Membaca Tahmid

Tahmid

Makna Tahmid

Makna tahmid yaitu mengucapkan alhamdu lillah. Dan makna al-hamdu adalah memuji Allah karena dua hal, karena keindahan dan keagungan sifat-sifatNya, dan yang kedua adalah memujiNya karena karunida-karuniaNya yang Ia anugrahkan. Dari sini para ulama menjelaskan bahwa syukur lebih khusus dari pada al-hamdu, karena syukur adalah memuji Allah karena karunia yang Allah anugrahkan([1]).

Keutamaan tahmid

  1. Tahmid bisa melindungi seseorang dari bencana. ([2])
  2. Termasuk bentuk sedekah yang paling mudah untuk dilakukan oleh seorang muslim. ([3])
  3. Takbir, tasbih, dan tahmid lebih baik dari pembantu. ([4])
  4. Termasuk bentuk sedekah yang paling mudah dilakukan oleh seorang muslim. ([5])
  5. Tahmid dan tasbih 100 kali bisa menghapus dosa seseorang. ([6])
  6. Sesuatu yang paling baik yang dibawa seseorang pada hari kiamat. ([7])
  7. Pohon di surga adalah tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. ([8])
  8. Dua belas malaikat berlomba-lomba untuk mengangkat kalimat tersebut

Waktu-Waktu Yang Dianjurkan Untuk Bertahmid

  1. Ketika dzikir pagi dan petang. ([9])
  2. Ketika mendapatkan kebaikan. ([10])
  3. Ketika melihat mimpi yang baik. ([11])
  4. Ketika terbangun dari tidur. ([12])
  5. Ketika mengenakan pakaian. ([13])
  6. Ketika selesai makan. ([14])
  7. Ketika terlindungi dari musibah yang menimpa orang lain. ([15])
  8. Yang mengucapkan tasbih dan tahmid akan ditanamkan pohon kurma di surga. ([16])

Bacaan tahmiid

Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ

“alhamdu lillah.” ([17])

Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“alhamdu lillahi robbil ‘alamin.” (QS. Al-Fatihah: 2) ([18])

Ketiga:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

“alhamdu lillaahi katsiiron thoyyiban mubaarokan fiih.” ([19])

Keempat:

Rabbanaa lakal hamdu ([20])

Kelima:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد

Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu ([21])

_________________________________________________________________

Footnote:

([1]) Lihat penjelasan al-Azhari di Tahdziib al-Lughoh 4/251-4252

([2]) Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ فَجِئَهُ صَاحِبُ بَلَاءٍ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا، عُوفِيَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلَاءِ، كَائِنًا مَا كَانَ ”

“Barangsiapa dikejutkan oleh orang yang tertimpa musibah, kemudian dia mengucapkan; “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu, dan memberi kelebihan kepadaku atas semua yang di ciptakan-Nya dengan kelebihan yang sempurna.” Maka dia akan diselamatkan dari musibah itu bagaimanapun juga.” HR. Ibnu Majah no. 3892 dan dikatakan oleh Al-Albani bahwa hadits ini hasan

([3]) Berdasarkan riwayat Abu Dzar:

«يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى»

“Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” HR. Muslim no. 720

([4]) Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali:

أَنَّ فَاطِمَةَ، اشْتَكَتْ مَا تَلْقَى مِنَ الرَّحَى فِي يَدِهَا، وَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَانْطَلَقَتْ، فَلَمْ تَجِدْهُ وَلَقِيَتْ عَائِشَةَ، فَأَخْبَرَتْهَا فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ إِلَيْهَا، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا، وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا، فَذَهَبْنَا نَقُومُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَلَى مَكَانِكُمَا» فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمِهِ عَلَى صَدْرِي، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا، إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَهْوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ»،

Bahwasanya Fatimah merasakan tapak tangannya mengeras karena menumbuk tepung. Dan seorang pelayan mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Fatimah pergi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak mendapatinya, lalu ia bertemu dengan ‘Aisyah. Kemudian Fatimah berpesan kepada ‘Aisyah agar disampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba di rumah, ‘Aisyah pun memberitahu beliau shallallahu alaihi wasallam tentang kedatangan Fatimah. Lalu Rasulullah pergi ke rumah kami ketika kami sedang berbaring hendak tidur. Kamipun segera bangun, tetapi beliau shallallahu alaihi wasallam mencegahnya dan bersabda : ‘Tetaplah di tempat kamu! Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di antara kami sehingga aku merasakan dinginnya telapak kaki beliau yang menyentuh dada-ku. Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Inginkah kalian berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu minta? Apabila kalian berbaring hendak tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhanallah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kamu daripada seorang pembantu.” HR. Muslim no. 2727

([5]) Berdasarkan riwayat Abu Dzar:

«يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى»

“Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” HR. Muslim no. 720

([6]) Hal ini berdasarkan hadits Abu Huroiroh, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ ”

Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.” QS. Bukhori no. 6405 dan Muslim no. 2691

([7]) HR. Muslim no. 2692

([8]) Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ”

“Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata; wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada Umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan Surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat; SUBHAANALLAAHI WAL HAMDU LILLAAHI WA LAA ILAAHA ILLAAHU WALLAAHU AKBAR (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar). HR. At-Tirmidzi no. 3462, dan beliau berkata hadits ini hasan ghorib. Al-Albani juga mengatakan hadits ini hasan.

