Tafsir Surat Al-An’am Ayat-51

51. وَأَنذِرْ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّهِمْ ۙ لَيْسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِىٌّ وَلَا شَفِيعٌ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

wa anżir bihillażīna yakhāfụna ay yuḥsyarū ilā rabbihim laisa lahum min dụnihī waliyyuw wa lā syafī’ul la’allahum yattaqụn
51. Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.

Tafsir :

Dalam ayat ini Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk memperingatkan orang-orang kafir dengan Al-Qur’an([1]). Sungguh Al-Qur’an sarat akan peringatan, baik yang disampaikan secara tersurat, maupun tersirat kisah-kisah yang indah([2]). Maka, sepantasnya bagi masing-masing kita untuk senantiasa mengoreksi hati, apakah ia dapat terenyuh ketika mendengar peringatan dari Al-Qur’an, ataukah tidak? Allah ﷻ berfirman,

﴿لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr: 21)

Dalam ayat ini, Allah ﷻ menyebutkan bahwa orang-orang yang bisa mengambil peringatan dari Al-Qur’an, adalah orang-orang yang takut akan Hari Kebangkitan, ketika mereka akan dikumpulkan di hadapan Allah ﷻ. Sungguh mereka itulah, mereka yang senantiasa khawatir dan memikirkan Hari Kiamat, merekalah yang akan Allah ﷻ sirnakan segala ketakutan dan kekhawatiran dari hatinya kelak. Mengapa demikian? Karena merekalah yang senantiasa perhatian dan bersemangat untuk menambah pundi-pundi amal saleh mereka selama di dunia. Sebaliknya, mereka yang mengingkari Hari Kiamat dan tidak pernah memperdulikan perjumpaan denganNya, kelak mereka akan sengsara. Mengapa demikian? Karena mereka tidak pernah peduli akan amal mereka di dunia, sehingga mereka menghabiskan segala karunia yang Allah ﷻ berikan kepada mereka dengan sia-sia.

Dalam ayat lain, Allah ﷻ menyebutkan bahwa ciri-ciri penduduk Surga adalah mereka takut akan Hari Kiamat,

﴿قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ٢٦ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ ٢٧ ﴾

“Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)’. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (QS. At-Tur: 26-27)

Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman,

﴿وَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ﴾

“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)

Sebaliknya, Allah ﷻ menceritakan tentang orang-orang yang tidak takut dengan Hari Kiamat ketika di dunia,

﴿وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ  ١٠ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا  ١١ وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا  ١٢ إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا  ١٣ إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ  ١٤ ﴾

“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku’. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (Al-Insyiqaq: 10-14)

Dahulu orang-orang kafir bersama keluarganya hanya bersenang-senang dan tidak memikirkan tentang Hari Akhir, tidak memikirkan bagaimana nanti mereka dibangkitkan, tidak memikirkan bagaimana kelak hartanya akan dihisab oleh Allah ﷻ, tidak memikirkan tanggung jawabnya terhadap anak-anak, dan lainnya. Mereka hanya bersenang-senang tanpa memikirkan bahwa segala perbuatan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

Allah ﷻ juga menyebutkan bahwa di Hari Akhirat kelak tidak ada yang mampu menolong dan memberi syafaat kecuali atas izin dan keridaan dari Allah ﷻ. Maka, mereka yang masih terlalaikan, mereka yang masih beribadah kepada selainNya, hendaknya mereka menyadari hal ini. Hendaknya mereka segera bertobat, kembali kepadaNya, beramal saleh, dan mengikhlaskan segala peribadatan mereka untukNya.

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (11/373).

([2]) Lihat: Tafsir Utsaimin surah Al-An’am hlm. 262.