Khutbah Jum’at – Qordhon Hasanan

Khutbah Jum’at – Qordhon Hasanan

Khutbah Pertama

إن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستهديه وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الل

ه وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله. لا نبي معده.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فإن أصدق الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهدى هدى محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار.

معاشر المسلمين، أًوصيكم وإياي بتقوى الله، فقد فاز المتقون

 

Di antara ibadah yang paling mulia yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kesempatan bagi orang-orang yang dilapangkan harta adalah bersedekah dan berinfak di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menamakan infak atau sedekah tersebut dengan qordhon hasanan yaitu pinjaman yang baik dalam banyak ayat dalam Al-Quran, di antaranya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS. At-Taghobun: 17)

Demikian juga firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

Dan banyak ayat-ayat yang menyebutkan tentang qordhon hasanan. Allah subhanahu wa ta’ala menamakan dengan qordhon hasanan atau pinjaman yang baik sebagai isyarat bahwasanya pinjaman tersebut akan dikembalikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Allah memposisikan diri-Nya seakan-akan dia sedang meminjam dari hamba-Nya. Dan kita tahu bahwasanya kalau yang meminjam kepada kita adalah seseorang yang kaya raya tentunya dia akan mengembalikan dan pasti dia akan kembalikan  terlebih lagi jika yang meminjam adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang maha kaya, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. As-Saba’: 39)

Maka tidak perlu kita ragu kalau kita memberi qordhon hasanan pasti diganti oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Apa yang dimaksud dengan qordhon hasanan? Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah ta’ala dalam tafsirnya menukilkan dari Al-Qusyairy rahimahulah ta’ala mengatakan yang dimaksud dengan qordhon hasanan di antaranya yang memiliki sifat-sifat berikut ini: ([1])

Pertama: seseorang yang bersedekah harus ikhlas pada Allah subhanahu wa ta’ala, dia bersedekah bukan karena riya’, sum’ah , bukan karena ingin dipuji, dan bukan karena ingin disanjung. Akan tetapi benar-benar ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua: dia harus bersedekah dari harta yang halal, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima kecuali dari harta yang halal,

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.” ([2])

Ketiga: dia bersedekah dengan harta yang baik bukan dengan harta yang buruk, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian. Dan janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu kalian menafkahkan dari padanya, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Keempat: dia bersedekah ketika dia berada dalam kondisi sehat dan dia ingin hidup panjang dan harta yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sedekah yang paling banyak pahalanya, beliau menjawab:

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الفَقْرَ، وَتَأْمُلُ الغِنَى،

“Engkau bersedekah ketika kamu masih sehat, sangat senang dengan harta, engkau takut miskin, dan engkau sangat ingin memiliki harta yang sangat banyak.”

Itulah saat terbaik untuk engkau bersedekah, hatimu ingin punya harta yang banyak akan tetapi engkau kalahkan dan kau bersedekah dalam kondisi sehat bukan dalam kondisi sakitu meninggal dunia baru kemudian bersedekah. kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya:

وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الحُلْقُومَ، قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا، وَلِفُلاَنٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

“Jangan kau tunda sedekahmu hingga sampai ketika nyawa berada di kerongkongan, kemudian kamu mengatakan: ‘Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian, padahal sudah menjadi milik orang lain.” ([3])

Kelima: berinfak dengan cara menyembunyikannya, yaitu sebisa mungkin untuk menyembunyikan infak tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kalian menampakkan sedekah(kalian), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian; dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Dan di antara orang yang dinaungi oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat kelak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“dan seseorang yang bersedekah dengan sebuah sedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” ([4])

Seseorang jika bersedekah wajar jika dia ingin bercerita, hatinya tergelitik untuk menceritakan apa yang dia sudah sedekahkan, namun dia harus melawannya agar pahala sedekah yang tersembunyi lebih besar daripada pahala sedekah yang terlihat.

Keenam: dia tidak mengungkit-ungkit dan menyakiti hati orang yang telah dia bantu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Ketujuh: berusaha berinfak dengan harta yang dia cintai, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebahagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

Terkadang seseorang memiliki sesuatu yang dia cintai, maka dia infakkan harta tersebut di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka itu adalah qordhon hasanan.

