Hukum meninggalkan Muzdalifah jika Telah Lewat Tengah Malam

Bolehkah meninggalkan Muzdalifah jika telah lewat tengah malam mengikuti rombongan?

Jawab :

Bagi orang-orang yang kuat dan tidak berudzur maka wajib untuk mabit (bermalam) di al-Muzdalifah sampai sholat subuh. Adapun orang-orang yang lemah, seperti anak-anak, para wanita, orang-orang tua, orang-orang sakit, dan yang berudzur maka dibolehkan bagi mereka untuk meninggalkan al-Muzdalifah setelah lewat tengah malam([1])

Rukhsoh (keringanan) ini juga berlaku bagi orang-orang yang kuat namun mereka harus menemani para wanita dan orang-orang yang lemah atau harus menjaga mereka. Sebagaimana Nabi mengutus Ibnu Ábbas (tatkala itu usianya remaja sekitar 14 tahun) untuk menemani orang-orang lemah. Ibnu Ábbas berkata :

بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الثَّقَلِ – أَوْ قَالَ فِي الضَّعَفَةِ – مِنْ جَمْعٍ بِلَيْلٍ

“Rasulullah shallallahu álaihi wasallam mengutus beliau bersama orang-orang lemah untuk keluar dari al-Muzdalifah di malam hari” (HR Muslim no 1293)

Sebagaimana pula Abdullah maula Asmaa’binti Abu Bakar menemani Asmaa’ untuk keluar dari al-Muzdalifah setelah lewat tengah malam (HR Al-Bukhari no 1679 dan Muslim no 1291).

Jika hal ini diperbolehkan di zaman Nabi shallallahu álaihi wasallam yang kepadatannya tidak begitu padat maka bagaimana lagi di zaman sekarang yang hingga jutaan jumlah jamaah haji([2]).

=========

([1]) Diantara yang dizinkan oleh Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk meninggalkan al-Muzdalifah sebelum subuh adalah Ummul mukminin Saudah binti Zamáh (HR Al-Bukhari no 1681 dan Muslim 1290), Ummul Mukminin Ummu Habibah (HR Muslim 1292), Ibnu Ábbas bersama keluarganya yang digolongkan lemah (HR Al-Bukhari no 1678 dan Muslim no 1293). Dan ini juga dilakukan oleh Ibnu Umar dimana beliau menyuruh orang-orang yang lemah dari keluarganya untuk meninggalkan al-Muzdalifah sebelum subuh, dan beliau beralasan bahwa Nabi shallallahu álaihi wasallam memberi keringanan kepada orang-orang lemah (HR Al-Bukhari no 1676 dan Muslim 1295). Demikian juga Asmaa’ binti Abu Bakar meninggalkan al-Muzdalifah sebelum subuh dan beliau beralasan bahwa Nabi membolehkan para wanita untuk itu (HR Al-Bukhari no 1679 dan Muslim no 1291)

([2]) Karenanya kebanyakan jama’ah haji sekarang yang tergabung dalam satu travel atau satu KBIH, mereka dihukumi satu group, dan sangat sulit untuk dipisah-pisah antara yang kuat dan yang lemah. Karenanya mereka boleh meninggalkan al-Muzdalifah setelah lewat tengah malam  meskipun jika mereka bisa bertahan hingga subuh tentu lebih afdol.

Asy-Syaikh Bin Baaz berkata :

إِذَا كَانَ الْحُجَّاجُّ مَعَهُ نِسَاءٌ فَلَهُمُ الرُّخْصَةُ أَنْ يَنْصَرِفُوا مِنْ مُزْدَلِفَة فِي النِّصْفِ الأَخِيْرِ مِنَ اللَّيْلِ لَيْلَةِ النَّحْرِ؛ لأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَخَّصَ لِلضَّعَفَةِ مِنْ أَهْلِهِ أَنْ يَنْصَرِفُوا مِنْهَا بِلَيْلٍ، وَهَذَا ثَابِتٌ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ، وَالَّذِي يَظْهَرُ: أَنَّ أَصْحَابَهُمْ مِثْلُهُمْ، فَالَّذِيْنَ مَعَ النِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ الْقَوَّامِيْنَ عَلَيْهِنَّ وَالرِّفَاقِ الَّذِيْنَ مَعَهُمْ، الَّذِي يَظْهَرُ: أَنَّهُمْ شَيْءٌ وَاحِدٌ، فَإِذَا سُمِحَ لِلضُّعَفَاءِ أَنْ يَنْصَرِفُوا فَالَّذِيْنَ مَعَهُمْ كَذَلِكَ مَسْمُوْحٌ لَهُمُ الاِنْصِرَافُ…إِذَا كَانُوا فِي سَيَّارَةٍ وَاحِدَةٍ تَجْمَعُ رِجَالاً وَنِسَاءً وَشَبَاباً وَشِيْباً فَهَؤُلاَءِ دَرْبُهُمْ وَاحِدٌ، وَلاَ حَرَجَ -إِنْ شَاءَ اللهُ- فِي انْصِرَافِهِمْ جَمِيْعاً وَذَهَابِهِمْ إِلَى مِنَى آخِرَ اللَّيْلِ وَرَمْيِهِمْ الْجَمْرَةَ، وَذَهَابِهِمْ إِلَى مَكَّةَ، كُلُّ هَذَا لاَ حَرَجَ فِيْهِ إِنْ شَاءَ اللهُ؛ لِأَنَّ الضَّعِيْفَ يَتْبَعُهُ الْقَوِيُّ الَّذِي هُوَ فِي رُفْقَتِهِ أَوْ فِي الْقِيَامِ عَلَى شُئُوْنِهِ

“Jika para jamáh haji bersama para wanita maka boleh bagi mereka untuk meninggalkan Muzdalifah setelah lewat tengah malam, yaitu malam hari an-Nahr, karena Nabi shallallahu álaihi wasallam memberi keringanan/rukhshoh kepada istri-istri beliau untuk meninggalkan Muzdalifah di malam hari. Ini telah valid dari Nabi shallallahu álaihi wasallam. Yang nampak bahwasanya orang-orang yang bersama orang-orang yang lemah juga hukumnya seperti mereka. Maka mereka para lelaki yang mengurusi para wanita demikian juga teman perjalnaan yang menemani mereka yang nampaknya mereka dihukumi satu kesatuan. Jika dibolehkan bagi yang lemah (para wanita) untuk meninggalkan Muzdalifah maka dibolehkan juga bagi orang-orang yang bersama para wanita untuk meninggalkan Muzdalifah… Jika mereka berada di satu mobil yang mengumpulkan para lelaki, para wanita, para pemuda, dan para orang-orang tua, maka mereka itu satu jalan (rombongan), dan tidak mengapa -insya Allah- bagi mereka semuanya untuk meninggalkan Muzdalifah dan pergi ke Mina di akhir malam, boleh untuk melempar jamarat, boleh bagi mereka ke Mekah (al-Masjid al-Haroom untuk thowaf dan saí -pen). Hal ini semua tidak mengapa insya Allah, karena orang yang lemah (hukumnya) diikuti oleh orang yang kuat yang merupakan satu rombongan atau mengurusi urusan yang lemah”(Fataawaa Nuur ‘Alaa Ad-Darb, Syaikh Bin Baaz 17/429-430)