Tafsir Surat Saba’ Ayat – 1

1. ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَهُ ٱلْحَمْدُ فِى ٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَهُوَ ٱلْحَكِيمُ ٱلْخَبِيرُ

al-ḥamdu lillāhillażī lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa lahul-ḥamdu fil`ākhirah, wa huwal-ḥakīmul-khabīr
1. Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Tafsir:

Firman-Nya,

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ ﴾

“Segala puji bagi Allah”

Allah ﷻ membuka surah ini dengan memuji diri-Nya. الْ pada kata الْحَمْدُ berfungsi untuk istighraq ([1]), menunjukkan untuk semua jenis pujian, dan huruf ل pada kata لِلَّهِ adalah untuk istihqaq yang artinya hanya Allah ﷻ yang berhak([2]). Sehingga makna الْحَمْدُ لِلَّهِ adalah segala jenis pujian hanya milik Allah ﷻ.

Oleh karenanya kita dapati Allah ﷻ memuji diri-Nya dalam banyak perkara. Adapun makhluk, mereka dipuji karena pemberian Allah ﷻ, dan mereka tidak dipuji secara dzatnya. Hanya Allah ﷻ semata yang benar-benar berhak mendapatkan segala bentuk pujian.

Allah ﷻ dipuji karena beberapa hal:

  1. Allah ﷻ dipuji karena kerajaannya yang meliputi segalanya, sebagaimana yang disebutkan pada ayat pertama dalam surah ini.
  2. Allah ﷻ dipuji karena perbuatan-Nya. Allah ﷻ berfirman,

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ﴾

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (QS. Al-An’am: 1)

Di sini Allah memuji diriNya dengan menyebutkan perbuatanNya yaitu menciptakan langit dan bumi, menciptakan gelap dan terang.

  1. Allah ﷻ dipuji karena sempurnanya syariat-Nya yang Ia turunkan. Allah ﷻ berfirman,

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ﴾

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” (QS. Al-Kahfi: 1)

Yaitu Allah memuji syari’at Allah yang ada pada al-Qur’an yang sama sekali tidak ada kebengkokan di dalamnya.

  1. Allah ﷻ dipuji karena segala keputusan-Nya, bahkan Allah ﷻ dipuji ketika mengazab. Allah ﷻ berfirman,

﴿ فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 45)

Hal ini dikarenakan semua keputusan Allah ﷻ adalah yang terbaik, dan orang-orang zalim tersebut memang pantas untuk dibinasakan.

  1. Allah ﷻ memuji diri-Nya ketika memutuskan orang-orang kafir untuk masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا ﴾

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam secara berbondong-bondong.” (QS. Az-Zumar: 71)

Hingga firman-Nya,

﴿ وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾

“Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.” (QS. Az-Zumar: 75)

Semua ini untuk menunjukkan bahwasanya Allah ﷻ dipuji dalam segala hal. Demikian juga kita memuji Allah ﷻ ketika tertimpa musibah, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ

وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Ketika beliau melihat sesuatu yang tidak disukai beliau mengucapkan, ‘segala puji bagi Allah atas setiap keadaan’.” ([3])

Kita tahu bahwa di balik ketetapan Allah ﷻ berupa musibah pasti ada hikmah yang Allah ﷻ kehendaki. Oleh karenanya semua keputusan Allah ﷻ adalah yang terbaik. Sehingga Allah ﷻ dipuji atas segala perbuatan-Nya, keputusan-Nya, dan syariat-Nya.

Allah ﷻ dipuji karena dua hal:

Pertama: karena sifat-sifat-Nya yang sangat mulia (Maha dalam segala sifat-Nya).

Kedua: karena kebaikan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya.

Kita sering memuji Allah ﷻ dari sisi kedua ini. Sesungguhnya Allah ﷻ tidak dipuji hanya ketika memberi nikmat saja. Akan tetapi Allah ﷻ juga dipuji karena sifat-sifatnya yang begitu indah.

