Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat-45

45. يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

yā ayyuhan-nabiyyu innā arsalnāka syāhidaw wa mubasysyiraw wa nażīrā
45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Tafsir :

Allah ﷻ berfirman,

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 45-46)

Inilah ketiga kalinya Allah ﷻ memanggil Nabi Muhammad ﷺ. Di antara faidahnya adalah Allah ﷻ ingin mengangkat derajat Nabi Muhammad ﷺ. Di dalam ayat ini Allah ﷻ memuji beliau ﷺ dengan banyak pujian, di antaranya:

  1. Allah ﷻ memanggilnya dengan ‘Wahai Nabi’, artinya sifat Nubuwah. Nabi Muhammad ﷺ adalah pembawa kabar yang penting
  2. Firman Allah أَرْسَلْنَاكَ “Kami telah mengutusmu” menunjukan Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rasul. Jadi, Nabi Muhammad ﷺ telah terkumpul pada dirinya sifat seorang nabi dan rasul. Setiap rasul adalah nabi, tetapi tidak semua nabi adalah rasul, karena kedudukan rasul adalah lebih tinggi daripada nabi.
  3. Saksi شَاهِدًا. Para ulama menyebutkan bahwa maksudnya adalah Nabi Muhammad ﷺ menjadi saksi di dunia dan di akhirat. Adapun di dunia, Rasulullah ﷺ menjadi saksi atas kebenaran nabi-nabi dan kitab-kitab terdahulu dan menjadi saksi apa saja yang telah diselewengkan dan dirubah. Karena semua yang tidak sesuai dengan standar Al-Quran dari isi kitab terdahulu telah diselewengkan. Oleh karenanya, Allah ﷻ berfirman,

مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya,” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Artinya Rasulullah ﷺ menyaksikan bagaimana nabi-nabi terdahulu pernah diutus oleh Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ membenarkan ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu. Akan tetapi, ada yang pernah diubah dan Rasulullah ﷺ sebagai saksi bahwa ajaran mereka telah dirubah. Inilah fungsi Nabi Muhammad ﷺ sebagai saksi di dunia.

Adapun Nabi Muhammad ﷺ sebagai saksi di akhirat, Allah ﷻ juga telah berfirman,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

“Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” (QS. An-Nisa’: 41)

Pada hari kiamat kelak Nabi Muhammad ﷺ akan menjadi saksi bagi umatnya bahwasanya mereka telah beriman kepada beliau ﷺ. Selain itu, beliau ﷺ juga menjadi saksi bagi nabi-nabi yang lain. Ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam menjadi saksi bagi umatnya, lalu umatnya menyatakan bahwa Nuh bohong, maka Rasulullah ﷺ menjadi saksi untuk Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Begitu juga beliau ﷺ menjadi saksi untuk nabi-nabi yang lain bahwasanya para nabi tersebut telah menyampaikan dakwahnya kepada umatnya. Hanya saja, umatnya tidak mau menerimanya. Nabi Muhammad ﷺ menjadi saksi di dunia dan menjadi saksi di akhirat untuk nabi-nabi terdahulu. Inilah sifat keistimewaan bagi nabi yang terakhir.([1])

  1. Pemberi kabar gembira مُبَشِّراً. Nabi Muhammad ﷺ memberikan kabar gembira tentang bagaimana orang-orang beriman mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira tentang ketaatan-ketaatan dan pahala-pahalanya. Allah ﷻ mendahulukan sifat Nabi Muhammad ﷺ sebagai pembawa berita, karena beliau ﷺ lebih banyak menyampaikan kabar gembira dari pada peringatan. ([2])
  2. Pemberi peringatan نَذِيراً . Nabi Muhammad ﷺ memberikan peringatan kepada semua manusia seluruhnya. Barang siapa yang tidak mau mengikuti ajaran Allah ﷻ dan rasul-Nya, maka mereka akan sengsara di dunia, sebelum di akhirat. Azab yang pedih menanti mereka semua. ([3])

Sebagaimana ketika Rasulullah ﷺ mengumpulkan orang-orang Quraisy, maka beliau bersabda,

فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

“Sesungguhnya aku pemberi peringatan kepada kalian dari azab yang pedih.”([4])

