Tafsir Surat Saba’ Ayat-28

28. وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa mā arsalnāka illā kāffatal lin-nāsi basyīraw wa nażīraw wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn
28. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

Tafsir :

Firman Allah ﷻ,

﴿ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ ﴾

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya”

Kata كَافَّةً dalam bahasa Arab di-i’rab sebagai hal, dan shahibul hal-nya adalah لِلنَّاسِ. Susunan asalnya وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا لِلنَّاسِ كَافَّةً . Akan tetapi, didahulukan hal daripada shahibul hal untuk penekanan, sehingga ini bisa menjadi pusat perhatian bahwa Rasulullah ﷺ  diutus untuk seluruh  manusia, bukan hanya untuk orang-orang Arab. ([1])

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿ قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا ﴾

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al-A’raf: 158)

﴿ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ﴾

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

﴿ تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا ﴾

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

Rasulullah ﷺ  diutus kepada seluruh manusia sebagai konsekuensi dari nabi terakhir. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً

“Para nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia”. ([2])

Konsekuensi nabi terakhir adalah dia harus diutus kepada seluruh manusia dan tidak ada nabi lain setelahnya yang diutus untuk kaum yang lain.

Firman Allah ﷻ,

﴿ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ﴾

“sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”

Kata بَشِيرًا dan نَذِيرًا di-i’rab sebagai hal dari Rasulullah ﷺ ([3]). Beliau sebagai pemberi kabar gembira agar orang-orang beriman masuk surga, dan juga sebagai pemberi peringatan kepada orang-orang kafir dan para pelaku maksiat  tentang neraka Jahanam yang sangat mengerikan.

Demikianlah tugas Nabi Muhammad ﷺ, yaitu sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Semua ini memberikan faedah bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ hanyalah hamba yang ditugaskan dan diperintahkan. Nabi Muhammad ﷺ bukanlah Tuhan yang mengatur hidayah hati manusia, beliau hanya memberikan penjelasan. Masalah hidayah bukan berada di tangan Rasulullah ﷺ. Oleh karenanya, ketika Rasulullah ﷺ  terluka dalam perang Uhud beliau berkata,

كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ، وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللهِ؟

“Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung, sedangkan mereka melukai nabinya dan mematahkan gigi gerahamnya”

Maka Allah ﷻ menegurnya,

﴿ لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ ﴾

“Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.” (QS. Ali Imran: 128) ([4])

Allah ﷻ menurunkan ayat ini sebagai teguran kepada Nabi Muhammad ﷺ. Masalah mereka nanti bertobat atau diazab maka semua itu urusan Allah ﷻ. Masalah hidayah bukanlah di tangan Rasulullah ﷺ. Oleh karenanya, ketika Rasulullah ﷺ  berusaha mendakwahi pamannya Abu Thalib yang kemudian meninggal dalam kondisi kufur, maka Allah ﷻ berfirman,

﴿ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴾

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Hal ini dikarenakan tugas Nabi Muhammad ﷺ adalah memberi kabar gembira dan peringatan. Beliau memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagai rasul, namun beliau bukanlah Tuhan. Beliau tidak bisa menentukan siapa yang berhak mendapatkan hidayah dan siapa yang tidak berhak. Beliau hanya bisa berdoa meminta hidayah untuk orang tertentu, akan tetapi doanya belum tentu dikabulkan.

Firman Allah ﷻ,

﴿ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴾

“tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”

Al-Qurthubi mengatakan maksud ayat ini adalah kebanyakan orang di zaman tersebut tidak mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ  diutus untuk seluruh umat manusia([5]). Ada juga yang mengatakan bahwasanya kebanyakan manusia saat itu tidak mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ  diutus sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Bahkan jika kita perhatikan pada zaman sekarang ini kebanyakan manusia adalah kafir. Akan tetapi, kelak ketika Nabi Isa ‘alaihissalam turun maka kaum muslimin yang akan menguasai.

Orang-orang kafir meskipun mereka kufur, akan tetapi ketika kita berbicara dengan mereka ada adab-adab dan aturan-aturan. Kita harus mempertimbangkan dalam berbicara dengan mereka, bagaimana caranya agar mereka tertarik dengan dakwah kita. Hal ini sebagaimana Rasulullah ﷺ  ketika menulis surat kepada Heraklius,

مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ

“dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraklius pembesar Romawi.” ([6])

Beliau tidak mengatakan, “dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Si Kafir”. Ketika berbicara maka kita menggunakan bahasa-bahasa yang lembut agar mereka bisa mengenal indahnya Islam. Namun, tetap saja status mereka adalah kafir. Dalam hal tertentu boleh kita berlaku tegas dengan mengatakan bahwa mereka orang kafir, sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴾

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir.” (QS. Al-Kafirun: 1)

Akan tetapi semua ini melihat kepada situasi dan kondisi.

________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-‘Utsaimin, surah Saba’ hlm. 191.

([2]) HR. Bukhari No. 438 dan  Muslim No. 521.

([3]) Lihat: Tafsir al-‘Utsaimin, surah Saba’ hlm. 192.

([4]) HR. Muslim No. 1791.

([5]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/301).

([6]) HR. Ahmad No. 2370 dan dikatakan oleh Syuaib Al-Arnauth hadits ini sahih.