيْكَ؟ قَالَ: سِتُّونَ سَنَةً، قَالَ: فَأَنْتَ مُنْذُ سِتِّينَ سَنَةً تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ يُوشِكُ أَنْ تَبْلُغَ، فَقَالَ الرَّجُلُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، فَقَالَ الْفُضَيْلُ: أَتَعْرِفُ تَفْسِيرَهُ تَقُولُ: أَنَا لِلَّهِ عَبْدٌ وَإِلَيْهِ رَاجِعٌ، فَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ لِلَّهِ عَبْدٌ، وَأَنَّهُ إِلَيْهِ رَاجِعٌ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، وَمِنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَسْئُولٌ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَسْئُولٌ، فَلْيُعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَابًا

Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata pada seseorang, “Berapa umurmu sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”, jawabnya. Fudhail berkata, “Itu berarti semenjak 60 tahun engkau telah berjalan menuju Rabbmu, maka hampir saja engkau akan sampai.” Pria itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.” (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sungguh kita akan kembali kepadaNya) “Apa engkau memahami maksud kalimat itu?”, tanya Fudhail. Lantas Fudhail berkata, “Maksud perkataanmu tadi adalah : “Aku adalah hamba milik Allah, dan akan kembali kepadaNya”. Siapa yang sadar dia adalah hamba Allah, sadar bahwa ia pasti akan kembali pada-Nya, maka hendaknya dia sadar juga bahwa ia akan diberdirikan di hadapan Allah.  Dan siapa yang sadar bahwa ia akna diberdirikan di hadapan Allah maka hendaknya dia tahu bahwa ia pasti akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya -pen). Dan siapa yang tahu bahwasanya ia akan ditanya maka hendaknya ia menyiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/383)

Oleh karena itu, hendaknya setiap hamba menyadari bahwa dirinya akan kembali dan di hari kiamat kelak akan dihisab oleh Allah. Sehingga dia bisa mempersiapkan segalanya sebelum waktu kematiannya tiba.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang?”

Ayat ini turun belakangan setelah Islam mulai tersebar. Dan ayat ini berkaitan dengan Abu Jahal, salah satu orang yang selalu mengganggu ibadah Nabi dan melarangnya beribadah.

  1. عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

“Seorang hamba ketika sedang shalat”

Yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang sholat

  1. أَرَأَيْتَ إِن كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ

“Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang shalat itu) berada di atas kebenaran (petunjuk)”

  1. أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ

“Atau dia menyeru kepada ketakwaan”

Yaitu Nabi Muhammad memerintahkan Abu Jahl untuk bertakwa kepada Allah dan agar takut kepada siksaan Allah (lihat Tafsir At-Thobari 24/534)

  1. أَرَأَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

“Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) yaitu Abu Jahlitu mendustakan dan berpaling?”

Yaitu Abu Jahal mendustakan dakwah dan ajakan Nabi kepadanya

  1. أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?”

Padahal segala niat buruk yang direncanakan oleh Abu Jahal diketahui oleh Allah. Ayat ini juga sekaligus sebagai pengingat agar seseorang tidak melakukan kemaksiatan dan keburukan. Karena bagaimanapun Allah pasti melihat segala perbuatan yang dia lakukan.

Kemudian Allah berfirman:

  1. كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ

“Sekali-kali tidak! Sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (ke dalam neraka)”

Abu Huroiroh meriwayatkan “

قَالَ أَبُو جَهْلٍ: هَلْ يُعَفِّرُ مُحَمَّدٌ وَجْهَهُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ قَالَ فَقِيلَ: نَعَمْ، فَقَالَ: وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى لَئِنْ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لَأَطَأَنَّ عَلَى رَقَبَتِهِ، أَوْ لَأُعَفِّرَنَّ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ، قَالَ: فَأَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي، زَعَمَ لِيَطَأَ عَلَى رَقَبَتِهِ، قَالَ: فَمَا فَجِئَهُمْ مِنْهُ إِلَّا وَهُوَ يَنْكُصُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَيَتَّقِي بِيَدَيْهِ، قَالَ: فَقِيلَ لَهُ: مَا لَكَ؟ فَقَالَ: إِنَّ بَيْنِي وَبَيْنَهُ لَخَنْدَقًا مِنْ نَارٍ وَهَوْلًا وَأَجْنِحَةً