  1. Menyeru kepada Allah ﷻ.
  • Nabi Muhammad ﷺ menyeru untuk bertemu dengan Allah ﷻ di surga. Beliau ﷺ menyeru kepada umatnya. ‘Jika kalian ingin masuk ke dalam surga, hendaklah kalian mengikuti jalanku’.
  • Dakwah Nabi Muhammad ﷺ ikhlas untuk menuju Allah ﷻ dan bukan untuk kepentingan duniawi. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ tidak pernah marah jika terjadi suatu pelanggaran yang berkaitan dengan dirinya. Akan tetapi, jika ada perkara-perkara Allah ﷻ yang dilanggar, maka Nabi Muhammad ﷺ sangat marah. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ berdakwah untuk Allah ﷻ, bukan untuk diri beliau ﷺ ([5])

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

مَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ حَتَّى يُنْتَهَكَ مِنْ حُرُمَاتِ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ

“Rasulullah tidak pernah marah untuk dirinya sendiri pada setiap perkara yang datang kepadanya, sehingga perkara tersebut termasuk ke dalam hal-hal yang diharamkan Allah, maka beliau pun marah karena Allah.”([6])

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ berdakwah kepada Allah ﷻ, bukan menyeru manusia kepada dirinya. Beliau ﷺ hanyalah wasilah/ perantara antara dia dengan Allah ﷻ. Bahkan, jika ada sesuatu yang menyinggung dirinya, maka beliau tidak membalasnya.

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ”inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, aku berdakwah kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf: 108).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

التَّنْبِيْهُ إِلَى الإِخْلاَصِ لِأَنَّ كَثِيْرًا وَلَوْ دَعَا إِلَى الْحَقِّ فَهُوَ يَدْعُو إِلَى نَفْسِهِ

“Peringatan untuk ikhlas, karena banyak orang meskipun berdakwah kepada kebaikan akan tetapi mereka menyeru kepada diri mereka”.([7])

Sejatinya ini adalah sebuah penyakit. Oleh karenanya, hendaknya setiap orang selalu berhati-hati. Beliau mengingatkan kepada kita agar bahwa jika kita berdakwah hendaknya berdakwah kepada Allah ﷻ, bukan kepada diri pribadi.

Di antara ciri-ciri seseorang jika dia berdakwah kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah ﷻ adalah:

  • Jika ada orang lain yang berdakwah selain dirinya, maka dia merasa hasad/cemburu/dengki.

Hatinya penuh dengan sifat buruk, dikarenakan ada orang lain yang berhasil selain dia. Ini menunjukkan bahwa dia tidak menyeru kepada Allah ﷻ. Sudah seharusnya jika dia benar-benar menyeru kepada Allah ﷻ, maka dia akan merasa bahagia. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam,

قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيْكُمَا بِآيَاتِنَا أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ

“Dia (Allah) berfirman, “Kami akan menguatkan engkau (membantumu) dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak akan dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamu yang akan menang.” (QS. Al-Qasas: 35)

Sudah seharusnya seseorang merasa bahagia jika ada dai-dai lain yang berdakwah di atas sunah. Tugasnya semakin berkurang, sedangkan banyak orang yang semakin bertambah mengenal sunah Nabi Muhammad ﷺ.

Seperti halnya kita banyak menjumpai sarana-sarana dakwah, majelis-majelis taklim dakwah, hendaknya kita merasa bahagia, karena dakwah telah tersebar. Tidak ada yang sanggup untuk mendakwahi manusia seluruhnya. Oleh karenanya, di antara ciri orang yang berdakwah kepada dirinya adalah dia tidak suka jika ada orang lain yang berdakwah bersama dia.

  • Jika dia berkata dan ada perkataan yang menyelisihinya, maka dia marah.

Dia marah bukan karena syariat Allah ﷻ dilanggar, tetapi karena dia tidak mau diselisihi. Dia menginginkan kebenaran pada dirinya sendiri. Dia ingin perkataannya diikuti. Maka dari itu, ini menunjukkan bahwa dia menyeru kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah ﷻ.

Oleh karenanya, kita harus introspeksi diri tentang ikhlasnya niat kita. Tidak ada yang jamin bahwa kita semua bisa ikhlas dalam beribadah. Jangan sampai kita ini merasa ikhlas dalam berdakwah di jalan Allah ﷻ, tetapi kenyataannya kita berdakwah untuk diri sendiri. Akhirnya, tidak ada pahala sedikitpun yang kita dapatkan di akhirat kelak.