Firman-Nya,

﴿ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ﴾

“yang memiliki seluruh yang di langit dan seluruh yang di bumi”

Huruf مَا pada ayat ini adalah isim maushul yang memberikan faedah keumuman sehingga maknanya adalah seluruh. Langit datang bentuk jamak dikarenakan langit memiliki tujuh lapis. ([4])

Firman-Nya,

﴿ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ ﴾

“Dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat”

Tentunya Allah ﷻ tidak hanya dipuji di akhirat saja, namun Allah ﷻ juga dipuji di dunia. Lalu mengapa Allah ﷻ mengkhususkan penyebutan pujian di akhirat saja? Terdapat dua sebab:

Pertama: di dunia masih ada orang yang tidak memuji Allah ﷻ. Adapun di akhirat semua memuji Allah ﷻ. Semua ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh as-Sa’di rahimahullah. Lebih dari itu, bahkan orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka Jahanam, mereka akan memuji Allah ﷻ di dalam hati mereka. Hal ini dikarenakan mereka mengetahui keadilan Allah ﷻ.

Kedua: di akhirat pujian kepada Allah ﷻ  semakin tinggi karena rahasia-rahasia tersingkap. Di antaranya akan tampak keadilan Allah ﷻ pada hari akhir. Ketika Allah ﷻ menyidang seluruh makhluk, akan tampak rahmat Allah ﷻ kepada orang-orang yang beriman, dan akan tampak keindahan wajah Allah ﷻ sehingga semakin membuat seluruh makhluk memuji-Nya.

Inilah sebab pengkhususan pujian untuk Allah ﷻ di akhirat. Pembahasan yang sangat indah dalam masalah ini adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya yang belum penulis dapatkan pada kitab tafsir yang lain. ([5])

Sebagian ulama mengatakan bahwa Allah ﷻ akan menyingkap takdir-takdir-Nya sehingga akan tampak hikmah Allah ﷻ. Saat ini banyak hal yang logika kita tidak dapat mencernanya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama,

وَهُوَ سِرُّ اللَّهِ المَكْتومُ

“Dan Takdir adalah rahasia Allah yang tertutup.” ([6])

Tidak ada yang tahu tentang takdir Allah ﷻ baik itu malaikat atau para nabi. Akan tetapi, ketika di akhirat sebagian ulama mengatakan bahwa rahasia tersebut akan tersingkap hikmahnya, sehingga akan semakin membuat seluruh makhluk memuji Allah ﷻ.

Demikian juga ketika Rasulullah ﷺ  sujud di padang mahsyar untuk memberi syafaat uzhma, beliau berkata,

وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِي الآنَ

“kemudian Allah memberikan ilham kepadaku pujian-pujian yang belum aku ketahui sekarang.” ([7])

Di dunia ini Rasulullah ﷺ  belum bisa memuji Allah ﷻ dengan pujian tersebut karena Allah ﷻ belum mengilhamkan kepadanya. Oleh karenanya Rasulullah ﷺ  bersabda,

لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ

“Aku tidak bisa menyebut semua pujian-Mu.” ([8])

Namun, ketika di akhirat Rasulullah ﷺ  akan sujud di bawah Arsy untuk meminta Allah ﷻ untuk segera memulai persidangan, dan Rasulullah ﷺ  memuji Allah ﷻ dengan pujian-pujian yang Allah ﷻ ilhamkan kepadanya.

Penghuni surga juga memuji Allah ﷻ. Ketika memasuki surga mereka berkata,

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ﴾

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 43)

Bahkan, penghuni surga ketika sangat bersyukur kepada Allah ﷻ, mereka berzikir dengan mudah sebagaimana mereka bernafas. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ، كَمَا تُلْهَمُونَ النَّفَسَ

“Mereka diberikan ilham bertasbih dan tahmid sebagaimana kalian diberikan ilham untuk bernafas.” ([9])

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa sebagaimana kalian ketika bernafas tidak membutuhkan sesuatu yang berat maka demikian juga penghuni surga, mereka bertasbih dan tahmid dengan mudah seperti mereka bernafas. Mereka tidak diperintahkan untuk berzikir sebagai bentuk ibadah, akan tetapi mereka bertasbih kepada Allah ﷻ sebagai bentuk kenikmatan  yang mereka rasakan([10]). Hal ini dikarenakan mereka sangat mencintai Allah ﷻ, sebagaimana kondisi seseorang yang sering menyebut nama orang yang dicintai.

Inilah rahasia yang dijelaskan oleh para ulama mengapa Allah ﷻ mengkhususkan penyebutan pujian di akhirat.

Firman Allah ﷻ,

﴿ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ ﴾

“Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Kata الْحَكِيمُ  ada beberapa penafsiran, bisa bermakna الحَاكِم yang artinya pemberi keputusan, dan juga bisa bermakna الْحَكِيمُ. Wallahu a’lam, berkaitan dengan ayat ini yang lebih tepat adalah dengan makna الْحَكِيمُ.

