Tafsir Surat Al-Waqi’ah Ayat-3

3. خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ

khāfiḍatur rāfi’ah
3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).

Tafsir :

Apa maksud dari hari kiamat akan merendahkan dan meninggikan? Banyak Ahli Tafsir mengatakan bahwa ada orang-orang yang tatkala di dunia dia tinggi, hebat, dan dihormati, maka pada hari kiamat dia akan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan ada orang yang di dunia dahulu dia rendah, dan bahkan dihinakan oleh manusia, akan tetapi pada hari kiamat dia akan dimuliakan (diangkat) oleh Allah Subhanahu wa ta’ala([1]).

Peristiwa hari kiamat ternyata akan membongkar hakikat manusia yang sesungguhnya. Ketahuilah bahwa kita di dunia ini tidak menggunakan barometer yang sesungguhnya dalam menentukan mulia atau hinanya seseorang. Seringnya kita menilai seseorang dari hartanya, dari jabatannya, dari nasabnya, sehingga dengan barometer itu kita mengangkat seseorang dan merendahkan orang yang lain, kita menghormati sebagian orang dan menghinakan sebagian yang lain. Tidak jarang tatkala seseorang memiliki jabatan yang tinggi, maka semua orang takut kepadanya, semua orang menghormatinya, bahkan semua orang berharap mendapatkan pemberian darinya. Akan tetapi tatkala melihat orang yang tidak punya apa-apa dari sisi dunia, maka semua orang menghinakannya dan merendahkannya. Ketahuilah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Shahih Al-Bukhari yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d, dia berkata,

مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا؟ فَقَالَ: رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ، هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ، قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا؟ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ المُسْلِمِينَ، هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لاَ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لاَ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَنْ لاَ يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِثْلَ هَذَا

Ada seorang laki-laki melintasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Nabi bersabda kepada orang yang duduk di dekat beliau, ‘Apa pendapat kalian dengan laki-laki ini?’ Maka seorang menjawab, ‘Dia termasuk orang-orang yang mulia. Demi Allah, apabila dia meminang, pasti akan diterima, dan bila dimintai bantuan pasti akan dibantu’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam. Beberapa saat kemudian, lewatlah seorang laki-laki lain, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu dengan orang ini?’ Dia menjawab; ‘Wahai Rasulullah, menurutku orang ini adalah orang termiskin dari kalangan kaum Muslimin, apabila ia meminang pasti pinangannya ditolak, dan jika dimintai pertolongan dia tidak akan ditolong, dan apabila berkata, maka perkataannya tidak akan didengar’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh orang ini (yang terlihat miskin) lebih baik daripada seluruh bumi yang isinya orang ini (yang kelihatannya bangsawan)’.”([2])

Oleh karena itu wahai saudaraku, kalau Anda di dunia dihormati orang banyak maka janganlah teperdaya. Ketahuilah bahwa penghormatan itu atas dasar barometer manusia, bukan barometer yang sesungguhnya. Sebanyak apapun orang yang menghormati Anda, belum tentu Anda baik di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya, jika ternyata Anda adalah orang yang tampaknya hina di mata manusia, belum tentu Anda hina di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Mulia atau tidaknya seorang hamba hanya akan terlihat ketika di hari kiamat. Maka meskipun Anda dihinakan oleh banyak orang, selama Anda bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah, maka Anda akan sangat tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (QS. Al-‘Alaq : 19)

Pernah dalam sebuah hadits, Ibnu ‘Abbas berkata kepada ‘Atha bin Abi Rabbah. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا

Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?” ‘Atha menjawab, ‘Tentu’. Ibnu ‘Abbas berkata, ‘Wanita berkulit hitam ini (dialah wanita penghuni surga), dia pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata: Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku. Beliau bersabda: Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu berkenan maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu. Wanita itu berkata: Baiklah aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi: Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap. Maka beliau mendoakan untuknya’.” (Muttafaqun ‘alaih)([3])

Sebagian orang mungkin tidak tertarik dengan wanita yang berkulit hitam, akan tetapi Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa wanita yang dimaksud adalah wanita penghuni surga. Sebagian para wanita terkadang teperdaya dengan kecantikan, sehingga tatkala mereka melihat wanita yang kurang cantik dan kurang bersih, maka mereka pun meremehkan dan menghinanya. Ketahuilah wahai para wanita, bahwa itu hanyalah barometer Anda di dunia, adapun barometer Allah berbeda. Sesungguhnya barometer kemuliaan seseorang adalah ketakwaannya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat : 13)

Bisa jadi orang yang ada di hadapan kita dengan pekerjaannya yang sangat biasa, paras wajahnya juga biasa, bahkan mungkin hartanya tidak ada, ternyata mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka barangsiapa yang dihormati di dunia jangan teperdaya, dan siapa yang dihinakan di dunia oleh manusia janganlah terlalu bersedih, karena hakikat manusia hanya akan tampak ketika manusia telah dikumpulkan di akhirat.

Tafsir yang lain dari خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (Merendahkan dan Meninggikan) adalah perubahan kondisi alam, yang tatkala itu karena sebab gempa yang dahsyat maka sebagian benda-benda di bumi yang di bawah menjadi naik ke atas, dan sebaliknya yang di atas jadi turun ke bawah([4])

_____________________

Footnote :

([1])  Lihat Tafsir al-Qurthubi 17/196

([2])  HR. Bukhari no. 6447

([3])  HR. Bukhari no. 5652 dan HR. Muslim no. 2576

([4])  Lihat at-Tahriir wa at-Tanwiir, Ibnu Ásyuur 27/283