Mina

Sebab Dinamakan Mina

Ada beberapa pendapat tentang sebab penaman Mina :

Pertama : Mina dinamakan dengan Mina karena merupakan tempat berkumpulnya manusia. Al-Faakihi berkata :

وَيُقَالُ سُمِّيَتْ مِنًى لِاجْتِمَاعِ النَّاسِ بِهَا. وَالْعَرَبُ تَقُولُ لِكُلِّ مَكَانٍ يَجْتَمِعُ فِيهِ النَّاسُ: مِنًى

“Dan dikatakan bahwa dinamakan Mina karena orang-orang berkumpul di situ. Dan orang-orang Arab menyatakan tentang seluruh tempat yang orang-orang berkumpul di situ dengan Mina” (Akhbaar Makkah, al-Faakihi  4/217)

Kedua : Dinamakan mina karena darah-darah hewan haji yang dialirkan di situ. Al-Fakihi berkata :

وَيُقَالُ: إِنَّمَا سُمِّيَتْ مِنًى لَمَّا يُمْنَى فِيهَا مِنَ الدِّمَاءِ

“Dikatakan bahwasanya dimanakan dengan Mina karena darah-darah yang dialirkan di situ” (Akhbaar Makkah, Al-Fakihi 4/256)

Ketiga : Al-Azroqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Ábbas radhiallahu ánhu bahwasanya ia berkata :

إِنَّمَا سُمِّيَتْ مِنًى مِنًى؛ لِأَنَّ جِبْرِيلَ حِينَ أَرَادَ أَنْ يُفَارِقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ لَهُ: تَمَنَّ , قَالَ: أَتَمَنَّى الْجَنَّةَ فَسُمِّيَتْ مِنًى لِأُمْنِيَّةِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ

“Hanyalah dinamakan dengan Mina karena Jibril ketika hendak meninggalkan Adam álaihis salam maka Jibril berkata kepadanya, “Tammni (berangan-anganlah) !”. Adam berkata, “Aku berangan-angan surga”. Maka dinamakanlah Mina karena angan-angan Adam álaihis salam” (2/180)

Lokasi Mina

Mina terletak di sebelah tenggara Masjidil Haram. Luasnya adalah sekitar 8,16 meter persegi.

Batasan Mina dari arah barat (arah Mekah) adalah Jamrotul ‘Aqobah dan dari arah timur adalah wadi (lembah) Muhassir. Dan keduanya (Jamrotul Áqobah dan wadi Muhassir) bukan termasuk dari Mina.

Adapun Batasan Mina dari arah utara dan selatan maka gunung-gunung yang ada di Mina yang meliputi Mina. Dan wajah gunung-gunung yang mengarah ke Mina termasuk Mina sehingga boleh mabit di gunung-gunung tersebut. Demikian pula bagian gunung yang dibangun di atasnya hotel-hotel atau bangunan juga termasuk dari Mina.

Maka hendaknya seorang haji waspada jangan sampai ia mabit di wadi/lembah Muhassir atau mabit di belakang jamrtul Áqobah, maka keduanya di luar Batasan Mina. (lihat al-Majmuu’, An-Nawawi 8/130 dan Majmuu Fataawa wa Rosaail al-Utsaimin 24/410)

Wadi Muhassir adalah lembah yang memisahkan antara Mina dan al-Muzdalifah. Sekarang di Wadi/lembah Muhassir diletakan plakat-plakat, bagi orang-orang yang datang dari Muzdalifah menuju Mina tertulis نِهَايَةُ الْمُزْدَلِفَةِ “Muzdalifah ends here” dan بِدَايَةُ مِنَى “Mina starts here”. Adapun bagi orang-orang yang datang dari Mina menuju Muzdalifah maka tertulis plakat-plakat نِهَايَةُ مِنَى “Mina ends here” dan بِدَايَةُ الْمُزْدَلِفَة “Muzdalifah starts here” (lihat Hudud al-Masyaaír al-Muqoddasah hal 22)

Mina Jadid

Mina Jadid (Mina Baru) adalah istilah yang masyhur di kalangan para jamaáh haji Indonesia. Maksudnya adalah tenda-tenda yang dibangun di luar arela Mina yaitu dibangun di areal al-Muzdalifah. Hal ini dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi mengingat jumlah jamaáh haji yang begitu banyak sehingga tenda-tenda yang ada di areal Mina sudah tidak bisa lagi menampung dan mencukupi. Sebagian kecil tenda jamaáh haji Indonesia reguler terletak di Muzdalifah (Mina Jadid). Namun para ulama telah membolehkan dan memandang sah mabit di Mina Jadid ini karena kondisi darurat selama kemah-kemah tersebut masih bersambung, sebagaimana kondisi yang ada sekarang.