Kata الْحَكِيمُ memiliki dua makna, yaitu semua keputusannya muhkam (kokoh), atau maknanya adalah ذُو الْحِكْمَة yang artinya segala keputusannya dibangun di atas hikmah([11]). Makna kedua lebih kuat kaitannya dengan konteks sebelumnya yang menyebutkan bahwa Allah ﷻ terpuji dalam segala hal karena semua keputusannya dibangun di atas hikmah.

Ahlusunah waljamaah menetapkan sifat hikmah. Adapun Asyairah menolak sifat al-hikmah karena terpengaruh dengan filsafat Yunani seperti Plato dan Aristoteles yang mereka disebut dengan الفَلَاسِفةُ العَقْلَانِيُوْنَ (Filsafat Rasionalitas). Intinya menurut Asyairah, Allah ﷻ tidak boleh berbuat atau menciptakan sesuatu karena ada tujuan. Jika Allah ﷻ menciptakan karena ada tujuan maka mengharuskan Allah ﷻ membutuhkan kepada tujuan tersebut, dan ini menunjukkan tidak sempurnanya Allah ﷻ. Allah ﷻ baru akan menjadi sempurna kalau tujuannya tercapai, jika tidak tercapai maka Allah ﷻ belum sempurna. Mereka mengatakan bahwa Allah ﷻ telah maha sempurna tanpa harus ada tujuan tersebut. Inilah pola pikir mereka, sebagaimana disebutkan oleh ar-Razi dalam kitabnya Muhasshal Afkar al-Mutaqaddimin wal al-Mutaakhirin. Ini merupakan syubhat akal, sehingga mereka mengatakan bahwa Allah ﷻ melakukan suatu perbuatan tanpa tujuan. Intinya mereka mengatakan bahwa Allah ﷻ menciptakan sesuatu tanpa tujuan. Bagi kita, jika seseorang melakukan suatu perbuatan tanpa tujuan maka dia tidak hikmah.

Ahlusunah waljamaah mengatakan bahwa Allah ﷻ melakukan sesuatu karena memiliki tujuan. Allah ﷻ tidak sembarangan ketika menciptakan dan memutuskan. Semua perbuatan-Nya memiliki tujuan, Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ahlusunah waljamaah menetapkan bahwasanya Allah ﷻ adalah al-Hakim yang di antara maknanya ذُو الْحِكْمَة yang artinya Allah ﷻ tidak menciptakan sesuatu kecuali dengan hikmah-Nya. Karena itu Allah ﷻ dipuji dalam segala keputusan-Nya, dan di balik keputusan-Nya pasti ada hikmah.

Sifat الْخَبِيرُ lebih spesifik dari sifat ilmu. Al-Khabir adalah sifat ilmu tentang perkara-perkara yang detail([12]). Karena Allah ﷻ yang menciptakan segala sesuatu yang berada di langit dan di bumi, dan Dia melakukannya dengan hikmah maka Dialah satu-satunya yang berhak untuk dipuji. Allah ﷻ berfirman,

﴿ أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴾

“Bukankah yang menciptakan lebih mengetahui terhadap yang diciptakan?” (QS. Al-Mulk: 14)

Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ ﴾

“dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”(QS. Al-An’am: 59)

Tentunya ini bertentangan dengan pendapat filsuf seperti Ibnu Sina dan yang lainnya yang mengatakan bahwa Allah ﷻ hanya mengetahui ilmu secara  global.

Footnote:

________

([1]) Lihat: Tafsir Ibnu Athiyyah (4/404).

([2]) Lihat: Tafsir ‘Utsaimin, surah Saba’, hlm. 13.

([3]) HR. Ibnu Majah No. 3803, dinyatakan hasan oleh al-Albani.

([4]) Lihat: Tafsir ‘Utsaimin, surah Saba’, hlm. 15-16.

([5]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (1/674).

([6]) Al-Imta’ Wa al-Muanasah, hlm. 227.

([7]) HR. Bukhari No. 7510.

([8]) HR. Muslim No. 486.

([9]) HR. Muslim No. 486.

([10]) Lihat: Majmu’ al-Fatawa (4/330).

([11]) Lihat: Tafsir ‘Utsaimin, surah Saba’, hlm. 17-18.

([12]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (1/674).