([9]) Hal ini berdasarkan hadits Abu Huroiroh:

مَنْ قَالَ: حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ ”

“Barang siapa yang pada pagi dan sore hari mengucapkan; SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) seratus kali maka tidak ada orang yang datang pada Hari Kiamat yang membawa sesuatu yang lebih baik dari apa yang ia bawa kecuali orang yang mengucapkan seperti apa yang ia ucapkan atau lebih banyak lagi darinya.” HR. Muslim no. 2692

([10]) Hal ini berdasarkan hadits qudsi yang panjang yang diriwayatkan oleh Abu Dzar:

فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا، فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ، فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“maka barang siapa yang mendapai kebaikan maka pujilah Allah dan barang siapa yang mendapati selain kebaikan maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” HR. Muslim no. 2257

([11]) Dari Ibnu Umar bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ، فَمَنْ رَأَى خَيْرًا، فَلْيَحْمَدِ اللهَ عَلَيْهِ، وَلْيَذْكُرْهُ، وَمَنْ رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ، فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّ رُؤْيَاهُ، وَلَا يَذْكُرْهَا فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ ”

“mimpi yang baik adalah salah satu dari tujuh puluh bagian kenabian, maka barang siapa yang melihat mimpi baik pujilah Allah atas mimpi baik tersebut, dan sebutkanlah. Dan barang siapa yang melihat selain mimpi yang baik maka mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpinya, dan janganlah ia menyebutkannya karena sesungguhnya hal itu membahayakannya.” HR. Ahmad no. 6215 dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini shohih

([12]) Dari Hudzaifah bin Yaman

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ، قَالَ: «بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا» وَإِذَا قَامَ قَالَ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ»

“bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beranjak ke tempat tidurnya dia mengucapkan: bismika amuutu wa ahyaa dan jika bangun dari tidurnya dia mengucapkan: alhamdu lillaahilladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.” HR. Bukhori no 6312

([13]) Ini berdasarkan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengenakan pakaian

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي، وَلَا قُوَّةٍ

“Alhamdulillaahil-ladzii kasaanii haadzats-tsauba wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii wa laa quwwah.

Segala puji bagi Allah yang memberi pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dariNya tanpa daya dan kekuatan dariku.” HR. Abu Dawud no. 4023, dan dihasankan oleh Al-Albani

Begitu juga ketika mengenakan pakaian baru

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

Allaahumma lakal hamdu anta kasautaniihi, as-aluka min khoirihi wa khoiri maa shuni’a lahu, wa a’uudzu bika min syarrihi wa syarri maa shuni’a lah. HR. Ahmad no. 11248, dan dihasankan oleh Syu’aib Al-Arnauth

([14]) Berdasarkan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَـٰذَا وَرَزَقَنِيْهِ، مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

Alhamdulillaahil-ladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi, min ghoiri haulin minnii wa laa quwwah.

“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan memberi rezeki kepadaku, tanpa daya dan kekuatan dariku.” HR. Ahmad no. 15622 dan Ibnu Majah no. 3285, dan dihasankan oleh Al-Albani

([15]) Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ فَجِئَهُ صَاحِبُ بَلَاءٍ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا، عُوفِيَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلَاءِ، كَائِنًا مَا كَانَ ”

“Barang siapa dikejutkan oleh orang yang tertimpa musibah, kemudian dia mengucapkan; “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu, dan memberi kelebihan kepadaku atas semua yang di ciptakan-Nya dengan kelebihan yang sempurna.” Maka dia akan diselamatkan dari musibah itu bagaimanapun juga.” HR. Ibnu Majah no. 3892 dan dikatakan oleh Al-Albani bahwa hadits ini hasan

([16]) Hal ini berdasarkan hadits riwayat Jabir,

” مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ ”

“Barang siapa yang mengucapkan; SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM WA BIHAMDIHI (Maha Suci Allah yang Maha Agung, dan dengan memujiNya aku ada) maka ditanamkan untuknya pohon kurma di Surga.” HR. At-Tirmidzi no 3464, dan beliau mengatakan hadits ini hasan shohih. Dan Al-Albani juga mengatakan hadits ini shohih

([17]) Ini adalah doa yang diucapkan hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa yang telah diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

“Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fatir: 34)

Dan juga firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”.” (QS. Az-Zumar: 74

([18]) Dalam hadits qudsi disebutkan:

فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الفاتحة: 2]، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي،

“jika seorang hamba mengucapkan “alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin” maka Allah berkata: hambaku telah bertahmid (memujiku).” HR. Muslim no. 395

([19]) HR. Muslim no. 600

([20]) HR. Bukhari no 722

([21]) HR. Bukhori no 796,