Suatu kali, Abu Jahal berkata: “Apakah Muhammad pernah menggosokkan wajahnya ke tanah (sujud) di hadapan kalian?” Dijawab: “Ya.” Abu Jahal pun berkata: “Demi Lata dan Uzza, jika aku melihatnya melakukan itu, sungguh aku akan menginjak lehernya, atau aku gosokkan wajahnya ke tanah,” lantas dia pun mendatangi Rasulullah yang sedang melakukan shalat, dan mengira dapat menginjak leher Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Akan tetapi tiba-tiba dia mundur sambil berlindung dengan kedua tangannya. Maka ditanyakan kepadanya: “Mengapa engkau?” Abu Jahal menjawab: “Di antara aku dan dia terdapat parit api, siksa dan sayap-sayap (malaikat).”

Mengenai peristiwa ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ دَنَا مِنِّي لاَخْتَطَفَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا

“Seandainya dia mendekatiku, niscaya akan disambar oleh para malaikat, satu demi satu dari anggota tubuhnya.” (HR Muslim no. 2154)

Allah mengirimkan malaikat Zabaniah, yang andai saja dia terus mendekati dan melarang Nabi melaksanakan shalat, maka malaikat tersebut akan menarik ubun-ubunnya dengan keras.

  1. نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

“(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka”

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa pada ayat disini yang dimaksudkan adalah ubun-ubun itu sendiri yang mendustakan dan durhaka. (Dan ini adalah pendapat Ibnu Katsir dalam tafsirnya 8/423, As-Sa’di dalam tafsirnya hal 930, dan Ibnu al-‘Utsaimin dalam tafsir Juz ‘Amma hal 264). Adapun mayoritas ahli tafsir maka mereka menyebutkan bahwa ubun-ubun yang mendustakan adalah pemilik ubun-ubun itu yang mendustakan, yaitu Abu Jahal dan bukan ubun-ubun itu sendiri. Pendapat pertama yang tidak mentakwilkan ubun-ubun menjadi pemilik ubun-ubun, mereka mengatakan bahwa ubun-ubun itu lah yang akan berdosa karena ubun-ubun itu yang mendustakan. Dan ini dibuktikan dengan penelitian zaman sekarang bahwa bagian ubun-ubun adalah bagian dari otak yang mengatur tentang perangai, sehingga ubun-ubun itu sendirilah yang menjadi sumber mendustakan. Oleh karena itu, Allah menggunakan ungkapan ubun-ubun.

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ

“Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)”

Abu Jahal sesumbar dan mengatakan bahwa dialah orang yang paling banyak pengikutnya. Dan memang demikianlah kenyataannya. Allah pun menantangnya dan membiarkannya untuk memanggil seluruh anak buahnya.

  1. سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ

“Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah”

Malaikat Zabaniyah adalah malaikat yang menarik dengan keras. Dan الزَّبَانِيَةَ adalah kata jamak dariزِبْنِيٌّ  yang diambil dari suku kata الزِّبْنِ yang artinya adalah الدَّفْعُ “menolak”, para malaikat tersebut dinamakan dengan Az-Zabaaniyah karena mereka menolak dengan keras para penghuni neraka kedalam neraka (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/481)

  1. كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب ۩

“Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya, dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah)”

Ini adalah perintah Allah kepada Nabi agar tidak menghiraukan perkataan Abu Jahal yang melarangnya shalat dan melarangnya berdakwah, karena Allah akan tetap menjaga Nabi. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini berlaku pula untuk para pengikut Nabi. Jika ada orang yang selalu mengganggunya ketika beribadah, melarangnya berdakwah, mencegah ataupun mempersulitnya, maka hendaknya dia tetap bersabar, karena sesungguhnya dia sedang menempuh jalan seperti yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul.

Kemudian Allah mengakhiri firman-Nya dengan menyuruh Nabi bersujud dan mendekat. Menunjukkan bahwasanya barang siapa yang semakin banyak sujudnya kepada Allah maka dia akan semakin dekat dengan-Nya walaupun dia direndahkan oleh manusia. Oleh karena itu, Nabi bersabda:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu.” (HR Muslim no. 488)

Nabi bersabda dalam hadits yang lain:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR Muslim no. 482)

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim memperbanyak sujudnya karena itu akan meninggikan derajatnya di sisi Allah.