Tafsir Surat Al-Maidah Ayat-62

62. وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِّنْهُمْ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ وَأَكْلِهِمُ ٱلسُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

wa tarā kaṡīram min-hum yusāri’ụna fil-iṡmi wal-‘udwāni wa aklihimus-suḥt, labi`sa mā kānụ ya’malụn
62. Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.

Tafsir :

Firman Allah ﷻ,

وَتَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ

“Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram.”

Pada ayat ini Allah ﷻ tidak menyebutkan keseluruhan mereka, melainkan banyak dari mereka.([1])

Oleh karena itu, hendaknya kita berbuat adil di dalam menyikapi suatu kaum. Sebelumnya Allah telah menyebutkan أَكْثَرَكُمْ yaitu mayoritas kalian (kalangan yahudi dan Nasrani) adalah fasik. Jadi bukan seluruhnya.

Allah ﷻ menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melihat banyak dari mereka (kalangan Yahudi) bersemangat melakukan dosa yang berkaitan dengan Allah, ﷻ serta permusuhan, yaitu dosa yang berkaitan dengan manusia.

Karena itu, ketika seseorang hendak berkata, terutama tentang suatu suku atau kelompok atau bangsa tertentu, maka hendaknya dia berhati-hati. Jangan sampai ia salah dengan melakukan generalisasi bahwa suku ini begini, atau suku itu begitu, misalnya. Padahal tidak seluruhnya di suku tersebut demikian.

Kita tahu faktanya dalam suatu kalangan umumnya ada yang buruk dan juga ada yang baik. Jika kita mengatakan banyak di antara mereka buruk, misalnya suka berbohong, atau baik, misalnya suka berderma, maka hal tidak masalah selama faktanya memang demikian.

Begitulah Allah ﷻ menyebutkan tentang kalangan Yahudi di dalam ayat ini. Allah tidak melakukan penyebutan secara generalisasi terhadap seluruh mereka. Melainkan Allah sebutkan bahwa banyak dari mereka merupakan orang-orang yang bersegera bersemangat dalam melakukan dosa, permusuhan dan kezaliman, termasuk dalam hal memakan harta haram, yang mereka tidak peduli dengan hal itu.

Terlebih dalam keyakinan kalangan Yahudi, tidak ada prinsip halal-haram dalam berinteraksi dengan kalangan non Yahudi. Hal-hal yang haram dalam interaksi sesama Yahudi menjadi mereka halalkan apabila transaksinya itu dengan non Yahudi. Mereka melanggar hal-hal haram tersebut.

Tindakan itu didasari oleh keyakinan bahwa non Yahudi diciptakan oleh Allah ﷻ untuk melayani mereka. Dalam sebagian pernyataan mereka, seluruh non Yahudi Bani Israil kedudukannya seperti hewan, namun Allah menciptakan mereka dalam bentuk manusia supaya lebih mudah melayani mereka. Tentu ini termasuk keyakinan yang sangat buruk.

Firman Allah ﷻ,

وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ

“Dan memakan yang haram.”

Mereka suka memakan harta yang haram. Mereka tidak peduli jika mereka melakukan riba, atau perbuatan buruk yang lainnya. Bahkan, mereka dikenal dengan dedengkotnya riba, karena merekalah yang menciptakan riba.

Firman Allah ﷻ,

لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.”

Perbuatan mereka sangat buruk. Perbuatan para pembesar mereka ada yang lebih buruk lagi dari itu. Allah ﷻ berfirman,

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.”

Kenapa para ulama dan pendeta mereka tidak melarang umatnya untuk berbuat dosa dan melakukan kezaliman?

Para ulama mereka tidak melarang umatnya dari perbuatan mungkar. Mereka biarkan saja kemungkaran di hadapan tanpa menegurnya. Hal ini supaya kedudukan mereka tetap dihormati, dan tetap mendapatkan harta dari umatnya. Mereka diam dari kemungkaran umatnya, karena menjaga posisi dan keuntungan duniawi.

Allah ﷻ menyebutkan ini agar umat Islam jangan mengikuti langkah-langkah mereka. Jangan sampai seorang dai atau ustaz diam dari kemungkaran agar dia tetap disenangi publik. Supaya jadwal ceramahnya dan pemberian publik lancar, misalnya. Motif semisal ini tidak diperbolehkan dan termasuk sifat pemuka Yahudi dan Nasrani.

Karena itulah Allah ﷻ berfirman,

لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.”

Perbuatan para pendeta Yahudi dan Nasrani, yang enggan beramar makruf nahi mungkar, itu lebih buruk dibandingkan perbuatan umatnya yang melanggar aturan Allah ﷻ.

Maka seorang dai memiliki tugas yang berat. Jika ada kemungkaran, maka hendaknya dia menegur dengan cara yang baik. Hendaknya dia tidak takut ditinggalkan oleh jamaahnya dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Dia harus berani mengatakan yang haram sebagai haram dan yang salah itu salah. Terlebih jika dia dijadikan rujukan oleh umat. Jangan sampai dia mendiamkan dan menyembuyikan sesuatu yang haram, sedangkan ia sudah tahu secara jelas keharamannya, hanya karena ia takut ditinggalkan oleh umat. Yang demikian ini tercela dan termasuk sifat pemuka Yahudi.

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Ibn ‘Utsaimin, vol. V, hlm. 122.