Kedelapan: berusaha berinfak yang banyak, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya,

فَأَيُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «أَعْلاَهَا ثَمَنًا، وَأَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا»

“budak apakah yang paling baik? Beliau menjawab: yang paling mahal dan yang paling baik bagi tuannya.” ([5])

Maka seseorang jika ingin membebaskan budak maka belilah budak yang paling mahal yang terbaik kemudian dibebaskan, artinya ini isyarat bahwasanya seseorang jika ingin bersedekah maka berusaha untuk bersedekah dengan sedekah yang banyak karena itu semua akan kembali kepada dirinya.

Kesembilan: jangan pernah merasa apa yang sudah kita keluarkan itu banyak. Karena yang kita keluarkan itu adalah dunia dan dunia nilainya sedikit di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, maka jangan pernah merasa banyak dengan apa yang telah kita berikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب وخطيئة فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلي عليه وعل أله وأصحابه وإخوانه.

Para jama’ah yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, suatu penyakit yang buruk yaitu penyakit bakhil penyakit yang keji yang menimpa sebagian kaum muslimin yang Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya dengan faahisyah, akhlak yang buruk, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untuk kalian ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Para ulama maksud dari perbuatan keji di sini adalah kebakhilan([6]). Oleh karenanya kebakhilan dalam syariat adalah perbuatan yang keji. Bagaimana Anda tidak keji sedangkan Anda memiliki kelapangan harta, jika Anda keluarkan Anda tidak akan miskin. Allah subhanahu wa ta’ala tidak memerintahkanmu untuk mengeluarkan seluruh hartamu, karena Allah subhanahu wa ta’ala hanya mengatakan,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Kalian keluarkan 10%, 20%, atau 30% dari harta kalian tidak akan menjadikan kalian miskin, oleh karenanya seseorang yang pelit yang menahan hartanya dan tidak mau berinfak maka dia adalah seseorang yang melakukan akhlak yang keji. Padahal, jika dia berinfak maka manfaatnya akan kembali kepada dirinya, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala tidak butuh itu semua, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“dan tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian niscaya kalian memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20)

Allah berfirman,

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra: 7)

Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ ۚ

“dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri.” (QS. Muhammad: 38)

Dia pelit untuk berbuat baik pada dirinya sendiri. Tatkala kita berbuat baik kepada orang lain pada hakikatnya yang kita baiki adalah diri kita sendiri, mengapa? Karena kita mendapatkan pahala yang banyak, kita akan diberikan keberkahan di dunia dan akhirat, dinaungi oleh sedekah kita pada hari kiamat kelak, dan kita akan dimudahkan urusan kita. Maka tatkala kita pelit untuk bersedekah maka kita pelit terhadap diri kita sendiri “dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri”. Tentunya pahala sedekah sangat banyak terutama di akhirat Allah subhanahu wa ta’ala melipat gandakan dengan pahala yang begitu banyak sampai tujuh ratus kali lipat atau lebih daripada itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ini menunjukkan bahwasanya pahala bersedekah sangatlah besar, dan ternyata Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya memberikan ganjaran sedekah di akhirat, karena ganjaran di akhirat sangat banyak di antaranya di alam kubur kita dibantu dengan sedekah kita, di padang mahsyar ketika matahari dalam kondisi jaraknya 1 mil sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ – أَوْ قَالَ: يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ

“setiap orang di bawah naungan sedekahnya hingga diputuskan antara setiap manusia -atau beliau bersabda: diputuskan hukuman antara manusia-.” ([7])

Semakin banyak dia bersedekah semakin banyak naungan yang menaungi dia dari teriknya matahari. Kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala akan mereda karena sedekahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

“sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi meredakan amarah Rabb.” ([8])