Dakwah adalah ibadah yang agung, jika tidak dibangun di atas keikhlasan, maka akan berakhir percuma. Jangan teperdaya dengan pengikut yang banyak. Bukankah Nabi Muhammad ﷺ pernah mengabarkan, bahwa akan ada seorang dai yang dipanggil oleh Allah ﷻ. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan dengan pahalanya, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?’, dia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. (Orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya -pen), maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat padanya?’, dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, ‘Dia adalah qari`’,  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. (Yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta, lalu dia didatangkan, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya-pen), lalu dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat padanya?’ dia menjawab, ‘Aku tidak menyisakan satu jalan pun yang Engkau senangi kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang dermawan,’ dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” ([8])

Oleh karenanya, bagi seluruh dai, majelis taklim, sarana dakwah ataupun sarana pendidikan, hendaknya selalu menyeru kepada Allah ﷻ, bukan kepada diri sendiri atau instansi tersebut. Oleh karenanya, hendaknya seseorang merasa bahagia jika saling bersinergi dalam berdakwah kepada Allah ﷻ, sehingga orang-orang mengenal sunah Nabi Muhammad ﷺ.

Jangan sampai, selama ini kita merasa ikhlas, lalu teperdaya dengan pujian banyak orang dan pengikut, sehingga dia tidak merasa bahwa dia menyeru kepada dirinya sendiri. Orang-orang bahagia dengan dakwah kita, tetapi sejatinya dia membinasakan dirinya sendiri, karena selama ini kita berdakwah kepada diri sendiri.

  1. Dengan izin-Nya بِإِذْنِهِ. Beliau berdakwah dengan ijin Allah ﷻ.

Sebagian ulama -seperti Thahir bin ‘Asyur- menyebutkan bahwasanya Allah ﷻ menjelaskan tentang sifat Nabi Muhammad ﷺ ketika berdakwah kepada Allah ﷻ dengan izin-Nya, karena dakwah beliau ﷺ sangat berat. Nabi Muhammad ﷺ diutus kepada suatu zaman yang sangat rusak. Bukan hanya di jazirah Arab saja, tetapi di dunia ini.([9])

Rasulullah ﷺ bersabda,

وَإِنَّ اللهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ، إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

“Sesungguhnya Allah melihat kepada penghuni bumi, lalu Allah murka terhadap mereka, baik orang-orang arab ataupun selain arab, kecuali segelintir dari kaum ahli kitab.” (([10]))

Tidaklah Rasulullah ﷺ mampu berdakwah kepada mereka seluruhnya dan menghadapinya, kecuali karena ijin Allah ﷻ.

Ini menjadi peringatan kepada kita, jika kita berhasil di dalam dakwah kita, hendaknya kita ingat bahwa itu semua karena izin Allah ﷻ, bukan karena diri kita pribadi. Jangan sampai kita terkena ujub. Dengan pertolongan Allah ﷻ, Nabi Muhammad ﷺ bisa berdakwah menembus pemikiran yang sedang parah ketika itu, di mana orang-orang banyak yang melakukan kesyirikan yang sudah mendarah daging di dalam diri mereka. Namun, karena izin Allah ﷻ, Akhirnya Nabi Muhammad ﷺ berhasil mambawa dakwahnya.

  1. Cahaya yang menerangi سِراجاً مُنِيراً.

Sifat dari cahaya adalah menerangi. مُنِيراً adalah sifat yang melazimi سِراجاً. Para ulama berpendapat Allah ﷻ menyebutkan demikian untuk menjelaskan bahwasanya ajaran Nabi Muhammad ﷺ adalah perkara yang sangat jelas. Semua syubhat telah dibantah, semua pemikiran rusak dibantah, semua kebutuhan umat dijelaskan, baik perkara dunia, maupun perkara akhirat semuanya telah jelas([11]). Allah ﷻ berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Semuanya telah dibahas di dalam agama Islam, baik dalam masalah rumah tangga, pekerjaan, kenegaraan, interaksi dengan orang-orang muslim, orang yang bermaksiat maupun orang kafir, bagaimana jika berperang atau berdamai dengan orang kafir, bagaimana adab di dalam berperang ataupun bagaimana adab dalam buang hajat. Semuanya telah lengkap dijelaskan di dalam agama Islam.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ disebut dengan cahaya yang menerangi, karena ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah benar-benar jelas berupa cahaya yang menerangi. Ini menjadi pujian Allah ﷻ kepada beliau ﷺ.

________________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/51).

([2]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/51).

([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/51).

([4]) HR. Bukhari, No. 4770.

([5]) Lihat: Tafsir al-‘Utsaimin, Surat Al-Ahzab, (hlm. 340).

([6]) HR. Bukhari, No. 6853.

([7]) Kitab At-Tauhid, (hlm. 21).

([8]) HR. Muslim No. 1905.

([9]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/55).

([10]) HR. Muslim no. 2865.

([11]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/55).