Intinya ketika kita berbicara masalah akhirat maka sedekah sangat luar biasa ganjarannya. Karenanya Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan bahwa ada seseorang yang akan meninggal dunia dia berangan-angan untuk ditunda kematiannya agar bisa bersedekah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Karena dia tahu bahwasanya di hari akhirat kelak di antara amalan yang paling membantu adalah sedekah. Ternyata manfaat sedekah bukan untuk masalah akhirat saja namun juga berkaitan dengan masalah dunia juga, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kelapangan bagi orang yang bersedekah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“sedekah tidak akan mengurangi harta.” ([9])

Sebagian ulama mengatakan maksudnya bahwasanya sedekah akan menambah harta. Dan juga sebagaimana disebutkan dalam hadits kudsy,

يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“wahai anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu.” ([10])

Setiap pagi ada malaikat yang mendoakan orang yang berinfak,

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا،

“ya Allah berilah ganti kepada orang yang berinfak.” ([11])

Kemudian juga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untuk kalian ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Dan para ulama menafsirkan فَضْلًا dengan tausi’ah fir rizqi yaitu bahwasanya orang yang bersedekah akan dilapangkan rezekinya di dunia sebelum mendapatkan banyak kenikmatan di akhirat([12]). Oleh karena kita dapati banyak contoh di alam nyata yang kita saksikan bagaimana para kawan-kawan dan para sahabat yang mereka hidup di zaman sekarang ini dan mereka berinfak di jalan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak ingin disebut namanya dan tidak ingin ditenarkan lalu Allah subhanahu wa ta’ala lapangkan rezeki mereka, bahkan seorang ulam pernah berkata: “saya tidak pernah bertemu dengan seseorang yang rajin bersedekah kemudian Allah hinakan dia di dunia”, dia bersedekah maka Allah subhanahu wa ta’ala akan semakin memuliakan dia, semakin Allah subhanahu wa ta’ala tambah rezekinya di dunia ini dengan syarat dia melakukan qordhon hasanan. Terutama di saat-saat sekarang ini tatkala sebagian orang membutuhkan kita maka hendaknya kita bersedekah, karena terkadang pahala sedekah semakin besar ketika kebutuhan semakin meningkat, oleh karenanya dalam Al-quran Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan,

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ۖ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْعَقَبَةُ ۗ فَكُّ رَقَبَةٍۙ اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍۙ اَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍۗ

“tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar? Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya), atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS. Al-Balad: 11-16)

Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan alasan mengapa seseorang tidak membantu orang lain, tidak berinfak, dan tidak menyelamatkan dirinya dari neraka Jahannam dengan memerdekakan budak, atau memberikan makanan di saat hari kelaparan -memberi makanan pada setiap hari akan mendapatkan pahala akan tetapi memberikan makanan di hari seseorang sedang kelaparan  maka pahalanya lebih besar-, atau orang miskin yang sangat miskin yang dia tidak memiliki kecuali hanya tanah -para ulama mengatakan bahwasanya ini dalil ketika seseorang bersedekah dalam kondisi yang sangat butuh maka pahala sedekah akan semakin besar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala-. Maka janganlah kita pelit terhadap diri kita sendiri وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ “dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri”, dia mengharamkan dirinya dari kebaikan di dunia, terlebih lagi kebaikan akhirat.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

للَّهمَّ اغفِرْ لنا ما قَدَّمنا وما أَخَّرْنا وما أَسْرَرْنا ومَا أعْلَنْا وما أَسْرفْنا وما أَنتَ أَعْلمُ بِهِ مِنِّا، أنْتَ المُقَدِّمُ، وَأنْتَ المُؤَخِّرُ لا إله إلاَّ أنْتَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

___________________________________

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthuby 17/242

([2]) HR. Muslim no. 1015

([3]) HR. Bukhori no. 1419 dan Muslim no. 1032

([4]) HR. Bukhori no. 1423

([5]) HR. Bukhori no. 2518 dan Muslim no. 84

([6]) Lihat: Tafsir Al-Qurthuby 3/328

([7]) HR. Ahmad no. 17332و dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth sanad hadits ini shohih.

([8]) HR. Ath-Thabrany no. 943

([9]) HR. Muslim no. 2588

([10]) HR. Muslim no. 993

([11]) HR. Bukhori no. 1442 dan Muslim no. 1010

([12]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 3/329